Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 33


__ADS_3

Sambil mencengkeram lengan Farah, Dennis menarik Farah menjauh dari Gio. "Apa kau gila melemparkan dirimu pada dua pria yang sedang berseteru?!" Ujar Dennis dengan ketus.


Farah menepiskan tangan Dennis dari lengannya sambil menatap mata tajam pria itu. "Tapi Gio tidak memiliki salah apapun! Kenapa dia diperlakukan seperti itu?! Dan memangnya siapa yang bilang kau boleh menyentuhku?"


Dennis sudah kehilangan kesabaran terhadap Farah, tetapi meskipun begitu, mulut Dennis menyunggingkan senyum. Farah terlihat sangat panik menyaksikan perkelahian. "Dengarkan aku, Nona Farah yang terhormat. Tidak ada satu pun dari kami yang ingin melihatmu terluka, tapi jika kau berusaha membujuk Gio untuk membantumu melarikan diri, dia akan berakhir seperti layar yang digantung di tiang pancang. Dia akan dihabisi hingga tak bersisa. Digantung. Apakah kau mengerti?".


"Tentu saja!" kata Farah. "Lain kali aku akan langsung terjun ke laut dan berenang ke daratan, kau bisa pegang kata-kataku, dan aku tidak akan merepotkan Gio dengan bertanya ke mana arah yang benar."


"Astaga!" cetus Will. "Kau mungkin tidak mengenalinya, Dennis, tapi apakah menurutmu gadis ini berusaha untuk menyindir kita?"


"Dengan kalian para bajingan berkelahi di kamar Ryan, apa kalian tidak takut pria itu kemari?" ujar Gio seraya merapihkan kemejanya. "Kau boleh mencengkeramku lagi kapan pun kau inginkan. Gadis ini memiliki cara khusus dalam melemparkan tubuhnya kepadaku dan aku mulai terbiasa menerimanya."


Will mendorong dada Gio. "Itu memang maumu, iya kan? Kau menikmatinya. Aku pernah melihat anak sapi yang lebih memiliki otak daripada dirimu! Coba kau berpikir ulang, jika kau menganggap mereka tidak akan menggantungmu hanya karena mereka menyukaimu. Ini bukan panti asuhan, Gio. Di sini adalah markas mafia. Mafia. Em-ef-Ah, lupakanlah!." Sambil berbalik ke Farah, Will berkata dengan pelan, "Sementara untukmu, Farah......"


Tiba-tiba saja, "Ada seseorang yang datang! Mereka akan menemukan kita bertengkar di sini dan bertanya apa alasannya." Seru Dennis yang tadi melihat keadaan di koridor.

__ADS_1


Bergerak cepat, Gio membetulkan posisi kursi dan duduk di atasnya, dan Will bergegas untuk duduk di samping Gio. Farah mendapati dirinya didudukkan di kursi samping jendela oleh Dennis dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menarik kursi kayu.


"Sekarang, dengarkan aku," kata Will dalam bisikan tegang. "Kali ini, kami akan menyimpan rahasiamu, tapi jangan pernah lagi mendorong Gio untuk berbuat nekat lagi, atau aku akan pergi ke Ryan dan mengatakan padanya bahwa kau sedang merencanakan melarikan diri dengan memperalat salah satu anak buah. Kau akan menghabiskan harimu di markas ini dikurung dengan sangat ketat sehingga kau bahkan tidak bisa menggerakkan bulu matamu."


Will bermaksud untuk menakutinya. Saat menoleh ke arah Farah, Will melihat bahwa ancamannya terlalu efektif. Farah berusaha untuk terlihat kuat, tetapi bibirnya bergetar dan memucat. Apakah ancaman terhadap Farah atau terhadap Gio yang membuat Farah seperti itu? Jika dilihat dari reaksi Farah, seharusnya ia mengatakannya dengan lebih halus, dan sekarang tidak ada waktu untuk memperbaiki kesalahannya. Nanti, ia akan mencari Farah dan menjelaskan dengan lebih sabar dan lembut kenapa ia menganggap Farah mengambil tindakan yang sangat bodoh jika berusaha melarikan diri dari markas Dark Devil. Atau, apakah mata yang khawatir dan bibir yang pucat memang sudah ada sebelum ia dan Dennis masuk ke kamar ini? Bisa saja Gio mengatakan sesuatu kepada Farah.


Berusaha untuk melembutkan tegurannya, Will tersenyum kepada Farah, tetapi ekspresi lembut terlalu bertolak belakang dengan kata-kata kasarnya tadi. Farah memberikan tarapan tajam kepada Will, lalu pandangannya ke lantai, saat Ryan mendorong pintu dan berjalan masuk ke kamar.


Di meja, Gio dan Dennis sedang berusaha untuk menyusun lego dengan sangat berhati-hati. Tatapan yang mereka berikan kepada Ryan terlihat polos, dan Gio menunjukkan sikap yang sedikit terlalu berlebihan sehingga tidak heran Ryan langsung menghampirinya dan tersenyum melihat pakaian Gio yang sobek akibat tarikan Will tadi.


"Sedikit," jawab Will. "Aku dan Gio bertengkar kecil karena permainan lego. Bukan masalah besar. Kau sendiri pernah bermain lego denganku; kau tahu bagaimana sikapku jika aku pusing menyusun bagian-bagian yang sangat kecil. Tapi kau lihat kami sudah berbaikan sekarang hehehee. Kami sedang menyusun lego pa-pa...." Will menatap bingung pada bentuk lego yang sedang di susun oleh Gio dan Dennis.


"Kapal Titanic," sambung Gio.


"Maaf, Ryan" timpal Dennis, "Kami sedang berusaha untuk mengajak Farah bermain lego untuk mengisi waktunya".

__ADS_1


Dennis rasa ia melihat ujung bibir Ryan menyunggingkan senyum sedikit meskipun tatapan mata pria berambut cokelat yang arogan itu tidak menunjukkannya. Will sama seperti yang lain di markas Dark Devil, bisa dengan mudah terintimidasi oleh Ryan, tetapi ia sudah berjanji kepada Farah tidak akan membongkar rahasia gadis itu, jadi ia mencoba lebih meyakinkan Ryan. "Kau mau mencobanya juga?".


"Tidak, terima kasih," ujar Ryan. "Terlalu banyak orang yang terlibat hanya untuk menyusun lego"


"Will, Kevin membutuhkanmu di ruang makan. Aku akan pergi dengan kapal malam ini dan mencari tahu apakah aku bisa mendapatkan informasi yang menarik. Dan.... Kalian semua tinggalkan kamarku sekarang juga". Ujar Ryan.


Dengan cepat, Gio, Will dan Dennis segera keluar dari kamar Ryan dengan langkah cepat. Farah diam membeku seraya berteriak dalam hati pada ketiga pria yang keluar tadi untuk mengajak dirinya juga. Ketika Ryan menutup pintu dan beranjak untuk berdiri di depannya. "Apakah kau mau mengatakan kepadaku apa yang terjadi?" tanya Ryan kepada Farah. "Kalian berempat tidak akan sampai membanting perabotan tanpa alasan yang kuat."


Jadi Ryan mendengar suara kursi yang jatuh, pikir Farah. "Orang memang tidak punya privasi di markas ini" gerutu Farah dengan nada pelan. "Aku tidak tahu kenapa ada orang yang mau tinggal di sini."


"Lihat aku!" tegas Ryan.


Yang terbaik adalah meyakinkan Ryan, jika ia bisa melakukannya, bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Farah mengangkat dagunya, membiarkan dirinya melakukan kontak mata dengan Ryan. Jika nada suara Ryan terdengar menuntut, tatapan mata pria itu justru sangat lembut. Hari ini, ada kesan ramah dari diri Ryan, yang pernah dilihat Farah sebelumnya, ketika mereka pertama kali bertemu malam itu di club. Namun, semua itu terputus dengan cepat oleh penolakannya semalam, tapi betapapun menariknya Ryan, dan betapapun baiknya karakter pria itu, Ryan, si mata-mata alias intelijen Amerika, tidak akan pernah menjadi miliknya.


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2