TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Khaizan comeback


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 20


6 bulan kemudian


Khaizan



Pergi bekerja seperti biasanya, dari jauh kulihat seperti nya ada seseorang yang sedang terlentang di tengah jalan. Tidak ada satupun orang yang mau menolongnya. Mereka hanya lalu lalang lihat sebentar setelah itu pergi.


Hidup di kota itu kejam, menunggu viral dulu baru ada yang menolong. Aku putuskan untuk menolong orang itu dan membawanya ke rumah sakit.


JLEB,


Ternyata Haizan, dia kecelakaan bermotor, motornya hancur, apa di tabrak, atau jatuh sendiri. Tidak ku sangka akan melihatnya lagi. 6 bulan yang lalu dia menodai ku. Waktu berjalan terasa cepat hingga tidak sadar aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan kondisi ku alhamdulillah sudah merasa lebih baik dari sebelum ke Malaysia. Sekarang aku bertemu lagi dengan orang ini.


Tiba-tiba setan berbisik di telingaku, menyuruhku pergi membiarkan nya saja sampai mati. Karena telah melecehkan dan menelantarkan aku di Malaysia ini.


Tapi, hati nuraniku berkata, seperti apapun jahatnya orang pada kita. Tidak pantas kita membalasnya. Balaslah dengan do'a, prestasi dan kesuksesan. Kalau kita balas dengan kejahatan juga. Berarti apa bedanya kita sama dia.


Haizan! Bangun, Zan!" Ku pegang kepalanya, darah bercucuran di mana-mana. Mana aku mau kerja lagi. Aku suruh sopirnya mengantar kami ke rumah sakit terdekat, tidak lupa memeriksa dokumennya. Ternyata dia IC Malaysia. Dia berstatus warna Malaysia secara hukum dan negara.

__ADS_1


Tidak sulit baginya menjalani hidup seorang diri di negara ini. Mau kemanapun tetap selamat tidak seperti kami kejar-kejaran sama police. Kalau terjadi hal seperti ini tidak ada yang mengurusnya.


Setelah mengantar ke rumah sakit, aku memeriksa ponselnya. Menghubungi orang terdekatnya. Apa orangtuanya ada di Negera ini? Apa dia masih berhubungan sama karina? Ku lihat whatsapp, Sepertinya orangtua nya masih berada di kampung. Ternyata dia masih berhubungan sama karina.


karina menjenguk kekasihnya di rumah sakit. Awalnya dia menolak, setelah ku ancam akan mengabari orangtuanya yang berada di jakarta sana, karina mau menjenguk nya. Huh, setianya ketika masih sehat doang.


Shifa



Hiks hiks hiks


Siapa yang menangis? Seperti nya ada seseorang ibu yang duduk di depan rumah sakit, sejak kapan dia di sini? Tadi, tidak melihatnya di sini.


Tapi, hati nuraniku menolak mengabaikan orang itu. Ada apa dengan diri ini? Aku memutuskan untuk menyapanya.


"Hallo! Bu! Ibu, kenapa? Kok nangis?"


Ibu itu menghapus air matanya. "Saya terlantar di sini, dek! Tidak punya paspor dan pekerjaan. Masuk sebagai pendatang gelap dari batam ke Johor. Saya kabur dari rumah suami dan mertua saya. Anak saya bersama mereka tidak pula memperlakukan nya dengan baik untuk memancing saya agar pulang secepatnya."


Aku duduk di sebelahnya dan merangkul pundaknya. Ada lagi yang terlantar selain aku. Otakku buntu masalah rumah tangga seperti ini. "Ibu, coba minta bantuan orangtua atau saudara ibu yang lain untuk mengambil anak ibu di rumah mertua ibu. Kasihan dia, Bu! Masih kecil belum tau apa-apa harus menjadi korban ke egoisan orangtuanya."

__ADS_1


Tangisan nya semakin menjadi lihat kiri kanan tidak ada yang melirik ke arah kami. "Orangtua saya sudah tidak ada, saudara saya jauh di banten. Bukan saya yang egois tapi suami, mertua dan ipar saya. Saya tidak tahan melihat suami saya menganggur dan temprement, setiap saya suruh dia bekerja sebaik apapun itu suami saya merah memukul saya habis-habisan. Mertua dan ipar suka ikut campur urusan rumah tangga kami. Saya merasa tidak hak atas suami saya tidak ada privasinya sama sekali."


Ada bekerja sehari menganggur sebulan, uangnya di gunakan untuk beli rokoknya aja, di minta mertua, ipar dan anaknya dia kasih. Saya stres sering melampiaskan ke anak-anak saya. Suami sering meminta saya bekerja, uangnya di berikan ke mereka, anak- anak saya tidak mereka urus, tidak di kasih makan dan butuh biaya sekolah yang tidak murah. Hiks hiks hiks."


Mereka sering menyiksa anak saya sama seperti menyiksa saya di jadikan pembantu gratis padahal anak saya masih sangat kecil. Saya bingung mau bagaimana. Di satu sisi saya ingin menafkahi anak-anak, di satu sisi anak saya menderita. Setelah saya pergi saya kepikiran mereka menyiksa anak saya."


Memang banyak orang yang tidak waras. Kondisi seperti ini yang membuat seorang istri, Ibu dan anak-anak hancur. Seorang istri dan ibu beralih menjadi tulang punggung mengorbankan cita-cita menjadi ibu yang cerdas untuk anak-anak bekerja demi kelangsungan hidup. Kecuali tulang punggungnya meninggal. Mereka yang tidak paham agama suka menggunakan dalil untuk melakukan diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak di mana hati nurani mereka.


"Ya, allah. Miris dengarnya, Bu!" Kok banyak bangat orang yang tidak waras di dunia ini. "Begini, Bu! Tadi, saya melihat di papan yang ada di pintu masuk RS ini. Ini kan pintu keluar. Seperti nya ada lowongan kerja untuk tukang sapu-sapu disini. Coba tanya aja sama tukang sapu di rumah sakit ini. Mudahan ada, kalau belum dapat jangan cepat menyerah."


Oh, ya! ibu bawa hp gak? kalau tidak, ibu bawa nomor ponsel saudara ibu? Bisa aku bantu menghubungi saudaranya untuk menjemput anaknya di batam."


"Tidak punya."


"Namanya siapa aja biar ku cari di facebook atau instagram.". Setelah mencari namanya ada banyak nama yang sama. Ku cek fotonya satu persatu dapat la setelah ku hubungi semuanya susah bangat minta bantu. Susah bangat menjadi orang malang, nyamuk pun tidak mau mendekat. Untung ibu ini membawa foto-foto anaknya.


Ku bagikan fotonya ke sosial media ku tulis semuanya kelakuan suami dan keliarga ibu ini Mudahan dengan cara ini nama mereka bisa kena mental agar tidak lagi menzolimi perempuan dan anak-anak.


"Ini nomor saya. Biar saya dan teman saya yang memantau beritanya nanti. Ibu sabar aja, berdoa lah agar ibu dan anak selamat dunia akhirat."


***

__ADS_1


Selangkah lagi terlambat, aku dan indri sudah tidak satu tempat kerja. Indri pantang di singgung perasaannya di langsung minggat. Aku tetap memilih bertahan agar memiliki gaji yang semakin naik. Kinerja juga di perbaiki. Walaupun banyak karyawan yang culas, bermulut pedas, suka memerintah melebihi bos dan suka mengunjingku. tapi aku bodo amat tidak akan berhenti sebelum bos sendiri yang memecatku.


__ADS_2