
Ryan menatap Farah dengan lembut. "Apa yang hendak kau lakukan dengan surat-surat itu, kucingku? Menjualnya pada penawar tertinggi?".
Farah mencengkeram pergelangan tangan Ryan dengan tangannya yang gemetar dan menahannya dengan èrat, menjauhkannya dari wajahnya. Farah mulai berbicara, untuk mengatakan sesuatu yang akan menghentikan kata-kata Ryan, tapi pikirannya yang kacau sepertinya tidak mampu digunakan untuk memproduksi kata-kata.
Ryan menunggu jawaban Farah, dan ketika tidak juga datang, Ryan berkata, "Apa yang terjadi, Farah? Apakah hal-hal yang kutawarkan kepadamu belum cukup? Berapa harga tubuhmu yang indah ini?" Kemudian, "Apakah pengampunan untuk Gio sudah cukup?".
Farah terlalu larut dalam penderitaannya sehingga tidak dapat menilai niat Ryan. Sisa kekuatan yang dimiliki Farah hanya cukup untuk melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Ryan dan mengambil langkah mundur yang membuat kakinya menabrak sudut meja kayu yang keras. Tangan Ryan melingkari pinggang Farah, dan ia bisa merasakan panas yang terpancar dari dada Ryan tidak yang tertutupi, saat Ryan menariknya ke arah pria itu.
******* meluncur dari bibir Farah, saat tangan lihai Ryan memiringkan kepalanya dan mulut Ryan menemukan mulutnya. Saat akhirnya Ryan selesai menyampaikan pesannya kepada Farah, dan melepaskan pagutan bibir mereka, Farah sudah sangat marah kepada Ryan dan begitu dipenuhi oleh kegetiran yang membuat kemampuan berbicaranya kembali dengan kekuatan penuh.
"Baiklah," cetus Farah, "jika kau menginginkan bayaran dalam bentuk darah atas sedikit amal yang diberikan kepadaku."
Ryan melepaskan Farah sepenuhnya, dan dengan senyuman sinis, Ryan berkata, "Wah, wah.... Aku yakin kau akan melakukannya. Mulia sekali kau. Tapi aku tidak yakin aku bisa menerima pengorbananmu, lagi pula, Gadis cantikku, meskipun pesonamu cukup ampuh, tapi saat ini aku sedang tidak tertarik. Dan masalah ini belum terselesaikan. Karena tidak ada yang bisa kulakukan untuk membantu Gio. Tapi, bagaimanapun juga," kata Ryan sambil berjalan ke arah pintu dan menahannya tetap terbuka, "Ayo ikut keluar. Berusahalah semampumu. Jika kau bisa memberikan penawaran yang sama pada yang lain, mungkin ada di antara mereka yang bisa membantu Gio."
Hinaan terakhir Ryan itu sulit untuk diterimanya, tetapi Farahntetap berjalan melewati Ryan dan keluar dari kamar. Farah menemukan Keith di kamarnya, sedang berbaring santai di atas tempat tidur sambil menonton TV. Keith mendengar Farah masuk ke kamarnya, mendengarkan semua permohonannya, dan penjelasan logis untuk menunjukkan kenapa dia yang seharusnya dihukum, bukannya Gio. Setelah selesai, Keith mengamati Farah selama beberapa saat, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi, dan menjawab dengan tenang, tanpa sedikit pun rasa simpati, "Aku tidak bisa membiarkan anak buahku melakukan tindakan sesuka hati mereka, setiap kali mereka merasa bersemangat akan sesuatu. Di masa depan, Gio akan menjadi lebih bijaksana jika kami mengorbankan sedikit darahnya sekarang. Jangan khawatir. Kami tidak akan membunuhnya."
__ADS_1
Dalam keputusasaan, Farah mendatangi Kevin. Suaranya dinaikkan lebih dari seharusnya. Kevin mendengarkan Farah dengan jengkel, lalu berseru, "Gege! Di mana bocah sialan itu? Gege! Cepat datang ke sini dan bawa gadis ini keluar dari ruanganku!."
Farah memberontak dari Gege dengan sekuat tenaga, saat Gege memaksanya kembali ke kamar, bahkan Farah bertindak liar dan memukuli Gege dengan kepalan tangannya. Mafia muda itu tahu beberapa cara kejam untuk menghadapi korban yang histeris. Namun, tidak ada satu pun yang tega dilakukannya kepada Farah, tetapi saat Farah tidak membiarkan Gege menenangkannya, Gege mendorong Farah ke lantai dan menahan tubuh Farah yang kalut dengan tubuhnya.
"Farah, dengarkan aku. Dengarkan aku!" Dengan satu tangan, menangkap pergelangan tangan Farah yang meronta-ronta, sementara tangan yang lain membekap mulut gadis itu. Mata cokelat Farah melotot kepada Gege, dipenuhi dengan bara kemarahan, tetapi yang membuat Gege lega, sama sekali tidak ada ketakutan di sana.
"Sialan, Farah. Dengar! Kau sudah berusaha sejauh yang kau bisa. Sekarang, amarah mereka sedang mudah tersulut. Satu teriakan lagi, maka besok pagi kau akan berdiri dengan punggung telanjang di samping Gio."
"Aku tidak peduli!" cetus Farah, kata-katanya teredam oleh telapak tangan Gege yang kuat.
"Memangnya kenapa?!" seru Gege. "Aku yang peduli pada keselamatanmu. Jika kau tidak mau menutup mulutmu, aku yang akan melakukannya untukmu. Buka mulutmu lagi, maka aku akan mem-biusmu. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku lebih suka mempermalukanmu daripada harus melukaimu. Itu pilihanku."
Farah dikurung di kamarnya, dan sekarang sudah dua hari berlalu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Gio. Gege membuka pintu pada malam kedua dengan mengajak Gio dan membiarkan Gio masuk lebih dulu ke kamar. Farah langsung berdiri, menghampiri Gio dan melihat dengan cemas bahwa keramahan yang tampak di mata Gio masih sama cerahnya seperti sebelumnya meskipun masih sesekali Gio terlihat menahan sakit. Gerakan Gio menjadi canggung dan kaku. Saat Farah melihatnya, ia langsung berlari ke dalam pelukan Gio sambil menangis.
"Farah! Tunggu dulu, jangan begitu," ujar Gio dengan lembut, merasa tersanjung sekaligus sedikit malu. "Jangan terlalu khawatir. Aku masih tubuh kuat yang sama, otak tumpul yang sama. Aww! Tungg dulu, Sayang, jangan memelukku, kumohon."
__ADS_1
"Aku minta maaf!" ujar Farah, dengan hati-hati dan cepat mengendurkan pelukannya. "Gio, jika saja aku tahu.....",
"Farah, semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Aku tidak keberatan dipukuli lagi, jika demi alasan yang bagus." Bibir Gio terlihat tersenyum kepada Farah dengan tulus dan penuh kebaikan hati, terlihat kering dan sesekali meringis.
Farah berdiri dalam posisi tegang di depan Gio, tangannya diletakkan di atas kemeja longgar Gio yang berwarna cokelat. Kemudian, Farah berkata, "Will menyebut dirinya sebagai sahabatmu. Aku tidak bisa mengerti kenapa dia bisa berdiri saja dan menyaksikan mereka memukulimu".
"Jika kau mau mendengar yang sebenarnya," ujar Gio dengan nada ceria, "Hatinya tidak sepenuhnya hancur melihat mereka mencambuk punggungku. Will adalah orang yang tidak pernah memperlihatkan emosi".
Farah tetap terlihat murung. "Aku tidak mengerti kenapa mereka tega melakukannya padamu".
"Farah, ini adalah hukuman yang ringan....." Gio terkekeh pelan. "Seharusnya, Kevin menantangku bertarung dan di militer manapun, aku pasti sudah dihukum berat jika melawan atasan".
Farah berbalik menatap keluar jendela dengan marah. Ide mereka tentang keadilan sama sekali tidak dimengerti oleh Farah.
Di belakangnya, Farah mendengar Gio berkata, "Kau sudah berbicara dengan Ryan?".
__ADS_1
Farah menghela napasnya dengan kasar. Setiap kali Ia mengingat pria itu, selalu diliputi rasa marah, kesal, gugup sekaligus takut. Ryan. Pria paling aneh dan menarik yang ada di muka bumi. Sampai detik ini Farah selalu bertanya di benaknya, hukuman seperti apa yang akan pria itu berikan padanya setelah membuat keonaran di markas Dark Devil.
...♤♤♤...