
Kenapa bisa seperti ini.Reyhan mulai dekat dengan key sedangkan aku mulai dekat dengan Austin,apakah aku dan Rey memang di takdirkan untuk berpisah.apakah ini yang terbaik untuk kami berdua.
"Bagaimana caranya aku bisa pisah dengan Rey tanpa amukan dari papa.memikirkan itu semua membuat ku pusing,lebih baik aku keluar refreshing otak.di banding mumet dirumah." sambil bersiap siap.
Setelah aku rasa penampilan ku waw,aku turun kebawah untuk pergi keluar tanpa peduli dengan teguran pak man.
"Hallo tuan nyonya Willy pergi keluar rumah, saya sudah mencoba melarangnya tapi nyonya tetap pergi." ucap pak man kepada tuan Rey melalui telpon.
"Biarkan saja,kamu tetap urus pekerjaan mu,biar Willy anak buah ku yang lain yang mengurusnya." ucap Rey langsung mematikan sambungan ponselnya.
"Halo kamu ikuti Willy kemana pun dia pergi jangan sampai ketahuan,laporan semua yang kamu lihat dan dengar kepadaku." perintah nya pada anak buahnya.
"Baik tuan." ucap pria itu.
"Hens apa menurutmu Willy mengkhianati ku?." bertanya dengan tangan bersedekap.
"Saya tidak tau tuan,bukankah anda lebih memahami nyonya Willy di banding saya." ucap Hens jujur.
"Belakangan ini hatiku selalu gelisah mengenai Willy entah mengapa aku mulai tidak mempercayai nya." curhat Rey pada sekertaris nya.
"Bisa jadi tuan,lebih baik anda memata matai nyonya Willy mulai sekarang." saran Hens.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
aku pergi kerumah Amel untuk mengajak mereka refreshing, suntuk juga jika refreshing sendirian.
"Wah wah wah ada tamu tak di undang ni,ada apa gerangan kemari?." ucap Amel.
"Ingin menagih janji kalian.mana butik dan club yang kalian janjikan untuk ku?." menagih janji mereka.
"Biasa aja kali,kami akan kasi kok,takut banget jika kami ingkar janji." ucap Laura.
"Ya jelas dong,aku melakukan tantangan dari kalian dengan mempertaruhkan jiwa dan raga ku." ucapnya.
"Kamu hanya ingin menaklukan hati Austin buka ingin melawan penjajah,lebay banget." balas Amel.
"Tu suratnya tinggal Lo tanda tangani aja." sambil meletakan surat itu di atas meja.
__ADS_1
"Makasih ya teman teman ku yang syantik." mencolek dagu temannya dan menyimpan dokumen tersebut.
"Oh ya kita pergi jalan jalan yuk!." ucap ku dengan semangat.
"Gue gak bisa,gue harus mendesain gaun pengantin pelanggan gue?." ucap Laura.
"Gue juga gak bisa Wil,gue harus ke club melihat perkembangan disana,kami ini gadis super sibuk gak seperti Lo pengangguran." ucap Amel yang disambut tawaan dari Laura.
"Siapa suruh kalian gak menikah dengan bos bos besar,biar sama seperti ku pengangguran.bebas happy happy ngabisin harta suami." ucapku.
"Itu kan Lo beda dengan kami,kami ini menunggu pangeran menghampiri kami sambil membawa sekuntum bunga." ucap Amel mulai ngehalu.
"Bunga apa,bunga tai ayam maksud Lo hahaha." langsung disambut gelak tawa dari kami.
"Dasar kawan laknat,pergi aja kalian dari sini gue mau cabut ke club ni." ucap Amel kesal mengusir kami.
"Ya udah cus Laura kita pergi,ada yang ngusir ni.kami pergi ya da da." meninggalkan Amel.
"Wil gue ikut Lo ya,anterin gue ke butik sebentar aja,mobil gue masuk angin jadi gue nebeng Lo." ucap Laura langsung masuk mobil ku tanpa mendengar jawaban dariku.
"Tu mobil terlalu lama menemani gue,gue gak sanggup untuk ganti dia dengan yang baru.vespa gue terlalu banyak kenangan yang terjadi disana." ucap Laura jujur.
"Terus jika tu Vespa tiba tiba mati gak hidup hidup lagi,Lo lebih milih jalan kaki dari pada beli mobil lagi." tanyaku.
"Jangan doakan dia mati kali,gue akan Carikan montir ternama jika semua itu terjadi.hebat kan gue,mobil aja gue sesayang ini,apa lagi imam ku nanti." memuji diri sendiri.
"Maksud Lo imam yang kurang kurang itu,parah selera Lo." ucapku mengingat orang stres yang pernah ngamuk di kampus waktu dulu.
"Ya Lo suka gitu sama temen sendiri." mulai ngambek.
"Gue bercanda Laura,dah nyampe cepet turun?.jangan lupa ongkosnya." ucapku santai.
"Tuh makasih." sambil melemparkan uang seribu rupiah di pangkuan ku.
"Dasar ya temen laknat." teriak ku melalui kaca mobil.
Setelah menggentarkan Laura aku memutuskan untuk pulang kerumah orang tua ku,sudah lama aku tidak kesana.sampai disana aku pandangi rumah itu,sejauh ini tidak ada yang berubah dari halaman hingga isi di dalamnya masi sama.
__ADS_1
"Selamat siang ma pa." menghampirinya sambil mencium pipi mereka.
"Anak cantik mama tumben pulang,mana gak kasi tau lagi,kalau kamu kabari mungkin mama akan masak makanan kesukaan mu." ucap mama mencecar ku dengan banyak pertanyaan.
"Sengaja ma,biar mama gak masak.bisa bisa
kalori ku naik akibat masakan mama." sambil duduk ditengah tengah mereka.
"Rey mana nak,kamu gak ajak kemari." tanya papa.
"Gak pa,dia lagi kerja." ucapku.
"Papa denger dia lagi dapat proyek di
pulau Dewata ya nak,kamu bilang sama dia ajak perusahaan papa untuk kerjasama dalam proyek itu." rayu sang papa.
"Omong aja sendiri pa, Willy gak paham jika soal itu." ucapku jujur.
"Kamu jangan sampai pisah dengan Rey ya nak,jika semua itu terjadi keluarga kita bisa bisa langsung jadi rakyat jelata,karena sekarang perusahaan papa udah separuh di genggamannya." ucap papa yang membuat jantung ku bergetar hebat.
"Akan Willy usaha kan." ucap ku dengan gugup.
"Jika bisa kamu harus hamil anaknya biar hubungan mu semakin kuat dengan Rey seperti keluarga almarhuma nino.itu sangat berdampak baik untuk keluarga kita dan masa depanmu." ucap papa ku.
Anak?apa kah aku harus memilikinya dan mengubur perasaan ku kepada Austin,benar kata orang jika sesuatu dimulai dengan niat untuk mempermainkan maka kita sendirilah yang akan dipermainkan.seperti aku yang hanya ingin bermain main dengan Austin seperti niat awal ku tapi nyatanya akulah yang di permainkan oleh takdir saat ini.
"Wil kamu paham kan yang papa bilang tadi!." ujar kembali papaku menyadarkan aku dari lamunan.
"Ya pa Willy ngerti kok." ucapku menahan nyeri di hati.
"Ayo sayang kita kedapur mama akan buatkan kamumu Sup buah." sambil menarik tanganku.
"Omongan papa mu jangan terlalu di pikirkan,kamu paham kan dengan sifat ambisi papamu.mama harap kamu memahaminya." ucap mama lembut.
"Iya makasi ma, Willy paham ma." ucapku.
Dalam hatiku menyesal telah datang kerumah dan mengalami ini semua,seandainya aku tidak kesini pasti papa tidak berbicara seperti itu dan aku tak akan mengiyakannya,aku merasa telah menghancurkan masa depanku bersama babang austinku dengan tangan ku sendiri.
__ADS_1