Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 36


__ADS_3

Alarm markas Dark Devil berbunyi dengan nyaring. Seketika itu pula keberadaan Farah terlupakan dan itu dimanfaatkan oleh Farah untuk bergegas keluar melintasi ruang tengah dan berlari dengan kaki telanjang menembus hujan gerimis menuju dermaga.


Semakin jauh meninggalkan markas, suara kepanikan semakin memudar dan yang bisa Farah dengar hanyalah napasnya yang menderu karena kelelahan. Tak membuang waktu lama, Farah menemukan tangga tali yang mengarah ke perahu kecil lalu menopangkan tubuhnya dengan lengan. Kontur tali tambang yang kasar membuat telapak tangannya terasa sakit, dan bilur-bilur yang dialaminya cukup mengganggu, saat seharusnya ia teringat untuk memijakkan kakinya di badan kapal. Deburan ombak menghantam tubuh Farah dan membuatnya terlempar dengan wajah lebih dulu ke kayu gelondonge yang basah. Rasa sakit membutakan matanya. Dengan sekuat tenaga Farah berpegangan pada tali yang berayun, sementara paru-parunya terasa sesak karena kesulitan bernapas. Pelan-pelan Farah berusaha bergerak lagi, menurunkan tubuhnya dengan gerakan yang hati-hati, yang membuat otot bahunya tertarik.


Di perahu kecil itu, tampak genangan air setinggi dua inci. Saat kaki Farah menyentuhnya, hawa dingin langsung menyerangnya, dan menggigit hingga ke tulang. Dengan air hujan yang berjatuhan di tubuhnya, Farah membuka tali yang mengikat perahu ke dermaga. Farah berpegangan dengan kuat saat ombak laut mendorong perahunya menjauh dari dermaga, dengan kekuatan yang mengancam akan menghancurkan perahu tersebut hingga berkeping-keping. Perahu itu terombang-ambing dan berputar sampai ia berhasil menstabilkan perahu dan mereka berada di lautan lepas dengan embusan angin dingin.


Farah selalu melihat orang lain mendayung terlihat sangat mudah, saat mencobanya sendiri di tengah laut yang berombak besar ternyata jauh lebih sulit dari kelihatannya. Di sekitarnya, air terlihat pucat, dengan tetesan hujan membuat riak di permukaannya. Ombak yang membentur sisi perahu membuat air terciprat ke wajah dan masuk ke matanya. Farah memejamkan mata dan menggerakkan dayung untuk membelah air. Lagi dan lagi. Farah sudah basah kuyup. Udara terasa lembap oleh uap dingin dan buih di laut. Otot-otot Farah mulai terasa membeku, dan ia mendayung semakin cepat. Kesengsaraan bercampur dengan kelelahan yang membuat Farah setengah pingsan.


Di tengah cahaya redup, Farah tidak tahu bahwa air di dalam perahu sudah naik ke bagian tepi celana selututnya. Air sudah sampai ke setengah betisnya, sebelum ia terpaksa mengakui bahwa ada terlalu banyak air di dalam perahu, yang mungkin hanya berasal dari cipratan air laut dan hujan. Terlambat bagi Farah untuk mengerti kenapa Pak Yanka membawa perahu kembali markas dengan sangat cepat. Bukan karena udara yang memburuk. Namun, karena perahu bocor.

__ADS_1


Farah memutar kepalanya, dan melalui guyuran hujan, Ia melihat sebuah kapal berukuran sedang, yang masih berada cukup jauh darinya. Terlalu jauh bahkan. Markas Dark Devil, yang besar dan terang di belakangnya, juga terlalu jauh. Bukan berarti itu penting untuknya. Namun Ia sedang berada di tengah laut yang sedan mengamuk!


Keputusasaan Farah semakin besar saat ia mencoba untuk menemukan letak kebocoran perahu dan menutupnya dengan kaki. Air laut bergulung di sekitarnya, lumut dan rumput laut ikut masuk ke dalam perahu. Di bawah, monster laut sudah menunggu, dengan rahang terbuka lebar, dingin dan lapar. Setiap keengganan dan kelelahan Farah langsung menguap. Farah melepaskan sepatu kulitnya dan mulai mengeluarkan air dari dalam perahu, tapi dengan cepat air menggenang lagi dan perahu sudah oleng hingga akhirnya perahu terbalik. Farah menendang air dengan panik dan mencoba untuk mengangkat kepalanya ke permukaan.


Farah tahu usahanya sia-sia, tetapi tangannya tetap menggapai-gapai dan kakinya bergerak tak tentu arah di dalam air, berusaha untuk membuat tubuhnya tetap mengambang. Farah memunggungi kapal asing yang berukura sedang itu sehingga ia tidak melihat perahu lain yang mendekar, Di dalam kepanikannya, Farah sama sekali tidak terpikir bahwa Ryan, yang sedang berada di kapal asing tersebut, akan melihat asap yang membumbung dari arah markas Dark Devil dan, karenanya, pria itu segera kembali ke markas.


Dari perahu yang dinaikinya, Ryan mengamati Farah yang berusaha untuk melawan air dengan entakan kaki. Ryan bukanlah jenis pria yang memiliki kebiasaan memutar bola matanya, tetapi hal itu nyaris dilakukannya untuk mengungkapkan emosi yang ada di dalam dirinya. Di belakangnya, sambil mengayuh dayung dengan sekuat tenaga, Ryan mendengar suara Sanders, salah satu bodyguardnya tertawa terbahak-bahak.


"Siapa yang peduli," kata Ryan, "dengan bokongnya." Memang tidak membuat situasi bertambah buruk, tetapi cukup membuat amarah Ryan semakin tersulut bahwa pada saat mereka mencapai Farah, wanita itu sudah tenggelam, dan Ryan harus terjun ke laut untuk menyelamatkan Farah.

__ADS_1


Lengan yang datang entah dari mana menarik Farah ke permukaan air terlihat seperti ubur-ubur raksasa, dan membuat Farah menjerit sekeras mungkin, hingga membuat air laut masuk ke paru-parunya. sampai Farah berbalik dan bisa melihat dengan pikiran berkabut bahwa yang menariknya adalah Ryan. Dengan lengan kedinginan dan tubuh gemetar, Farah menghambur ke pelukan Ryan, bergelayut pada pria itu seperti bayi koala.


Di antara angin, laut dan hujan, Farah mendengar Ryan berkata, "Nah. Sekarang kau memelukku dengan sangat erat. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk itu."


Tangan Ryan tersangkut di rambut Farah. Saat ia sudah bisa mendapatkan pegangan yang mantap di perahu, ia mencengkeram celana Farah dan mendorong wanita itu ke atas perahu.


Sekali lagi, Farah mendapati dirinya basah kuyup dan ketakutan di atas perahu, tetapi kali ini tidak ada Gege yang menyelubunginya dengan mantel tebal, membantu membersihkan hidungnya yang berair, dan mengeringkan air laut dari rambutnya. Sekarang, air hujan mengguyur punggungnya saat Farah duduk setengah berlutut, gemetar, terbatuk, dan memuntahkan air laut ke telapak tangannya. Selain Sanders, yang cukup kejam untuk menertawakannya, anak buah Ryan yang lain hanya mengamatinya dengan heran. Farah memejamkan matanya.


Farah membuka lagi matanya saat merasakan Ryan naik ke atas perahu dan duduk di sampingnya, dengan rambut basah menutupi sebagian wajah, warnanya yang kecoklatan tampak terang di tengah kegelapan. Ryan meraih Farah, dan Farah terlalu lelah untuk melawan; tangannya terlalu lemah saat Ryan menggosok-gosok lengan atasnya. Tidak ada kekuatan untuk mengerakkan rahangnya, dan giginya yang gemertakan menggigit lidahnya. Darah bercampur dengan air laut membasahi dagunya, dan tiba-tiba, di bawah dadanya, Farah merasakan pergerakan dari bundelan surat yang dilupakannya. Kemeja Farah tertarik dari celana, lalu surat curiannya merosot turun dan mendarat tepat di kaki Ryan.

__ADS_1


Di markas Dark Devil, Gege menjadi orang pertama yang mengerti kenapa ada api di kamar Ryan dan langsung mengambil teleskop untuk melihat sosok yang sedang terombang-ambing oleh gelombang laut.


...♤♤♤...


__ADS_2