
Pagi hari yang cerah, Farah berjalan-jalan di sekitar pantai. Ia menendang pasir putih dengan kakinya yang tanpa mengenakan alas kaki. Burung camar berterbangan di sekitarnya, hingga membuat Farah selalu tersenyum ceria.
Dennis, sang master penembak, julukan yang diberikan oleh semua anak buah Keith, sedang berjalan ke arahnya dengan membawa dua buah senapan laras panjang di bahunya. "Hei! Sedang apa kau sendiri di sini? Di mana Gege?". Sapa Dennis.
"Gege sedang berada di dapur, dia bilang akan membawakan aku kue kering buatan terbaru koki di sini".
Dennis menganggukkan kepala. "Ya. Kau harus mencobanya dan kujamin kau tidak akan menyesal!" Ujar Dennis dengan tersenyum. "Lalu, di mana Ryan? Kenapa kau tidak bersamanya?".
Farah hanya mengangkat bahunya dengan acuh. Sejak semalam hingga pagi ini Farah belum melihat keberadaan Ryan di manapun. "Aku tidak tahu".
Dennis tergelak hingga Ia duduk di atas pasir dan di ikuti oleh Farah. "Kupikir kau dan Ryan saling melepas rindu di atas tempat tidur hahahaha".
"Gila. Hubunganku dan dia tidak seperti yang kau bayangkan Lagipula menjijikkan disentuh olehnya. Rasanya..... Aneh".
Dennis melongo tak habis pikir. "Astaga.. Aku tidak pernah bertemu wanita yang tidak menginginkan diri Ryan."
"Aku menginginkan dirinya, tapi terpotong-potong. Tidak menyatu sama lain" Ujar Farah dengan ketus.
"Benarkah seperti itu kemauanmu?" Suara bariton seorang pria menginterupsi mereka. Membuat Dennis dan Farah diam ketakutan. Dalam sekejap mata, Dennis beranjak berdiri dan meninggalkan Farah begitu saja.
Farah perlahan berdiri dan menatap Ryan yang selalu sempurna. Langkah kaki Farah dengan sangat pelan menjauh ke belakang.
"Kabur lagi?" tanya Ryan dengan nada yang lembut.
__ADS_1
Karena perpisahannya cukup lama dengan Ryan, Farah lupa bagaimana hebatnya Ryan mengendalikan dirinya dan mampu menganalisis pikirannya.
"Gege tidak bilang padaku kau sudah kembali." Gumam Farah tiba-tiba.
"Aku memang tidak memberitahunya. Keith juga tidak mengetahui kepulanganku. Aku hanya ingin membuat kejutan, tapi justru aku yang terkejut". Ujar Ryan menatap Farah dengan lekat. "Ada banyak hal yang terjadi selama aku pergi, ya? Aku meninggalkanmu sedang meratapi diri di atas tempat tidur dan ketika aku kembali, ternyata kau sedang asyik bermain dengan meriam."
"Maafkan aku. Selama beberapa hari aku selalu ketakutan dengan ancamanmu yang hendak menyiksaku. Dan kau bisa lihat sendiri sekarang, aku sudah terbiasa di sini dan melupakan darimana aku berasal".
"Wow. Dan juga kau sudah bisa menyombongkan diri" Sahut Ryan tertawa kecil. "Dan kau belajar menjadi anggota Dark Devil? Dengan pakaianmu yang sedang kau kenakan itu?".
"Jika kau pikir, mengenakan pakaian Gege membuatku menjadi mafia, maka aku akan melepaskannya sekarang juga". Jawab Farah. Namun sedetik kemudian Ia menyadari apa yang telah di ucapkan, Farah berbalik dengan cepat untuk menyembunyikan malu yang begitu besar.
Tidak lama kemudian, Farah merasakan tangan Ryan yang hangat berada di punggungnya. Ia ditarik ke belakang dan dengan nyaman disandarkan pada tubuh Ryan yang kokoh Jari-jari Ryan membelai rambut Farah dengan lembut, lalu menyelipkannya ke balik telinga, dan Farah bisa merasakan hembusan napas Ryan di sana.
Merasa terbuai, tanpa sadar Farah mengangguk. Ryan memutar tubuh Farah hingga menghadap ke arahnya, lalu melangkah mundur melepaskan Farah.
"Kenapa kau cepat sekali setuju? Ini tidak seperti perkiraanku. Tapi, aku tidak memiliki kebiasaan menyakiti wanita yang sangat muda, apalagi wanita itu adalah penghangat tempat tidur musuh terbesarku. Kau memang menghiburku, sayang. Tapi kehadiran mu disini tidak tepat. Kenapa kita tidak menyingkirkan satu sama lain? Aku akan memberimu satu tawaran terakhir, Jawab saja satu pertanyaanku, dan aku akan membebaskanmu, ditambah bayaran dengan sejumlah uang tunai atau emas, nominalnya terserah padamu asalkan masih masuk akal. Dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah terlacak sebagai sumber informasi."
Pipi Farah berubah merah karena marah. Seharusnya Ia bisa meminta Ryan untuk berhenti berbicara, namun lidahnya kelu karena menahan amarah yang mendidih.
"Yang aku inginkan adalah nama salah satu dari ketiga pria yang ada bersamamu di malam saat aku bertemu denganmu di club".
"Aku tidak akan mengatakannya". Ucap Farah dengan tegas. Apa dia berpikir aku akan berkata tentang kakakku dan dua sahabatnya?, pikir Farah.
__ADS_1
"Ini menyangkit hidupmu, Sayang" ucap Ryan dengan tenang. "Sesekali, cobalah untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Aku tertarik dengan kompromi yang masuk akal, semakin sedikit aku menyakitimu, itu semakin baik. Kau pasti pernah menemukan solusi yang cerdas untuk mengatasi situasi yang menimpamu, kan?".
"Dan kau pun sudah memiliki solusi jika aku tidak mau membuka mulut. Kau akan menjualku...."
Mata Ryan berpura-pura terkejut. "Memangnya aku pernah berkata begitu?".
"Kau pernah mengatakannya! Kenapa sekarang kau terlihat terkejut? Apa kau serius dengan ucapanmu? Atau, kau hanya ingin mengaduk-ngaduk emosiku seperti yang Gege bilang padaku, iya?"
"Farah....." Gumam Ryan menatap lekat. Sinar matahari pagi menambah cantik sosok Farah, dengan pipi mulus kemerahan. "Meskipun aku seorang pria yang brengsek, aku tidak akan menjual bokong kecilmu yang menggoda itu".
"Kalau begitu, kau akan melepaskan aku?" ujar Farah dengan penuh harap. "Kau sudah mengakui kau tidak menginginkan aku".
"Tidak. Kau baru akan kubebaskan jika kau mau membuka mulut".
Ryan harus tegas menghadapi Farah karena sepertinya itulah strategi terbaik. "Dan kau salah paham. Aku bilang kau merepotkan, tapi tidak berarti aku tidak menginginkanmu. Aku menginginkanmu. Apa kau sudah melupakannya?"
Tangan Ryan menarik Farah dengan cepat ke dalam dekapannya. Ryan merasakan di dalam dekapanya ada tubuh kecil yang terhuyung, detak jantungnya yang terasa di dadanya. Ryan tersenyum simpul.
Farah yang walaupun hanya tahu sedikit tentang keintiman antara dua insan manusia berbeda jenis, tetap merasakan suatu dorongan aneh di bagian tertentu tubuhnya. Semua bagian dari leher ke atas terasa dingin dan terbuai, dan semua bagian dari leher ke bawah terasa panas.
Dengan putus asa, Farah mencoba menjauhkan dirinya dar Ryan, dan yang di dapatkannya hanyalah telapak tangan Ryan yang merosot di punggungnya. Kemudian berhenti di bagian tubuhnya yang tidak pernah Ia sebutkan namanya, dan Ryan menangkupnya dengan lembut. Yang bisa Farah lakukan hanya memejamkan matanya dan berpura-pura Ia tidak berada di sana. Namun sial... Tangan Ryan membuatnya selalu membuatnya kembali ke alam nyata.
...♤♤♤...
__ADS_1
Like, komen, hadiah yaa? 😆