Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 46


__ADS_3

Merasa puas dengan jawaban Farah, Mike lalu berkata, "Itu karena kau seorang wanita, dan wanita tidak memahami arah seperti pria. Pria lahir dengan kemampuan itu, sedangkan wanita hanya membuatnya semakin rumit."


"Syukurlah kalau memang para pria seperti itu.," ujar Farah, dan itu bukanlah pujian untuk kaum pria.


"Kau seharusnya merasa lega karena situasi di sini sangat membingungkan," ujar Mike dengan gaya sombong. "Karena dengan begitu Dark Devil tidak akan bisa melacak kita. Mungkin mereka akan mencari ke pantai terdekat dan tidak menemukan apa-apa. Mereka akan membutuhkan waktu empat puluh tahun untuk bisa mencari ke seluruh pulau di sini satu per satu."


Saat hari semakin senja, kemungkinan mereka tidak akan ditemukan oleh Dark Devil semakin terlihat kecil meskipun Farah tidak akan pernah mau mengakuinya kepada dirinya sendiri.


Mereka melewati lebih dari selusin pulau, membentang di antara mereka, saat daratan luas semakin lama terlihat semakin dekat, kemudian berubah menjadi perpaduan warna yang cerah, dengan pemandangan yang memukau. Baik di daratan maupun di laut tidak ada tanda-tanda sentuhan manusia. Di sekitar mereka, hanya terdapat alam yang liar, di mana semua makhluk hidup di sana bisa hidup dengan bebas tanpa harus dibatasi oleh keserakahan umat manusia. Ikan-ikan kecil terlihat dari atas permukaan air yang jernih, dan sesekali hiu lewat dengan gerakan yang cepat dan tak bersuara. Burung kecil pemakan ikan berburu di tengah sinar matahari yang hangat.


Sebelum mereka menemukan pulau yang ditulis oleh teman Will, matahari sudah tenggelam dan menjadi bola berwarna oranye di cakrawala. Farah mengamati tempat itu dari atas hidung yang terbakar sinar matahari dan untuk kesekian kalinya hari itu, ia menjatuhkan keningnya ke atas telapak tangan.

__ADS_1


Dari laut di depan mereka, berdiri gunung berapi yang besar dan tinggi, yang berdiri dari dalam laut, dengan dilatarbelakangi oleh oleh hutan tropis yang gelap. Saat mereka mendekat ke pepohonan mangrove yang berjejer di tepi pulau, Farah bisa mencium aroma rawa yang menguap, tempat air yang berwarna cokelat dipenuhi oleh akar yang saling berlilit. Garis pantai dipenuhi oleh batu-batuan besar yang berjatuhan dari tebing di atas. Hujan telah membuat permukaan tebing menjadi tidak rata, dan di sekitarnya tumbuh semak-semak dan tanaman liar dengan bunga berwarna kuning. Jauh di atas mereka, burung terbang dengan bebas di langit yang mulai gelap.


"Surga tropis," ujar Mike saat mereka mendarat di bagian pantai yang landai. "Satan Place. Kau lihat lubang-lubang yang terdapat di pantai? Itu tanda bahwa pernah ada babi liar yang menggali di sana. Ini adalah pulau yang sempurna untuk bertualang, temanku memang hebat. Dia orang yang memiliki pengetahuan luas. Dengan berjalan sekitar setengah jam ke atas gunung itu, kita akan menemukan pos perdagangan yang dijalankan oleh mantan perompak.. Di sana juga ada wanita yang biasa dipanggil Leony. Dia wanita yang cantik dan bertubuh kecil hehehe. Yang kudapatkan dari Leony hanyalah tatapan sinis. Dia tidak punya selera humor. Jadi, apakah kau akan keluar dari perahu, atau kita akan terus duduk di sini sampai kiamat?".


Farah bangun. Namun, baru tiga langkah Ia langsung jatuh tersungkur. Tidak ada seorang pun yang memperingatkannya bahwa setelah sekian lama berada di atas kapal, tubuhmu sudah membiasakan diri dengan gerakan air laut, dan membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan permukaan daratan yang stabil.


Tawa terbahak-bahak mengguncangkan tubuh Mike yang berkeringat, saat Farah duduk di atas pasir yang basah dengan otak bingung. Kepiting kecil yang sedang berjalan di pasir mengamati Farah dengan sepasang mata membelalak.


"Mike," ujar Farah. "jika kau mentertawakan aku sekali lagi, aku tidak akan bertanggung jawab atas konsekuensinya."


Bayangan gelap jatuh ke punggung Mike yang bergerak, saat pria itu berjalan dengan penuh percaya diri di depan Farah, bersemangat karena sebentar lagi akan bertemu dengan Leony. Udaranya nyaris tak tertahankan, diselingi dengan nyanyian serangga dan siulan burung. Sayap berkepakan di atas mereka, reptil berjalan pelan di daun kering, dan jaring laba-laba terasa seperti membelai pipi Farah. Farah menyentuh ujung pistol yang diselipkan dengan hati-hati di ikat pinggangnya.

__ADS_1


Akhirnya Farah berkata, "Menurutmu sudah berapa lama kita berjalan? Setidaknya sudah lebih sejam."


Mike ragu-ragu. "Yah, temanku itu..., dia sangat suka vodka Dan, jika dia sedang minum, dia selalu tersesat. Jadi pos perdagangan itu mungkin sedikit lebih jauh daripada sejam perjalanan. Pasti letaknya tidak jauh lagi dari sini."


Saat mereka berjalan semakin jauh, masih tidak terlihat pos perdagangan. Dengan enggan, Farah membuat kesimpulan bahwa pos perdagangan itu hanyalah imajinasi. Dan pada saat itulah mereka mencapai tanah terbuka. Di sebelah kiri hutan, terdapat cahaya bulan keperakan, dan di perbukitan di atasnya terlihat sebuah pondok. Mike berseru senang 'Nah!' dan berlari ke arah pondok tetapi langkahnya berhenti sekitar sepuluh kaki dari pintu masuk.


Itu bukanlah sebuah pondok, tetapi struktur baru dan besi. Sementara Farah baru bisa melihatnya dengan jelas saat ia berdiri di samping Mike. Itu adalah sebuah altar. Di atas altar itu, terdapat piring Cina dengan sisa-sisa herbal yang sudah menghitam. Di antara piring terdapat bunga buatan yang sudah pudar karena paparan sinar matahari, botol anggur yang sudah terbuka dan berdebu, botol parfum kecil, dan sisa lilin.


"Voodoo," bisik Mike. "Membuat perutmu terasa bergolak, ada yang mengatakan mereka memanggil iblis yang disebut baka, yang hidup di kolong jembatan dan hanya keluar pada malam hari untuk memakan daging orang yang lewat di sekitar jembatan. Selain itu, masih ada makhluk lain berubah serigala berkepala manusia, dan mereka biasa menyergap manusia, lalu mengoyak apa yang dimiliki pria tapi tidak dimiliki wanita. Sangat sadis. Dan Voodoo tidak menyukai kedatangan orang luar."


Mike terlihat gelisah. "Aku tidak melihat tanda-tanda mereka ada di sekitar sini belakangan ini. Mungkin pulau ini sudah lama ditinggalkan. Meskipun begitu, aku pikir kita sebaiknya terus masuk ke bagian dalamnya. Di sini, kita berada di tempat yang terlalu terbuka." Tiba-tiba, di dekat mereka, seekor burung hantu putih menjerit, saat menangkap burung dara kecil. Farah dan Mike berjalan dengan sangat cepat hingga Mike kehilangan topinya, sementara Farah kehilangan ikat rambutnya. Mereka tidak berhenti hingga sampai ke ujung jalan di tepi kolam, tempat mereka duduk dalam keadaan terengah-engah, berkeringat sambil bersandar di bawah pohon.

__ADS_1


...♤♤♤...


Likeee, komeennn, hadiaahhh🤣


__ADS_2