Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 14


__ADS_3

Farah mengerjapkan mata berulang kali berusaha menjernihkan pandangannya. Dengan hati-hati Ia meletakkan kakinya di lantai, Farah berusaha berdiri namun langsung terkulai begitu menopang seluruh tubuhnya, membuatnya Ia jatuh ke lantai dengan wajahnya yang terlebih dulu. Sepertinya Farah masih tidak berdaya di bawah pengaruh serbuk putih yang diberikan oleh Keith. Farah mencoba berdiri lagi, kali ini Ia berpegangan pada sebuah sofa panjang yang dirapatkan ke dinding. Farah berhasil berdiri dan perlahan Ia bisa mendapatkan keseimbangan tubuhnya.


Dengan melangkah pelan, Farah berjalan menuju pintu. Ia memutar tuas pintu namun terkunci. Farah tertegun. Apa gunanya keluar dari kamar ini? Aku tidak bisa pergi kemanapun. Farah membalikkan tubuhnya dan bersandar di pintu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Ryan. Kamar yang luas dan mewah bagi ukuran seorang pria. Farah memikirkan sesuatu. Setidaknya Ia harus mencoba sesuatu daripada terlihat pasrah.


Farah kembali melangkah dengan pelan menuju sebuah lemari, Ia membuka satu per satu pintu lemari namun yang di dapatkan hanya tumpukan baju-baju pria. Farah lalu menuju nakas yang letaknya di kedua sisi tempat tidur. Ia berusaha membukanya namun dua laci nakas di sisi kiri terkunci. Farah lantas menaiki tempat tidur untuk menyebrang ke sisi kanan tempat tidur. Ia lalu membuka kembali laci paling bawah, nihil. Terkunci lagi. Dengan penuh harap Farah membuka laci teratas dan terbuka! Dengan hati berdebar Farah melihat sebuah senjata api kecil berwarna hitam. Farah dengan hati-hati mengambil senjata api itu dan menutup kembali laci nakas.


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan Ryan melangkah masuk dengan membawa sebuah jas di sisi bahunya.


"Wow, luar biasa". Ujar Ryan, tatapan pria itu tertuju pada senjata yang diacungkan oleh Farah tepat ke area dadanya. "Melihatmu seperti ini, kau pasti sudah jauh lebih baik".


Ryan mengamati Farah dengan lekat. Matanya menyusuri setiap detail tubuh wanita itu. Rambut cokelatnya yang diikat kuncir kuda, rona merah muda di pipi, alis yang indah dan sorot mata tajam seakan siap membunuh, area dadanya yang berusaha mengintip dari balik kemeja berwarna hitam yang kebesaran, kaki jenjangnya yang seksi di mata Ryan. Sejenak Ryan menebak-nebak sebenarnya apa motif Keith saat Ia menempatkan wanita di hadapannya ini di kamarnya dan membiarkan dirinya melihat Farah untuk kedua kalinya.


Sejauh ini, Farah bukanlah wanita pertama yang menunggunya di dalam kamar tidurnya. Oh tidak, namun tentu Farah adalah wanita pertama yang menunggunya di kamar sembari menodongkan senjata api padanya. Farah juga bukan wanita yang paling cantik yang membuat kamarnya hangat di kala malam tiba, seingat Ryan, pernah ada wanita yang lebih cantik yang pernah menemaninya walau tak di pungkiri pula oleh Ryan jika Farah pun memang cantik mempesona.


Ryan menghela napasnya perlahan. Jika Keith melihat situasi ini, pasti Keith akan menganggapnya gila karena tidak segera melucuti senjata dari tangan Farah.


"Apa kau tidak akan membiarkan aku untuk duduk? Atau kau lebih suka membiarkan aku berdiri di dekat pintu?" Dengan sangat berhati-hati, Ryan melangkah menuju sofa. Farah masih mengacungkan pistol mengikuti pergerakan tubuh Ryan. "Sebelum kau memutuskan untuk menembakku, bisakah kau berikan aku kesempatan makan untuk terakhir kalinya?"


"Jangan bercanda!" Ucap Farah dengan ketus. Farah masih belum lupa dengan wajah Ryan yang luar biasa tampan. Menatap pria itu saat ini sebenarnya sungguh membuat lutut Farah bergetar karena gugup.

__ADS_1


Farah menerka-nerka kenapa Ryan membutuhkan waktu yang lama untuk mendatanginya? Farah sadar, mungkin saja pria ini tidak memiliki alasan untuk tidak sabar bertemu dengannya. Tapi pasti Keith akan langsung mengabarinya kan? Bukankah yang kudengar sekilas mereka kakak beradik? Atau mungkin pria ini tadi sedang berada di darat? Farah diam seraya menatap lekat Ryan. Lagi-lagi Ia melihat Ryan memakai pakaian yang elegan. Sebuah kesempurnaan berada tepat di hadapanya saat ini.


"Jangan mendekat!" Ujar Farah saat melihat Ryan bangkit dari duduknya.


"Kau terlihat lelah.. Kau duduk dan aku akan duduk, lalu kita akan membicarakannya baik-baik".


"Dimana kunci pintunya?" Tanya Farah berusaha mengeluarkan suara setegas mungkin.


"Apa kau ingin mengurung kita disini berduaan? Aku dengan senang hati ikut terkurung bersamamu" Ryan sangat menikmati situasi ini.


"Dimana kuncinya?" Farah mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.


"Tidak! Kau kembali duduk saja!"


Dengan senang hati Ryan mematuhi perintah Farah. "Untuk seorang wanita cantik, apa pun akan kulakukan" Ryan lantas kembali duduk di sofa seraya menyilangkan salah satu kakinya. Ia merapikan rambutnya. "Nah. Aku sudah duduk, namun biarkan aku tetap terlihat tampan saat menjadi mayat setelah kau menembakku".


Ryan menyeringai saat melihat kilatan gundah di sorot mata Farah. "Karena aku sudah menjadi tawananmu, apa yang akan kau lakukan? Atau jika kau belum bisa memikirkan apapun, apa kau bisa menerima saran dariku?".


Farah mengerjapkan mata. "Aku sudah memikirkan banyak hal saat tahu pertama kali diculik. Aku ingin ditinggalkan sendirian di kamar ini dan siapkan kapal kecil untukku agar aku bisa kembali ke darat".

__ADS_1


"Apa kau bisa menjalankan speed boat sendirian?"


"Iya, aku bisa" Ucap Farah berbohong. Apapun Ia akan coba lakukan untuk kabur dari pulau ini meskipun itu artinya Ia harus memberanikan diri mengendarai kapal kecil di lautan. Farah mulai berpikir tentang ikan hiu, ubur-ubur raksasa, monster laut, ular laut, paus, atau apapun itu yang membuatnya bergidik ngeri.


"Bawa aku kembali untuk menemui pimpinanmu. Aku tidak memiliki manfaat apapun untuknya, keberadaanku di sini hanyalah kebodohan dari orang suruhan bodyguardmu yang salah menilaiku".


Ryan tiba-tiba saja tertawa kecil. "Sayangku, jika kau berharap Keith akan melepaskanmu saat ini, kau salah. Tapi, aku akan dengan senang hati membukakan pintu untukmu. Tapi, jika kau berpikir dia mau menurutimu, kau hanya bermimpi. Aku akan memberimu kesempatan jika ingin mencobanya, aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di situasimu saat ini. Tidak masalah jika orang ingin berusaha. Hanya saja, aku bisa pastikan usahamu tidak akan berhasil".


Farah menatap wajah Ryan yang sedang menatapnya dengan ramah dengan senyuman yang hangat hingga tanpa sadar sedikit membuatnya nyaman.


"Farah... Itu namamu, kan?" Tanya Ryan. "Turunkan senjata itu. Aku tidak mau menyakitimu. Lebih tepatnya, aku tidak akan menyakitimu".


"Aku tidak percaya padamu. Kau mafia. Kau pandai memainkan peran!". Sentak Farah.


Ryan lalu beranjak berdiri lagi dari sofa seraya mengangkat kedua tangannya ke sejajar dengan kepala. "Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah." Perlahan namun pasti, Ryan tetap melangkah ke arah Farah hingga membuat Farah gugup, gemetar dan ketakutan.


DORRR! Suara tembakan terdengar begitu nyaring di telinga Farah hingga membuatnya berdenging. Bau bubuk mesiu tercium hingga membuat Farah pusing dan menatap nanar ke depannya.


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2