TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Kelamnya hidup di Negeri Jiran


__ADS_3

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 15


No. Asing calling


Siapa yang menghubungi ku? Apa perusahaan yang di rekomendasi oleh ibu yang tadi untuk mencari calon pekerja baru? Cepat bangat. Ya, Allah mudah-mudahan ada orang yang mau membantuku untuk bekerja di sini, amiin.


"Hallo!"


"Hallo! Apakah ini Shifa rahmadini? Atas rekomendasi anak buah kami yang sedang mencari calon karyawan di kedai Aceh mohon datang hari ini juga. Catat alamatnya!"


Alhamdulillah, akhirnya ada angin segar, Ternyata dia juga suka mencari calon tenaga kerja. beruntung bangat bertemu ibu yang tadi. Seperti nya orang itu orang indonesia, berbicara memagai bahasa indonesia dengan logat melayu khas orang sumatra.


Semalam ibu itu memaksaku bercerita apa yang terjadi, aku benarkan saya omongan Ella dan teman-temannya bahwa aku kabur dari rumah saudara karena merasa tidak cocok dan di peras. Dengan sisa uang yang tidak seberapa, aku berangkat menggunakan taksi.


Sebenarnya kalau mau masuk kerja kata karyawan kedai aceh ini masuk aja. Tidak memakai tes dan syarat apapun karena karyawan biasanya keluar masuk sesuka hati. Mereka suka pindah-pindah dan pulang ke kampung. Ada pula yang tidak tau rimbanya karena di tangkap.


Kedai ini menjual aneka makanan khas aceh, kopi Gayo dan lainnya. Ada nuansa aceh yang kental dengan musik khas melayu dan timur tengah. Karyawannya mayoritas dari sana, tutur katanya sopan baik pada teman maupun pelanggan.


Alhamdulillah perlahan aku pelan-pelan melupakan kejadian waktu itu. Entah bagaimana nasio bayi ini nanti. Apa aku pulanh dalam keadaan perut membesar?


"Shifa! Kok, perutmu membesar? Kamu tidak sedang hamil kan?"


Deg


Mereka bisa dengan mudah menjudge ku sedang hamil. Aku sih paham, mereka sudah dewasa mungkin sudah menikah. Karena mood dan nafsu makanku meningkat suka memakan yang belum pernah ku makan.


"Tidak kok. Hamil dari mana? Punya suami aja tidak, punya pacar juga tidak pernah. Sebelum bekerja disini aku sering kelaparan makanya setelah kerka suka membeli makanan seperti yang ku cita-citakan dulu."


"Benar begitu? Walaupun aku belum menikah bukan berarti aku tidak tau kemauan orang ngidam dengan yang tidak. Ya, sudahlah. Jangan di pikirin."


***

__ADS_1


Bekerja saat hamil sangat sering membuat perut ku sakit, ku remas perutku melilit seperti sembelit, Menjadi pramusaji di kedai aceh ini sangat melelahkan. Baru pertama kali bekerja sudah lima kali kena tegur karena ketahuan duduk, pelanggan sering meminta pesanan yang sama berulang-ulang. Apa bayi ini bisa lahir denhan sehat?


Satu bulan kemudian saatnya gajian. Baru pertama kali gajian 1.200 RM. kalau di rupiahkan sekitar tiga juta enam ratus ribu. Baru kali ini juga memegang uang sebanyak ini. Aku janji pada diriku sendiri untuk selalu hati-hati mengelola keuangan. Harus hemat sampai melahirkan nanti. Entah bagaimana nasibku kelak. Tidak ada suami, orangtua dan sanak saudara di negara ini.


Aku harus membayar kos sekitar 200RM di rupiahkan sekitar enam ratus ribuan. Kemaren, tinggal di kamar yang di sediakan kedai ini untuk karyawan baru yang belum punya uang untuk bayar kos.


Biaya hidup dan kebutuhan juga mahal. Aku harus mengelola keuangan ini dengan baik agar pulang nanti bawa uang cukup untuk biaya lahiran. Entah bagaimana murkanya orang di rumah dan hujatan oleh tetangga nanti aku pulang membawa perut besar.


Untuk saat ini aku tidak memikir kan itu dulu. Kalau dipikirkan yang ada perutku jadi sakit. Meyra, aku belum bisa mengirim uang pada ibu karena gak punya rekening. Royan pun tidak pernah menghubungi ku lewat aplikasi logo biru. Bisa saja lewat wattshap, sayangnya aku tidak niat menghubungi nya terlebih dahulu.


Awalnya aku yakin mereka orang yang baik, semakin lama kelakuan mereka membuat ku jengkel suka mengadu domba pada sesama karyawan dan atasan yang tidak-tidak. Menurut cerita yang lainnya, mereka seperti itu guna untuk mencari muka pada bos. Bos sudah tau kelakukan karyawan itu seperti apa makanya diam aja.


"Shifa dia banyak duduk dari pada kerja, Bu!"


"Lihat Shifa, Bu! Dia tidak bisa kerja dengan baik. Aku terus yang membersihkan ruang itu padahal kami berdua."


"Shifa gak bisa menyusun barang dengan baik."


Skakmat


Sedangkan di tempat lain


"Kamu kenapa, indri! Kok pucat banget!" Indri salah satu teman kosku, dia kerja di kilang. Badannya lesu, tiduran mulu, mukanya pucat seperti mayat, rambutnya acak-acakan seperti orang gila.


Indri bangun. "Aku habis keguguran."


"Apa? Keguguran? Yang benar kamu?"


"Iya."


"Siapa yang menghamili mu?"

__ADS_1


"Aku hamil sama orang, Ban*la. Aku melakukan itu karena ingin menambah uang saku. Orangtuaku setiap minggu minta kirim uang untuk biaya sekolah dan kuliah adikku."


"Astagfirullah. Gara-gara itu kamu jadi jual diri?" Bukan cuma aku yang di perlakukan semena-mena oleh orangtua sendiri tapi yang lainnya juga. Oh, orangtua yang seharusnya bersyukur dan merawat titipan dari allah dengan baik. Malah menyusahkan nya dan menjerumuskan nya ke jurang dosa."


Padahal orangtua wajib menyediakan dan, pangan, dan papan. Kasih sayang, pendidikan ilmu untuk dunia dan akhirat tapi ini malah sebaliknya.


"Aku gak tau kamu hamil. Kenapa kamu tidak mempertahankan janin nya aja?"


"Kalau di pertahankan aku tidak bisa lagi kerja yang berat-berat. Lahir, juga kasihan dia, tidak punya orangtua yang lengkap, aku juga tidak bisa menerima karena bapaknya orang asing. Kamu tau kan? Orang asing di sini seperti apa? Juga tidak bisa mengurusnya apalagi sangsi sosial akan membuat hidupnya hancur."


Anak yang lahir dalam keadaan orangtuanya belum siap dan dalam keadaan belum menikah memang bisa membuat anak yang awalnya tidak minta di lahirkan akan hancur berkeping-keping, merasa tidak di hargai, tidak di butuhkan, mengalami kekerasan fisik dan mental. Kasihan bangat, kami dan anak-anak yang mengalami hal yang sama seperti kami.


Gugur kan? Apakah aku harus menggugurkan janin ini? Mumpung masih belum bernyawa. Kalau tetap di lahirkan, bagaimana nasipnya kelak? Haizan tidak mau mengakui dan bertanggung jawab. Karena dia yang menghamili ku bukan orang lain.


Kalau aku gugur kan, aku tidak tau hikmah apa yang menghampiri kami berdua suatu saat nanti. Mungkin rezeki yang melimpah dan martabat yang tinggi untuk mendapatkan itu semua perlu pengorbanan mati-matian agar sampai di titik puncak.


Kalau di pertahankan, belum tentu nasibnya seperti yang ku bilang. Apa sanggup berjuang di segala sangsi sosial yang membuat kami berdua hancur. Ah, aku dilema.


"Kerja yang berat juga percuma nanti rahimmu yang rusak susah lagi punya anak. Ujungnya juga yang di hina oleh suami, mertua dan ipar. Kenapa tidak pengaman aja? Kamu meminum pil KB gitu? Dia juga bisa memakai pengaman."


"Kalau minum pil, juga percuma nanti juga susah punya anak. Dia juga tidak mau memakainya."


"Apa yang kamu makan untuk menggugurkan nya?" Indri menunjuk ke sebuah tong sampah. Ku lihat, astagfirullah, minuman keras dan obat-obatan dia santap habis. Apa sekarang dia juga overdosis?"


"Indri! Kamu sudah ke rumah sakit untuk membersihkan perut dan rahimmu?"


"Belum?"


"Aku antar."


Next

__ADS_1


__ADS_2