Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 80


__ADS_3

Langit malam ini berwarna biru cerah dan embusan angin sejuk masuk melalui jendela kamar yang sengaja dibuka. Ryan merebahkan diri di atas tenpat tidur, kepalanya direbahkan di atas tangannya yang terlipat. Ryan tidak bicara, begitu pula Farah. Tetapi Farah bisa merasakan pipinya memerah dan dadanya terbakar.


Angin membelai lembut rambut Ryan seperti tangan seorang kekasih dan di wajah Ryan yang bak dipahat, mata pria itu berkilau mengantuk.


Melalui garis kemeja yang dipakai Ryan, ia bisa melihat otot tubuh Ryan yang kekar, hingga membuat kemeja pria itu tertarik ketat.


Cahaya yang berasal dari jendela tinggi dan kecil menerpa tulang pipi Ryan yang simetris, bahu, dan paha bagian atasnya. Dua kali mata Farah menjelajahi sekujur tubuh menawan Ryan, sebelum menunduk malu.


Suara Ryan, meskipun pelan, terdengar mengejutkan di tengah kesunyian kamar..


"Kenapa kau memalingkan wajah?"


Farah yang duduk dengan menekuk kakinya di atas tempat tidur merasa dipergoki dalam yang memalukan semacam itu, tapi justru merasa senang. "Aku tidak tahu."


Saat mengamati selimut yang terhampar di bawah mereka, tiba-tiba terpikir oleh Farah bahwa kebisuan Ryan memang disengaja. Ryan pasti sedang bertanya-tanya apakah dengan melakukan pendekatan lain akan membuat Farah kembali menarik diri. Ada kesan penasaran yang terbaca jelas dari pertanyaan Ryan tadi, dan keinginan untuk mencari tahu suasana hati Farah.


Selama beberapa saat, Farah merasa putus asa dengan kerumitan perasaannya sendiri dan malu karena ia ingin Ryan mendekatinya lagi. Jika sudah menyangkut masalah ini, Ryan pun tidak terlihat seperti biasanya. Akhirnya, mereka menikah, tetapi hubungan mereka justru terasa canggung, padahal mereka berdua sangat menginginkan satu sama lain. Dengan penuh syukur, dan frustasi karena Ryan saat ini memilih untuk bersabar.


"Ryan? Apa yang kau rasakan jika aku menatapmu?" Ujar Farah.


Senyuman Ryan terasa hangat, sedikit sedih, dan sangat manusiawi, sosok Ryan tidak lagi seperti dewa yang tak berjiwa, tetap seorang manusia, seorang pria dengan sensitivitasnya sendiri. "Gairah," ujar Ryan.


Farah mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu dan membelai lipatan kemeja putih Ryan. "Dan, jika aku menyentuhmu?" bisik Farah.


Ryan merespons pertanyaan Farah dengan mata terbelalak Dengan suara yang amat pelan, bahkan terdengar seperti kehabisan napas Ryan berkata, "Sentuhlah aku. Aku akan mencoba menjabarkannya kepadamu."


Gairah yang lama terabaikan bangkit di dalam diri Farah, saat Ryan mendekat dengan sikap menggoda. Tangan Farah yang gemetar membuka satu per satu kancing kemeja Ryan sambil memandangi setiap inci kulit kecokelatan Ryan yang tersingkap. Farah merasa sedikit malu, dan menyadari bahwa belum sampai sejam yang lalu dengan munafik ia menyangkal gairah yang dirasakannya terhadap Ryan.


Farah berdiri, kakinya terbuka, ibu jari kakinya mengelung untuk mencari keseimbangan di atas tempat tidur. Ryan menatapnya dengan bingung, Farah melihat bibir Ryan terbuka untuk menarik napas tercekat, saat ia mengulurkan tangan ke belakang dan mulai membuka kancing gaunnya.


Dengan sangat perlahan, Farah berlutut di depan Ryan, berbalut kamisol sutra tipis yang hanya sepanjang paha. Tangan Farah menangkap kemeja Ryan, membentangkannya dengan perlahan untuk menyingkap dada yang bidang dan perut yang rata. Indah, kulit Ryan yang telanjang terlihat begitu indah di matanya, meskipun ia tidak terlalu yakin apa yang harus dilakukannya kemudian. Namun, aroma tubuh Ryan begitu menggoda indranya sehingga membuat kepalanya berputar.


Farah berbaring di samping Ryan, menyurukkan wajahnya ke perut Ryan yang kokoh, tepat di bawah tulang iga terbawah. Di bawah kulit yang lembut, otot dada Ryan berkontraksi dengan kuat. Ryan menyebutkan nama Farah sekali, napas Ryan terdengar memburu, saat Farah menghujani ciuman ringan ke setiap tulang iga dan setiap cekungan dada Ryan.


"Jabarkan," bisik Farah dengan suara serak sambil menyusuri lidah pinknya ke atas, lalu turun lagi.

__ADS_1


Tubuh Farah menempel di tubuh Ryan, bola kenyalnya yang lembut secara tidak sengaja membelai pinggul Ryan. "Farah......" bisik Ryan dengan suara parau.


Ryan mencari pipi Farah dengan tangan yang bergetar, jari-jari Ryan menyusup masuk ke rambut Farah, satu jari kecil berkelana untuk menemukan dan membelai bagian dalam telinganya.


"Sayang...., kata yang terlintas di dalam pikiranku"-napas Ryan terdengar tajam lagi saat tangan Farah merosot ke paha pria itu, "ini..... adalah siksaan."


Farah mengangkat kepalanya sambil tertawa, ia menatap wajah Ryan dengan bulu mata yang selembut satin dan wajah memancarkan cinta. "Kau tidak perlu berpikir aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi antara pria dan wanita," jelas Farah.


Dengan penuh kebanggaan, Farah menambahkan, "Aku sudah membahasnya bersama Gege."


"Benarkah?" Ryan membelai telinga Farah dengan sangat lembut, senyumannya sangat memukau. "Sumber yang sangat ahli. Kau mungkin tahu lebih banyak daripada aku. Apa gaya yang diajarkannya kepadamu?"


Jari-jari Ryan berkelana ke pipi Farah, lalu ke hidungnya, melingkari cupingnya, yang seperti kelopak bunga, dengan ujung jari, sebelum turun ke bibir atasnya. Bibir Farah membuka di bawah sentuhan lembut Ryan dan kelopak matanya terpejam saar ujung jari Ryan memasuki mulutnya, menjelajahi bagian dalamnya yang basah, dan menarik keluar kelembapan di sana untuk membasahi bibir Farah yang kering.


"Kami menggunakan kata-kata dalam bahasa latin." Tiba-tiba, Farah berguling menjauh, matanya berkilau oleh tawa. "Sebaiknya aku berlari ke rumah untuk mengambil catatannya di dalam tasku." Setelah berdiri, Farah mulai melangkahkan kakinya. Farah berdiri melayang seolah hendak terbang, kakinya berjinjit di atas permukaan selimut. Saat Farah menggeser kakinya sedikit untuk mendapatkan keseimbangan, ia merasakan tangan Ryan melingkari pergelangan kakinya dari belakang. Cengkeraman tangan Ryan sangat lembut, hampir terasa seperti belaian.


Bibir Ryan menyentuh pergelangan kaki Farah, napas Ryan membelai kulitnya. Jari-jari yang lihat mulai memijat betisnya. Tangan yang lain membelai bagian yang lebih tinggi. Farah menarik napas gemetar dan terkesiap, saat telapak tangan dan jari-jari Ryan menjelajah bagian belakang pahanya, jari-jari Ryan menangkup bokongnya. Setelah menyentuhkan bibirnya pada cekungan di belakang lutut Farah, Ryan menghujani ciuman ringan di sana, rambut Ryan menggesek paha Farah yang mulus. Gairah yang tadi dimainkan oleh Farah sudah memudar menjadi kebutuhan yang sangat kuat, yang semakin lama semakin berkobar di bawah eksplorasi tangan Ryan.


"Setiap bagian dirimu sudah sangat mendambakan aku," bisik Ryab. Sambil berlutut di samping Farah, Ryan melingkarkan lengan di seputar pinggang Farah di atas bahan tipis kamisolnya, menaikkan bagian bawah kamisolnya ke atas pinggul. "Farah..... kakimu sangat indah"-jari Ryan yang lembut dan sensitif mengikuti garis pahanya ke atas-"begitu lembut dan kuat. Kau tidak tahu berapa lama aku mendambakan kakimu melingkari tubuhku."


Mata Farah sudah terpejam, tangannya mencengkeram lengan dan pergelangan tangan Ryan untuk dijadikan penopang tubuhnya yang lemas, menyerap gerakan lembut saat tangan itu meremas dan mengangkat bola kenyalnya, lalu berkelana ke puncak kecilnya. Tangan Ryan melingkari leher Farah, menenangkan denyutnya yang menggila, sementara tangan Ryanbyang lain menyelinap masuk ke balik kamisolnya, bergerak naik ke kulitnya yang gemetar menuju sesuatu yang tersembunyi di sana.


Dengan sangat lembut, Ryan membiarkan jari pria itu memasukinya meskipun tidak dalam, dan merasakan getaran hebat dari tubuh Farah dan cengkeraman tangan Farah yang semakin kuat di pergelangan tangan pria itu.


Sambil menggumamkan ungkapan gairahnya, Ryan membiarkan tangannya menarik bahan segitiga hingga ke pinggul, membalikkan tubuh Faraj hingga menghadap ke arahnya, Ryan menarik Farah mendekat, terpesona oleh pemandangan kaki Farah yang menggoda.


Dengan sangat lembut, Ryan menempelkan wajahnya di kehangatan daerah hangat Farah. Hutan tipis Farah di bibirnya terasa memabukkan dan aroma Farah hmmm... sisa pewangi sabun dan aroma dari bukti gairah Farah membuat indranya tersentak


Namun, samar-samar Ryan bisa merasakan keragu-raguan Farah. "Tidak.... oh, Ryan kumohon....."


Ryan menengadah untuk menatap mata Farah yang menggelap karena semangat yang memanas m, melihat rona di pipi yang putih, das puncak bola kenyal yang kemerahan, Ryan menyadari ia telah mengejutkan Farah.


Menyadari situasi Farah, Ryan tahu ia harus melakukannya dengan perlahan, tetapi dalam kondisi diliputi gairah yang tak tertahankan hingga hampir membuatnya gila, ia sempat merasa panik jika tidak sanggup memberi semua itu kepada Farah. Ryan mencoba mengingat pengalaman pertamanya, situasi yang dihadapi Farah sekarang, perawan dan belum berpengalaman, tetapi sepertinya ia tidak bisa lagi memikirkan hal lain, kecuali panas tubuh Farah yang memabukkan. Sambil berusaha sekuat tenaga meredam tuntutan gairahnya, Ryab mengeratkan dekapan lengannya di pinggul Farah. menarik Farah turun, membaringkannya di atas selimut dan memaksakan dirinya sendiri untuk menatap mata Farah yang indah.


Sambil membelai pipi Farah dengan punggung jarinya, yang bergetar hebat, Ryan berkata, "Maafkan aku, sayang. Kau sangat murni.... Bantulah aku, Farah.. kumohon. Minta aku untuk lebih lembut kepadamu...."

__ADS_1


Mata Farah terpejam, dengan suara serak Farah berbisik. "Jangan lakukan dengan lembut, Ryan. Lakukan dengan cepat." Saat itu, Ryan sudah mulai tertawa, dan masih tetap tertawa saat berbaring bersama Farah lagi, setelah menanggalkan semua pakalannya dan dengan perlahan membuka kamisol Farah. Bibir Ryan turun ke leher Farah dengan belaian lapar, sebelum mulutnya mencium Farah.


Terasa semakin panas saat Farah bangun sedikit untuk menyambut ciumannya, membuka diri untuk jari-jarinya yang mencari. Tidak berapa lama kemudian, Farah bergumam, "Aku rasa, pernikahan tidak terlalu membosankan."


Ryan tersenyum di sisi bola kenyal Farah. "Dalam situasi apa pun pernikahan sangat menyenangkan." Gumam Ryan.


Sambil mencium pucak bola kenyal Farah dengan penuh semangat. Ryan menurunkan lututnya ke antara paha Farah, tangannya mulai berkelana dengan lapar, menyusuri setiap inci dan setiap otot Farah. Farah menggelinjang di bawah tubuhnya, wajah Farah menoleh ke kanan dan kiri. Cahaya lampu menerangi bulu mata Farah dan bibir bengkak yang merah merekah.


Dengan memegangi dagu Farah, ia menahan kepala gadis itu agar tidak bergerak untuk menerima ciumannya, dengan lembut memiringkan wajah Farah dengan tangannya untuk menambah variasi kontak mereka, menjelajahi mulut Farah dengan lidahnya. Erangan frustrasi terlontar dari mulut Farah dan lengan Farah memeluknya erat. saat bibir Ryan mengucapkan, "Aku mencintaimu, aku mencintaimu," dalam bisikan serak di mulut Farah yang membara dan ia membuka paha Farah dengan sangat lembut. Kemudian, ia melingkupi tubuh Farah di dalam dekapannya yang aman, dan mendorong tubuhnya sendiri untuk memasuki selubung hangat.


Percintaan yang dilakukan dengan cinta. Ryan tidak pernah mengalami hal semacam ini, dan keajaiban percintaan mereka yang begitu dahsyat melingkupi Ryan seperti gema dari sebuah tebing yang tinggi. Sekujur tubuhnya bergelenyar nikmat. Untuk Ryan, momen ini membuat seluruh indranya tertidur, kecuali hatinya yang merasakan kebahagiaan karena bisa memiliki Farah seutuhnya. Ryan tidak sadar jika matanya terpejam, sampai ia mendengar suara pelan dari sosok yang ada di bawah tubuhnya.


Saat membuka matanya, Ryan menatap begitu banyak lapisan cinta di dalam mata Farah, kulit yang seputih mutiara, dan mulut yang terbuka sedikit dan mengeluarkan bisikan dan ekspresi yang hanya hanya bisa diartikan sebagai-oh, Tuhanku, ia hanya bisa mengartikannya sebagai ketidakpuasan. Cinta, kasihan, dan sayangnya humor menyerbunya seperti terjangan banjir. Saat mencoba menahan tawa yang mengancam akan meledak,


Ryan berpikir, tidak, Tuhan.. tidak! jangan biarkan aku menertawainya. Farah akan tersinggung. Dalam situasi ini, seperti juga situasi lain, Farah memiliki harga diri tinggi yang mampu menyentuh hatinya sejak awal pertemuan mereka. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk membuat Farah merasa lebih nyaman, tapi dengan pikiran dan tubuh yang melayang di awan tingkat ke tujuh, tidak mudah untuk memfokuskan pikirannya. Rambut basah menempel di pelipis Farah, ikut bergerak bersama setiap tarikan napas gadis itu. dan ia membawa tangannya ke wajah Farah untuk membelainya dengan punggung jari sambil bertanya-tanya berapa banyak gairah yang tertahan dan hatinya yang pedih terlihat di senyumannya.


"Kenapa kau terdiam?" tanya Farah, seolah kegelisahan memaksa gadis itu untuk bicara.


Ryan menatap mata Farah dengan sorot yang lembut tapi tidak fokus. "Untuk membantumu, Mungil. Aku tidak akan........", Ryan terdiam lagi, untuk menarik napas tercekat. "mmmm..... Tidak akan bergerak sampai kau memiliki waktu untuk membiasakan diri dengan keberadaanku di dalam dirimu. Apakah..... apakah aku telah menyakitimu?"


"Yah-iya." Suara Farah terdengar pelan dan murung. "Aku lebih suka tanganmu."


Kali ini, Ryan tidak punya pilihan selain mengubur wajahnya di bahu Farah untuk menyembunyikan tawanya. Saat ia bisa memercayai dirinya sendiri untuk berbicara dengan lebih tenang, ia berkata, "Jangan sedih, sayangku. Aku harap.....", getaran yang disebabkan oleh terjangan gelombang gairah yang panjang dan tak terkendali menyerang sekujur tubuh Ryan. "saat ini aku bisa membuatnya terasa lebih baik untukmu."


"Harap?"


Tawa yang tak tertahankan harus ditelan lagi oleh Ryan. "Aku hanya punya insting, sayang. Aku tidak pernah menjadi kekasih pertama wanita mana pun sebelumnya."


Segera setelah kata-kata itu terlontar dari mulutnya, Ryan benar-benar tidak percaya ia telah mengatakannya. Menceritakan pengalaman percintaannya yang lalu, dan dalam situasi semacam ini-kebingungan akibat gairah yang tertahan menjadi satu-satunya penjelasan yang bisa dipikirkannya untuk kebodohannya; tapi saat Ia mengamati Farah dengan cemas, ia mendapati bahwa kata-katanya tadi justru membuat Farah terlihat senang.


Pipi Farah yang merona merah sedikit tertutup oleh senyuman memesona, yang cukup untuk membuatnya sampai ke baras pertahanan dirinya. Sambil mendorong hidung mungilnya yang lembut ke bagian tengah telapak tangan Ryan, Farah membelai Ryan dengan bibir yang terbuka, dan berkata dengan lembut, "Insting?"


Jari-jari Ryan membelai hidung dan bibir Farah, sementara tangannya yang bebas diletakkannya di tubuh Farah yang ada di bawahnya, untuk membantunya memasuki Farag lebih dalam dengan satu gerakan lembut. Sambil mencari-cari mulut Farah untuk menerima ciumannya, membiarkan tangannya membelai leher Farah dan bergerak turun, Ryan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu.."


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2