
Perjalanan terasa sangat lama di lalui oleh Farah. Dari teriknya matahari hingga kini sudah gelap gulita. Farah berusaha menjaga agar dirinya tetap terjaga walau kantuk terasa berat menerpa. Matanya sebisa mungkin Ia jaga tetap terbuka walau sesekali Ia terjun ke bawah alam sadar dan tersentak kembali ke dunia nyata. Mulut Farah tetap disumpal dengan kain yang berbau busuk hingga beberapa kali membuatnya mual.
Tak ada percakapan antara dirinya dan Gege sepanjang perjalanan, lagipula bagaimana bisa Ia menimpali ucapan pria muda yang sedang menyetir mobil ini jika mulutnya disumpal? Jalanan terasa memuakkan bagi Farah. Kain sumpalan yang bau serta kontur jalan yang tidak rata membuat dirinya bergoyang. Farah yang berjam-jam memilih posisi duduk, saat ini memutuskan untuk merebahkan dirinya dalam posisi meringkuk dengan tangan terikat yang memeluk lutut. Badannya lelah, pikirannya pun lelah hingga akhirnya Ia terlelap begitu saja.
Akhirnya mobil berhenti setelah banyak waktu yang di lalui setelah Farah terlelap hingga sepertinya fajar mulai menyingsing. Langit sudah mulai sedikit terang. Gege melirik ke kursi belakang dan mendengus dengan kasar. Pria muda itu lantas turun dari balik kursi kemudi dan membuka pintu kursi penumpang.
Gege menatap Farah dengan tatapan yang datar. Pria muda itu lantas menepuk pipi Farah hingga terbangun. Farah mengerjapkan mata dan seketika itu juga Farah langsung meringsut ke sisi pintu lainnya berusaha menjauh dari jangkauan Gege.
"Aish sial! Cepatlah turun!" Ujar Gege dengan nada tegas dan mata melotot ke arah Farah.
Farah menggelengkan kepala dengan kuat berulang kali seraya menumpahkan air mata. Rasa takut dan gelisah begitu menyelimutinya saat ini. Gege menghela napas dengan kasar. Ia lantas dengan cepat menarik kaki Farah hingga Farah akhirnya keluar dan terjatuh dalam posisi terlentang dari atas mobil.
Gege lalu menutup pintu mobil dengan keras dan berjalan menuju pintu kemudi yang belum ditutupnya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Farah. Sebisa mungkin Ia berdiri walau punggungnya terasa remuk setelah terjatuh tadi. Dengan kaki dan tangan yang masih terikat, Farah melompat kecil di atas pasir pantai.
Greeppp
Rambut Farah tiba-tiba saja tertarik ke belakang. "Kau mau kemana huh?".
__ADS_1
Gege menarik Farah hingga akhirnya Farah jatuh terduduk."Sekeras apapun usahamu untuk melarikan diri, kau tidak bisa pergi dari sini. Cobalah untuk bekerja sama denganku".
Gege lalu menarik Farah hingga pria muda itu menggendongnya. Farah mencoba berontak namun tak ada daya apapun. Sialnya tubuh Gege terlihat kekar berotot!
Farah melihat sebuah kapal speed boat di sebuah dermaga kecil. Tak ada siapapun. Tak ada kapal lain melainkan hanya kapal speed boat yang sedang dituju oleh Gege. Farah menangis tersedu-sedu saat Gege melemparkan tubuhnya ke atas kursi. "Aku harap kau berhenti memberontak, atau kau akan aku ceburkan ke laut dan menjadi santapan ikan hiu!" Ancam Gege
Pria muda itu lantas menyalakan mesin speed boat. Deburan ombak membentur kapal. Rambut Farah yang panjang kini sudah tak beraturan dengan ikat rambutnya yang sudah mengendur. Farah melihat arloji kecil yang melingkar di tangan kanannya. Arloji pemberian sang ayah saat dirinya berulang tahun yang ke lima belas. Farah kembali menangis tersedu-sedu. Maafkan aku ayah.. Andai saja aku benar-benar tidak pergi...
Satu jam perjalanan di jalur laut, akhirnya Gege memarkirkan speed boat di sebuah dermaga. Farah mengedarkan pandangannya ke sekitar. Matanya melotot saat Ia menyadari bahwa kini Ia berada di tengah-tengah lautan. Lebih tepatnya di sebuah pulau terpencil di tengah laut.
"Gege! Kau sudah sampai!".
"Ge, apa kau sudah gila? Apa kau tidak sadar kalau dia seorang wanita?" Ujar pemuda itu.
"Aku tahu cara membedakan jenis kelamin sialan!".
"Keith akan memenggal kepalamu bro. Dia tidak suka jika para anak buahnya membawa wanita begitu saja tanpa izin darinya! Apalagi kau membawanya ke markas besar! Astaga, Ge!".
__ADS_1
"Diamlah! Lebih baik kau melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya melepaskan ikatan tali di kaki wanita itu! Aku lelah menggendongnya".
Pemuda yang diketahui bernama Kris lantas menatap Farah yang gemetaran. Dengan cepat pemuda itu membuka tali tambang yang mengikat kaki Farah. "Astaga lihat kulitmu yang sebening kristal ini terluka" Ujar Kris seraya menyentuh sedikit kulit kaki Farah yang terluka. Farah menarik kakinya seraya menggelengkan kepala. "Ayo berdirilah. Jangan memancing amarah Gege. Dia seperti banteng yang siap menyerudukmu kapanpun tak peduli kau sedang memakai baju berwarna apa".
Mau tak mau Farah lantas mengikuti Kris. Namun tiba-tiba saja, "Biarkan wanita itu denganku. Kau bawa saja dokumen ini dengan baik ke dalam mansion!". Ujar Gege.
Tanpa membantah akhirnya ketiganya berjalan masuk ke dalam pulau. Sepanjang jalan, Farah menerka-nerka, ada apakah di dalam pulau ini. Kenapa anak buah Keith Smith berada di sebuah pulau tengah laut yang jauh dari jangkauan manusia? Tak lama, rasa penasaran Farah terjawab tatkala Ia melihat sebuah bangunan megah dengan arsitektur khas eropa yang kental berdiri menjulang tinggi. Bendera berwarna hitam dan emas yang Farah tebak merupakan bendera Dark devil, terpasang di sepanjang pagar.
Farah tidak pernah melihat bangunan yang seeksotis dan semewah ini. Gege mendorong pelan tubuh Farah hingga masuk ke dalam bangunan tersebut. Di dalam Farah semakin melotot takjub. Kaca-kaca besar seperti berlian memantulkan cahaya pagi matahari.a Karpet persia terbentang di lantai marmer dengan pola yang rumit. Di setiap dinding, terdapat hiasan dan lukisan yang berkilauan yang memantulkan cahaya warna warni.
Gege menarik Farah masuk ke dalam kamar dan mendorongnya ke atas kasur yang dibalut oleh seprai bulu. Gege mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik sakunya. Pemuda itu menempekan pisau ke leher Farah dan menggunakannya untuk merobek gaun Farah hingga akhirnya Farah telanjang di depan Gege dengan hanya memakai beha dan celana segitiga.
Mata Gege menjelajahi tubuh Farah, tetapi dengan sorot tidak peduli, bukan dengan sorot ketertarikan seperti yang biasa ditunjukkan oleh pria yang menganggap tubuh wanita adalah sebuah objek akan sebuah naluri alamiah mereka. Gege lantas mengambil sebuah handuk bersih dari dalam lemari. Ia lalu menggosokkannnya ke tubuh Farah dengan kasar. Gege lalu mengambil sebuah selimut dan menutupi tubuh Farah. Melilitkannya dengan baik ke sekeliling tubuh Farah.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Keith masuk, berhenti tepat di depan Farah. Sebuah mantel berwarna hitam berbahan beludru membalut tubuh besar pria itu. Manik mata gelap Keith menatap Gege dengan bingung lalu beralih pada Farah.
"Apa aku harus kembali lagi nanti?" Ujar Keith dengan nada menyindir.
__ADS_1
...♤♤♤...