Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 59


__ADS_3

"Tapi, kau harus mendengarku menjelaskan vegetasi," ujar Ryan sambil menyeringai. "Aku bisa menjelaskan dengan panjang lebar." Ryan tertawa melihat ekspresi wajah Will, saat Ryan duduk dengan santai di samping Farah. ""Apakah kau mau menunjukkan hasil gambarmu, Farah?"


Farah. Farah merasa kecewa karena Ryan memanggilnya dengan panggilan biasa, dan hal itu membuat Farah berubah murung. takut jika tanpa sadar ia memandangi bibir Ryan atau bagian tubuh Ryan yang kurang pantas. Pasti ada cara lain untuk bersikap tenang. Gelombang perasaan yang dialami Farah semakin hari semakin membuatnya terkungkung. Farah menyerahkan buku sketsanya kepada Ryan..


Ryan mengamati sketsa Gege yang dibuat oleh Farah. Memberikan pujian atas kualitasnya yang mengagumkan, yang membuat Farahblebih senang daripada yang diinginkannya, lalu dengan nada santai Ryan bertanya apakah Farah pernah memanfaatkan bakat melukisnya untuk menghasilkan uang. Pertanyaan itu membuat Farah tertawa. "Tentu saja tidak," ujar Farah. "Memangnya ada yang mau membeli sketsa pensil?".


"Tergantung pada objek yang digambar," jelas Ryan. Itu adalah komentar santai yang dilontarkan tanpa banyak berpikir atau niat selain untuk mengobrol, tapi komentar itu langsung menyentakkan Farah dan membuat tawanya terhenti seketika.


Ryan sedang mengambil pensil yang bergulir ke bawah rok Linda, dan meskipun tidak ada seorang pun yang pernah menyangka bahwa takdir sebuah hubungan ditentukan oleh goresan pensil, hal itu membuat Ryan tidak melihat ekspresi cemas di wajah Farah. Seperti sepasang kekasih terpisah yang hanya berselang beberapa menit memasuki pintu yang sama, Ryan dan Farah bertatapan untuk membaca pikiran satu sama lain.


Tentu saja, Keith mungkin akan menegaskan bahwa penyelesaian sederhana tidak selalu menjadi jalan keluar yang terbaik, jika orang berurusan dengan masalah yang rumit.


Gio, yang sedang menoleh ke arah Farah, melihat ekspresi kecemasan itu, dan meskipun Gio tidak memahami apa maksudnya, cukup masuk akal jika Gio bersikap protektif. Saat Devon mengangat kepala, yang dilihatnya bukanlah Farah tetapi Gio, yang menuntut untuk ikut melihat hasil gambar Farah. Jadi, momen yang seharusnya bisa berarti itu terlewat begitu saja, tanpa menyelesaikan masalah yang sudah ada arau menciptakan masalah baru. Gio mulai melontarkan kritik terhadap gambar itu atas nama Farah.


Dennis yang menopangkan tubuh pada siku ikut menimpali, "Indah. Tapi untuk gambar Gege hmmmm.... Farah sayang, apakah menurutmu kau sudah cukup menggambar cibiran khas Gege?"


"Cibiran? Itu bukan kata yang tepat untuk Gege yang malang, Hei, hanya kita yang tahu bahwa di balik lidah yang tajam itu tersembunyi hati yang hangat penuh cinta kasih", Timpal Will menyingkirkan rambut dari matanya dan menyeringai kepada Gege.


Will menimpali lagi "Pose yang cocok untuk Gege adalah menanggalkan semua pakaiannya dan duduk hanya dengan menggunakan selimut di atas pangkuan. Kita bisa memberikan gambar itu untuk Keith hahaha".

__ADS_1


Gio memperingatkan Will dengan berdeham, dan Will menangkapnya sebelum berbalik untuk melihat Keith sudah bergabung bersama mereka dan sedang berdiri di samping semak-semak sambil tersenyum lebar. "Oh, sial," seru Will dengan wajah merah padam.


"Menyenangkan sekali mendengar namaku diucapkan oleh bibirmu," ujar Keith dengan nada suara yang bisa membuat semua orang terdiam. "Jangan menggeliat gelisah begitu, Nak, atau kau akan menendang kepala Linda. Memangnya kau tidak tahu dia sedang tertidur?".


Merasa lega dengan perubahan arah pembicaraan, Will menarik rambut hitam yang menutupi wajah Linda, dan melihat gadis berkulit cokelat itu sudah tertidur lelap. "Oh! dia memang tidur! Linda yang malang. Yah, dia melakukan hal yang sama kemarin. Tertidur pulas pada tengah hari. Aku rasa aku terlalu sering membangunkannya pada malam hari," ujar Will dengan santai.


Komentar itu memancing tawa dari semua orang yang mendengarkannya. "Hanya untuk melakukan satu hal," komentar Keith dengan tidak acuh.


Tatapan gelap Keithbberalih ke Farah, lalu ke Ryan.


"Bukankah kau mau pergi memancing, Dik?"


"Yah," ujar Keith, "itu benar. Kenapa kau tidak mengajak Farah juga?"


Dalam kesunyian, Farah mendengar Gege berkata dengan ketus. "Kenapa Ryan harus mengajak Farah? Ryan sudah punya umpan. Farah tidak memahami perkataan Gege, karena seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Ryan.


Ryan terlihat tidak ingin mengajak Farah. Di wajah Ryan, terlihat jelas penolakan itu, sama jelasnya seperti air yang jernih. Farah tidak pernah terpikir untuk menghabiskan hari bersama Ryan, ia tidak pernah memancing dan tidak pernah merasa ingin mencobanya. Namun, saat melihat bahwa Ryan tidak ingin Farah ikut, hati Farah yang rentan terasa seperti diiris dengan pisau.


Entah bagaimana Farah pasti menunjukkan rasa sakit itu di ekspresi wajahnya, karena ekspresi wajah Ryan langsung berubah dengan cepat. Rasa kasih atau sesuatu yang mirip dengan itu menyapu mata Ryan dan mengirimkan gelombang panas ke seluruh pembuluh darahnya. "Apakah kau mau ikut denganku, Farah?" tanya Ryan dengan suara pelan. "Siapa yang tahu apa yang mungkin berhasil kita berdua pancing?"

__ADS_1


Butuh waktu bagi Farah untuk menjawabnya karena Ryan menyampaikan undangan itu dengan enggan dan karena ia merasa yakin tidak ada gunanya memenuhi hasrat hatinya untuk bisa bersama Ryan, tetapi pada akhirnya godaan itu tidak sanggup ditolaknya.


Ketika Farah berlari ke dalam vila untuk mengambil topinya dan Ryan pergi ke pintu depan untuk menunggu Farah, Keith menghampiri Gege yang terdiam setelah melontarkan satu komentar ketus kepada Ryan. Linda masih tertidur, tetapi Will, Gio dan Dennis mengamati dengan sorot tidak percaya saat Keithbmenangkupkan rahang Gege dengan satu tangannya yang lebar. Mata hitam Keith menatap tajam mata biru pucat Gege.


"Kendalikan dirimu. Babe," tegas Keith dengan lembut. Dan, pergi meninggalkan mereka.


Keheningan yang terjadi akibat syok begitu terasa saat mereka bertiga mencoba untuk mencerna dan menginterpretasikan hal luar biasa yang baru saja terjadi. Keith, di luar kebiasaan, telah menegur Gege di depan umum. Setelah merenungkan hal itu di dalam pikiran mereka, tidak ada satu pun yang bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya, Gio yang memecah keheningan, "Apakah apakah maksudnya, Farah, Ge? Farah pasti akan aman bersama Ryan. Ryan akan memasukkan seluruh tangannya ke air mendidih sebelum menyakiti Farah".


Tanpa menjawab, Gege menatap Gio seolah Gege tidak bisa melihatnya. Gege berbalik, berjalan menjauh, lalu berlari kecil ke arah yang diambil oleh Keith. Di belakang Gege, Will menatap sebuah gitar yang sejak tadi dimainkan oleh Gege.


"Aku bertanya-tanya," kata Will, "Apakah kita akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."


...♤♤♤...


3 bab di hari libur..


Hadiaahh.. Komeenn.. Likeee😂

__ADS_1


__ADS_2