
"Kita kedatangan tamu", Ujar Ryan dengan suara pelan.
Sinar matahari pagi sudah mengintip masuk melalui gorden kamar. Jari-jari ryan menyusuri lengan Farah sampai Ia mencapai telapak tangan istrinya itu. Rambut harum Farah menggelitik wajah Ryan saat Ia memberikan ciuman perlahan di sana dan membelai Farah dengan penuh cinta.
"Apakah sekarang aku terlihat berbeda untukmu?", tanya Farah dengan suara serak.
Pergelangan tangan Ryan melengkung nyaman di atas telinga Farah, sisi ibu jarinya membelai kelembutan di tulang pipi Farah
"Tidak, aku yang justru terlihat berbeda untuk diriku sendiri". Ujar Ryan.
"Maksudmu seperti apa?"
"Lebih bijaksana. Dan lebih muda. Mendekati diriku yang sesungguhnya....", Ryan menyentuhkan ujung jarinya di atas hidung Farah dan menggoyangkannya dengan lembut. "Aku bersungguh- sungguh dengan semua yang kukatakan kepadamu, Farah."
Dalam kesunyian, Ryan bisa mendengar gumpalan emosi yang menyumbat tenggorokan Farah. Ryan menyentuh bagian bawah dagu Farah dengan satu jari, ia mengangkat wajah Farah untuk menghadap ke wajahnya. Di tengah ruangan yang gelap gulita, ia hanya bisa melihat kilau mata Farah, tapi embusan napas mereka terlihat seperti kumpulan awan di tengah gerhana bulan.
"Kau tahu, Sayang? Sungguh mengejutkan bahwa wanita harus merasakan sakit dalam percintaan pertama mereka. Menurutmu itu ide siapa?" . Ucap Ryan hingga membuat tawa Farah terasa bergetar di dada Ryan.
"Jika aku yang diberikan kekuasaan untuk menentukan. segalanya pasti akan terasa jauh berbeda."
Merasa nyaman, Farah semakin bergelung di tubuh Ryan, bola kenyal Farah yang lembut bergerak dan memijat cekungan tulang iga Ryan. Sepertinya Farah sangat puas bisa berbaring dengan nyaman di dalam dekapannya, nyaris terlelap lagi oleh belaian tangannya yang penuh cinta. Menit-menit berlalu. Suara Farah terdengar lagi olehnya seperti melodi yang rendah.
"Ryan.. Aku memikirkan sesuatu dan itu menggangguku. Bolehkah aku bertanya padamu?", Tanya Farah dengan pelan.
__ADS_1
"Kau bisa tanyakan apa saja padaku.".
"Apakah Keith dan ibuku..... Maksudku, apakah mereka....? Apa itu mungkin?". Farah terdiam, seolah hubungan itu sulit untuk dideskripsikan.
"Aku tidak tahu. Aku belum mulai memikirkannya. Aku pikir, untuk bisa mengetahuinya aku harus berpuasa selama tiga hari dan bermeditasi. Apakah kau punya petunjuk?". Ryan menjawab dengan sedikit lelucon.
"Aku tidak yakin. Tapi pada malam utusan whitehall datang ke pulau pribadi Keith, Keith membawaku ke pantai bersamanya. Dia tahu bahwa akulah yang menggambar sketsa kalian sebelum dia melihatnya secara langsung, dan setelahnya aku berpikir, bagaimana Keith bisa mengetahuinya? Apakah Keith seorang peramal?". Tanya Farah.
"Keith memiliki banyak kemampuan, tapi yang jelas meramal tidak termasuk. Apakah mungkin pelayanmu......"
"Harry?"
"Iya. Harry.. Mungkinkah dia mendengarmu berbicara de- ngan kakakmu tentang gambar itu dan entah bagaimana caranya dia menyampaikan informasi itu kepada Keith?"
"Jika begitu, aku tidak akan bisa mempertahankanmu." Sambil mendekap Farah di tubuhnya yang hangat, Ryan merasakan dorongan protektif terhadap Farah yang menyebar ke seluruh tubuhnya. "Hanya Tuhan yang tahu, sayang. Tapi aku takut bulan-bulan penuh penyiksaan itu adalah cara kakak tiriku untuk menjadi mak comblang."
•••
Gege tidak bisa menemukan nama lain untuk menjelaskannya. Sendirian, di perpustakaan Zayn Crandall, menunggu, menunggu.... la sudah melakukan beberapa kali pengamatan yang tidak ada gunanya di sekeliling ruangan itu, tapi tidak ada satu pun yang bisa mengalihkan perhatiannya, kecuali buku tentang hukum pengesahan yang terbuka di atas meja Zayn. Kecuali buku itu, semua bagian di ruangan ini terlihat rapi dan bersih. Bahkan, tidak ada sebutir pun debu di lantai marmernya.
Setelah mengambil buku tentang sejarah dari lemari, Gege membawa buku tebal itu ke sofa. Gege memiliki minat yang unik yaItu adalah periode sejarah kesukaannya. Orang tidak akan menemukan kiasan peradaban manusia yang lebih rumit daripada Colloseum Romawi, di mana orang-orang bangsawan yang sombong di balkon mereka bisa melihat langsung ke pertarungan menyedihkan yang berlangsung di bawah. Gege berpikir bahwa Keith akan sangat cocok hidup di zaman itu.
Tiga hari yang lalu di pelabuhan, Gege mengamati mobil yang pergi membawa Farah, lalu ia langsung kembali lagi ke kapal Dark Devil tempat Keith sedang tidur berbalut selimut di kabin yang diterangi sinar matahari. Keith terlihat sangat menarik, dengan kemeja kusut yang terbuka, yang memperlihatkan otot sekeras besi, dan rambut gelap yang acak-acakan, warnanya hampir seperti biji anggur. Sambil tersenyum, Keith menatap Gege, mata gelap pria itu terlihat berkilau senang.
__ADS_1
"Apakah gadis itu terisak di dadamu dan membuat kemejamu basah dengan air matanya?"
Mengabaikan sindiran itu, Gege berjalan ke meja dan mengambil lembaran kertas yang tergeletak di sana. "Apakah kau sudah memikirkan berapa banyak sogokan yang akan kita berikan pada petugas Bea Cukai?"
"Iya. Karena itu sudah selesai, aku akan pergi ke daratan untuk mendapatkan dua hal: makanan dan wanita, dan itu berarti jika kau ingin meluapkan perasaanmu tentang Farah kepadaku, lakukanlah selama aku memakai sepatu botku atau kau hanya akan menyerocos ke selimut tidurku."
Gege meletakkan kembali kertas-kertas itu di tempatnya semula. "Aku berharap kita bisa membuat semacam kesepakatan. Apakah aku boleh memiliki emosi atau tidak."
"Baiklah," ujar Keith dengan sabar sambil mengambil sepatu botnya. "Kau boleh memiliki emosi. Abrakadabra. Sangat mudah, kan? Sekarang, cari akal sehatmu di dalam kepalamu. Kau lihat? Masih ada di tempatnya. Untuk bisa merasakan sesuatu, kau tidak perlu menyerahkan akal sehatmu. Ambilkan sepatu botku."
Dengan amarah yang membara di dada, Gege mengambil sepatu bot Keith dan membawanya ke jendela, membukanya dan melemparkan sepatu tersebut ke laut, yang langsung tenggelam dengan suara cipratan keras. Riak di permukaan air sudah menghilang sebelum Keith bicara.
"Itu mungkin akan menarik perhatianku, tapi coba pikirkan nelayan malang yang justru mendapatkan sepatuku dan bukannya ikan yang besar.... Aku tidak tahu apa yang kau khawatirkan. Gadis itu bisa mengatasi Ryan."
"Keith, Farah tidak tahu itu. Dia ketakutan. Dan, dia memiliki
alasan kuat untuk merasa begitu."
"Farah tidak punya alasan untuk merasa takut. Kau pikir kenapa aku membiarkan Ryan membawa Farah pergi dari pulau pribadiku? Mereka berdua memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana kau membuat Ryan sangat marah, hingga uap panas keluar dari telinganya seperti sulfur panas, tapi bahkan dalam keadaan seperti itu, Ryan tidak bisa menyakiti Farah. Apa lagi yang ingin kau ketahui?"
Gege menarik napas panjang, menghirup udara lembap yang masuk melalui jendela. "Aku ingin tahu tentang ibunya."
...♤♤♤...
__ADS_1