
Ryan bersandar di mobil SUV hitam, kakinya disilangkan dan lengannya dengan santai dilipat di depan dada. Rambut pirang berwarma cokelat tembaga tertiup hembusan angin. Ryan terlihat mengamati Ben dengan lekat, tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ben.
Ryan tersenyum sinis sebelum akhirnya berucap, "Aku berpikir keras apakah layak jika aku menghabiskan waktu untuk mencari tahu apa yang dilakukan oleh dua orang dari kalangan terhormat di club murahan seperti ini".
"Orange juice!" Ujar Ben sangat cepat hingga terkesan asal.
"Oh, demi segelas orange juice yang segar itu? Apakah adikmu atau.. Temanmu ini mengidam hingga harus jauh-jauh kemari demi segelas orange juice?" Bibir Ryan melengkung seraya menatap Farah seakan mengejeknya. "Apa kau tahu dia sudah melahirkan bantalan kain?" Ryan lantas tertawa pelan hingga membuat Farah memberengut kesal. "Kau tahu? Tidak peduli penyamaran konyol apa yang sedang kalian lakoni disini, tapi cara bicara dan sikap kalian menyatakan kalau kalian bukanlah dari orang-orang rendahan".
Nada suara Ryan sama sekali tidak terdengar sebagai pujian, pria itu justru mengeluarkan aura mencekam yang sama sekali tidak Farah lihat saat bersama dengannya. Pria itu mengeluarkan nada ancaman seakan menyatakan tidak ada gunanya untuk mendebatnya sekarang.
Ben melangkah mendekat pada Ryan dengan berani. "Dengar bro, tidak bijaksana jika kau memberi penilaian yang tidak mendasar. Apakah kami adalah orang penting atau bahkan memang orang rendahan, tidak ada hubungannya denganmu kan?".
Ryan tersenyum lebih lebar. "Apa kau sedang mencoba mengujiku? Aku bahkan bisa lebih buruk daripada yang aku perlihatkan padamu saat ini. Mungkin itu bisa menjadi bahan pertimbanganmu apa kau akan berkata jujur atau tidak".
"Kami tidak tahu apa-apa yang mungkin membuatmu tertarik!" Ujar Ben.
"Bagaimana kau bisa tahu apa yang membuatku tertarik?" Tanya Ryan kepada Ben seraya mengangkat sebelah alisnya. "Aku sangat yakin kau tidak.cukup bodoh untuk mengatakan banyak hal kepada adikmu yang manis ini, aahhh atau dia pacarmu? Temanmu?" Ryan melirik Farah yang tengah diam mengamati. "Tapi, apa yang ada di pikiranmu yang akan membuatku tertarik?".
Ben mengangkat dagunya seraya menatap Ryan dengan berani. "Kau butuh waktu lebih lama dari yang bisa kau bayangkan untuk mengorek keterangan dariku".
Ryan tertawa kecil hingga bahunya bergetar. "Hahaha aku tahu. Kau tidak perlu memperjelasnya seperti itu. Aku tidak akan membuang-buang waktuku untuk mengorek keterangan darimu. Tapi....." Ryan menatap Farah dengan lekat. "Aku ingin tahu sampai sejauh apa kau membiarkan aku menodak gadis manis ini, sebelum kau mulai menjawab pertanyaanku?"
Ben berteriak dan mengumpat Ryan sedangkan Farah merasa kakinya lemas. Ryan tersenyum miring. "Kau pria yang cerdas, tapi kau seorang amatir".
__ADS_1
"Berikan tanganmu padaku!" Titah Ryan.
Dengan enggan, Ben mengarahkan sebelah tangannya pada Ryan. Farah mengamati Ryan yang mengeluarkan sebuah gelang dengan logo khusus Dark Devil berwarna merah dari balik jaketnya. "Berikan gelang ini pada orang yang menjaga di ujung jalan. Katakan padanya untuk membiarkan kalian lewat".
Dengan penuh rasa syukur Farah memejamkan mata dan menghembuskan napas lega. Ia lalu membuka matanya dan menatap Ryan dengan berbinar. "Kau melepaskan kami?"
Tangan Ryan terulur ke bagian belakang kepala Farah, membelai rambut panjangnya dengan lembut. "Orang selalu enggan untuk melepaskan sesuatu yang begitu indah" Ujar Ryan.
"Aku tidak akan bersikap baik untuk kedua kalinya, kau tahu itu kan?" Ryan beralih menatap Ben dengan tajam.
"Ya. Aku paham" Timpal Ben dengan cepat.
"Jika adikmu ini sangat berharga, lain kali kau tidak boleh membahayakan nyawanya lagi" Jari-jari Ryan membelai kulit leher Farah hingga gadis itu meremang.
Seperti orang bodoh, Farah diam membisu mengamati Ryan yang berjalan ke arah club. Ben lantas seketika merosot jatuh ke tanah karena kakinya terasa lemas. Ben menundukkan kepala ke atas lutut dan meletakkan lengannya di belakang kepala. Ben berteriak kecil seraya tertawa. "Ya Tuhan.. Dia pria yang aneh". Ujar Ben. "Kita beruntung masih bisa tetap hidup dari mafia satu itu. Dia menciummu kan? Tanya Ben beralih mendongak menatap Farah.
"Hah? Apa?" Farah tiba-tiba saja merasa kikuk.
"Tidak perlu menutupinya dariku. Aku tahu dia menciummu. Kau terlihat terguncang". Ben terkekeh pelan.
Farah mengusap tengkuknya. "Kau tahu, Ben. Seharunya aku melawannya. Aku benar-benar seperti orang bodoh.".
Ben tergelak. Farah lalu ikut duduk di atas tanah seraya memeluk lututnya. "Melawan? Kenapa kau harus melawannya? Pria seperti itu menciummu... Hmmm... Lupakanlah" Ujar Ben.
__ADS_1
"Menurutmu kenapa dia membiarkan kita pergi? Apa dia tidak curiga siapa kita?". Tanya Farah merasa heran dengan sikap Ryan.
Ben mengedikkan bahu. "Jujur, aku juga tidak tahu apa yang di pikirkannya. Siapa sebenarnya pria itu?"
"Aku mendengar salah satu bodyguard memanggilnya dengan nama.... Ryan"
"Ryan? Ryan..... Apakah kau yakin dia di panggil dengan nama itu? Ryan? Ya Tuhan! Apa mungkin......."
"Apa?" Farah menatap Ben dengan pelipis yang bertaut.
Ben berdiri seraya menepuk celananya. "Lupakanlah. Itu tidak mungkin. Hanya pikiranku yang sangat konyol. Berdirilah! Sebaiknya kita menunggu Zac dan Austin di dalam mobil!".
...●●●...
Sosok asing itu semakin sering mendatangi mimpi Farah. Malam itu, saat Ia kembali ke kamarnya, Farah bisa merasakan kehadiran sosok asing itu sedang menunggu di balik tirai.
Foto yang di ambil oleh Farah saat perjalanan ke club akan menjadi foto-foto terakhir untuk Zac. Kakaknya itu berkata dengan serius bahwa Ia lebih baik membiarkan beberapa mata-mata membuat kekacauan dalam penyelidikan di bandingkan membiarkan Farah menghadapi bahaya semacam itu lagi.
Seluruh foto yang Farah ambil cukup memuaskan bagi Zac. Pria yang menjadi target Zac dengan tubuh besar bernama John, yang menjadi alasan Keith datang ke club terpencil itu, serta Zac menceritakan bahwa ketika Farah berada di luar club, Keith menakut-nakuti John dengan memotong masing-masing jari kelingking pria penyelundup itu. Farah juga memiliki foto Keith, Ryan, serta Gege, bodyguard yang memergokinya di pintu belakang bersama Ryan.
Hari demi hari berlalu hingga akhirnya sudah tidak terasa sudah enam bulan berlalu sejak tragedi di club. Farah duduk di tepi kolam dan memainkan jari jemarinya di dalam air. Selama berbulan-bulan Ia kembali menjalani hidupnya di dalam cangkang yang bersih dengan fasilitas yang di butuhkannya untuk menjalani kehidupan tenang dan tanpa tantangan. Farah mencoba membiarkan setiap menit yang berlalu dalam hari-harinya meredam syarafnya yang baru saja terbangun karena sentuhan seorang pria.... Farah menghela napas, apa pria itu memang kawanan Dark Devil, pria setampan itu....
...♤♤♤...
__ADS_1