
Akhirnya, ternyata Ryan lah yang menemukan Farah. Pada awalnya, Ryan melihat Farah dari kejauhan, di tempat padang rumput yang terbuka dinaungi oleh kanopi alami yang berasal dari hutan. Farah berbaring tidak berdaya seperti peri telanjang di bawah tanaman anggrek yang menjulur. Punggung Farah menghadap ke Ryan, dilingkupi oleh rambut panjangnya.. Garis cekung pipi Farah dan alisnya nyaris tak terlihat di bawah rambut yang membingkai wajahnya.
Ryan menyebutkan nama Farah sekali, kemudian, menyadari kuatnya emosi yang diluapkannya melalui satu kata itu, Ryan memilih untuk membisu, saar Ia berlari ke arah Farah.
Farah sudah mandi. Setelah selesai, Ia hendak mencuci pakaian lusuhnya namun sakit kepala hebat menyerangnya. Ia berbaring sebentar, tetapi justru tertidur pulas. Kemudian, meskipun Ia mulai percaya bahwa Ia mungkin tidak akan pernah mendengarnya lagi, seseorang memanggil namanya. Instingnya mengatakan bahwa Ia tidak lagi sendirian. Farah berbalik dan melihat Ryan.
Menemukan Farah dalam keadaan hidup dan tampaknya tidak terluka menyentak setiap perasaan yang ada di dalam diri Ryan, yang selama beberapa hari terakhir ini selalu menggelayuti dirinya. Kelegaannya terasa seperti embusan napasnyang terlalu terang untuk dilihat.
"Aku akan meminta Keith untuk memasukkan namamu di dalam arsip sejarah Dark Devil. Dua kali melarikan diri dari markas mafia yang berada di tengah laut bisa menjadi rekor mengagumkan."
Kehadiran Ryan masuk perlahan ke alam kesadaran Farah, dan Ia bukan mendengar kata-kata Ryan, tetapi suara pria itu. Nada suara yang segar dan ringan, rendah dan menawan oleh kecerdasan, dan tidak terlalu meluapkan perasaan, seperti yang mungkin Ryan harapkan.
Farah terkesiap. Saat ini, berdiri pun membutuhkan kekuatan lebih daripada yang ia miliki, jadi Farah mengulurkan tangan untuk memeluk bagian tubuh Ryan yang bisa diraihnya, yang kebetulan adalah kaki Ryan.
__ADS_1
"Ryan!" bisik Farah dengan lembut. Suara Farah tidak bergetar, bukti ketegasan dan pengendalian dirinya.
Masalahnya adalah Farah tidak bisa berhenti mengatakannya. Dan setelah Farah mengatakannya berkali-kali, Ia mengubahnya menjadi, "Apakah ini sungguh kau?" Berulang kali Farah menggumamkan kata-kata itu dalam bentuk bisikan.
Dari semua reaksi yang mungkin ditunjukkan Farah, Ryan sama sekali tidak mengantisipasi reaksi semacam ini. Ryan menunduk menatap kepala Farah, membiasakan diri dengan kedekatan gadis itu. Di kakinya, Ryan bisa merasakan sentuhan hangat payudara Farah, gerakan napas yang naik turun dengan lembut. Rambut panjang Farah menyelubungi betis kaki Ryan dan terlihat seperti jaring hitam di atas sepatu botnya, saat Farah menekankan bibir ke samping lututnya.
Setelah dua minggu lebih diliputi amarah, setelah mencari Farah dengan perasaan tak karuan, segala kemungkinan yang mungkin terjadi memaksa Ryan untuk menerima situasi saat ia menemukan Farah.... Bayangan mengerikan tentang apa yang mungkin dihadapi Farah, yang sempat hilang saat menemukan gadis itu sendirian, kembali lagi menyerang perasaannya dengan kekuatan penuh. Ryan tahu benar mimpi buruk yang dihadapi seorang wanita tanpa pengalaman di pulau kosong seperti ini. Setelah lama merasa ragu-ragu, Ryan duduk di samping Farah, dan meletakkan tangan kirinya di kepala Farah untuk membelai lembut rambut panjangnya yang mengilap itu.
Farah menyebutkan nama Ryan lagi, dengan suara yang terdengar serak, dan seolah ada air mata dan rambut di mulut gadis itu. Jari-jari Ryan mencari dan menarik sejumput rambut yang menempel di bibir Farah yang kering, dan saat ujung jarinya menyapu mulut Farah, ia merasakan kontak panas itu menjalar ke sekujur tubuhnya. Bodoh sekali dirinya, berlutut di sini dan meresapi semua itu. Ryan merasa bingung, Ia tidak bisa mengenali dirinya sendiri di tengah luapan emosi yang bangkit di dalam dirinya.
Namun, Farah tidak melihat luapan emosi itu di ekspresi wajah Ryan. Farah mengamati dengan perasaan campur aduk, antara ketakutan dan rasa syukur, saat Farah menemukan pakaiannya di bawah pohon dan menyerahkannya padanya.
"Mencoba untuk menutupi semua hal yang teramat sulit untuk ditolak," ujar Ryan.
__ADS_1
Dengan gerakan mantap, ringan, dan tidak asing, Ryan beranjak untuk berdiri di batang pohon yang jatuh, yang ditopang oleh akarnya yang masih tertanam di tanah. Kemudian, nyaris tidak memberi Farah waktu untuk bereaksi terhadap komentarnya, "Kenakan pakaianmu, Farah. Lakukan dengan cepat." Kata-kata itu diucapkan dengan kasar meskipun nada suaranya terdengar lembut.
Ryan bisa melihat Farah terkejut mendengarnya. Syaraf Farah sama gembira dan syoknya seperti Ryan, dan Ryan mengamati Farah yang berdiri dengan susah payah, melihat Farah menjatuhkan pakaiannya karena tangannya sudah mati rasa, dan menyadari dengan perasaan tersentak bahwa Farah membutuhkan bantuan.
Semua itu terlihat di mata Farah, kekakuan otot yang tidak biasa. Kelelahan, kelaparan, sinar matahari yang terik. Farah tidak dalam kondisi untuk menjawab pertanyaan apa pun atau menanggapi sikap Ryan. Namun, saat Ryan membuat keputusan untuk menutupi perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya, ia menyadari bahwa ia berjalan menghampiri Farah dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Itu adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan insting, perasaan mendamba untuk bisa menyusuri tangannya ke rambut panjang Farah dan membawa wajah gadis itu mendekat kepadanya. Mulut Ryan menggantung di atas mulut Farah, memanasi bibir gadis itu, membelainya dengan embusan napas yang hangat, sebelum ia menyatukannya dengan lembut dan sangat lembut. Ryan membelai bibir Farah dengan bibirnya, sampai bibir Farah membuka dengan bingung, mengizinkan Ryan menjelajah ke dalamnya dan merasakan madunya. Bibir Ryan terus membelai bibir Farah, mengisap keputusasaan Farah, meluapkan keputusasaannya sendiri, memeluk Farah semakin erat, menghirup aroma anggrek dari tubuh Farah.
Kepanikan yang menghantuinya selama pencarian Farah terasa sirna di bawah ciuman hangat mereka, seperti kabut yang hilang oleh pancaran sinar matahari. Napas Farah berubah cepat dan pendek, mulut Farah bergerak dengan liar di mulut Ryan. Darah Farah berdesir cepat saat Ryan menyusuri tangan ke lekukan punggung Farah, sebelum kembali untuk memberikan sentuhan sensitif ke mulut Farah yang mendamba.
Dalam gerakan sensual, Farah memutar tubuhnya ke tubuh Ryan, menyerap struktur keras pinggul Ryan, jantung Farah berdetak semakin cepat, saat Ryan mencium mulutnya yang lembap dan lembut. Sentuhan Ryan yang berpengalaman mendorong kepala Farah ke belakang dengan lembut, membuka leher Farah untuk menerima ciuman pria itu, mengirimkan getaran bergelenyar ke sekujur tubuhnya. "Apakah kau terluka? Katakan kepadaku, kucing kecilku..." Suara Ryan terdengar aneh, bahkan untuk dirinya sendiri, seolah suara itu berasal dari bagian dirinya yang tidak dikenal.
...♤♤♤...
__ADS_1