Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 65


__ADS_3

Malam ini pesta penuh wanita dari daratan, bahkan Linda (dengan meminta maaf), pergi ke pantai untuk minum dan berdansa. Atas perintah Ryan, Farah tidak diizinkan untuk datang ke sana, begitulah yang didengarnya dari Gio (juga dengan meminta maaf). Pesta itu akan berlangsung dengan liar, lagi pula ada orang penting yang datang, bersama dua petinggi yang hendak menemui Ryan di pantai, dan Ryan tidak mau mereka melihat Farah. Menurut Gio, itu ada hubungannya dengan menjaga reputasi Farah....


Farah belum tidur hingga larut malam. Ia duduk di atas tempat tidur, mengepang rambutnya ketika ia mendengar langkah kaki di depan pintu kamarnya. Hanya Farah dan pelayan berusia paruh baya yang tetap berada di vila, dan setelah berjam-jam mendengarkan kesunyian di lorong yang kosong, langkah kaki itu terdengar mengerikan. Yang lebih mengerikan lagi terjadi kemudian, ketika langkah kaki berhenti di depan pintu Farah, kemudian Keith masuk ke dalam tanpa terlebih dulu mengetuk.


Dalam situasi yang biasa saja, Keith merupakan pria yang menakutkan. Pada tengah malam, di rumah yang kosong, keberadaan Keith adalah mimpi terburuk setiap gadis perawan. Sambil terkesiap keras, Farah menarik seprai hingga ke atas gaun tidurnya dan berseru, "Oh, tidak!"


Kata-kata Farah menggantung di udara, terdengar Farah menyadarinya dengan malu-sedikit bodoh. Alis gelap Keith terangkat dengan kesan tidak percaya sekaligus senang, dan Keith menatap Farah dengan sorot menahan tawa. "Gadisku yang malang, apakah kau berpikir aku akan melakukan sesuatu yang tidak pantas kepadamu?" ujar Keith, berhasil membuat suaranya terdengar tenang terhadap reaksi berlebihan Farah.


Dengan pipi merah padam, Farah tidak sanggup berkata-kata. Tanpa memedulikan kegugupan Farah, Keith berkata, "Kenakan pakaianmu. Aku akan menunggumu di ruang depan"


Keith menutup pintu dan meninggalkan Farah sebelum Farah bisa sepenuhnya mencerna perintah itu. Bayangan terjadi kecelakaan atau sakit terlintas dalam pikiran Farah. Linda? Gio? Ryan? Keith belum sampai pada langkah ke empat menyusuri lorong, Farah berteriak dengan suara cemas, "Apa yang terjadi?"


"Kau memiliki imajinasi yang sangat liar, Sayang. Tidak ada yang terjadi."


"Kalau begitu, kenapa—"


"Aku," tegas Keith, "tidak suka jika ada orang yang mempertanyakan perintahku, dan terlebih lagi oleh anak yang ceroboh dan tidak berguna. Aku bisa melihat tembus pandang ke gaun tidurmu, dan jika kau tidak segera menggantinya, aku tidak punya pilihan selain kau memang ingin pergi dengan mengenakkan pakaian itu."


Dalam sekejap, Farah sudah berada di balik pintu kamarnya lagi, teringat perkataan Will tentang Keith, 'Kau patuhi perintah pertamanya, atau dia akan mengukir perintah itu di organ hatimu.'


Semua pakaiannya dipinjamkan oleh Linda dan Farah langsung mengenakan gaun berwarna biru terang yang dikenakannya sore tadi. Bahannya cukup bagus, tapi warnanya terlalu mencolok. Beberapa hari yang lalu, Farah pernah mengatakan pada Linda bahwa sayang sekali belakangan ini desainer lebih suka membuat pakaian berwarna pastel, padahal warna yang lebih terang bisa membuat pemakainya terlihat lebih hidup. Tapi, Farah tidak merasa lebih hidup saat melihat Keith di ruang depan. Mata gelap Keith tertuju padanya, kemudian Keith mulai berjalan ke pintu, memerintahkan Farah untuk mengikuti hanya dengan isyarat tangan.


Farah mungkin terlalu mengandalkan keberuntungannya, tapi saat mereka berjalan bersama menuruni tangga beranda, Farah tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Aku rasa orang tidak bisa dianggap memiliki imajinasi yang liar, hanya karena mereka sekadar bertanya kenapa mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat tidur mereka pada tengah malam."


"Ah," seru Keith. "Apakah perkataanku melukai perasaanmu?" Sambil menatap rambut Farahyang berantakan, Keith menambahkan, "Aku menarik lagi kata tidak berguna."

__ADS_1


Keith mengamati sambil menahan senyum, saat Farah berusaha merapikan ikal rambutnya, dan tidak mengatakan apa-apa, sampai mereka tiba di pinggir hutan dan langkah Farah melambat. "Aku benci harus melakukan paksaan yang tidak perlu pada wanita," gumam Keith..


Farah merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional, dan di atas semua itu, Keith membuatnya takut. Dan Keith masih menambahkannya dengan membuatnya merasa malu dengan semua iru. Farah kehilangan kesabaran sekaligus akal sehat, ia melanjutkan langkahnya dengan tangan terangkat ke udara seperti tawanan perang, Sebuah tangan yang besar mencengkeram bahu Farah dan ia ditarik dengan kasar untuk menghadap Keith yang menjulang di depannya.


Keith mengangkat dagu Farah dengan ibu jari dan jari tengah, kemudian berkata dengan suara tenang, "Sebelum kau dilahirkan, mungil, aku sudah memerkosa lebih banyak wanita daripada gigi yang ada di sisirmu. Aku mengagumi semangat dan karakter anak muda, baik pria maupun wanita, tapi bukan berarti aku mau menoleransi kelancangan dan sikap sok tahu dari gadis seusiamu. Pikirkan itu."


Cara Keith yang dengan santai menyinggung tentang kejahatan yang pernah diperbuat pria itu terhadap wanita lain membuat Farah sangat marah sehingga ia berani bertanya dengan sengit, "Atau apa? Apakah kau akan menyiksaku sampai kau harus mencekokiku dengan obat sialan seperti yang kau lakukan terhadap Gege?"


Sepersekian detik setelahnya, Farah berpikir, Ya Tuhan, apa yang telah kukatakan? Keith pasti akan membunuhku.


Tatapan gelap Keith mengamati setiap detail di wajah Farah dengan penasaran, kemudian, yang membuat Farah bingung, Keith mulai tertawa pelan.


"Nah, begitulah seorang lady seharusnya bertarung, Sayang, Dengan menggunakan lidahnya. Kau mungkin kehilangan kesabaran, tapi tidak harga dirimu."


Sinar rembulan menerangi setiap detail pemandangan di sekitarnya dengan cahaya keperakan; daun pohon palem yang bergoyang tertiup angin, deretan pohon bambu yang melengkung seperti busur, dan dedaunan di atas mereka yang menari-hari. Di tengah selimut kegelapan, bulan sabit terlihat seperti seringaian setan, Kelelawar yang lewat terlihat setitik noda di permukaan bulan; di tempat yang jauh lebih bawah lagi, padang rumput di sana-sini membuat tempat itu terlihat lebih liar. Burung hantu bersiul, udara yang lembap diikuti oleh nyanyian karak pohon yang tak terhitung jumlahnya. Pikiran Keith terseret ke waktu lain, ke tempat lain-yang jauh lebih sejuk daripada pulau tropis ini dan kenangan bersama gadis lain, yang lebih muda daripada gadis yang ada di sampingnya....


Dengan awan bak salju yang menggantung di atas mereka, semak mawar yang menyebarkan harum semerbak, seorang gadis berusia tujuh belas tahun menuruni bukit yang berlapis karpet rumput. Angin menerbangkan pita rambut dan rok pink gadis kecil itu, dan ketika Keith berhenti untuk mencium gadis itu, si gadis menatapnya dan berbisik, "Please Keith,. Lakukan dengan lembut."


Melalui bayangan redup, Keuth melihat Farah berjalan dengan pelan di tengah malam. Farah yang lebih langsing daripada gadis itu dan lebih rentan, tapi dengan kepercayaan diri yang lebih besar. Farah memiliki kecerdasan yang mengagumkan dan keberanian yang tidak dimiliki oleh ibunya. Dengan pikiran itu Keith seolah mendengar bisikan roh yang selalu menghantuinya: "Jaga putriku, Keith.


Aku akan menjaganya, Aku pasti akan menjaganya.....


"Apakah kita akan pergi ke pantai? Apakah Ryan sudah berubah pikiran dan mengizinkan aku untuk berada di sana?"


"Iya dan Tidak."

__ADS_1


"Maksudmu kau akan tetap membawaku ke pantai, sekali pun Ryan tidak menginginkan aku berada di sana?"


"Iya."


Farah menelan sumbatan di tenggorokannya. "Apakah kau bisa menganggapnya sebagai rasa penasaran dan bukannya kelancangan jika aku bertanya kepadamu kenapa kau melakukan ini?" Jawaban Keith hanyalah gelakan tawa.


"Kenapa?", ucap Farah hampir berbisik.


"Karena, Sayang, Ryan akan segera memecahkan salah satu misteri kecilmu-


"A-apa?" -dan akan lebih baik jika kau berada di sana," ujar Keith dengan tenang, "Akan lebih sesuai dengan rencanaku jika Ryan tidak tahu aku yang telah membawamu ke pantai, jadi aku akan mengatakan padanya kau bersembunyi dan menonton pesta dari balik semak-semak dan aku-


"Apa"


-sekadar mengundangmu untuk ikut bergabung, Tentu saja, kau bebas untuk menyangkalnya, tapi aku yakin kau sudah tahu, berdasarkan pengalaman, bahwa aku bisa lebih meyakinkan saat berbohong, dibandingkan dengan dirimu saat mengatakan yang sebenarnya. Seperti biasanya, kau masih memiliki pilihan untuk menceritakan masalahmu kepada Gio, tapi aku yakin kau memiliki penilaian yang lebih baik untuk tidak melakukannya, karena kau pasti sama tidak sukanya seperti aku, jika keterpesonaan bocah itu kepadamu memberinya lebih banyak masalah daripada sebelumnya."


Seketika itu juga langkah Farah terhenti. Tangan Keith yang ada di punggung Farah, mulai mendorongnya agar berjalan lagi. Dan arah pantai, Farah mulai mendengar suara-suara riuh-tawa, musik, percakapan yang berbaur dengan suara deburan ombak.


"Kau juga bisa lari dariku," lanjut Keith dengan suara yang lebih pelan. "Jika kau melakukannya, aku akan menangkapmu dan melakukan hal yang lebih tidak menyenangkan terhadap tubuh kecilmu, tanpa meninggalkan bekas."


"Kau," komentar Keith, "telah melibatkan dirimu ke dalam situasi yang unik sekaligus rumit, dan kau harus berusaha sendiri untuk bisa keluar dari sana. Apa yang bisa kuberikan hanyalah kesempatan. Apakah Ryan pernah mengatakan kepadamu kenapa dia sangat membenci Andreas? Aku rasa tidak. Baiklah. Sekarang sudah waktunya kau tahu bahwa Andreas telah membunuh adik perempuan Ryan."


Dan setelah mengatakannya, sang pemimpin Dark Devil itu menarik Farah bersamanya ke arah pantai.


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2