Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 29


__ADS_3

Malam hari, Farah yang baru saja selesai mandi lalu membuka lemari pakaian di dalam kamar Ryan. Pria itu sudah memberikan izin untuk Farah memakai baju miliknya yang sebenarnya tentu saja terlalu besar di tubuhnya yang ramping. Namun Ryan tidak mau memakaikan Farah pakaian wanita, karena itu terlihat mencolok di markas Dark Devil, menurut Ryan.


Farah lalu bersenandung sambil menyisir rambutnya dengan sisir milik Ryan. Terdengar suara berisik di koridor lalu sebuah ketukan dua kali di pintu kamar hingga akhirnya terbuka, "Mimpi indah kucing kecil".ucap Keith seraya mengintip ke dalam kamar.


"Selamat malam, Keith" balas Farah dengan sopan. Entah mengapa Farah selalu takut dengan aura intimidasi yang menguar dari pimpinan Dark Devil. Farah lalu menarik selimut dan bersiap untuk tidur setelah memastikan suhu AC agar membuatnya nyaman. Tak lama kemudian, Farah terhanyut ke dalam alam mimpi seperti bayi yang tertidur pulas.


Beberapa jam kemudian, Farah terbangun karena terganggu oleh suara meriam yang memekakkan telinga hingga Farah menutup kepalanya dengan bantal. Terdengar suara langkah kaki di koridor dan pintu kamar terbuka. Bantal ditarik dari atas kepala Farah dan dilemparkan ke lantai.


"Ya Tuhan. Ada wanita di atas tempat tidurku". Ucap Ryan, berdiri di depan Farah.


Farah lalu menarik selimut ke atas kepalanya, dan dengan cekatan Ryan mengambilnya juga.


"Bangun, nona manis". Ujar Ryan. "Teman-temanmu ada di pantai, menunggumu. Bukankah kau ingin menjadi wanita mafia? Ada Gege, Gio, Dennis, Pak Yanka.... Mereka ingin aku mengirimmu ke pantai, dengan berpakaian seperti ratu. Memalukan, mereka mabuk seperti para begundal miskin hehehe... Atau, jika kau tidak mau pergi ke pantai, apa aku harus mengundang mereka ke sini?".


"Tidak! Ryan, kumohon jangan ..."


"Luar biasa. Bisakah kau mengulanginya lagi?" ujar Ryan seraya duduk di samping Farah. "Suara serakmu sungguh terdengar menggoda di telingaku".


Ryan menatap Farah dengan tersenyum. Pipinya sedikit merah merona. "Mereka sangat mabuk, kau tahu? Tapi aku... Aku hanya sedikit- Yah, aku hanya sedikit mabuk hehehe.. Bantu aku melepaskan sepatuku, sayang".


"Sepatu? Apa kau akan melepaskannya?"


"Tentu saja. Aku tidak tidur mengenakan sepatu". ucap Ryan.


"Begini, Ryan..." Farah merasa gugup sambil mengamati Ryan melepaskan sepatunya.

__ADS_1


"Ya sudah sepertinya kau mengantuk. Silakan saja kalau mau tidur, dan aku akan menyusulmu setelah aku membersihkan diri, kau tidak lupa kan ini tempat tidurku meskipun ada kau yang menempatinya".


"Kau.... Kau tidak benar-benar akan tidur di sini, kan?" tanya Farah dengan putus asa.


"Astaga, kau tidak mungkin senaif itu hingga berpikir aku tidak akan tidur di kamarku sendiri".


"Kumohon jangan tidur di sini, Ryan!".


"Jangan katakan padaku kalau kau akan memprotes pada suatu hal yang tidak logis?" ujar Ryan mulai melepaskan jaket dari tubuhnya.


"Ini kamarku. Wajar saja jika aku tidur di sini, sayangku". Ekspresi Ryan tenang dan kata-katanya tidak meracau. Pria itu mulai membuka kemeja yang membalut tubuhnya.


"Aku akan menjerit!". Ancam Farah


"Terserah kau. Tapi, aku harus mengingatkanmu bahwa di markas ini, saat ini, semua orang sedang berusaha untuk tidur dalam keadaan mabuk. Jika kau membuat keributan, seseorang mungkin akan datang ke sini dan menyumpal mulutmu dengan celana segitiga mereka yang belum di cuci".


Ryan menahan tawanya, meskipun mulutnya mengulum senyum. "Ah, sayang. Tidak heran aku mengejutkanmu. Suamimu tidak tidur dengan telanjang ya?".


Karena terkejut, wajah Farah berubah datar dan menunjukkan kebingungan.


"Richard Cullen. Suami vampirmu". Ujar Ryan dengan suara sabar dan lembut. "Kau tahu, sayang? Aku sangat lelah dan alkohol sedikit membuatku ingin, hm.. Yah. Lupakan. Dengar, aku tidak akan melemparkanmu ke luar dari tempat tidur. Kita bisa berbagi, jangan khawatir."


"Jangan melucu", ujar Farah. "Jika kau naik ke tempat tidur ini, aku yang akan turun".


"Kau lebih aman dari yang kau pikirkan, sayang" Ryan menatap Farah dengan lekat. "Gege sempat membawaku ke daratan serta menyuguhkan aku seorang wanita, agar aku tidak menyentuhmu. Dia memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku bisa menebaknya".

__ADS_1


Menjengkelkan. Ada begitu banyak makna di dalamnya. Namun Farah terbayang bayangan Ryan dengan wanita. Ia merasa malu dan terganggu dengan bayangan itu.


"Aku tidak akan menyakitimu, Farah" Ucap Ryan, nada suaranya terdengar hangat dan sensual. "Tidurlah di tempat tidur denganku".


"Tidak. Aku akan tidur di sofa saja".


"Terserah padamu" Ujar Ryan yang akhirnya justru urung membersihkan diri dan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.


Tak perlu waktu lama, suara napas Ryan yang teratur menyiratkan pria itu sudah tertidur nyenyak. Tak ada yang bisa Farah lakukan selain mematikan lampu dan duduk di sofa sambil menatap ke jendela, memandangi sinar rembulan yang memberikan cahaya di langit yang gelap. Farah lalu berdiri dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, namun sial... langkah kakinya justru terselip hingga Ia terpeleset di lantai kamar mandi yang masih basah.


Farah berteriak kecil seraya memegangi kepalanya yang terbentur. Teriakan Farah membangunkan Ryan. Pria itu menghampirinya dan berjongkok. "Kau menghantamkan kepalamu?".


"Tidak" ujar Farah. "Lantai yang menghantam kepalaku".


"Astaga. Suasana hatimu sangat buruk. Sepertinya kau membenturkan kepalamu cukup keras, tunggu aku akan mengambil..."


"Jangan mengambil apapun! Ini mungkin hanya akan menjadi benjolan kecil".


Ryan menghela napas lalu membantu Farah untuk berdiri dan kembali ke sofa. "Bajumu basah." Ryan menatap Farah yang mengusap kepalanya yang berdenyut dengan memejamkan mata. "Bersikaplah masuk akal mulai sekarang. Biarkan aku membantumu untuk melepaskan bajumu yang basah, dan membawamu ke tepat tidur".


Farah tetap bersikeras seraya menggelengkan kepala. "Farah, ada cukup banyak alkohol di dalam tubuhku... Tuhan, tahu apa saja yang kuminum. Jika kau berpikir aku akan bermain kejar-kejaran di kamar ini untuk membujukmu yang seperti anak kecil, aku justru akan menerkammu! Kau mau?!".


Farah kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tetap akan tidur di sofa".


Ryan menatap Farah dengan matanya yang sedikit kemerahan. Ia lalu mengusap wajahnya dan beranjak berdiri menuju lemari pakaian, mengambil sebuah kemeja putih miliknya dan segera memberikannya pada Farah. Ia lalu mengangkat tubuh Farah dalam sekejap mata dan di dudukkannya gadis itu di sisi tempat tidur. "Ganti bajumu. Tenang saja, aku tidak akan mengintip. Walau kurasa kau perlu tahu kalau aku memiliki penglihatan yang tajam saat gelap." Ryan menyeringai. "Selamat malam, Farah sayang, aku saja yang akan tidur di sofa".

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2