Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 47


__ADS_3

"Sepertinya tidak ada pos penjagaan di sekitar sini." ujar Mike dengan ekspresi murung. "Temanku itu...", kata Mike dengan nada tidak yakin, "Bisa saja dia hanya bergurau saat mengatakannya. Aku ingat suatu kali saat dia tertidur di pantai aku tidak ingat tempat persisnya dia menjahitkan selimut untukku dan memasukkan batu bara ke dalamnya. Aku melompat ke teluk untuk bisa melepaskan selimut tersebut. Nyaris terbakar sekaligus tenggelam."


"Aku tidak mau lagi mendengar cerita tentang temanmu itu selama aku hidup," tegas Farah dengan nada mengancam. Namun, kenyataannya tidaklah begitu. Saat ia duduk untuk beristirahat bersama Mike di bawah sinar rembulan, mendengarkan Mike mengingat lebih banyak insiden yang mengungkapkan kejailan temannya.


"Kita hanya harus berbaring di sini malam ini dan besok pagi kita akan menemukan cara untuk kembali ke perahu."


Kejadian selama sebulan ini sudah menguatkan Farah untuk menerima bencana. Itu sebabnya ia tidak akan menangis. Yang ia makan sejak kemarin hanyalah kue kering simpanan Mike dan beberapa potong apel kering, rumput yang menjadi alasnya tidur terasa basah, dilapisi kerikil, dan mungkin penuh dengan laba-laba; dan ia berada di sebuah pulau yang dihuni ular liar dan terdapat altar untuk kegiatan supranatural. Saat menatap bintang di langit melalui sela-sela dedaunan, Farah berpikir, Ryan, Ryan, kenapa aku membiarkanmu membuatku panik hingga mengambil tindakan nekat seperti ini? Farah terlalu lelah mengenyahkan kenangan wajah Ryan, atau kehangatan yang masih terasa setiap kali Ryan menyentuhnya. Dan, mata cokelat Ryan.


Terkadang, Farah merasa panas saat menatap ke dalam mata itu, seolah mata Ryan menyimpan bara matahari. Mungkin itu pikiran yang bodoh, tetapi karena salah Ryan lah ia sampai bisa tersesat di tempat persembahan voodoo dan tidak bisa makan malam. Hari esok terlihat suram untuknya dan Farah tertidur lelap dengan napas teratur.


Mike bangun dan merenggangkan tubuh, mengumumkan dengan penuh percaya diri bahwa pria itu tidak akan duduk di bawah pohon dan mengeluh seperti seorang gadis. Dengan menggunakan pisau belatinya, Mike memotong beberapa ranting pohon chesnut untuk membuat api kecil dan sebuah obor. Mike berdiri sambil membawa obor buatannya, membiarkan cahayanya yang kemerahan terpantul di air kolam. Saat itu, kepala kecil berwarna hitam, seperti potongan batu bara, muncul dari dalam air. Mike masuk ke air untuk mengejarnya, dan udara malam dipenuhi dengan bermacam kata makian. Mike keluar beberapa menit kemudian, dengan tubuh basah kuyup, dan mengangkat seekor kura- kura yang menggigiti jarinya yang berdarah. Mike meletakkan kura- kura tersebut di tanah dengan posisi terbalik, dan dengan cepat Farah yang terbangun dari tidur, memalingkan kepalanya, saat Mike mengeluarkan pisau.


Saat Farah melihat ke arah Mike lagi, sudah ada daging kura- kura yang ditusuk dengan kayu dan terpanggang di api.


"Kau mau sebagian?" tanya Mike kepada Farah. "Rasanya enak. Sangat enak."


Saat Farah menggelengkan kepalanya, Mike tidak mengatakan apa-apa untuk memaksanya. Setidaknya, semangat Mike sudah bertambah.

__ADS_1


"Tidak, Sir," ujar Mike. "Tidak ada makanan apa pun yang bisa membuat orang merasa optimis. Terimalah kenyataan! Kenapa kau terlihat begitu sedih? Besok pagi, kita akan kembali ke perahu. Aku berani jamin, pos perdagangan itu ada di pulau berikutnya."


"Iya," ujar Farah dengan murung. "Kita bisa mengikuti peta yang kau simpan."


Mike duduk di depan Farah, membawa daging kura-kura yang sudah matang. "Ayolah. Makanlah sedikit," bujuk Mike sambil menawarkan daging kura-kura itu. "Tubuhmu akan mendapatkan sedikit tenaga. Tidak ada gunanya membuat dirimu sendiri kelaparan."


Farah menatap daging kura-kura itu dengan lesu dan menggigitnya sedikit, karena Mike meletakkannya tepat di depan hidungnya, dan ia tidak memiliki energi menolaknya. Bau daging itu menjijikkan, rasanya mengerikan. Itu adalah makanan untuk orang yang dalam keadaan luar biasa lapar. Farah menelannya tanpa berpikir dan menggigit sepotong lagi.


"Orang bilang daging kura-kura beracun." ujar Mike dengan mengamati Farah makan.


Farah langsung meludahkannya ke telapak tangan.


Sudah cukup. Farah merasa sangat lelah, tetapi ia tidak akan duduk saja. Farah mengambil tongkat panjang yang bengkok di bagian ujungnya dan menghampiri Mike, menantang pria itu layaknya pemain pedang.


"Bersiap!" seru Mike sambil mengacungkan tongkat yang sebelumnya dipakai untuk menusuk daging kura-kura. Keduanya tidak lagi memiliki sisa tenaga untuk melakukannya, jadi pertarungan mereka hanya bertahan sebentar, dipenuhi canda dan tawa. Mengusir lalat pasir, menendang debu, melompat ke arah satu sama lain. Kedua petarung yang kelelahan bersandar di batang pohon chesnut, menepis nyamuk dengan tangan mereka, dan mendengarkan nyanyian malam. Betapa banyaknya jenis simfoni yang terdengar di malam yang tenang. Suara dengungan, desisan, siulan, dan cicitan burung. Bulan yang bercahaya tergantung di atas mereka, begitu dekat dan besar....


Saat fajar menyingsing, Farah bangun, merasa bingung, dan sekujur tubuhnya kaku. Mike masih tidur, dan tidak juga terbangun, akhirnya Farah berlutut di samping tubuh Mike yang berdebu dan mencoba membangunkan pria itu dengan berbagai cara.

__ADS_1


Namun, Mike sudah mati. Insting tajam memperingatkan Farah sebelum ia bisa menggulingkan tubuh pria itu hingga terlentang, merasakan otot Mike yang tidak bertenaga, dan tubuh yang sudah kaku. Mata Mike terpejam, kelopaknya kebiruan rahangnya sedikit terbuka. Ini bukan seperti orang yang sedang tertidur. Semalam, jantung Mike telah berhenti berdetak,


Farah duduk di sana untuk waktu yang cukup lama, menatap mayat Mike dengan penuh kesedihan.


Kemudian, Farah menyadari bahwa ia hanya tinggal sendirian.


Farah baru menyadari betapa sendirian dirinya, saat berusaha menemukan pantai seorang diri, mengikuti aroma laut, tetapi hanya untuk mendapati bahwa perahunya telah hilang terbawa ombak.


Farah menemukan batu ceper dan mulai menggali tempat di sekitarnya untuk kuburan Mike. Namun, buaya muncul dari dalam kolam dan memakan Mike sebelum Farah selesai menggali. Farah langsung berlari secepat mungkin ke atas pohon dan tetap bertahan di sana, gemetar karena takut, berusaha untuk menutup telinganya agar tidak mendengar suara mengerikan di bawah. Saat itu, Farah tidak menangis, begitu pula saat ia mendapati bahwa perahunya sudah hilang, bahkan ketika kakinya menginjak sesuatu yang ternyata sisa kepala Mike. Farah berusaha mulai melakukan apa yang dipelajarinya selama berada di markas Dark Devil, yakni bertahan hidup.


Dua minggu berikutnya, Farah belajar seperti apa rasanya benar- benar sendirian. Seolah ia adalah manusia terakhir di muka bumi. Seorang diri menatap malam panjang yang dipenuhi oleh bintang terang dan kabut tebal, siang hari yang dipenuhi oleh suara menakutkan dari alam hutan. Jam demi jam berlalu tanpa mendengarkan suara satu manusia selain dirinya sendiri.


Aneka macam serangga mengelilinginya tanpa henti. Bercak kemerahan di tubuhnya menjadi penanda gigitan mereka. Setiap pagi, Farah terbangun untuk menyingkirkan semut dan serangga lain dari kulitnya, dan berduka untuk keluarganya, yang tidak akan pernah tahu bagaimana nasibnya.


Area di sekitarnya dipenuhi vegetasi yang lebar. Farah tidak tahu mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Percobaannya mengakibatkan penderitaan yang tak terkatakan terhadap pencernaan- nya. Farah semakin sulit mengingat kenapa melarikan diri dari markas Dark Devil bisa terlihat seperti ide yang bagus. Saat Farah mencoba satu lagi buah tropis yang terasa getir dan bertanya-tanya apakah itu singkong, ubi, atau hanya Tuhan yang tahu. Ia teringat lagi momen saat berada di markas Dark Devil, ketika ia makan di pinggir pantai bersama Will yang mengejek bibirnya dan ia melakukan isyarat kasar dengan jari, yang bahkan Farah tidak tahu apa artinya meskipun semua orang di sekitar mereka tertawa terbahak-bahak. Pada saat itu, Farah sama sekali tidak menyangka bahwa akan datang hari, saat ia akan mengingat momen itu dengan perasaan rindu.


...♤♤♤...

__ADS_1


Jgn hujat kucing manis ini.. Dia udah menderita di pulau asing sendirian😂


__ADS_2