
"Apakah kau terluka? Katakan kepadaku, kucing kecilku..." Suara Ryan terdengar aneh, bahkan untuk dirinya sendiri, seolah suara itu berasal dari bagian dirinya yang tidak dikenal.
Terluka?" Dengan bingung, pikiran Farah yang lelah menyerap kata-kata itu seraya meresapi jejak tangan Ryan yang menangkupkan wajahnya dengan penuh kelembutan.
Namun, tidak ada yang lembut tentang kenangan yang mulai mengusik. Kebodohan lagi. Di sinilah Farah... menerima kenyamanan dari orang yang telah merenggut segalanya dari hidupnya. Setelah semua yang telah terjadi, Farah harus menyingkirkan ingatan bahwa Ryan bukanlah temannya. Setiap sel tubuhnya mendambakan Ryan dan itu adalah kenyataan yang disadarinya. Ryan telah membangkitkan kembali amarahnya, yang dalam sekejap berubah menjadi kobaran api.
"Terluka." Satu kata itu dilontarkan dengan sinis. "Aku rasa maksudmu adalah apakah Mike memperkosa aku? Oh, tidak. Tidak pernah ada orang yang pernah mencoba melakukannya, selain kau." ujar Farah.
Emosi Ryan kembali dengan gelombang yang lebih besar, saat melihat kesinisan Farah. Itu adalah kebiasaan Farah untuk melihat segala hal dengan cara yang dramatis. Pikiran Farah masih kacau. Ryan masih belum bisa merasa lega saat menemukan Farah dalam keadaan selamat.
Farah menarik diri dengan terhuyung sedikit, memasukkan tangannya ke dalam kemeja seperti tentara yang berpakaian di tengah berondongan senapan, lalu mengenakan celananya dengan tangan yang gemetar Farah bernapas dengan cepat, suara yang terdengar tercekat, seolah berasal dari seorang anak yang marah. Tapi mata berkilat marah sedang menatapnya adalah mata seorang wanita dewasa.
"Mungkin akan lebih meyakinkan," ujar Farah, "jika kau bisa mengatakan kepadaku apakah kau menyelamatkan aku atau hanya sekadar menangkapku lagi."
Mereka berdiri sangat dekat sehingga getaran tawa Ryan membuat rambut Farah ikut bergetar di cekungan rahangnya. "Kau memang selalu ingin tahu secara mendetail. Jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Jawabannya mungkin sama sekali tidak bisa meyakinkanmu."
Ryan mengamati gadis di hadapannya saat ini yang Ia menyadari jika emosi gadis itu memang selalu berubah-ubah sesuai mood. Ryan tersenyum miring seraya menggumamkan kata 'wanita...." dengan nada maklum.
__ADS_1
Apakah ada cara untuk membuat dirinya sendiri kebal, setidaknya untuk saat ini, terhadap kelembutan rambut panjang Farah yang mengundang untuk disentuh, terhadap ketegangan di wajah Farah yang cantik, terhadap ingatan yang masih segar saat melihat Farah terlentang tanpa sehelai benang?
Ryan masih ingat bagaimana tenggorokannya terasa tercekik saat ia mengkhawatirkan Ryan. Kekhawatiran itu telah menguras semua cadangan kekhawatiran yang dimilikinya seumur hidup. "Kita bisa pergi sekarang. Kecuali kau sudah mulai menyukai kerindangan surga kecil ini?"
Satu hal yang menjadi keahlian Ryan adalah menutupi apa yang ada di dalam pikirannya. Farah hampir bisa melihat Ryan menyembunyikan pikirannya di balik ketampanan yang mengagumkan. Seolah Ryanbtengah melakukan proses metamorfosis secara fisik. Ryan adalah seorang pria, bukannya kumpulan mesin dan alat-alat yang digabungkan dengan ikat kulit, tapi saat Farah mencoba menyamai langkah Ryab menuju ke pinggir pulau, tempat kapal Dark Devilbditambatkan, ia bertanya-tanya bagaimana tubuh sempurna Ryan bisa berfungsi dengan baik tanpa hati.
Harga diri mencegah Farah mengetengahkan topik tentang apakah Ryan mengerti kenapa ia melarikan diri dari markas Dark Devil dan apakah Ryan berniat menghukumnya atau tidak.
Farah pasti terkejut jika tahu bahwa Ryan sama sekali tidak memikirkan hukuman. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ryan yang selama ini selalu bisa berpikir jernih, merasakan keraguan. Dan ia mempelajarinya dengan cara yang paling menyakitkan. Motifnya adalah perasaannya, bahkan logikanya tidak lagi terasa penting saat ia menemukan Farah. Kesimpulannya, berapapun sementaranya, membuatnya merasa tidak nyaman.
Cahaya langit senja yang berwarna keunguan mengelilingi mereka, saat mereka mencapai deretan bebatuan besar dan vegetasi yang memagari pantai.
Gio lah yang melingkari tubuh Farah dengan penuh kasih dan memeganginya dengan sangat lembut, seolah Farah adalah barang yang sangat berharga, saat mereka menaiki perahu menuju ke kapal Dark Devil.
Di lain waktu, Gio akan menghindari kontak semacam itu dengan Farah, karena hal itu membuatnya berpikir macam-macam, tetapi sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengkhawatirkan hal itu. Ketegaran Farah yang tampak sebelumnya, sudah memudar oleh kelelahan, dan tangan Farah yang bergelayut di bahu Gio, terasa sedingin es kutub utara.
Dengan lembut, Gio melepaskan Farah dan mulai menggosok tangan Farah yang dingin di antara telapak tangannya.
__ADS_1
"Dengar aku, manis. Mulai dari sekarang, kau harus beritahu aku tentang pelarianmu," ujar Gio dengan lembut. "Aku ingin tahu apa yang merasukimu, hingga berani melarikan diri dengan bajingan pengecut yang menjadi asisten Will. Siapa namanya?"
"Mike." Farah mengelungkan lagi tubuhnya ke dalam kenyamanan dekapan Gio.
"Ya! Mike! Aku tidak bisa percaya! Pria itu bahkan tidak bisa membedakan bokongnya sendiri dengan buah persik!," ujar Gio, kesinisan dan kekhawatiran yang terdengar dari suara pemuda itu terdengar lebih lembut karena caranya mengucapkan huruf vokal. "Dan di mana dia sebenarnya, tega sekali dia meninggalkanmu sendirian seperti itu?"
Bahkan, di tengah cahaya temaram, Gio bisa melihat perubahan ekspresi wajah Farah. Dengan sangat lembut, Gio bertanya, "Dia mati, ya?"
Ryan yang mengamati mereka dengan lekat, yang diam-diam disadari Gio, tanpa ketertarikan, jadi Gio terkejut saat pria berambut cokelat itu berkomentar dengan tidak acuh, "Mati dimakan sesuatu. Aku menemukan potongan tubuhnya."
Semakin penasaran, Gio berkata, "Yang benar saja! Makhluk apa yang memakannya?"
"Buaya," bisik Farah. Matanya membelalak dan tubuhnya merinding saat teringat betapa mengerikannya kejadian itu.
Lengan Gio memeluk Farah semakin erat dan terasa seperti tameng, sampai mereka sampai ke kapal Dark Devil, dan Gio dengan enggan melepaskan diri dari Farah, untuk menyerahkannya ke tangan Gege yang tidak kalah khawatirnya. Namun, lama setelahnya, setelah Farah dibawa Gege untuk beristirahat, Gio berkata jujur kepada Will.
"Berengsek," maki Gio. "Si Mike itu sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab di dalam dirinya. Dia membiarkan dirinya dimakan buaya dan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan diri, malah membiarkan gadis itu mengurus diri sendiri di pulau kosong."
__ADS_1
...♤♤♤...
Likeee, komeenn, hadiaaahh🤭