TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Saatnya Drama di mulai


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 23


POV karina


Dulu aku mungkin tidak percaya sama sekali dengan ucapan wanita itu. Tapi, sekarang, aku akan mencarinya menurut lokasi di sosial media dia berada di sekitar hulu langat ini. Aku akan membawana menghadap orangtua Haizan agar percaya pada omonganku.


Hal ini membuatku dilema salah satu aku butuh bukti untuk meyakinkan orangtua Haizan di satu sisi dengan mencari shifa sama saja dengan bunuh diri. Haizan akan jatuh pelukannya, aku yakin karena waktu melihat haizan memandangi foto wanita itu, seperti ada kerinduan yang dalam. Apa haizan menyukai waniata itu?


Ini tidak bisa di biarkan, aku harus mencari jalan lain agar aku bisa menikah dengan haizan dan mendapatkan IC itu. Shifa, dia datang lagi menggemparkan publik tanah air dengan sebuah postingannya. Dunia ini sempit,


***


[Shifa ....!!! Ada apa dengan postinganmu?" Ternyata indri yang mengirim notifikasi wa sebanyak 75 kali.


[Tolong di bagikan ke grub di manapun itu, ya]


[Siapa mereka]


[Nanti aku ceritakan]


[Jangan terlalu cepat menari iba sama orang tang tidak di kenal, siapa tau penipu. Aku sudah kenyang di tipu sama orang yang berusaha mencari perhatian orang-orang polos]


[Kamu kok suudzon gitu sih? Aku sih tidak memandang bulu siapapun itu kalau butuh bantuan kalau bisa bantu, aku bantu. Kalau aku di di tipu biar serahkan sama yang di atas]

__ADS_1


Dampak dari postinganku tadi, membuat teman-teman kerja dan orang di kampung gempar. Mereka kepo sama siapa sebenarnya aku, di mana aku sekarang, bagaimana keadaan orang itu sekarang. Masangerku di penuhi rasa penasaran publik tanah air. Hingga entah siapa yang melaporkan ini sampai trending youtube dan twitter]


Atas desakan warganet, satu persatu keluarga ibu itu menghubungi ku dan menjemput kaponakannya ke batam. Entah bagaimana perasaannya orang di batam itu kelakuannya tersebar ke publik dan Komnas perlindungan perempuan dan anak pun bertindak dengan cepat peka mengamankan anak-anak dari orang yang tidak bertanggung jawab. Tinggal nasip itu lagi kedepannya harus bagaimana yang penting anaknya sudah aman.


Sepulang dari bekerja aku harus ke rumah sakit untuk memastikan Ibu itu ada di mana. Susah menghubunginya kalau tidak ada ponsel. Untung bertemu.


"Alhamdulillah, anak-anak ibu sekarang sudah aman. Sekarang tinggal nasip ibu kedepannya harus di pikirkan, bagaimana di terima gak?"


"Alhamdulillah, di terima. Terimakasih banyak ya, dik! Sudah mau membantu ibu. Kalau tidak ada kamu entah bagaimana lagi kabarnya anak saya sekarang."


"Sama-sama, Bu! Sebagai sesama manusia itu harus saling menolong, toh. Sudah memiliki tempat tinggal?"


"Alhamdulillah, semuanya di mudahkan oleh Allah. Ibu merasa berhutang budi padamu."


***


Jam sudah menunjukkan pukul satu dinihari, indri sudah mewanti-wantiku agar cepat pulang. Sangat bahaya gadis keluyuran malam-malam. Aku tidak keluyuran hanya saja ada urusan mendadak. Menurut agama kalau kita memudahkan urusan orang, Allah akan Memudahkan urusan kita.


Sudah jarang taksi yang beroperasi, aku juga takut naik taksi sendirian, naik bus malam-malam juga bahaya.


"Naik!" Astagfirullah, kirain siapa ternyata indri.


"Iya."

__ADS_1


"Fa! Selama kita di Malaysia ini jangan banyak keluyuran. Jangan tergoda dengan teman baru kadang dia memiliki permit dan IC asli Malaysia. Malau mereka punya salah satu dari syarat itu, mereka aman di sini. Kita nanti yang yang susah."


"Aku tau, setelah ini tidak akan aku ulangi perbuatanku seperti itu lagi."


Lima belas menit sampai juga di kos, lekas membersihkan diri dan tidur. Coba aja aku mengabaikan orang tadi pasti malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sebelum tidur, aku membicarakan tentang postingan itu dan membuat orang di kampung halaman indri juga kepo di mana keberadaan indri sebab di aplikasi logo birunya banyak foto-foto kami jalan berdua.


Tidak aku hiraukan chat dari mereka saat ini aku fokus sama pekerjaan aku. Tidak tau setelah ini akan tetap aman seperti ini entah tidak, walau bagaimanapun kami tetaplah pendatang haram kata mereka. Bukan tujuanku ke sini buruk, aku hanya ingin bekerja demi masa depan. Setelah itu serahkan semuanya pada yang maha kuasa.


***


Cahaya matahari pagi menembus jendela kamar kos, riuh bunyi sandal manusia pelan-pelan memadati kota ini. Sebenarnya aku masih ngantuk untuk kerja jam 08.00 waktu setempat.


Bangun tidur memeriksa ponsel sudah ribuan notifikasi memenuhi beranda dan masangerku. Ada Meyra dan Daffa juga tidak mau ke tinggal terhadap berita ku. Ada royan yang juga ikut nangkring di masanger, dia adik laki-kakiku satu-satunya, kalau tidak minta uang, dia sama seperti orangtuaku menghubungi ku hanya untuk uang


Puas membalas pesan dari Meyra dan Daffa sepertinya ada sesakun yang menstalkingku. Astagfirullah, Khazan! Aku hampir lupa pernah membawa Khaizan ker RS saking fokusnya bekerja agar tidak di tegur bos dan potong gaji.


Ini sudah di hari ketiga setelah kecelakaan itu. Bagaimana kondisi Haizan sekarang? Ingin aku menjenguknya ke rumah sakit sepertinya tidak ada waktu. Dan juga aku tidak mau membuka luka lama yang mati-matian ku sembuhkan.


Ada lima puluh chat yang sudah ku baca lengkap kata-kata dan bujuk rayu untuk bertemu lagi denganku membicarakan tentangku setelah peristiwa pengusiran itu di tengah malam dan dengan janin yang ku kandung. Sejak waktu itu aku tidak menganggap mereka berdua sebagai manusia lagi. Aku sudah merasa lebih baik setelah melakukan taubat nasuha tidak akan mengizinkan diriku bertemu dengan dia lagi. Biarlah dia mati dengan penasaran sama janin yang ku kandung.


Tapi, perasaan ku sekarang ini kok linglung, kepala berat, peristiwa itu kembali menari-nari di kepala ku. Ada apa dengan diri ini?


Tuhan, jangan lemah kan kembali hati yang rapuh ini. Sudah cukup waktu itu yang menghancurkan aku berkeping-keping.

__ADS_1


Next


__ADS_2