TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Tuntutlah ilmu dari buatan sampai liang lahat


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 40


Dari tadi yang perempuan mulu yang berbicara yang laki-lakinya tidak. Kalian membuat ku penasaran.


***


Ketika matahari sudah sampai di atas kepala kami pulang ke rumah masing-masing. Sebelum itu kami belanja ke pasar.


Setelah membeli barang yang kami butuhkan, saatnya pulang. Untuk saat ini Alhamdulillah hati ini sudah lega. Sepertinya setiap akhir pekan harus ke sana.


Di persimpangan jalan aku melihat Khaizan bersama seorang wanita. Mereka sedang berboncengan mungkin sedang menjalani liburan akhir pekan.


"Shifa... Kita harus mempercantik diri dengan cara perbaiki kualitas diri dulu, luaskan pengetahuan dengan banyak bergaul, menonton dan membaca. Setelah itu akan tiba saatnya yang terbaik datang pada waktunya."


"Kamu ngomong apa? Saat ini aku tidak dulu memikirkan lak-laki. Semua pria itu brengsek. Udah lah, yok, pulang!"


"Maksud ku memperbaiki diri bukan berarti untuk mencari jodoh aja. Ini untuk kebaikan diri kita juga. Jangan terlalu zolim pada diri sendiri entar Allah balas, malah ngambek. Gini, Fa! Ayok, kita move dari segala masalah di dunia ini. Kemanapun kita pergi pasti ada aja masalahnya. Sudah mati belum tentu masuk surga dengan mudah. Kita akan mendapatkan entah itu nikmat kubur atau azab kubur. Rugi lah kita hidup kalau fokus sama masalah kita rugi dunia akhirat."


Mari kita lakukan apa yang aku bilang tadi kita move on, memperbaiki diri demi masa depan yang cerah. Mau gak? kita lakukan bersama. Setelah meletakkan ini di kos, kita mandi, sholat dan pergi ke perpustakaan. Kita beli buku-buku referensi, kamu boleh membaca buku aku dan aku juga boleh meminjam buku mu. Setelah itu kita praktekkan apa yang kita baca tadi."


Apayang di bilang oleh indri benar adanya. Baiklah selagi itu bagus akutidak akan egois


***

__ADS_1


Sampai di toko buku kami membeli buku-buku yang enak di baca. Buku untuk menjadi seorang penulis juga di beli tapi aku pilih buku dari Indonesia.


Dari dekat aku melihat Khaizan lagi bersama seorang wanita. Karina! Jadi, Khaizan balikan sama karina? Apa mereka tidak benar-benar putus? Katanya karina selingkuh dan hamil sama pria lain pada saat dia sakit karena kecelakaan waktu itu?


Lagi-lagi Khaizan membohongi ku. Tapi, apa peduli ku? Lagian dari dulu Khaizan memang seperti itu. Tapi, hatiku kok perih bangat meliahatnya. Apa aku cemburu? Astagfirullah. Tapi, Mereka berdua dulu sudah kompak mengusirku di rumahnya dulu hingga membuatku luntang-lantung di jalanan.


Antara rindu dan cemburu


Aku memutuskan pergi ke kasir dan membayarnya. Entah di mana indri! Indri masih fokus mengelilingi toko dan mengambil lebih banyak buku. Apa dia sanggup membaca buku sebanyak itu? Yang aku tau minat baca orang indonesia itu masih rendah. Jangan sampai buku itu hanya jadi pajangan. Dan Katanya mau menabung, huh, masih jauh dari harapan.


Lekas aku ikuti indri dan..


"Indri! Banyak banget bukunya. Sudah lah, ayok bayar setelah itu pulang."


"Sudahlah, aku hanya beli 5 buku kami sudah 20an boros banget."


"Tidak apa-apa boros demi buku tujuannya untuk masa depan juga. Oh, ya. Usahakan dalam seminggu itu 1 buku. Satu bulan 4 buku begitu juga seterusnya. Coba deh kita ikutin membaca buku ala-ala negara maju biar pola pikir kita maju juga gak kayak orangtua kita."


"Iya, sih. Tapi, aku cuma bisa membeli buku segini karena minat baca sebagai orang Indonesia itu masih rendah."


"Gak apa-apa pelan-pelan aja yang penting mau membaca." Indri! Kok kamu baik banget sih? mau berteman dengan ku apa adanya. Membantuku sampai sekarang. 1.1000 ada orang seperti mu. Kamu perempuan masih di zolimi juga sama suami, mertua dan ipar itu berarti merrka perlu di bawa ruqyah biar setan di tubuhnya pergi tidak lagi menghasut mereka menganggu menantu.


"Ayo! pulang, malah ngelamun."

__ADS_1


"Ayok!"


"Pasti melihat Khaizan tadi, kan?"


"Dia seperti hantu suka datang dan pergi sesuka hati."


***


Pagi bekerja seperti biasa. Aku harus fokus bekerja demi mencari biaya untuk kuliah dan membuka usaha. Menurut buku yang ku baca, aku harus mengasah skill, dengan menulis, belajar memasak, mejahit, belajar bahasa asing, memperbaiki public speaking dan memperluas ilmu umum dan agama. Semua ilmu itu penting, ilmu dunia maupun akhirat.


Pepatah mengatakan "Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina." Dulu, mungkin aku tidak tau maksud dari pepatah itu. Kata guru di sekolah dulu, karena Negara china itu otak rakyatnya cerdas-cerdas, IQ dan EQ nya jauh lebih tinggi dari penduduk dunia manapun, teknologinya canggih, semua bisa di lakukan oleh orang cina kecuali nyawa.


Ada hadist nya juga "Tuntutlah ilmu dari buayan sampai ke liang lahat." Mencari ilmu tidak ada batas umur tertentu baik masih dalam kandungan maupun sudah lansia. Menuntut ilmu wajib untuk semua umat muslim, buya Hamka bilang "Kalau kamu ingin bahagia di dunia maka tuntutlah ilmu, kalau kamu ingin bahagia di akhirat maka tuntutlah ilmu." Tidak ada perbedaan gender untuk melakukannya. Kalau ada yang bulan untuk apa perempuan berpendidikan tinggi ujungnya juga ke dapur.


Ada juga dakwah ustadz di YouTube membilang "Tidur orang yang berilmu lebih mulia dari 1000 sholatnya orang beriman." Tapi, orang berilmu yang di maksud harus memiliki adab yang jauh lebih tinggi dari ilmu. Adab di atas ilmu dan agama.


Alangkah baiknya beradab, berilmu dan beragama. Kalau hanya berilmu iblis jauh lebih tinggi ilmunya dari pada manusia. Mereka yang beriman kadang mereka khilaf karena tidak di landasi dengan adab. Kalau adab walaupun dia tidak beriman dia tidak akan melakukan kerusakan di muka bumi ini.


Banyak banget orang bilang untuk apa perempuan berpedidikan tinggi ujungnya juga ke dapur. Bagiku jauhi aja gak ada gunanya mendengarkan omongan yang tidak berbobot seperti itu. Sekali lagi menuntut ilmu itu wajib terutama untuk perempuan untuk menciptakan generasi atau anak-anak yang cerdas, karena kecerdasan bangsa itu di turunkan dari ibu. Seorang ibulah yang berperan penting dalam mencerdaskan bangsa.


Bayangkan saja seorang ibu tidak berilmu akan di didik dengan cara apa anaknya? Kecuali pola pikir si ibu maju mau berjuang melakukan apapun untuk mencerdaskan anaknya dengan sekolah dan les privat, dan ibunya sudah meninggal. Itu serahkan semuanya sama tuhan, manusia hanya berusaha biar Allah yang menentukannya.


Menuntut ilmu itu tidak harus di sekolah, kita bisa mendapatkan ilmu dengan membaca, menonton sesuatu yang berbobot, bergaul, menghadiri tausiyah, mengaji dan mengerti artinya dari hutan, hewan, dan lautan dan lainnya. Intinya jutaan jalan menuntut ilmu.

__ADS_1


Next


__ADS_2