Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 60


__ADS_3

Tak lama setelah Keith menegurnya di depan orang lain, Gege segera berlari menyusul Keith. Keith tersenyum lebar dan merentangkan tangan ke samping, seolah hendak memberi tempat bagi Gege untuk bisa memeluk bahu pemuda itu. "Ikutlah denganku." ujar Keith. "Aku ada janji di desa."


Gege membeku di tempatnya berdiri.


"Jika aku tahu kita akan melakukan pertunjukan," ujar Gege, "Aku pasti akan membawa alat make up-ku."


Keith menjatuhkan lengannya dengan santai dan membiarkan senyumannya semakin lebar. "Ngomong-ngomong apa yang begitu kau khawatirkan? Sejauh ini aku menjaga Farah agar tetap hidup, kan?"


Dipenuhi oleh frustrasi, Gege bercetus, "Kau akan terlihat sangat arogan jika kau mencoba membunuh Farah. Aku yang menjaganya agar tetap hidup."


"Izinkan aku menyusun ulang perkataanku," ujar Keith dengan datar. "Seharusnya aku mengatakan, aku menyediakan semua hal yang dibutuhkan agar dia bisa tetap hidup."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak membiarkan aku membantu Farah? Dia masih terlalu lemah. Jika Ryan sampai-"


"Babe, kau sudah menegaskan maksudmu kepada Ryan. Ryan tahu itu." timpal Keith.


"Ryan akan melupakannya. Kau telah mengatur segalanya agar Ryan melupakannya. Ryan tidak mengerti apa yang telah dilakukannya terhadap Ryan."


Mata Keith sarat dengan kilau tawa dan pengertian, membuat mata itu terlihat seperti beri hitam. "Benarkah Farah tidak mengerti? Kalau begitu, seharusnya kau menjelaskan kepadanya."


"Memangnya aku pengasuhnya?"


"Bukankah memang begitu? Aku pikir sejak awal kau secara sukarela menjadi pengasuhnya. Dan aku pikir Ryan sebaiknya menyembuhkan dirinya sendiri dengan tubuh Farah. Memangnya kau tidak mengatakan itu kepada Ryan? Atau memang Farah sering berada dalam kondisi yang memancing untuk diperkosa? Karena tidak ada satu pun kalian yang sepertinya menyadari apa yang kalian inginkan, maka kalian akan mendapatkan apa yang aku ingin kalian dapatkan, yaitu......."


"Kesengsaraan?" timpal Gege.


"Untukmu, aku akan memberikan kesempatan untuk mencari tahu seperti apa rasanya saat kau tidak bisa melindungi sesuatu yang kau cintai."

__ADS_1


Gege tersentak seperti baru saja disulut dengan api. Mencerna kata-kata itu dengan perlahan, matanya penuh dengan ketekejutan. "Keith...." Untuk pertama kalinya Gege mendengar ketakutan di suaranya sendiri. "Jangan gunakan dia untuk mengajariku rasa sakit. Gunakan siapa pun. Tapi, jangan Farah."


"Sekarang, aku tidak bisa menghentikannya untukmu, Nak. Ada lebih banyak orang yang terlibat selain dirimu." Mata hitam Morgan sudah terlihat jauh lebih lembut. "Kau salah satu orang yang ada di dalam duniaku, tapi kau tidak berada di bagian pusatnya."


Terjadi juga penyangkalan yang Gege tahu akan didengarnya suatu hari nanti. Selama bertahun-tahun, dengan peringatan dari Keith, Gege sudah menyiapkan dirinya untuk mendengar hal itu, dan setelah sekarang ia mendengarnya. Gege terkejut dengan kesiapannya untuk menerima. Sudah sejak lama Gege sadar bahwa Keith berharap ia bisa menerimanya.


"Aku tidak pernah meminta," ujar Gege, "untuk menjadi pusat dalam hidup seseorang. Aku tidak yakin aku sanggup menanggungnya, Ini sudah cukup buruk".


Keith memecah ketegangan dengan tertawa terbahak-hahak. Gege menambahkan, "Dengar, aku dengar Farah memiliki rahasia yang mungkin akan membuat Ryanbmenyakitinya. Apakah itu benar? Apakah kau mengetahui hal itu?"


"Tentu saja aku mengetahuinya. Memangnya kau pikir selama ini aku hanya menggapai-gapai di ruangan yang gelap? Iya, Farah memang memiliki rahasia kecil, dan dia berusaha menyimpan rahasia itu dengan sekuat tenaga. Sejak dulu, aku sangat yakin Farah akan menyerah dan mengatakannya kepada Ryan, atau setidaknya kepadamu. Sikap Farah yang menjunjung tinggi kehormatan telah membuat situasi ini menjadi lebih buruk daripada yang aku perkirakan, tapi aku harus mengakui aku menyukai Farah apa adanya."


Untuk kedua kalinya Keith mengangkat tangan untuk menawarkan pelukan, dan sambil menghela napas, Gege melangkah masuk ke pelukan itu dan menerima beban lengan Keith di atas bahunya. Mereka berjalan bersisian di kebun. Gege mengamati daun yang bergerak-gerak karena belaian lembut angin, serta kerimbunan kebun yang menghijau di sekitar mereka.


Kemudian, Gegebberkomentar, "Aku rasa kau harus berusaha keras untuk bisa membuat rencana ini berhasil, karena jika aku ikut campur, maka akibatnya akan sangat besar dan bisa menenggelamkan kita-


●●●


Farah berlari di padang rumput yang hijau. Aroma rumput yang segar menempel di rok Farah. Kupu-kupu dengan sayap yang berwarna pink terbang dalam selubung kain di depan Farah, rambut panjang Farah terlihat bercahaya karena paparan sinar matahari. Topi pinjaman berpita lebar yang tergantung di lekukan lengan Farah berubah fungsi menjadi keranjang bunga yang dipenuhi dengan bunga beraneka warna yang terdapat di pulau.


Segalanya terasa lebih mudah saat Farah sedang sakit, ketika rasa sakit menumpulkan seluruh indranya terhadap kemaskulinan Ryan. Sekarang, saat Ryan menyentuh Farah, bahkan dalam tindakan yang sederhana seperti menyerahkan bunga padanya, Farah merasa seperti telah menelan kupu-kupu pink secara utuh dan kepakan sayap kupu- kupu itu membuat perutnya bergelenyar. Farah masih bisa merasakan kenikmatan yang diberikan oleh bibir Ryan yang sensual. la masih mengingat pemujaan Ryan, saat Ryan memeluknya dan membelai tubuh serta jiwanya.


Hanya sedikit pria yang memiliki pesona yang mampu memengaruhi wanita dengan begitu cepat dan mendalam,


Padang rumput diliputi bayangan teduh semak belukar. Langkah Farah melambat, membiarkan indranya menyerap semua aroma yang dikeluarkan oleh daun dan bunga di sekitarnya. Saat Ryan datang ke sampingnya, kedekatan pria itu membuat sekujur tubuh Farah bergelenyar meskipun Ryan tidak bergerak untuk menyentuhnya.


Ekspresi wajah Ryan rerlihat senang, tetapi tak terbaca. Mungkin Ryan sedang berpikir tentang memancing. Itu cukup masuk akal. Di dalam mimpinya, Farah menggeliat di bawah belaian tangan Ryan, di dalam mimpi Ryan, objek yang menggeliat adalah ikan. Hubungan percintaan sangatlah rumit, hingga dibutuhkan orang jenius untuk bisa memahaminya. Tante Okta pasti akan berkata begitu padanya. Tapi, Tante Okta tidak akan bisa memprediksi Ryan. Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi Ryan.

__ADS_1


Setelah memasukkan bunga berwarna merah ke topi. Ryan mulai memetik bunga yang berwarna putih. "Kau terlihat jauh lebih hidup sekarang." Ujar Ryan.


Kepala Farah langsung menoleh ke sekeliling di bawah tatapan mata Ryan. Farah menyadari bahwa hanya dengan melihat Ryan ia tidak bisa mengetahui apakah ia berada dalam pikiran, pancingan, kail, atau umpan Ryan; tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Aku rasa kau benar," ujar Farah sambil memasukkan bunga berwarna plum ke topinya.


"Seperti apa kau ketika kecil?" tanya Ryan.


"Pemalu. Selalu melamun. Aku ingin menjadi orang yang menyenangkan semua orang." Ujar Farah dengan nada sedih.


"Bagaimana rupa rambutmu?" Tanya Ryan lagi.


"Lurus dan tidak menarik. Terlalu halus" Farah berkonsentrasi pada tangannya yang sedang memeluk bunga lain dan memasukkannya ke topi. "Sering kali pita yang kupakai terlepas dan jatuh di wajahku."


"Aku anak rumahan sampai semua orang mencemoohku.. Bahkan salah satu teman ayahku berkata pada ayahku kalau aku anak yang sopan tapi sayang sekali terlalu rumahan".


Betapa menyedihkannya bahkan setelah bertahun-tahun Farah masih tidak bisa menceritakan kisah itu tanpa membuat tenggorokannya tercekat. "Tanteku bilang aku harus belajar untuk bisa mengatakan, "Aku mungkin anakn r-u- m-a-h-a-n, tapi setidaknya aku cerdas".


Farah mengatakan itu untuk menghibur Ryan, dan ia merasa sa-ngat terkejut saat menoleh ke samping ia mendapati tidak ada senyuman di bibir Ryan. Tangan di bahu Ryan menghentikan kegiatannya, dan la dibalikkan dengan lembut ke arah Ryan. Mereka hanya terpisah oleh udara yang sempit, saat tangan Ryan menemukan dan mengangkat dagu Farah.


"Tapi kau cantik," gumam Ryan, "dan akan selalu cantik."


Mulut Ryan mendekat, menekan lembut mulut Farah, tetapi kemudian menarik diri sebelum Farah bisa merespons dan menunjukkan kepada Ryan apa yang ada di dalam hatinya.


Dan, dengan tenggorokan yang lebih tercekat, seolah ada ribuan kupu-kupu di sana, dan kaki yang sangat lemah, Farah kembali berjalan bersama Ryan ke arah pantai.


Mereka sudah berjalan lima langkah ketika Ryan berkata "Apakah kau tahu, ada kalanya aku menganggapmu sangat mempesona sehingga harus mengingatkan diriku sendiri bahwa kau adalah wanita hidup dan bukannya tokoh supranatural dalam fantasiku. Kita sudah membuat kesepakatan, iya kan?”.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2