Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 16


__ADS_3

Suasana di kamar Ryan terasa memanas bagi Farah. Ryan terus menerus menciumnya memancing tubuhnya untuk berkhianat atas logikanya. Tangan Farah terbuka dan mencengkeram bagian depan kemeja Ryan, darah Farah berdesir dengan cepat hingga terass tubuhnya meremang. Ryan berkonsentrasi merasakan kehangatan Farah di bawah bibirnya, lalu tak lama kemudian Ia meninggalkan bibir Farah dan mencium kening gadis itu. "Kita akan lihat, sejauh mana tubuhmu berkhianat". Ujar Ryan berbisik.


Namun ada kalanya, meskipun dalam keadaan lemah, pikiran menjadi lebih kuat. Farah memukuli dada Ryan dengan kepalan tangannya. Sambil tertawa pelan, pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Farah dengan satu tangan dan membawanya ke bibir untuk digigit dengan lembut.


Farah tersentak dengan sikap Ryan. "Aku berharap peluru tadi menghunjam otakmu!".


"Astaga... Kau memang menantang. Sudah terlambat untuk bermain-main, sayangku." Tanpa aba-aba apapun, Ryan mencium bibir Farah lagi, satu tangan Ryan berada di bagian belakang kepala Farah menahannya agar tidak bergerak dan membiarkan tangan Ryan yang lain menjelajah. Jari-jari sensitif Ryan menemukan kehangatan di balik kemeja silk yang di pakai Farah, tempat di mana ada sebuah keindahan yang tersembunyi. Penyelesaian ciuman pertama mereka yang tertunda di dalam mobil sepertinya semakin meningkatkan gairah yang sudah kuat sejak awal.


Telapak tangan Ryan menyusuri pinggang Farah dengan lekuk pinggul yang menggiurkan. Ryan membentangkan jari-jarinya, meraup kelembutan kulit Farah di balik telapak tangannya. Farah terpekik saat telapak tangan Ryan menangkup dengan hangat bagian bawah bola kenyalnya. Rasanya memalukan, dan di bagian bawah perutnya, organnya terasa menegang sampai Ia tahu bahwa hanya Ryan yang bisa menenangkannya. Farah tidak menduga bahwa merasakan sentuhan tangan pria di beberapa titik tubuhnya bisa terasa memabukkan. Tangan Ryan terus bergerak hingga membuat napas Farah tercekat. Tetapi Farah berada di kombinasi kenikmatan dan ketakutan hingga akhirnya memberi gadis itu kekuatan untuk memukul dada Ryan sekali lagi.


"Tenang manis, kau lihat, kan? Kita tidak perlu saling menyakiti" Dengan lembut Ryan kembali menjelajah dalam gerakan memutar yang hangat, membiarkan sensasinya menembus otak Farah yang masih sedikit di bawah pengaruh obat.


Farah mengumpulkan keberanian dan kekuatan hingga akhirnya Ia bisa melepaskan diri dari dekapan Ryan. Farah melangkah mundur seraya menggelengkan kepalanya dan merasa frustasi karena tidak mampu melakukan apapun. Sudah cukup Ia menangis di hadapan dua penculik bodoh yang menculiknya di bandara, lalu Ia pun menangis di hadapan Keith dan Gege. Lebih baik Ia menggigit lidahnya hingga berdarah daripada menangis di depan Ryan.


Kau tidak pernah menjadi sosok yang kuat, Farah Fransiska...


Farah bergumam dalam hati seraya menggelengkan kepalanya dengan kuat berusaha kembali menyadarkan dirinya dari pengaruh obat. Sial... Aku tidak bisa lengah sedikit gara-gara obat sialan ini.. Oh tubuhku lemas sekali...

__ADS_1


Farah berjalan mundur dengan pelan namun sialnya kakinya mengkhianatinya dengan terselip satu sama lain. Dengan cepat lengan Ryan melingkari tubuhnya, melindungi kepalanya agar tidak terbentur oleh ujung meja yang berada tepat di belakang Farah. Sekarang, tidak mungkin Ia bisa menjauh dari Ryan. Dengan perlahan Farah merasa tubuhnya melayang dan dengan lembut Ryan membaringkannya di atas tempat tidur. Keduanya saling menatap dengan mulut terkunci.


"Apa aku harus menggendongmu ke tempat tidur agar kau mau berisitirahat?" Bisik Ryan tepat di telinga Farah. Farah tak menjawab apapun hingga perlahan Ryan menyapu kemeja Farah lalu membuka kancingnya satu per satu, membiarkan satu bola kenyal yang kencang terbebas.


Napas Farah tercekat saat telapak tangan Ryan membuat gerakan memutar dengan sangat lembut di puncak bola kenyalnya dan meremasnya dengan lembut. Aliran darah Farah yang berkhianat berdesif menyambut tangan Ryan, dan sepertinya tubuhnya memprpduksi serum yang membuat setiap sel tubuhnya terasa panas. Ryan kembali mencium bibir Farah dengan tekanan yang lembut namun penuh gairah. Mulut mereka menyatu untuk merasakan setiap rasa dan menghirup oksigen.


Bibir Ryan begitu memabukkan masih terasa manis oleh ciuman mereka sebelumnya. Bibir itu lalu bergerak dengan perlahan menuju ke bola kenyal yang kencang. Bertahan di sana untuk menggoda puncak bola dengan lidahnya. Kemudian, Ryan mengangkat bola kenyal itu agar mulut pria itu bisa menjelajah lebih dalam.


Menit demi menit berlalu sejak Ryan bisa berpikir tentang hal lain, Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari kebutuhan dirinya sendiri untuk menguburkan dirinya ke dalam suatu gua hangat yang dimiliki oleh makhluk menawan yang berada dalam kungkungannya saat ini. Ryan menyadari bahwa kaki Farah gemetar berusaha sekuat tenaga untuk mendorongnya menjauh. Ryan meletakkan telapak tangannya yang kokoh di paha Farah, dan sentuhan itu cukup membuat kepalanya berputar oleh gairah dan Ia berusaha untuk menahannya.


"Ingatkan aku untuk mengajarimu tempat terbaik untuk menendang pria". Ujar Ryan kepada Farah.


"Astaga mulutmu memang tajam sayangku". Ujar Ryan seraya terkekeh dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah Farah. "Kau orang yang menyenangkan, riang, sopan tapi mulutmu pedas"


Ryan kembali lagi dan lagi mencium Farah. Namun kali ini terasa berbeda. Jika ciuman yang sebelumnya menuntut kini berubah menjadi menyamankan., sentuhannya menjadi ringan.


Tidak ada gunanya berdoa saat ini, tidak ada gunanya mencoba melawan, karena sekarang baik pikiran maupun tubuh Farah sudah berhenti mematuhi tekadnya. Ia sudah terlena oleh belaian mulut Ryan dan sentuhan hangat tangan Ryan di sekujur tubuhnya. Bibir Farah terbuka, puncak bolanya mengeras dan mendamba di bawah belaian jari Ryan., dan Ia merasa sangat bodoh karena seharusnya Ia menolaknya dengan tegas.

__ADS_1


Mata Ryan memancarkan gairah besar yang membuyarkan pandangan. "Aku sangat membutuhkan wanita" Gumam Ryan di sela ciumannya.


"Ryan...." ujar Farah. Dan Farah harus mengulang dua kali untuk menyadarkan Ryan di sela ciumannya. "Ryan"


Ryan melepas tautan bibir mereka dan menatap Farah. "Ya?"


"Kumohon.. Bantulah aku. Aku---aku....."


"Apa?"


Farah harus mengesampingkan rasa malu sebelum berkata, "Aku tidak enak badan". Ujar Farah. "Aku benar-benar tidak enak badan. Rasanya aku-- aku---, Oh Tuhan.. Aku ingin muntah. Perutku mual".


Sontak saja Ryan menatap wajah Farah dengan lekat dan melihat apa yang di katakan oleh Farah memang benar. Dengan sigap Ryan menggendong Farah menuju kamar mandi dan membiarkan Farah untuk mengeluarkan isi perutnya. Ryan hanya menatap Farah dari sisi pintu kamar mandi seraya berpikir pasti gadis ini memang melewati hari yang berat hingga harus sampai ke markas Dark Devil.


Ryan kembali menggendong Farah dan membaringkanya dengan lembut. Ryan mendekapnya dari belakang. Farah merasakan bibir Ryan menyentuh bagian belakang lehernya dan berkata diselingi oleh tawa, "Aku harap kau menyadari bahwa ini adalah pukulan hebat untuk harga diriku". Ryan membelai pipi Farah dengan pelan hingga membuat Farah tertidur nyenyak.


Tuhan memiliki kejutan yang luar biasa daripada yang Ia pikirkan sebelumnya. Ryan menyeringai seraya menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Farah yang sudah mendengkur halus.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2