
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 55
Apa yang di lakukan oleh dua orang berlainan jenis di dalam satu ruangan? Mustahil setan tidak menggoda mereka, termasuk yang sudah berumah tangga setan itu akan terus menggoda manusia sampai kiamat. Bukaan hanya salah wanita, salahkan saja semua manusia apapun gendernya yang mudah tergoda rayuan setan untuk melakukan maksiat.
Subuh ini pukul 04.30 waktu setempat pas sesudah azan kami bangun dari sofa, membersihkan diri kamarnya agar rapi seperti semula. Kalau ada yang lecet sudah pasti kami terkena denda.
"Gimana semalam, apa tidurnya nyenyak?" Khaizan keluar dari kamar mandi, aroma samponya mengharumkan ruangan. Aku yang masih rebahan masih berkutat dengan ponselku.
"Aku tidak tidur sampai pagi."
"Sudah ku duga. Tapi, kamu suka kan? Itu malam pertama kita loh."
Aku menoleh ternyata tubuhnya Khaizan bergambar roti sobek seperti yang ku lihat di drama korea itu. Kenapa dadaku panas? Lekas mengalihkan wajah. "Malam pertama buatmu." Menyimpan ponselku. Sedangkan Khaizan memakai baju yang di pakai malam tadi.
"Bersihkan diri setelah itu kita pulang. Matamu merah banget, mata pandamu semakin besar."
"Apa aku terlihat lebih jelek pagi ini? Kamu melihat wajah asli ku."
"Iya, tapi, dulu wajahmu tidak seperti itu. Efek begadang semalaman."
***
"Shifa ...! Kamu kemana malam tadi, hayoo! Ngapain ke bar coba? Lalu apa yang lakukan semalam? Dia tidak mengganggu mu kan? Kalian tidak melakukannya malam tadi kan? Gila kamu ya, gara-gara uang, kamu nekat mencarinya lewat jalan instan."
Tiba di kos, Indri lekas membuka pintu dengan nafas yang ngos-ngosan dan rambut yang acak-acakan. Bukannya di suruh masuk dulu malah memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
"Boleh masuk?" tampa aba-aba langsung masuk, indri hanya mematung di pintu.
"Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Semalam tidak terjadi apa-apa kok," Khaizan mengikuti shifa dan memilih masuk duluan ke dalam kos, melemparkan semua barang-barangnya dan duduk di ruang tamu seperti di rumah sendiri dan
Indri melongo melihat kelakuan kedua sejoli itu. Dirinya merasa menjadi orang bodoh, tidak tau apa-apa, dan malu dengan mereka.
Menutup pintu gadis itu berpikir selama di Malaysia mereka sudah bukan seperti orang di kampung lagi. Di mana hidup di perantauan sering kumpul bersama lawan jenis tanpa ingat budaya ketimuran yang di anut oleh orang timur walaupun tidak melakukan apa-apa. Itu sudah sering di lakukan oleh pada pekerja asing di Negara ini. Sebagian besar tidak ingat dosa berkumpul tampa ikatan tali pernikahan yang SAH.
__ADS_1
"Khaizan! Kamu mau tidur? Pakai aja selimut lamanya shifa. Kasur nya cuma itu, bantal dan guling nya pakai aja punya ku. Tapi, bersih kok." Indri paling peduli sama temannya.
"Tidak usah."
"Pakai aja," setelah itu indri menyusul shifa ke kamar dan shifa sudah terbuai ke alam mimpi.
"Shifa ...! Benar semalam kalian tidak ngapa-ngapain? Shifa ...! Bangun...!" Indri mengguncangkan tubuhnya shifa yang di balut selimut putih seperti pocong.
"Gimana bulan madunya?"
"Apaan sih. Aku mau tidur sampai jam dua belas siang."
"Shifa ...jangan bikin aku mati penasaran dong."
Khaizan! Kamu mau tidur? Pakai aja selimut lamanya shifa. Kasur nya cuma itu, bantal dan guling nya pakai aja punya ku. Tapi, bersih kok." Indri paling peduli sama temannya.
"Tidak usah."
"Pakai aja," setelah itu indri menyusul shifa ke kamar dan shifa sudah terbuai ke alam mimpi.
"Shifa ...! Benar semalam kalian tidak ngapa-ngapain? Shifa ...! Bangun...!" Indri mengguncangkan tubuhnya shifa yang di balut selimut putih seperti pocong.
"Gimana bulan madunya?"
"Apaan sih. Aku mau tidur sampai jam dua belas siang."
"Shifa ...jangan bikin aku mati penasaran dong."
***
POV Indri
Malam ini aku memilih lembur biar gaji yang ku dapatkan lebih banyak. Shifa menghubungi ku katanya dia sudah pulang dan tidak melihat aku berada di rumah.
__ADS_1
Setelah pulang ternyata aku yang tidak melihat gadis itu, entah kemana perginya. Aku hubungi dia berkali-kali tidak ada jawabannya. Apa dia di tangkap? Sesudah razia besar-besaran waktu itu sudah tidak terdengar lagi ada imigran gelap yang di tangkap malah mereka bisa pulang ke kampung dengan selamat.
Lalu kemana gadis itu?
Aku menghubungi Khaizan cuma dia satu-satunya teman yang kami punya dan menceritakan semuanya apa yang kami bicarakan kemaren. Shifa dalam keadaan terdesak dan membutuhkan banyak uang sekarang dia tidak ada di rumah.
Khaizan bilang tenang aja dia akan melacak di mana keberadaan shifa. Yang membuat aku jantungan gadis itu berada di sebuah Bar di kota ini. Astagfirullahalazim, ngapain anak itu kesana? Selama mengenalnya tidak pernah ku lihat dia neko-neko. Apa dia di culik? Atau sengaja mencari uang secara tidak halal?
"Shifa berada di Bar, dia menggadaikan dirinya 100 juta dalam satu malam demi biaya pengobatan ibunya. Dalam keadaan seperti itu perempuan sering berpikiran pendek melakukan segala cara tampa memikirkan dampaknya di masa depan."
Suara Khaizan dari seberang sana, apa yang harus aku bilang? Masa aku minta maaf yang tidak aku lakukan. Tapi, aku ngerti, aku sudah pernah menempuh jalur itu dalam keadaan terdesak.
"Keluarkan Shifa dari tempat itu."
"Kamu tenang aja, tidurlah jangan berpikir macam-macam."
"Iya, aku percaya padamu." Apa ada lelaki seperti Khaizan? Bukankah laki-laki itu sama aja suka selimutan? Dari jauh aku akan berdo'a semoga mereka baik-baik aja.
Dua jam lamanya aku menunggu kabar mereka, Khaizan sudah berhasil menemukan shifa dan mereka sedang berada dalam satu ruangan. Khaizan bersedia membayarnya dan mengirimkan uang sebanyak yang shifa butuhkan.
[Aku sudah bertemu dengan shifa dan ingin membayar uang sebanyak yang dia tulis]
[Kamu pastikan nomor rekeningnya asli milik adiknya royan dan alamatnya juga]
[Tenang aja] Aku harap Khaizan tidak ceroboh dalam bertindak. Tapi, berapa sebenarnya gaji Khaizan? Aku ragu pada laki-laki itu royal pada orang lain tapi pelit terhadap keluarga sendiri. Apa ibunya pernah mencicipi jerih payahnya? Besok aku tanya sama shifa.
***
Aku membayangkan apa yang mereka lakukan malam ini? Malam ini aku tidak bisa tidur, berputar di kasur seperti jarum jam. Perut lapar pergi ke dapur ingin mencari sesuatu untuk di makan. Masak mie instan ala restoran tidak juga membuatku kenyang.
Minum milo, kopi ginseng dan luwak white coffee alhasil ngantuknya hilang. Menonton televisi tidak ada acara. Menonton Drakor pas pula adegan ranjang yang di lakukan pasangan yang belum menikah. Pikiran ku traveling ke mereka berdua. Kok, aku jadi deg degan begini. Biasanya hatiku panas melihat Khaizan perhatian sama shifa tapi ini biasa saja. Apa aku sudah berpindah ke lain hati? Tapi, siapa? Apa rizki? Ah, mudahan aja tidak.
Next
__ADS_1