
"Siapa nama suamimu nona manis? Katakan padaku". Ujar Ryan seraya menatap Farah dengan mengulum senyum.
Farah terdiam. Ayo Farah.. Berpikir.. Berpikir...
"Richard". Satu nama yang terlontar begitu saja dari mulut Farah.
"Ahh.. Richard apa?"
Farah menyapukan lidahnya ke bibir dan mengucapkan kata pertama yang terlintas di dalam pikirannya. "Richard Cullen".
"Cullen?" Ryan bertanya dengan mengerutkan keningnya. "Apa kau sedang berhayal menjadi salah satu anggota vampir di serial twilight? Edward cullen, Rosaline Cullen.. Dan kau Farah Cullen?" Ryan terkekeh melontarkan sebuah guyonan.
Ryan lalu menyilangkan tangannya di dada. "Aku akan mengatakan ini padamu sayang, kau gagal untuk meyakinkanku". Ryan menatap Farah dengan sorot dingin. "Dengar, sejauh ini aku sudah bersikap lembut padamu, tapi jangan berpikir sikapku ini akan bertahan selamanya. Mungkin nanti saat kau meninggalkan markas Dark Devil, maka itu hanyalah potongan-potongan tubuhmu. Aku bisa memastikan hal itu jika kau tidak mulai mengatakan yang sebenarnya kepadaku atau mulai memoles kebohonganmu hingga bisa lebih mudah dipercaya".
Ryan lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dengan jari jemari yang saling bertaut. "Atau.... Beri aku jawaban yang memuaskan, dan aku akan menempatkanmu di kapal kecil yang akan membawamu kembali ke daratan dan memastikan kau diantarkan dengan selamat ke rumahmu dan kau akan diberikan sejumlah uang yang memadai untuk pergi kemanapun yang kau inginkan". Ryan terdiam sejenak, menatap lekat wajah Farah dan melanjutkan perkataannya dengan sabar. "Di Club kumuh itu kau duduk dengan salah satu anak buah Andreas".
"Tidak! Apa maksudmu? Anak buah Andreas, siapa yang kau maksud?"
__ADS_1
"Pemilik club yang memberikanmu minum segelas orange juice di bar. Jika memang itu hanya suatu kebetulan, sebaiknya kau memiliki penjelasan kenapa dia bisa begitu ramah padamu, karena itu artinya sudah dua kali kau berurusan dengan Andreas dan kroninya Kau memiliki dua pilihan, Farah. Kau bisa berkata jujur, dan aku akan melepaskanmu atau kau bisa berguna dan aku akan melepaskanmu. Saranku, kau lakukan salah satu dari kedua pilihan itu sebelum kesabaranku habis".
Dari kata-kata Ryan, untuk pertama kalinya Farah bisa memahamu betapa besarnya bahaya yang sedang dihadapi olehnya. Ryan bukanlah penjahat kelas teri dan pria yang sedang menatapnya dengan sorot dingin ini adalah pria yang sangat cerdas, terpelajar dan tidak berperasaan. Farah jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa Andreas? Dan, apa misinya? Farah selalu berpikir petualangannya ke club terpencil itu bisa membantu tugas sang kakak demi keamanan negara, namun Ia tidak menyangka jika Ia justru terseret ke dalam pusaran api. Farah harus meyakinkan Ryan bahwa Ia tidak ada hubungan sama sekali dengan Andreas. Namun, Ia tidak tahu harus meyakinkan Ryan dengan cara apa lagi.
Tampaknya sudah cukup bagi Ryan memberikan waktu bagi Farah untuk mempertimbangkan takdirnya. Ryan lalu berkata dengan lembut. "Jadj, Nyonya Richard Cullen. Apakah suamimu tidak keberatan kau tidur dengan Andreas?".
Farah ingat semalam penghinaan semacam itu telah membuatnya marah. Namun, amarah masih bisa ditanggungnya dibandingkan kelelahan mental yang dirasakannya sekarang. Farah mulai merasakan kepalanya berdenyut hebat dan Ia menekankan jarinya di pelipis untuk memijatnya dengan kuat.
"Begini," ujar Farah sambil menatap pergelangan tangannya yang masih sedikit memar akibat tali tambang yang mengikatnya saat diculik. "Aku tahu kau pasti berspekulasi jika aku adalah wanita Andreas. Aku memang mengenalnya. Tapi aku jujur padamu, aku mengenal pria itu karena tanteku! Andreas adalah sepupu dari sahabat lama tanteku. Lalu secara tiba-tiba, Tanteku mengajak bepergian ke Singapura".
"Dan kau tinggal di sebuah mansion konglomerat Singapura..." Timpal Ryan. "Apakah kau tidak tahu jika orang biasa bahkan untuk menginjak rumput di halaman mansion itu saja tidak bisa? Kau bahkan bisa tidur di sana."
Ryan menatap lekat Farah dengan serius. "Oke. Kau hampir tidak mengenal Andreas, akan kuingat perkataanmu. Kalau begitu, bagaimana bisa kau berniat pergi ke Manhattan dengannya? Dan di mana suamimu? Apa dia lagi-lagi akan membiarkan istrinya pergi dengan pria lain ke benua lain?".
Dengan gugup, Farah menjawab. "Suamiku.... Dia akan menyusul". Farah lalu memberanikan diri menatap Ryan. "Tidak peduli di mana suamiku dan bagaimana aku akan pergi ke Manhatttan dengan Andreas dan tanteku, faktanya adalah aku tetap tidak memiliki hubungan apapun dengan Andreas".
Tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Farah, Ryan bangun dari sofa dengan perlahan dan dengan tangan yang berada persis di atas bahu Farah, Ryan menarik Farah hingga menempel di dadanya. Mereka berdua sangat dekat hingga Ryan bisa merasakan setiap tarikan napas dan setiap detak jantung Farah.
__ADS_1
"Katakan padaku kucing manis," ucap Ryan dengan suara yang tenang tetapi tidak terbantahkan. "Jika kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Andreas, kenapa kau sampai percaya padanya untuk pergi ke Manhattan? Dan jika kau berniat untuk berbohong lagi, aku sarankan padamu untuk mencari alasan yang bisa kupercayai".
"Apakah kau akan percaya jika aku bilang kalau aku pergi ke Manhattan untuk menemani tanteku? Untuk menemani tanteku yang rindu dengan kehidupan sosialita kasta tertinggi yang sempat dimilikinya di masa lalu?". Farah berucap dengan pelan.
"Tidak. Aku tidak percaya. Jika itu alasannya, kenapa kau juga perlu ikut dengan mereka?".
Karena tanteku ingin memberikan kehidupan sosial yang tinggi sialan! Dia berkhayal jika aku bisa mendapatkan seorang triliuner disana dan hidup di sebuah penthouse termahal di Manhattan!
Tentu saja Farah mengatakan itu hanya di dalam hatinya. Farah yakin alasan itu hanya akan terdengar konyol untuk Ryan.
"Sudah cukup berputar--putar, Farah." Ujar Ryan dengan sinis. "Ge? Bawa dia ke kamar anak buahku yang memiliki perilaku paling tidak senonoh yang bisa kau pikirkan di markas".
"Terserah padamu". Cetus Gege. "Aku hanya akan mengunci kamar ini setelah kita semua keluar dan akan kuberikan kuncinya padamu".
Ryan dan Keith pun segera melangkah keluar ruangan, sesaat Ryan berbalik sambil mengangkat bahu tidak acuh ke arah Farah dan mata Ryan menangkap tatapan Keith yang melihat Farah dengan... Lembut? Penasaran? Ryan membuang muka dan bersikap acuh.
Sementara Keith, seraya berjalan keluar dari kamar Ryan, sejujurnya Ia merasa sedikit menyesal telah memberikan serbuk bius pada Farah meskipun Ia lega karena tidak terdorong oleh gairahnya sendiri untuk membawa Farah ke atas tempat tidurnya.
__ADS_1
...♤♤♤...