
"Pa..." panggil Tina.
"mama ingin pergi dulu sebentar,papa gak apa apa kan mama tinggal?." Tina berdandan dan melihat suaminya melalui pantulan cermin.
"Emangnya mama mau kemana?." tanya Bimo.
"Mau kumpul degan teman sosialita mama pa,papa seperti tidak paham saja." Bimo langsung paham.
"Oh nanti jika selesai langsung pulang ya,jangan singgah singgah papa sendirian dirumah." saran bimo dengan wajah masam nya yang melihat istrinya berdandan cantik.
"Oke sayang." jawab Tina.
"Mama jangan dandan cantik-cantik,nanti papa gak izinin mama keluar?." tutur Bimo memperhatikan gerak gerik istrinya.
"Kan mama mau ketemu teman mama pa,ya harus cantik dong pa,masak kayak gembel." Tina mulai kesal akan sikap posesif suaminya.
"Kalau mama gak nurut, papa gak izinkan mama keluar." ancam Bimo membuat Tina tersenyum kecut.
"Seterah papa,mama gak peduli." sahut Tina.
"Papa akan cium mama dan melakukan itu, agar mama tidak pergi karena makeup mama berantakan dan juga pakaian mama papa robek." mendengar hal itu Tina langsung berbalik memandang nyalang suaminya.
"Papa maunya apa sih,gak bisa lihat mama cantik." sungut Tina kesal pada suami nya.
"Ganti baju mama,itu terlalu terbuka.jika tidak, siap siap papa banting di kasur." ujar Bimo mengancam lagi.
Tina hanya pasrah melihat pilihan stelan yang di pilihkan suaminya,rasanya dia ingin memukul wajah suaminya itu.
"Pa....mama ini mau pergi arisan,bukan kondangan.pokoknya mama ngambek sama papa,mama gak mau kasi jatah papa titik gak pake koma apalagi spasi." Bimo terkekeh melihat kepergian istrinya itu.
Tina memakai MIDI dres bunga bunga warna hijau muda berlengan panjang,sepanjang dia berjalan wajahnya merenggut.Pelayan yang melihat hal itu memilih menjauh karena dia tau nyonya mereka sedang badmood.
"Pak antar saya ke restoran Tokyo milik Sandra, cepetan pak saya udah telat nih." pak supir langsung menganggukkan kepala mengiyakan permintaan nyonya nya itu.
Mereka menempuh waktu 20 menit menuju tempat itu,Setelah sampai Tina menyuruh supir itu pergi karena nanti dia pulang di antar oleh temannya.
Dering ponsel Tina berbunyi,Tina mengambil ponsel itu dari tasnya dan menghentikan langkah kakinya sebentar di area parkir itu, untuk mengangkat panggilan itu.tapi tiba tiba ponselnya di rampas oleh seseorang.
"Tolong....copet..." teriak Tina mengundang kumpulan orang di sekitar nya.
"Ada apa buk?." tanya satpam.
"Itu handphone saya di copet." sahut Tina dengan panik.
"Copet nya lari kearah mana buk?." tanya satpam.
"Ke arah sana." Tina menunjuk arah lari copet itu.
Satpam itu pun mengejar arah itu untuk menangkap copet itu,sedangkan Tina di tenangkan oleh beberapa temannya yang baru datang.
"Tenang gak usah khawatir gitu tin,aku yakin kamu pasti mampu beli ponsel baru." Celetuk Sandra.
__ADS_1
"Bukan masalah itu san,ponsel ku itu ada data data pentingnya.jika itu hilang habis aku di marahin Bimo." keluh Tina.
Tak lama satpam datang, melapor kan dia tidak menemukan copet itu karena kehilangan jejaknya,Tina semakin panik mendengar hal itu.
***
"𝑯𝒂𝒍𝒍𝒐....𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒊𝒔𝒊 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒂𝒏𝒅𝒂." 𝒖𝒋𝒂𝒓 𝒑𝒓𝒊𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒍𝒊𝒌 𝒕𝒆𝒍𝒑𝒐𝒏.
"𝑩𝒆𝒏𝒂𝒓𝒌𝒂𝒉,𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒌𝒂𝒏𝒕𝒐𝒓 𝒌𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒓𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒊𝒕𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒖𝒑𝒂𝒉 𝒎𝒖." 𝒔𝒂𝒉𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒏𝒂.
"𝑩𝒂𝒊𝒌 𝒃𝒐𝒔." 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒏𝒈𝒈𝒊𝒍𝒂𝒏.
"Akhirnya handphone itu berada di genggaman ku,sebentar lagi aku akan mengetahui misteri kematian Nino." gumam Austin senang.
"Pak ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak?." sekertaris itu melapor.
"Suruh dia masuk." ucap Austin.
"Baik pak." sekertaris itu berlalu pergi.
Tak lama masuklah seorang pria bringas berpakaian serba hitam.
"Mana barang itu,serahkan pada ku." ucap Austin.
"Sabar bos,beri dulu upah ku baru ku berikan handphone nya." sambil mengelus janggut nya.
"Kau ingin berapa?." tanya Austin.
"Hanya misi kecil seperti ini kamu minta segitu,sungguh mata duitan." protes Austin.
"Saya menjalankan misi ini banyak menguras tenaga bos,maka nya segitu." alasan tak masuk di akal pikir Austin.
"Ambilah.ini terakhir kalinya aku menyuruh mu." Austin memberikan cek berharga itu.
"Ini bos handphone nya hehe." menyerahkan handphone dengan wajah senang karena mendapat uang.
Setelah kepergian preman itu,Austin langsung mengotak Atik handphone itu.nasib baik sekarang berpihak pada Austin karena ponsel itu Tanpa kunci,sehingga Austin bebas ingin memeriksanya.
Austin membuka video yang menampilkan seorang wanita yang di sekap di sebuah kursi.dengan tangan bergetar dan perasaan gugup dia memutar video berdurasi pendek itu.
"E**mmm...emmm..emmm." berontak perempuan di kursi itu.
"Nino kenapa kamu menusuk aku dari belakang,kamu tahu kan aku dan Reyhan saling mencintai,kenapa kamu menikah dengan Rey dan menyakiti ku." teriak Willy menghampiri Nino dan membuka lakban di mulut Nino.
"Wil maafkan aku,ku mohon lepaskan aku.aku sedang hamil setidaknya kasihanilah anak ku." ucap Nino dengan lemas.
"Kamu saja tidak memikirkan perasaan ku saat menikah dengan Rey,kenapa sekarang aku harus mengasihani mu." balas Willy.
"Ku mohon Wil,lepaskan aku.kamu tahu aku sedang mengandung anak dari pria yang kamu cintai,setidak nya jangan sakiti dia." mohon Nino untuk sekian kalinya.
"Aku membenci mu Nino,aku nyesel sahabatan dengan mu.aku menyesal mengenal kamu hiks hiks." ucap Willy menangis**.
__ADS_1
Video itu pun terhenti,membuat Austin merasa kesal karena tidak dapat menonton video itu hingga habis.tapi untuk saat ini dia akan mencurigai Willy karena dia ada di dalam video itu.
"Aku harus mendapatkan potongan video lainnya,aku yakin pasti mama sama papa menyimpannya.Aku harus mencari akal untuk mendapatkan video itu." gumam Austin.
***
Tina pulang dengan perasaan cemas karena handphone nya di copet,sepanjang arisan dengan teman-teman nya dia sama sekali tidak konsen karena pikirannya memikirkan handphone nya itu.
Karena tidak menikmati arisan itu,Tina memutuskan untuk pulang kerumah nya di antar salah satu temannya.
"Pa...papa..." teriak Tina.
"Ada apa ma,mama lagi menang arisan? Sampai teriak begitu." tanya Bimo menurunkan kaca matanya.
"Pa..mama di copet." keluh Tina disambut keterkejutan di wajah Bimo.
"Kok bisa ma,tapi mama gak terluka kan?." tanya Bimo khawatir.
"Gak apa apa pa,tapi handphone mama di ambil Sama copet itu." adu Tina memelas.
"Syukurlah mama gak apa apa,masalah handphone nanti papa beli kan yang baru." menenangkan istrinya itu.
"Tapi masalahnya pa,video Nino ada di handphone itu." keluh Tina lagi.
"Mama gak perlu khawatir,papa ada simpan salinannya kok.sekarang mama tenang ya." ujar Bimo sambil memeluk istrinya.
"Beneran pa,jika tahu seperti itu mama gak perlu pusingin masalah handphone sialan itu." ujar Tina kesal.
"Iya ma,mama terlalu panik sih." balas bimo.
"Ya panik lah pa,mama takut kena omel dengan papa.nanti papa hukum mama seperti dulu.kan mama ngeri." celoteh Tina.
"Papa udah berubah ma,mama denger ya? sebesar apa pun kesalahan mama tidak akan membuat papa marah,karena itu semua di kalahkan oleh rasa sayang dan cinta yang papa miliki untuk mama." ucap Bimo menatap lekat istrinya.
"Oh ya,berarti mama boleh selingkuh dengan berondong dong pa?." celetuk Tina menggoda suaminya.
"Lakukan lah,tapi papa percaya mama tidak akan pernah melakukan itu.karena kita di takdir kan selalu bersama sesuai garis keturunan kaum kita." ujar Bimo membuat Tina kelepek kelep di baut nya.
"Ih papa mama jadi malu." ujar Tina dengan pipi merona.
"Mama semakin cantik jika seperti itu.ngamar yok ma?." ajak Bimo membuat Tina terkejut.
"Kok jadi ngarah kesana sih pa?." tanya Tina cemberut.
"Jangan cemberut,jika kamu seperti itu ingin ku terkam rasanya." Celoteh Bimo.
"Inget umur pa,inget juga anak bujang.itu pikiran harusnya sudah jernih di usia saat ini." Tina mengingatkan suaminya.
"Pikiran papa tidak bisa jernih jika sudah berdekatan dengan mu sayang." gombal Bimo.
"Udah ah pa,mam mau pergi aja.ngeladeni papa gak ada habisnya." Tina berlalu dengan cepat membuat Bimo terkekeh melihat kelakuan istrinya itu.
__ADS_1