Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 58


__ADS_3

Udara di luar jendela Farah terasa hangat dan segar. Segera setelah Farah merasa cukup kuat untuk duduk, mereka membawanya ke luar untuk duduk bersantal di taman yang ada di depan vila. Vila Keith dilengkapi dengan beranda kayu. Sinar matahari terpancar ke atap dan memantulkannya ke jalan setapak yang ditumbuhi berbagai macam bunga yang indah dengan banyak warna.


Gio mengomentari pemandangan dengan baik. "Indah," ujar Gio kepada Farah. "Kau ingin berada di bawah sinar matahari langsung atau di tempat yang teduh?"


Gio mendudukkan Farah di atas kursi antik Cina, di tengah sinar matahari pagi. Keitj datang membawakannya buku sketsa. Reaksi Farah adalah ketakutan. Bagaimana Keith tahu ia bisa menggambar? Insting memperingatkan Farah untuk tidak memperlihatkan bakatnya yang sebenarnya, tetapi kepuasan saat bisa memegang pensil lagi telah membuat instingnya terasa seperti nyata. Farah mendapatkan pujian setinggi langit dari Gio, saat melihat hasil sketsa buatannya pagi itu, dan mustahil bagi Farah untuk berhenti menggambar.


Beberapa minggu setelahnya. Farah semakin sehat dan kuat, dan ia duduk beralaskan selimut di bawah salah satu pohon rindang. Di samping Farah, Gio berbaring dengan buku yang terbuka di dada telanjangnya. Will dan Dennis duduk di dekat mereka. Linda bergelung di samping Farah.


Gio dan Will sedang belajar, rutinitas yang diwajibkan Keitj pada awal-awal bergabungnya mereka dengan anak buah Dark Devil meskipun tidak ada yang tahu apakah hal itu dilakukan untuk menambah pengetahuan atau sekadar untuk menguji kesabaran Dennis yang ditugaskan menjadi guru mereka. Gio dan Will adalah pemuda yang cerdas dan cepat dalam menangkap pelajaran, tetapi itu tidak membuat mereka menjadi murid yang patuh. Perhatian Gio mudah sekali teralihkan dengan hal lain, sementara Will memiliki kecenderungan untuk mendebat semua hal.


Seperti sekarang, Will sedang mengeluh, "Apa, sih, maksudnya ini, Dennis?", Sambil memelototkan mata, Will membaca dengan lantang: "Sebuah kandang diisi oleh empat pasang kuda. Berapa jumlah dua kuda dan dua kuda dan dua kuda dan dua kuda? Berapa jumlah empat kuda dikalikan dua?". Will melemparkan buku ke atas rumput. Kemudian, berkata, "Bagaimana aku bisa tahu semua itu? Aku tidak tahu menahu tentang kuda."


Dennis sedang berbaring di atas rumput dengan kaki disilangkan dan topi bertepian lebar menutupi wajahnya. Dari bawah topi, Dennis berkata, "Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan kuda, dan kau tahu itu."


"Yah." Will mulai berusaha memperpanjang perdebatan mereka. "Pertanyaan ini sangat mudah, pasti ada trik di dalamnya."

__ADS_1


"Apa jawabannya?" Dennisbtidak memberikan tanda-tanda menanggapi ulah Will dari bawah topinya.


"Aku menolak menjawabnya," ucap Will, memancing Dennis untuk beradu argumen. "Sial, ini terlalu mudah. Pertanyaan ini bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap kecerdasanku."


Sambil bergerak dengan enggan, Dennis mendorong topinya dan duduk. "Kau memiliki terlalu banyak lidah untuk satu set gigi," ujar Dennis dengan jengkel.


Saat melihat buku yang dilemparkan Will ke atas rumput, Dennis berkata, "Ya ampun, kau membawa buku yang salah. Apakah itu yang kau baca sejak sejam yang lalu? Sembilan bulan yang lalu kau sudah menyelesaikan buku itu dalam waktu tiga hari, dan aku yakin kau juga sudah tahu itu."


Farah, yang berhenti menggambar Gege, mulai terkikik. Dennia memberikan tatapan tajam kepadanya. "Jangan mendorongnya untuk semakin berulah,"


Pohon yang berdahan rendah dan rindang membayangi mereka, Ryan melihat Farah di sana, sisa-sisa tawa sebelumnya membuat wajah gadis itu terlihat ceria, pipinya merona merah karena terpaan sinar matahari yang lembut. Rambut panjang Farah membingkai senyuman gadis itu dan embusan angin menerbangkan sejumput rambut yang menggantung di bawah telinga dan di dekat dasar rahang Farah. Bayangan dedauan tampak di gaun Farah yang berwarna pink. Lindabmembuat gaun itu untuk Farah dengan model sederhana, menutupi payudara Farah yang lembut dan menunjukkan lekuk pinggul serta permukaan cekung di antara kakinya yang disilangkan. Gelombang gairah menyapu Ryan dengan cepat, yang membawa kembali kenangan tentang kulit lembut Farah di tangannya dan dua bola indah Farah di bawah telapak tangannya.


Ryan melangkah mendekat saat Farah sedang menengadahkan kepala ke langit melihat burung berwarna keemasan, yang terbang di bawah pancaran sinar matahari. Saat menunjuk untuk bertanya burung apa itu, Farah menjatuhkan kotak pensilnya yang diletakkan di atas kepala Gio lengkap dengan sisa-sisa rautan pensil.


Farah langsung berlutut, tertawa sambil meminta maaf, melepas kan pensil yang tersangkut di ikal rambut hitam Gio dan menyapu kan debu pensil dan ampas rautan dari wajah pemuda itu. Sambil mengambil penghapus karet dari bawah telinga Gio, Farah berkata, "Aku minta maaf. Bodoh sekali aku!".

__ADS_1


Tiba-tiba, Farah terdiam. Dengan posisi setengah mencondongkan diri di atas Gio, dadanya menggantung di atas dada Gio, Gio tidak bisa bergerak di bawah Farah, kecuali kalau pemuda itu ingin bersentuhan dengan tubuh feminin Farah, yang bukan merupakan ide yang baik mengingat situasi mereka saat ini. Sambil memiringkan kepala untuk melihat ke atas dan ke belakang. Gio bisa melihat, seperti yang sudah bisa ditebaknya, bahwa Ryan datang menghampiri mereka. Farah menatap Ryan. Hal itu terasa luar biasa bagi Gio, seperti juga yang lain, karena sejak Farah sembuh, Ryan selalu berusaha menghindari Farah, padahal mereka semua tahu bahwa Ryan telah mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan FarahmbKarena alasan yang tidak diketahui, Ryan telah melarang mereka semua untuk mengatakan kepada Farah tentang pengorbanan Ryan.


Tidak ada yang tahu apakah larangan didasarkan pada motif membingungkan yang sama dengan yang telah membuat Ryan menutup diri dari Farah sejak Farah terbangun dari komanya?


Satu per satu hasil dari sikap itu hanyalah rasa sakit yang dialami Farah. Sial. Kenapa tidak ada seorang pun yang bisa memecahkannya? Gio menoleh lagi ke arah Farah, lalu memiringkan kepala untuk tersenyum kepada Ryan.


"Lihatlah kesenangan yang kau lewatkan karena menghabiskan setengah pagimu mengurung diri bersama Keith di ruang kerja," ujar Gio, dengan wajah merona malu karena keintiman posisinya saat ini.


"Butuh waktu lama sekali bagi Farah untuk menyelesaikan gambar Gege, karena yang ingin dilihatnya hanyalah burung-burung."


Farah memanfaatkan waktu yang diberikan Gio untuk memulihkan diri. Setelah menegakkan tubuh, Farah duduk kembali di tempatnya, jari-jarinya teremas di atas pangkuan, dan ekspresinya terlihat ramah.


"Itu burung walet," jelas Ryan sambil tersenyum kepada Farah. "Nama latinnya: Hirundo poeciloma."


Sambil menatap Ryan dengan jengkel, Will berkata, "Ya Tuhan. Bahkan kau menyebutkan nama latinnya. Kau pikir ini seminar di universitas."

__ADS_1


"Jangan khawatir," kata Gege, berhenti memetik senar gitar. "Dia hanya mengarang nama latin itu. Dia hanya tahu nama yang umum. Dia tidak tahu terlalu banyak tentang burung." Sergah Gege tersenyum miring pada Ryan.


...♤♤♤...


__ADS_2