
Takdir cinta di negeri Jiran 1
Mei 2014 kelahiran 1996 baru menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas dan sederajat. Aku bingung harus mau kemana. Mau menikah belum ada jodohnya, pacar pun tidak punya, jomblo dari lahir sering di caci maki sama orangtua, teman sekolah, keluarga dan tetangga. Mereka bilang aku tidak laku-laku. Padahal anak-anaknya dan mereka gemar pacaran, zina, hamil di luar nikah. Miris banget.
Lebih miris lagi orangtua dan keluargaku yang lainnya ikut mencemooh aku. Dosakah aku yang tidak laku?
Tidak ada yang mau karena sombong, tidak pernah bergaul, wajah berjerawat. Kata orang itu namanya cinta terpendam tidak berani mengungkapkannya.
Pernah orang tanya siapa pria yang aku cinta, sebagaimana manusia normal pasti pernah merasakan cinta. Ada yang mengungkapkannya, ada pula yang memendamnya karena malu dan sebagainya.
Aku bilang, aku tidak pernah mencintai seseorang. Tepatnya tidak pernah mencintai orang di desa ini, mereka bilang aku bohong. Aku jawab, si dia. Orang mencemooh aku, sesalan jijik karena aku hanya menyukai yang ganteng tidak selevel dengan ku.
Miris bangat. Bagiku jatuh cinta sama siapa aja itu hak seseorang. Cinta di turunkan oleh tuhan untuk manusia normal. Kenapa harus jijik dengan aku mencintai seseorang?
Mereka bilang stylish aku tinggi padahal gak sebanding dengan ku. Apa salah mencintai seseorang yang tidak sebanding dengan kita?
***
"Bu! Aku udah tamat sekolah. Rencananya aku mau kemana?" Ini sudah entah ke berapa kalinya aku berbicara pada ibu seperti nya tidak masuk ke otaknya.
"Tidak tau. Kenapa tanya ibu?"
"Aku mau kuliah aja."
"Tidak ada biaya. Kamu itu perempuan, ngapain sekolah tinggi-tinggi ujungnya juga ke dapur." Pasti jawaban ini terus yang di gunakan ibu kalau aku mengutarakan keinginanku. Apa salah perempuan berpendidikan tinggi walaupun ujungnya ke dapur?
"Semua teman kuliah bu. Masa aku tidak, mereka juga menyarankan aku kuliah." Mendengar cita-cita mereka aku hanya diam tidak menjawab. Akupun bingung harus kemana.
"Mereka orangtuanya punya uang. Coba lihat bapakmu!" Ibu mengarahkan telunjuknya ke ruang tv nampak ayah sedang tidur mulu dari pagi sampai sore tidak pernah keluar palingan mau makan dan ke kamar mandi. "Dari pagi sampai sore tiduran mulu."
"Karena orangtua mereka rajin. Berusaha mati-matian bekerja untuk masa depan anak. Mana mau mereka tiduran kayak bapak."
__ADS_1
"Kalau mau kuliah cari uangnya sendiri."
"Kemana aku mencari uang bu! Aku aja baru tamat SMA palingan kerja di toko gaji lima ribu ratus perbulan."
***
"Syifa...!" Syifa rahmadini namaku. Tidak tau waktu ayah pasti teriak-teriak memanggil namaku. Setiap hari aku mendoakan agar ayah bisu aja agar tidak lagi mendengar suaranya yang sangat tidak enak di dengar. Tapi, ternyata tuhan tidak akan mengabulkan do'a ku itu.
"Iya. Pak!"
"Bikin kopi, beli rokok. Minta uangnya pada , ibu!" Heran sama bapak ini, seorang bapak kok menyuruh anak perempuan nya membikin kopi dan beli rokok. Uangnya minta ibu lagi, gak malu, laki kok minta uang pada istri. Kalau gak ada ibu, apa bapak akan luntang lantung di jalanan? Katanya lelaki memiliki tanggung jawab besar pada pada keluarga. Tapi, mana?
"Iya!" kopi gak ada, gula gak ada. Tambah berat beban ibu setiap hari jadi buruh cuci gosok, uangnya lebih banyak menafkahi ayah.
"Kopi dan gula gak ada."
"Minta sama ibu!" Dulu aku mungkin manut sama apa yang di bilang ayah. Sepuluh kali sehari menyuruh aku minta uang hingga uang sekolahku sering nunggak. Setiap minta uang pada ibu, pasti ibu marah terus Hingga aku tidak mau di marahi lagi karena trauma, aku ambil apa aja yang ada di kebun hasil tanaman ibu untuk di jual. Miris, mencuri di rumah sendiri. Aku melakukan itu agar tidak di marahi lagi sama ayah dan ibu.
"Iya, Pak!" Kali ini aku sudah tidak mau lagi minta uang untuk ayah mending pergi ke kebun. Setiap hari di teriaki ayah dan ibu membuatku stres hampir bunuh diri tidak ada yang peduli. Aku, sebagai anak yang tidak minta di lahirkan harus apa?
Teman-teman. Ah, aku tidak punya teman. Mereka sudah sibuk sama urusan mereka sendiri tidak ada satupun yang mau membantuku. Aku hanya menunggu orang yang mau mengajakku ke suatu tempat. Bekerja dan menabung untuk kuliah.
***
"Syifa! Setelah ini kamu mau kemana? Apa mau kuliah apa nikah?"
Tiba-tiba meyra datang, hanya meira temanku di sekolah itupun dia sering menuduhku yang tidak-tidak. Ujungnya aku lagi yang di musuhi teman sekelas. Entah salah apa aku sama dia.
"Belum tau kemana. Nganggur aja."
Meyra duduk dekat ku. "Kenapa gak kuliah aja?"
__ADS_1
Menarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan. "Gak ada biaya"
Meyra memandang jauh ke depan, perbukitan yang hijau dan sawah yang terbentang. "Cowokku menyuruh kita berdua daftar di kampus di pusat kota aja. Dia kasihan lihat mu gak ada teman, gak ada pula yang mau membantumu."
"Gak ada biaya."
"Biaya itu urusan nanti yang penting kuliah. Daftar aja dulu, kita cari beasiswa."
"Kamu enak ngomongnya, biayanya ada, transportasi juga ada."
"Aku itu mencari ilmu, biaya yang ku punya juga gak seberapa. Ayahku juga tidak mau membiayaiku sekolah dari dulu. Kamu kan tau itu."
"Kenapa ayah kita seperti itu, ya? Gak kayak ayah yang lainnya."
"Makanya kuliah cari calon suami yang baik dan sederajat sama kita."
"Aku badmood. Bimbang, perasaan ku mendua. Aku mau kuliah, ayah dan ibu melaranhku katanya ujungnya juga ke dapur. Ayah sama sekali tidak bekerja. Ibu, harus jadi cuci gosok dan berkebun. Kamu juga tau itu."
"Kuliah itu untuk mencari ilmu. Kata ibuku untuk bekal ketika berumah tangga nanti. Setidaknya dapur kita beda sama dapur orangtua kita nanti."
"Baiklah. Bantu aku mau panen di kebun untuk cari modal transportasi nanti."
"Izin dulu sama ibu."
"Gak akan di izinin."
"Aku gak mau tanggung jawab. Aku menunggu mu di pondok aja."
Mengambil apa yang ada di kebun. Dulu, mungkin aku tidak mau seperti ini. Aku tidak mau egois terlalu memikirkan ayah yang pengangguran dan ibu menjadi tulang punggung. Capek-capek mikir mereka, aku sama sekali tidak di pikir kan. Biar aku balas bagaimana jika seorang anak tidak peduli juga sama orangtua nya.
Next.
__ADS_1