
"Kacau? Apakah itu yang kau rasakan?". Ryan membelalakkan matanya, dan Farah menyadari pria itu sedang berusaha menirunya. "Sayangku! Padahal, aku berpikir kau merasa senang hidup di pulau yang panas itu. Rasanya pasti menyegarkan bisa menjauh dari para pria, setelah berbulan-bulan kau harus menghadapi tingkah polah mereka di markas Dark Devil."
Ryan menunggu sampai senyuman Farah muncul dan menghilang lagi, sebelum menunduk ke tangan mereka yang saling terkait. Farah mengamati dengan penasaran, saat Ryan membelai permukaan kukunya dengan jari telunjuk. Ekspresi wajah Ryan terlihat sangat lembut.
Apakah akhirnya Farah melihat sisi Ryan yang sebenarnya? Hal itu membuat jantung Farah berdetak cepat.
"Kucing kecil ku yang malang.... Apakah kau benar-benar berpikir aku akan mencambukmu?".
Tiba-tiba saja Gege datang ke kamar dengan membawa baki berisi sarapan, tepat pada waktunya untuk mendengar kalimat terakhir Ryan, dan menimpalinya dengan santai, "Bagaimana mungkin dia tidak berpikir begitu? Seharusnya kau melihat dirimu sendiri jika sedang marah."
Ryan mengamati Farah menarik tangannya dengan perlahan, dan meletakkannya di atas bantal di dekat pipi gadis itu. "Kau benar. Aku harus melihatnya," ujar Ryan sambil berdiri, memberikan ruang kosong kepada Gege untuk membawakan baki sarapan kepada Farah.
Merasa aneh, ringan, dan canggung tanpa alasan yang jelas, Farah bertemu pandang dengan Gege dan mengatakan hal ceria pertama yang terlintas di dalam pikirannya. "Lihat! Aku sehat lagi meskipun Ryan tidak mau mengakuinya. Aku ingin ganti pakaian.”
"Kau bisa ganti pakaian jika memang itu maumu," ujar Gege, "Tapi, hari ini kau masih harus berbaring di atas tempat tidur. Kau memang sudah membaik, tapi belum sehat sepenuhnya."
"Kenapa? Jangan terlalu khawatir." Farah tersenyum. "Menurutmu apa yang salah denganku? Aku harap itu hanya infeksi kelamin. Bukan kah kau bisa sembuh dari penyakit itu?"
Tiba-tiba, Ryan memalingkan wajah ke jendela dan seolah melihat sesuatu yang menarik di sana, tetapi ada senyuman geli tertahan di bibir pria itu.
Sambil menoleh ke arah Ryan, Gege berkata dengan masam, seolah ingin menjelaskan, "Itu ajaran Will dan yang lain. Mereka suka sekali mengajari Farah bahasa cabul dan mendengarkan Farah mengucapkannya tanpa memahami maknanya, setelah itu mereka akan tertawa terbahak-bahak. Hanya Tuhan yang tahu, mereka ingin mengubah Farah seperti apa, jika nanti kau memutuskan untuk memulangkannya."
__ADS_1
Ini adalah hal yang baru seseorang menyinggung tentang memulangkannya, seolah itu adalah sesuatu yang akan segera terjadi. Farah teringat akan Tante Okta, saat ia menunggu sejenak untuk melihat apakah Ryan akan mengomentarinya, dan ketika Ryan tidak mengatakan apa-apa, Farah menyeringai kepada Gege. "Seluruh pengalaman ini mungkin bisa berguna suatu hari nanti, jika aku menjadi seorang penulis. Perusahaan penerbit selalu mencari penulis wanita yang memiliki pengalaman langsung dalam berurusan dengan orang-orang aneh."
Merasa senang dengan kemampuannya untuk bisa terlihat ceria. "Terlebih lagi, karena jenis suaraku tiba-tiba berubah menjadi sopran-
"Sopran tinggi, terlebih jika sedang senang" Timpal Gege.
"Sopran," ulang Farah, mengabaikan selaan dari Gege dan menyelesaikan kalimatnya. "Aku rasa tidak adil jika aku dikatakan aku mencicit. Kenapa kau dan Ryan tidak mengatakan kepadaku ada apa denganku?"
"Ayolah. Jangan biarkan imajinasimu turun seperti jeep yang meluncur dari atas bukit," ujar Gege. "Itu hanya demam. Apa lagi yang ingin kau ketahui? Simpan energimu untuk sarapan. Apakah kau harus menggunakan-"
"Tidak, dan jangan mengalihkan pembicaraan.Jika kau tidak keberatan, kumohon jangan perlakukan aku seperti orang sakit."
Mereka bertiga membuat potret siluet dari satu sama lain dengan menggunakan gunting kuku dan kertas yang disobek dari buku catatan Keith. Farah tertawa melihat ketakjuban mereka, karena meskipun hasil buatan mereka tidak terlalu buruk, tetapi buatan Farah terlihat sangat mirip dengan aslinya, hampir seperti bayangan di cermin.
Farah pikir ia sudah membaik, maka rasa dingin yang dirasakannya dianggap sebagai hal yang normal, mungkin karena sudah masuk musim hujan dan badai selalu menghantam pulau. Farah hanya menyelubungi tubuhnya dengan jaket wol, kemudian selimut..tapi ia masih kedinginan. Pada akhirnya, pola menyakitkan yang dialaminya pada hari-hari selanjutnya membuat Farah menyadari ada yang salah dengan dirinya. Farah akan merasakan kedinginan dan sakit kepala hebat, lalu diikuti dengan demam selama delapan jam, setelah itu tubuhnya akan mendingin dan berkeringat, hingga membuatnya lemas kelelahan.
Serangan itu datang secara teratur, seolah ada jam khusus di tubuhnya yang memanggilnya. Dua dari tiga hari Farah akan merasa sakit, dan di antaranya ia cukup sehat untuk duduk, makan, membaca, mengobrol, dan untuk menyadari bahwa semakin lama tubuhnya semakin lemah. Malaria, akhirnya Gege mengaku itulah penyakit yang dideritanya.
Gege memberinya obat yang di rekomendasikan oleh dokter pribadi Keith. Tujuannya adalah untuk membunuh penyakit itu, sebelum membunuh pasiennya.
Ryan, yang sikapnya jauh lebih lembut daripada yang pernah dilihat semua orang, selalu menemani Farah saat ia mengalami halusinasi. Ryan mengajari Farah semua trik permainan kartu yang diketahui pria itu, semua gerakan tangan untuk membuat bayangan di dinding, membacakan semua bait dari balada cinta favoritnya. Ryan mengisi sore Farah dengan cerita dongeng dan legenda, yang lalu beralih ke percakapan tentang komet yang jatuh, dan diakhiri dengan rasa jagung bakar di cemilan kentang yang disukai oleh Farah.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati hal-hal sederhana dalam hidup. Orang lain mungkin akan menganggap mereka memiliki keterikatan yang semakin mendalam, tetapi Ryan dan Farah memiliki terlalu banyak gangguan untuk bisa menyadarinya. Saat Farah memiliki cukup kekuatan untuk merenung, Farah hanya berpikir bahwa waktu berlalu dengan cepat saat ia sedang bersama Ryan. Tujuan dari semua cerita Ryan adalah mengingatkan Farah tentang banyaknya alasan kenapa ia harus tetap bertahan dan untuk mencegahnya menebak sudah seberapa dekat ajalnya.
Akhirnya, bahkan tidur pun terasa menyiksa untuknya, mimpi, ketidaknyamanan, dan kelumpuhan pikiran membuatnya hanya setengah tertidur. Pada satu malam, lalat pasir dari pulau datang dalam mimpi buruknya, sayap mereka berkilau karena keringat, saat mereka menusukkan moncong beracun mereka berulang kali ke kulitnya. Farah terbangun sambil menangis, mengosok wajahnya yang ternoda dengan lengan kemeja tidurnya yang terbuat dari katun. Rasa jijik membuat Farah menggosok wajahnya dengan terlalu keras. Kancing kecil di bagian lengan kemejanya menggores wajahnya yang sudah sensitif karena panas.
Farah tidak yakin apa yang membuatnya yakin bahwa Ryan akan datang untuknya.
"Farah, biarkan aku yang melakukannya." Ryan melepaskan gelungan tubuh Farah--lengan, rambut dan selimut menjadi satu seperti bola. Ryan menggunakan kain basah untuk menyeka mulut dan pipinya dengan lembut.
"Di mana lagi?" tanya Ryan, Sambil terkesiap, Ryan menyentuh keningnya dan memejamkan mata saat kain itu bergeser ke kening. ke atas alis, hingga garis rambutnya. Setelah selesai, Farah mendengar suara percikan air, saat Ryan membasahi kain dan menyeka wajahnya lagi. Wanita lain mungkin akan takjub melihat betapa akurat Ryan memenuhi kebutuhannya dan betapa cepatnya Ryan meresponsnya. Rasa sakit telah mengikis kemampuan Farah untuk melihat dan menghargai kebaikan Ryan. Farah hanya tahu bahwa ia merasa lega karena sudah bangun, dan karena Ryan ada bersamanya.
"Mimpi buruk." Ryan membisikkan kata-kata itu secara otomatis. Ryan sudah menebaknya. Dari meja Keith, cahaya lampu kecil jatuh ke wajah Ryan dan menambah ketampanan pria itu. Itulah yang dilihat Farah saat ia membuka matanya, dan melihat Ryan mengangguk untuk menyatakan pria itu memahami apa yang dirasakannya.
Farah baru saja akan bertanya sudah berapa kali lonceng berbunyi, saat ia mendengar suara nyanyian pelan, seolah berasal dari bawah, menggetarkan udara lembap di sekitarnya, dan memantul kembali ke laut. Kemudian terdengar suara nyanyian kedua, lalu ketiga, itu seperti nyanyian monster laut yang kesepian.
"Ryan!" Suara Farah terdengar bergetar.
"Itu hanya paus," ujar Ryan, teringat bertahun-tahun yang lalu, saat Pak Yanka mengatakan hal yang sama padanya. "Kau bisa mendengar mereka berbicara jika malam sedang sunyi dan tenang seperti sekarang."
...♤♤♤...
Likeee, komeeen, hadiaahh 🤣
__ADS_1