
Angin laut berhembus kencang menerpa dua insan manusia yang saling menolak, saling menarik, saling bersikeras dengan keinginannya masing-masing. Tangan Ryan yang berada di belakang tubuh Farah bergerak perlahan, mendapati cekungan lembut dan lekukan subur. Menyadari tubuh Farah yang kaku, Ryan mengangkat satu tangannya lalu membelai rambut Farah dengan satu tangan dan memijat pelan bagian belakang leher Farah sampai terasa lebih santai di dekapan pria itu.
"Hmm.. Apakah kita mengakui kita menyukainya?, atau kita masih berpura-pura tidak menyukainya?".
Berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya dengan putus asa, Farah berkata, "Kenapa kau berpikir aku berpura-pura? Aku memang tidak menyukainya".
"Hmm.." Tangan Ryan bergerak turun lagi dan dengan lembut mengangkat Farah ke tubuh pria itu. Farah menggerakkan Farah dengan perlahan. "Tubuhmu merespons dengan samar-samar". Farah lalu mengangkat wajahnya dan melihat Ryan sedang tersenyum kepadanya, dengan mata yang begitu sarat dengan kehangatan.
Ryan lalu memberikan ciuman di kelopak mata Farah. Pipi Farah terasa terbakar oleh sapuan bibir Ryan, lalu bibir itu bergerak ke bawah, menekan mulutnya dan mengulumnya perlahan. Dengan halus, jari-jari Ryan membelai telinga Farah. Tangan Ryan yang menopang punggung Farah menggoyangkannya ke depan dan belakang dengan sensualitas yang ringan. Di bawah tekanan tubuh Ryan, Farah merasa mendamba. Dunia terasa seperti kumpulan cahaya yang terang dan indah, dan Ia merupakan salah satunya, berputar tak tentu arah di dalam dekapan seorang pria. Ketika akhirnya Ryan melepas tautan bibir mereka berdua, napas pria itu terdengar lembut di telinga Farah, sementara dirinya sendirj masih belum bisa sepenuhnya mengeluarkan udara di paru-parunya yang sesak.
"Jika kau sudah selesai, lemparkan saja aku ke laut" ucap Farah.
Ryan tertawa keras namun terdengar lembut dan menggoda. "Bukankah lebih baik sebaiknya kita pergi ke kamar dan mengeksplorasi lebih jauh?".
"Tidak, jangan lakukan". Ucap Farah dengan suara pelan hampir berbisik.
Ryan lalu melepaskan tubuh Farah dan mendorongnya dengan lembut agar tercipta sedikit jarak di antara mereka. Sudah cukup Ia dan Farah membuat tontonan gratis bagi para anak buah yang sedang berkeliling di sekitar pantai, walau anak buah Keith tidak terkejut jika Ryan menunjukkan kepemilikannya terhadap Farah kapan pun Ia menginginkannya, rasanya bukan ide yang baik jika Ia menjadikan Farah sebagai objek yang terbuka. Karena Ryan tahu, ada sejumlah pria di markas Dark Devil yang tidak bisa dipercaya kalau dibiarkan berduaan dengan Farah. Ryan mengingat wajah orang-orang itu di dalam pikirannya lalu menyeringai karena Ia termasuk di dalamnya.
Rambut Farah tergerai ke depan, berkilau dan bergerak naik turun di atas dua bola kenyalnya, menambah keindahan sosoknya. "Yang kita lakukan berdua hanyalah bertengkar atau........ Berciuman". Ucap Farah dengan raut wajah jengkel. "Aku bisa gila rasanya..."
Ryan terkekeh kecil. "Apa itu sebuah permintaan untuk meningkatkan hubungan kita atau cara halusmu untuk menyatakan kau ingin mengakhirinya? Apa yang bisa kau lakukan selain bertengkar dan berciuman?".
__ADS_1
"Menangis". Ujar Farah asal. "Kau sudah sering melihat keahlian ku yang satu itu. Dan, kurasa aku.... Hmmmmm..."
"Apa?".
"Bagaimana kalau- hmm, kalau kita mengadakan gencatan senjata saja?"
Ryan tersenyum geli. "Kau berani sekali. Apa kau tidak paham apa maksud dari gencatan senjata itu? Tidak terbatas sayang". Ryan menatap Farah dengan sorot humor. "Bertukar tawanan, merencanakan tindakan selanjutnya jika perang berlanjut atau masalah serius. Hal-hal seperti itu."
"Kalau begitu, aku yakin kau tidak berniat untuk gencatan senjata denganku". Ujar Farah. "Aku tidak memiliki tawanan untuk ditukar, dan jelas sekali kau bisa melakukan apapun padaku selama aku di markas Dark Devil. Aku tahu aku mungkin tidak berarti untukmu, tapi aku memiliki keluarga yang pasti sedang mengkhawatirkanku".
"Kau tulis surat pada mereka dan aku akan mengirimkannya".
"Apa kau anggap ini zaman kuno yang masih saling bertukar kabar melalui tulisan? Ada ponsel canggih, ada aplikasi pesan dan lain sebagainya". Cibir Farah.
"Aku yakin kau akan mengirimkannya, tapi setelah kau membaca isi surat yang aku tulis".
Tuduhan Farah sama sekali tidak mempengaruhi Ryan. Pria itu hanya diam menatap Farah dengan lekat. Hingga akhirnya Farah melanjutkan ucapannya, "Aku tidak memiliki apapun di sini untuk ditukar apapun yang bisa menguntungkanmu. Yang tersisa dariku hanyalah sedikit daging dan tulang yang terbungkus dengan kulit".
Kemudian Farah berbalik untuk menyelamatkan harga dirinya. Ia melangkah dengan cepat meninggalkan Ryan yang berdiri diam menatap kepergiannya. Di pintu masuk mansion, Farah menabrak Gege yang hendak ke luar. Saat mendapati Gege yang diam saja melewati Farah, Farah lantas berkata dengan nada ceria namun dengan air matanya yang tertahan. "Kau pasti sudah bekerja sangat keras sepanjang hari ini.. Kau selalu berhasil menghindariku".
Gege berbalik menatap Farah. Hingga Farah melanjutkan ucapannya. "Kau benar-benar tidak mau tersangkut antara aku dan Ryan, Iya kan?".
__ADS_1
Suasana sejak sunyi di antara mereka. Gege lalu menghela napas. "Kau sudah berbicara dengan Ryan?"
"Aku tidak akan menyebutnya bicara. Dia selalu melakukan apapun yang dia inginkan. Tidak ada belas kasihan dalam diri pria itu".
Gege menatap Farah dengan serius. "Kau harus lebih santai di hadapannya. Apa dia marah padamu?".
"Aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Lebih mudah membaca pikiran seekor anjing yang sedang mengais tanah dengan kukunya".
"Apa kau bisa mengatakan padaku apa yang terjadi tanpa memakai bahasa yang berbelit-belit?" ujar Gege.
Farah diam.
"Dia menciumku. Lagi". ucap Farah akhirnya.
Gege menatap Farah dengan dua tangannya di masukkan ke saku celana. Nada suara Farah mengatakan lebih banyak daripada yang diinginkan oleh Farah. Semua kejadian selama tiga pekan lalu tidaklah mudah bagi Gege, dan juga terasa menyakitkan. Gege sudah melakukan yang terbaik untuk Farah dan Ryan, tetapi Ryan sudah merasakan bentuk kemunafikan, dan mungkin perlu campir tangan Tuhan untuk membuat Ryan percaya bahwa kepolosan Farah bukanlah sekedar di permukaan, namun benar-benar menembus hingga ke tulang gadis itu. Walau Gege tak memungkiri, Ryan pun memiliki alasan kuat untuk mempertahankan akal sehatnya dan tidak bersikap toleran terhadap siapa pun yang berkaitan dengan Andreas.
"Dengar, kurasa dia masih baik jika hanya menciummu. Kau harus menerimanya" ujar Gege dengan tegas. "Sial, Farah, kau tahu... Seharusnya kau tahu, bahwa pria dan wanita yang saling merasakan gairah satu sama lain dan berbagi kamar yang sama, pasti akan....."
Farah mencondongkan tubuh ke depan. "Pasti akan apa?".
"Pasti akan menemukan hal bodoh untuk diperdebatkan". Cetus Gege hingga kemudian meninggalkan Farah sendiri.
__ADS_1
...♤♤♤...