TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Masuk kandang buaya


__ADS_3

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 12


Sekarang ini dari pada jadi gelandang dan tertangkap. Mending aku tinggal aja di rumahnya Haizan. Katanya dia tinggal sendiri sedangkan kamarnya dua. Menurut cerita, biasa aja orang di sini terutama perantau sering kumpul kebo.


Lagian teman se kos aku sama sekali tidak mengizinkan aku masuk. Padahal aku sudah bayar sama banyaknya seperti mereka. Mereka pula yang berkuasa. Tega mengunci pintu malam-malam.


Padahal mereka sama-sama perempuan. Kok, orang itu jahat bangat. Teriak dan minta bantu tetangga pun percuma. Mereka tidak akan menghiraukan kan itu. Hingga nginap di kos tetangga sebelah, sayangnya uangku hilang lagi.


Aku yakin, dialah yang mengambil uangku. Paginya ke kos lagi pintunya sudah terkunci, jahat bangat mereka sama aku. Apa salahku sama dia. Sudah bilang itu pada Haizan tapi, dia diam aja terbuat dari apa hatinya.


"Kenapa kos yang kamu cari penghuninya seperti itu? Gak ada kos yang lain? Kamu kan sudah bayar sewanya sama banyaknya seperti mereka. Kok, mereka sama sekali tidak memperbolehkan aku masuk. Sampai malam pula."


Haizan diam tetap melakukan aktifitas membersihkan motornya.


"Kalau kamu tidak mau makan makanan yang ku beli, masak aja. Di kulkas semuanya lengkap tinggal memasaknya aja. Tinggal di rumah orang jangan suka memilih makanan. Masih untung orang mau kasih tempat tidur."


Lain yang aku tanya lain yang dia jawab.


Setelah peristiwa itu. Entah kenapa, tutur kata Haizan tajam bangat seperti sembilu menyayat hati.


"Iya."


Sepertinya percuma bertanya pada dia. Tidak akan ada jawabannya. Setelah Haizan pergi kerja, aku bersihkan rumahnya. Tidak berani masuk ke kamarnya.


Kenapa aku sama sekali tidak berani bertanya untuk mendapatkan pekerjaan. Kenapa jadi penakut begini. Tinggal di Negeri jiran juga tidak punya siapa-siapa. Tiba-tiba aku merindukan orang di rumah. Sedang apa mereka sekarang, apa mereka merindukan aku? Adakah mereka menanyakan keberadaan ku?


Malam semakin larut, kota ini semakin sunyi. Kerlip lampu di malam hari justru membuatku tambah sedih. Kemana Haizan? Kenapa dia belum juga pulang.


Tok tok tok


Itu pasti dia. Membuka pintu tapi kenapa Haizan aneh bangat. Apakah Haizan sedang mabuk? Ya, Allah. Aku harus bagaimana? Peristiwa itu masih belum ku lupakan ini tambah lagi. Aku bawa ke kamarnya, Dan...


Kejadian laknat itu terjadi lagi. Aku merasa benar-benar berada di kandang binatang buas. Pergi kekamar mandi lagi-lagi merutuki nasipku selama ini. Aku, sama sekali tidak minta kehidupan yang seperti ini. Tuhan tidak adil padaku? Sekarang aku harus ke mana lagi.


Apa aku harus pulang aja. Biarlah aku kerja di kampung halaman sendiri, biarlah buang-buang waktu yang penting aku selamat.


"Maafin aku karena malam tadi aku sedang mabuk."

__ADS_1


"Untuk apa minta maaf? Tidak akan mengembalikan nya seperti semula."


"Aku tidak sengaja."


"Sengaja atau tidak, kamu sudah pernah melakukannya."


"Santai aja. Para wanita kalau ke kota ini pasti ujungnya juga tidak suci lagi sebelum menikah."


"Enteng bangat bilangnya seperti itu. Karena kamu lelaki tidak pernah memikirkan dampaknya. Kalian tidak memikirkan ada penyakit ganas yang siap menghampiri tubuh kalian. Akhirnya istri dan anak keturunan juga yang susah. Tertular penyakit yang di derita orangtuanya."


"Kamu ngomong apa? Pikirannya terlalu jauh."


"Tidak ngomong apa-apa kok."


Aku takut semakin lama perutku semakin membengkak. Apa aku minum pil KB atau minuman bersoda? Sebelumnya tidak pernah meminum yang aneh-aneh. Bahaya kalau sampai hamil. Bagaimana caranya aku hidup? Sedangkan Haizan entah mau bertanggung jawab entah tidak.


Aku memeriksa setiap sudut rumah ini siapa tau ada uang yang tersalip.Sayangnya tidak ada. Aku putuskan untuk masuk ke kamar Haizan ternyata zonk.


Hueek hueek


Aku memuntahkan cairan bening ke toilet. Deg, Apakah aku hamil? Oh, tidak aku tidak mau. Ku putuskan untuk membeli tespeck lebih jauh dari daerah ini agar tidak ada tetangga yang tau aku mau mengecek apa aku hamil apa tidak.


Setelah Haizan pulang aku harus membicarakan ini. Bagaimana nasip ku kedepannya. Bagaimana nasip bayi ini. Apa aku harus menggugurkannya. Tapi, resiko nya besar.


Menunggu sampai jam dua belas malam aku menunggu Haizan. Tapi, Haizan belum juga pulang. Hingga hatiku resah rasa kantuk yang mendera. Semalam Haizan tidak pulang.


Sampai jam dua belas malam lagi. Kemana dia? Apa pekerjaan dia yang sebenarnya.


Tok tok tok


Itu pasti dia.


Haizan masuk membersihkan diri dan tidur ke kamarnya. Apa sekarang aja aku bilang?


"Haizan! Kok, malam tadi kamu tidak pulang? Tidur di mana?"


"Tidur di kos temanku. Kenapa? Kamu rindu ya?"

__ADS_1


"Rindu? Ah, tidak kok." Harus bagaimana cara menyampaikannya? Jadi gugup gini. Dia harus bertanggung jawab. Kalau sampai ayah dan ibu tau. Bisa gak di anggap anak lagi sama dia.


Haizan masuk ke kamarnya. Mending pagi aja aku bilang. Sebelum Haizan berangkat, aku harus bangun sebelum dia bangun. Seperti bisa Haizan merapikan pakaian untuk kerjanya. Hingga di meja makan.


"Zan! Ada yang mau aku omongin sama kamu?"


"Ngomong apa!" Haizan mengambil nasi dan lauk lauknya siap makan.


"Aku hamil. Ini buktinya." Aku menyerahkan alat tes kehamilan garis dua padanya.


"Terus!"


"Kamu harus tanggung jawab. Walau bagaimana pun janin ini tetap benih mu."


"Yakin! Itu benih ku?"


"Kok gitu! Apa maksudmu? Apa kamu tidak percaya ini hasil dari benih yang kamu tanam?"


"Pertama kita melakukannya kamu kan sudah tidak PW lagi. Tentu aku tidak akan sembarang percaya omongan wanita yang mengaku mengandung benih ku. Aku tuntut tes DNA. kalau tidak mau. Gugur kan aja."


"Loh, kok gitu? Ternyata selain bejat. Kamu juga doyan menanam benih pada rahim wanita sesuka hati ya. Dasar penjahat kelamin."


"Keluar dari kos aku."


"Aku tidak akan keluar, kamu harus tanggung jawab. Katanya kamu sudah janji sama teman-temanku untuk membantu dan menjagaku disini sampai mendapatkan pekerjaan yang layak? Tapi, mana?"


"Mungkin teman lekakimu itu yang menghamilimu bukan aku. Jadi, hati-hati berbicara, kata-katamu bisa jadi fitnah untukku."


"Daffa guru ku di SMA, dulu tidak mungkin dia menghamili muridnya. Dia juga kekasihnya Meyra. Ingat kan Meyra? Dia juga minta sama kamu untuk membantu ku. Tapi, mana? Kamu malah melecehkan aku. Menghancurkan masa depan ku. Dan kamu tidak mau bertanggung jawab?"


Tok tok tok


Haizan membuka pintu ternyata seorang wanita cantik bangat. Siapa dia? Apa pacarnya haizan? Aku harus bagaimana lagi?


"Sayang! Siapa wanita itu." Wanita asing itu menunjuk ke arahku. "Maksudnya apa? Siapa yang hamil? Siapa yang menghamili seseorang?"


"Tidak ada yang hamil, tidak ada yang menghamili seseorang. Mungkin kamu salah dengar. Ayo masuk."

__ADS_1


Haizan merangkul pinggang wanita itu. Wanita seperti nya kekasih Haizan membalas rengkuhannya dengan mengapit tangan Haizan. Ada yang sakit tapi tidak berdarah di sini. Apa aku cemburu? Aku sedang hamil anaknya. Hanya dia yang menyentuh ku. Tapi, dia membantah tuduhan ku dan sekarang di depan mataku sendiri mereka sedang bermesraan.


Hatiku sakit bangat. Hancur sudah masa depan ku.


__ADS_2