
Farah terbangun dengan perut yang terasa melilit dan cahaya terang yang menyengat kelopak matanya. Otot Farah terasa terbakar, seolah ada seseorang yang menusuk-nusukannya dengan jarum, dan wajahnya yang diletakkan di atas permukaan dasar ember yang tidak rata, terasa seperti baru saja digosok dengan pasir. Bau alkohol dan keringat tercium hingga ke tenggorokannya yang kering, Ada bahan yang menutupi kepalanya. Diliputi oleh perasaan bahwa ia akan mati lemas, Farah menggapai-gapai panik dan bangun di tengah sinar matahari yang menyorot terik.
"Aku menggunakan salah satu kemejaku untuk menutupi ke-palamu."
Farah mendengar Mike berkata demikian. Sambil me- mejamkan matanya yang silau, pada awalnya Farah tidak bisa melihat Mike. "Seharusnya, kau juga membawa pakaianmu," ujar Mike, "Tapi karena kau tidak terpikir untuk membawa apa pun kecuali ubur- ubur-Ini, ambillah ini."
Sebuah gelas yang terbuat dari bahan aluminium ditekankan ke tangan Farah. Air di dalamnya terasa panas dan berasa seperti besi. Farah meminumnya, sebelum berkata, "Terima kasih. Aku sudah cukup meminumnya."
Setelah menghalangi matanya dari sinar matahari langsung dan menyipitkan mata, Farah baru bisa melihat dengan lebih jelas.
Mike sudah menaikkan layar dan berbaring dengan nyaman di bawahnya. Lengan kemeja Mike sudah diturunkan melindungi lengannya dari sinar matahari dan mengganti topi baseball nya dengan topi bertepian lebar yang dulu sempat sangat populer.
Gelombang hangat menari di sekitar mereka, yang semakin lama semakin menghilang ke tengah laut. Di sebelah utara, tampak bukit batu yang menjulang tinggi, dengan burung camar bertengger di atasnya. Pulau markas Dark Devil sudah tidak lagi terlihat. Hal itu seharusnya bisa membuat Farah merasa senang.
Farah mengangkat tangannya dan mulai merapikan jepit rambutnya yang terasa panas di kulit kepalanya, agar bisa kembali menahan rambutnya yang berantakan. Pada Mike, Farah berkata, "Terima kasih karena telah menyelimuti aku. Kau baik sekali."
"Siapa yang baik?" ujar Mike. "Bukan aku. Hanya saja kebetulan aku tahu bahwa wajah cantikmu akan berguna untuk tempat yang hendak kita tuju. Hanya wajahmu yang masih bisa berguna untukku. Memang ada beberapa orang yang menyukai wanita berkulit cokelat akibat terbakar matahari, tapi kau tidur dengan kepala miring ke satu sisi, dan tidak ada seorang pun yang mau membeli wanita dengan wajah separuh merah dan separuh putih seperti badut."
Makna kata-kata Mike masuk ke otak Farah dengan pelan. "Kita tidak akan mendarat di pantai terdekat?"
"Gadis bodoh," ujar Mike, tidak sabar sambil mendorong topinya ke belakang kening yang basah oleh keringat. "Kita berada terlalu jauh untuk pergi ke daratan menggunakan perahu kayu seperti ini. Kita akan mendarat di sebuah pulau dan mencari transportasi yang lebih baik untuk bisa sampai ke perkotaan."
__ADS_1
Kedengarannya seperti tempat yang tidak menyenangkan. "Siapa yang hidup di pulau yang kau maksud itu?"
"Di sini? Sebagian besar adalah budak yang kabur dari majikan mereka yang kejam, dan buronan dengan ancaman hukuman gantung. Dokter yang suka melakukan malpraktik. Orang gila yang melarikan yang diri dari rumah sakit jiwa. Sampah masyarakat di muka bumi ini, dan lebih buruk lagi."
Farah menjatuhkan keningnya ke atas telapak tangan yang terbuka.
Merasa puas dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Farah, Mike berkata, "Begini, tempat yang akan kita datangi disebut Satan Place. Para penyelundup keluar masuk tempat itu, dan aku akan menyogok untuk bisa pergi ke kota. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya adalah urusanmu sendiri, bukan urusanku."
Farah berkata dengan tegas, "Aku akan pergi ke ke pihak yang berwajib."
Mike tertawa terbahak-bahak. "Tidak ada pihak yang berwajib sampai jarak seratus kilometer dari sini."
"Pasti ada seseorang. Pemuka agama atau apapun."
Pada akhirnya hingga menjelang sore, Farah merasa menjalani hari yang lebih baik. Sampai akhirnya datang yang terburuk. Dari waktu ke waktu, Mike mengambil secarik kertas berwarna merah dari saku dadanya. Mike membukanya, mengamatinya, mengangkat bahu, melipatnya, dan memasukkannya lagi ke saku.
"Apa itu?" tanya Farah, setelah Mike melakukannya untuk yang keempat kalinya.
"Ini adalah peta.. Yang ditulis sendiri oleh temanku. Teman baikku. Dia mengenal area ini lebih baik dibandingkan mengenal rambu yang ada di perutnya sendiri."
Farah menjulurkan lehernya sedikit untuk mengintip saat Mike membentangkan peta tersebut di atas telapak tangan dan menutupinya dengan tangan yang lain untuk melindunginya dari cahaya matahari langsung. Setelah Farah melihatnya, ia berkata, "Kau membaca peta itu secara terbalik."
__ADS_1
"Eh? Tidak aku tidak terbalik membacanya."
"Itu benar. Lihat saja kompas yang digambar di bagian bawah petamu. Huruf N-berarti North (utara) menunjuk ke bawah." Mike menyipitkan matanya untuk menatap huruf N itu.
"Itu bukan huruf N tapi huruf W. Lihat saja sendiri. Satu garis ke bawah, satu garis ke atas, satu ke bawah, satu ke atas. W."
"Bukan," tegas Farah. "Garis ke bawah yang pertama adalah kerutan."
"Kerutan? Itu bukan kerutan. Aku tahu seperti apa kerutan saat aku melihatnya, dan itu bukan kerutan."
"Sekarang, lihat." Farah meminjam ketegasan Gege. "Itu adalah huruf M Rapikan peta itu di atas lututmu, agar kau bisa melihatnya dengan jelas.
Dengan asal, Mike melakukan apa yang diminta oleh Farah, dan Farah mengetuk-ngetukkan ujung pistolnya ke huruf yang kontroversi itu.
"Lihat, kan?" tegasnya, "Huruf N. Dan yang persis di seberang N adalah.... adalah huruf E. Tunggu dulu! Di peta ini. Utara berlawanan dengan Timur, dan Selatan berlawanan dengan Barat Oh, peta ini kacau."
" Kacau kau bilang? Ini peta yang bagus! Kompas yang digambar di peta ini tidak berarti apa-apa. Garis daratannya yang harus diperhitungkan. Memangnya, apa yang diketahui wanita soal peta? Tidak ada. Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu, Nona Farah." ujar Mike menatap Farah dengan sangat serius. "Aku sudah membaca peta sebelum kau lahir. Dan, hati-hati dengan pistolmu! Aku tidak mau kau menembak kejantananku. Peta ini seratus persen bisa diandalkan. Aku meyakininya, sama seperti aku yakin air susu keluar dari payudara ibuku."
Farah memutar bola matanya dan menghela napas dengan kasar karena malas berdebat dengan Mike. "Oh, baiklah," ujar Farah dengan enggan, "Aku harap kau benar. Aku tidak bisa membedakan antara pulau yang satu dengan yang lain." ujar Farah dengan nada jengkel.
...♤♤♤...
__ADS_1
Kondisi Dark Devil akan kuceritakan nanti, ini ceritain kaburnya Farah dulu😆