Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 57


__ADS_3

Ryan menggosok matanya dengan pangkal tangan, seolah sedang menjernihkan kembali otaknya, dan saat menurunkan tangan, Ryan berkata, "Kau mungkin tidak memiliki keyakinan terhadap ampuhnya kekuatan menyembuhkan yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah, tapi aku janji kepadamu, bahwa rasa bersalahku akan membuat Farah tetap hidup sampai usianya tiga ratus tahun. Dan Farah lebih berarti bagiku daripada sekadar tubuh yang hangat...." Ryan tidak melanjutkan kata-katanya, namun tangannya merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan secarik kertas. Ryan menyerahkannya kepada Gege "Katakan kepadaku tentang catatan ini," ujar Ryan.


Gege menoleh ke arah kertas itu. Di sana, terdapat tulisan tangannya sendiri, deretan huruf yang tersusun rapi, yang selalu terlihat berasal dari tangan orang lain dan bukan tangannya sendiri.


"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Gege, seolah ia belum mengetahuinya. "Catatan itu ada di sampingku saat Linda membangunkanku. Aku menduga Keith yang meletakkannya di sana. Aku tidak bisa memikirkan orang lain yang cukup berani menyobek buku jurnalmu selain dia. Apa itu?"


Dengan enggan, Gege menjawab, "Ramuan obat suku pedalaman. Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya."


"Apakah kau sudah mencobanya?"


"Kemarin. Aku membuat ramuan itu, dan Will memberikannya pada salah satu anjing". Gege memalingkan wajah dari Ryan, menatap jejeran pohon yang berbaris rapi. Gege merasakan tatapan tajam Ryan, lalu saat ia baru saja merasa lega karena Ryan mengalihkan pandangannya, Ryan membuat kesimpulan sendiri.


"Apakah anjing itu mati?" ujar Ryan. "Aku tidak tahu apakah anjing itu akan mati," kata Gege. Ketidakberdayaan, kejengkelan, dan frustrasi kembali dirasakan Gege, syukurlah sekarang ia mampu menyingkirkan semua itu dari suaranya, saat menjelaskan, "Will tidak tega melihatnya dan menembak mati anjing itu."


Ryan menggumamkan rasa simpatinya sambil menyusuri rumput dengan jarinya.


"Kalau begitu, dosisnya terlalu kuat. Kita bisa menguranginya." ujar Ryan.


"Demi Tuhan, apakah menurutmu aku tidak berpikir ke sana?" tegas Gege. "Menguranginya seberapa banyak? Bahkan, sekali pun aku tahu, aku tidak yakin ramuan itu cukup aman untuk Farah."

__ADS_1


Dalam perjalanan menyusuri rerumputan, tangan Ryan menemukan kalajengking kecil dan Ryan membiarkan binatang itu berjalan ke atas telapak tangannya. Otot perut Gege terasa diremas-remas, sekali pun ja tahu bahwa sengatan kalajengking kecil tidak lebih berbahaya daripada gigitan semut. Gege terus menutup mulutnya, dan tidak lama kemudian Gege membiarkan kalajengking itu merayap di atas perutnya.


Ryan tersenyum. "Ramuan orang suku pedalaman itu terkenal ampuh."


"Dengar, " Ujar Ryan menatap Gege dengan serius. "Kita akan coba dosis yang lebih ringan dan berikan terlebih dulu kepadaku. Bisa kan?"


"Tidak!" Wajah Gege berubah pucat. "Oh, tidak Jangan memintaku melakukannya."


Tapi Ryan sudah berdiri. "Jangan terlalu takut, Ge. Apakah kau pikir aku akan membiarkanmu membunuhku? Aku tidak akan tega membiarkanmu menjelaskan kematianku kepada Keith seorang diri........"


"Belum lagi aku harus memasukkanmu ke dalam peti mati murahan dan mengirimmu pulang pada ibumu." Timpal Gege dengan meluapkan amarahnya, Gege berkata, "Cobalah untuk berhenti berusaha menjadi pahlawan, bisa kan? Aku sudah merasakan duka yang mendalam melihat Farah tidak sadarkan diri. Aku tidak akan memberikan ramuan itu kepadamu. Tubuh manusia tidak selalu mengeluarkan apa pun yang kau masukkan. Reaksi Kimia dari obat-obat dokter lalu racun arsenik.... Oh Tidak, aku tidak mau melakukannya pada tubuh yang sehat."


"Luar biasa! Aku tidak perlu mengirimmu pulang, tapi aku mungkin akan menguburkanmu bersama anjing yang mati kemarin. Sebenarnya ada apa denganmu?" Gege mulai frustasi.


Pada akhirnya, Ryan lah yang menang, Saat kemudian Gege memikirkannya lagi, mungkin hal itu disebabkan oleh fakta bahwa urusan mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak ada yang bisabmengalahkan Ryan. Gege memberikan Ryan ramuan obat yang masih diragukan keampuhannya, dan saat Ryan masih bertahan hidup meskipun kondisinya tidak bisa dikatakan sehat, Gege mengurangi dosis ramuan itu dan memberikannya kepada Farah.


●●●


Farah membuka matanya. Ia melihat Gege, sedang menunduk di atasnya dengan memegang kain basah, yang dibasuhkan Gege ke kulit Farah setiap beberapa detik sekali, saat Gege tidak sedang meminumkan obat padanya. Kain basah yang dengan lembut diletakkan di keningnya membuat Farah merasa lengket. Dan, Gege telah membangunkannya dari mimpi tentang monster asing. Farahbmengangkat tangannya dan mendorong Gege.

__ADS_1


"Tidak!" ujar Farah dengan suara serak.


Farah melihat Gege menjatuhkan kain dan membuat seprai basah, Gege menatap wajah Farah dengan ekspresi yang terlihat seperti ketakjuban yang sangat besar. Sebelum Farah memiliki kesempatan mengomentari nya, Gege sudah meraih tangannya dan menekankannya ke mulut pemuda itu dengan mata terpejam erat. Kemudian, yang membuat hati Farah terasa pedih, Gege menunduk di atas tangan Farah dan menjatuhkan sesuatu yang basah ke bagian tengah telapak tangannya, sebelum meluncur turun ke pergelangan tangannya. Dari mana air itu berasal? "Kau tidak ikut sakit, kan?" tanya Farah..


Gege memalingkan wajahnya. "Tidak. Tidak, aku...." Suara Gege terdengar aneh. "Farah, kau akan segera sehat. sembuh."


"Itulah yang selalu kau katakan kepadaku. Tapi, aku belum melihat bukti nyatanya," tegas Farah dengan jahil meskipun wajahnya masih pucat. "Di mana Ryan? Kenapa di sini sangat gelap? Aku haus. Dan kau membuat tanganku basah."


Dalam kondisi bahagia yang lebih tinggi daripada apa pun yang pernah diketahuinya dalam hidup, Gege bergegas memenuhi semua permintaan Farah. Membuka jendela, menyeka tangan Farah hingga kering, mengangkat kepala Farah untuk memberinya air. Gege sempat berhenti sebentar di depan cermin untuk mengamati matanya sendiri, yang ajaibnya telah mengeluarkan air mata untuk pertama kalinya sejak bayi. Akhirnya, setelah Gege merasa yakin bisa mengendalikan kemampuan barunya mengeluarkan air mata, Gege pergi untuk mengatakan kepada yang lain bahwa Farah akan bertahan hidup.


Farah tidak pernah diberi tahu bahwa gadis itu pernah berada di ambang kematian. Akibatnya, Farah tidak mengerti kenapa semua orang begitu bahagia melihatnya sadar. Dan jika ada yang tahu kenapa butuh waktu tiga hari sejak ia sadarkan diri sebelum Ryan datang mengunjunginya, mereka merasa tidak berhak mengatakan apa alasannya. Baru di kemudian hari, Farah mengetahui bahwa Ryan menghabiskan tiga hari itu untuk melawan efek racun arsenik.


Pulau Keith adalah pulau subur yang masih belum banyak terjamah dan berada di wilayah tropis. Tanaman kopi dan cokelat untuk ekspor tumbuh subur di tengah lembah. Di sana-sini, terdapat perkebunan yang dikelola oleh anak buah Keith yang menjadikan pulau itu sebagai rumah mereka.


Proses penyembuhan Farah di pulau itu diisi dengan tidur sore yang panjang dan menyantap makanan lezat buatan koki Keith. Vila itu sendiri tidak terlalu luas, tetapi dibangun dengan gaya Spanyol yang indah dan dilengkapi dengan perabot elegan yang bisa menjadi kamuflase untuk tamu yang datang bahwa pemiliknya adalah seorang mafia. Jika mencoba untuk mencari jejak kepribadian Keith, atau Ryan di sekitar vila tersebut, hasil yang didapatkan hanyalah kebingungan yang semakin besar.


Satu-satunya kejutan yang kurang menyenangkan adalah Farah menyadari bahwa di hatinya, ia mulai mengharapkan kelembutan Ryan, yang dilakukan lebih karena perasaan kasih dan bukannya rasa bersalah. Kebodohan yang tak terjelaskan, hanya itu penjabaran yang cocok untuk perasaan mendamba yang dialami Farah, lebih karena Ryan tidak pernah lagi berusaha untuk berduaan dengannya sejak mereka datang ke pulau ini.


Sepertinya, Ryan selalu menghindar darinya. Sekarang, Farahbsudah tahu betapa berbahayanya jika ia terialu memedulikan apa yang dirasakan Ryan terhadapnya. Berapa kali ia harus mendapatkan pelajaran yang menyakitkan itu? Yang harus Farah lakukan adalah mengubah perasaannya menjadi sekadar pertemanan dan tidak menyesali hal-hal yang tidak mungkin terjadi. Ada perasaan nyaman saat mengetahui, sekalipun perasaan itu berkembang menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi ia kendalikan, ia selalu bisa membahasnya dengan Gege.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2