TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Mencari kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 75


POV Author


Pada saat jam istirahat, shifa hendak keluar untuk mencari makan di cegat oleh seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Dari jauh ada sepasang mata yang melihatnya dengan perasaan yang sulit diartikan.


"Shifa ...!"


Shifa menoleh, "Ada apa?" Shifa menghentakkan tangan lelaki itu pelan-pelan. Ketika melihat wajahnya pria itu shifa kaget lelaki asing di depannya ini lelaki yang pernah dia kenal dulu.


"Pak daffa? Kok berada di sini? Apa bapak bekerja di sini?"


"Oh, tidak. Aku hanya berkunjung ke sini sedang melaksanakan kerja sama dengan perusahaannya Khaizan. Kebetulan aku melihat seseorang yang mirip denganmu pas aku perhatikan ternyata memang kamu."


"Oh, gitu? Pertemanannya awet ya, pak? Apa kabar?"


"Kabar alhamdulillah baik seperti yang kamu lihat. Kita duduk ngobrol di cafe aja, yuk!" Ajak daffa pada sedangkan shifa sedang canggung antara iya atau tidak mengikuti ajakan daffa mantan gurunya di SMA dulu.


"Baiklah." Mereka duduk di cafe terdekat perusahaan yang kebanyakan pengunjungnya karyawan yang bekerja di perusahaan tekstil.


"Mbak!" Khaizan memanggil pramusaji.


"Kamu pesan apa?"


"Sama aja."


"Wah gak nyangka kita bertemu lagi dan pertemanan mu sama Khaizan awet banget, ya?"


"Iya, aku juga tidak menyangka kita akan bertemu lagi, pak. Dan pertemanan bapak sama Khaizan juga awet sampai berencana ingin bekerja sama dengannya."


"Iya, ternyata dunia itu sempit, ya? Yang sudah lama tidak bertemu jadi bertemu lagi. Benar kata orang jodoh itu tidak akan kemana. Di manapun dia berada kalau sudah di takdir kan berjodoh tetap bertemu juga."


Pertemanan kami tidak terlalu dekat kok. Hanya kebetulan bertemu Khaizan di sebuah acara pernikahan artis terkenal ibu kota. Kebetulan artis itu temanku dan teman kami juga."


Mendengar kata jodoh suasana hatinya shifa makin canggung. Shifa berharap ada seseorang yang memanggilnya walaupun daffa pernah menjadi gurunya tapi tetap aja mereka canggung berhadapan di luar.


"Oh, gitu?"


"Singkat, ya?"

__ADS_1


"Iya, hanya itu yang bisa aku jawab."


"Apa kamu sudah menikah? Selama ini tidak pernah terdengar kamu akan menikah. Atau apa kamu punya kekasih?"


Benar shifa semakin canggung sedangkan di lain tempat ada seseorang yang memperhatikan mereka tanpa kedip.


"Aku sama sekali belum menikah. Kamu gimana?"


"Aku? Aku sudah menikah dan sudah memiliki anak perempuan berusia lima tahun. Istriku sudah pergi meninggalkan kami selamanya."


"Oh, turut berduka cita atas meninggalnya istri dan ibu dari putrimu juga, ya!"


"Iya, sekarang hanya ada satu perempuan di hidupku dia putriku yang setiap malamnya memimpikan sosok ibunya memperhatikan tumbuh kembangnya. Oh, ya, ini alamat rumahku main lah kerumah kami yang berada di kampung Melayu."


"Oh, iya terima kasih."


"Sama-sama."


***


Shifa


Daffa sudah menikah dan memiliki anak perempuan umur 5 tahun, sekarang dia membesar putrinya seorang diri. Aku tau niat hatinya ingin mencari istri lagi sekaligus ibu sambung untuk putrinya.


Kalau aku pikir, umur putrinya dengan pertama kali dia ke Malaysia apa mungkin dia sudah menikah? Tapi, sudahlah itu bukan urusanku. Dia masih lajang berhak menikah kapanpun dia mau.


Tiba-tiba aku ingat sama indri? Apa kabar indri? Pengen ke rumahnya tapi segan sama suaminya. Minta izinpun percuma karena ada suaminya yang bisa menjadi pria hidung belang sama teman istrinya. Aku hubungi dia juga segan sama suaminya. Aku tunggu dia tidak kunjung menghubungi ku.


"Apa aku harus memastikan istri baik-baik saja? Setahu aku indri sudah tidak memiliki ibu untuk di jadikan tempat bersandar." Kamar shifa memikirkan orang-orang yang pernah berada di kehidupannya di masa lalu.


"Mending libur kerja aku ke rumah indri aja. Walau bagaumanpun banyak hutang budiku pada indri yang tidak akan terbayar sampai mati." Ujar shifa.


***


Minggu tiba saatnya libur, aku ingin mengunjungi indri yang berada di kebun jeruk Jakarta selatan. Naik taksi sebenarnya tidak terlalu jauh hanya karena macet dan polusi kadang mengantri berjam-jam. Aku sih tidak masalah membayarnya mahal karena sopir saat ini kesulitan mencari penumpang.


"Pak, ini alamatnya." Aku menyerahkan alamat sampai tujuan. Aku perhatikan indri dari jauh badannya sudah berubah dari langsing menjadi berisi dan dua anak yang masih kecil-kecil. Pasti repot mengurus suami, mertua, ipar, dua batita, rumah dan seisinya.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Siapa? Ibu! Ayah! Ada tamu." Jawab anak pertamanya indri.


"Siapa?" Jawab indri dari belakang. Mungkin dari dapur, "Eh, kamu shifa. Apa kabar? Masih ingat sama aku? Ayo, masuk!" kami bersalaman di ikuti oleh anak-anaknya indri.


Aku masuk, aku bisa merasakan adanya aura yang panas di rumah ini. Apakah indri di perlalukan dengan baik di rumah ini? "Iya, indri. Akan aku alhamdulillah baik. Kamu makin berisi aja anaknya udah dua aja."


"Iya, kamu kapan nyusul nya? Jangan lama-lama. Ayo, duduk dulu si sini, aku mengambil minuman dulu."


"Iya." Indri kebelakang dan muncul membawa tes es untuk kami berdua.


"Minum dulu."


"Iya. Oh, ya, Apa kamu di perlakukan dengan baik selama masuk ke rumah ini?"


"Biasa aja. Kadang di perlakukan baik seperti pertama kali masuk le rumah ini setelah itu seperti biasa menantu perempuan tinggal di rumah mertua."


"Apa kamu sehat-sehat aja?"


"Alhamdulillah aku sewa-sehat aja. Kamu jangan khawatir."


"Anak-anakmu?"


"Itu?" Indri menunjuk kedua anak gadisnya. Kayla! Salwa! Ke sini duduk bareng ibu dan tante. Salam dulu sama tante!" Indri mengajarkan menyambut tamu dengan baik pada anaknya.


"Udah lama kita gak bertemu semenjak kamu melahirkan anak pertama sampai sekarang. Menjenguk mu pun tidak. Maafin aku ya indri, aku ingat apa yang kamu lakukan pada ku di masa lalu sama sekali belum aku bayar. Entah bagaimana aku membayarnya."


"Tidak apa-apa, Shifa. Manusia itu kan butuh manusia lain untuk saling menolong. Aku bukan orang yang menganggap sesuatu kebaikan itu berharap di bayar. Tenang aja."


"Ah, ternyata dari dulu sampai sekarang kata-katamu tidak pernah berubah. Oh, ya? Di mana yang lainnya?"


"Bapaknya anak-anak sedang tidur, ibu mertuaku sedang pergi bersama iparku."


"Ok, gini, ndri, kita keluar dulu." Kami keluar menjauh dari anak-anak dan rumahnya indri takut ada yang mendengar pembicaraan kami.


"Aku mencium ada aura yang panas yang membuat hatiku rusuh di sini. Aku mau tanya aku harap kamu menjawab dengan jujur aku tidak akan marah dan kecewa kok. Apa mereka memperlakukan mu dengan baik? Bagaimana dengan pertemuan pertama kalian? Ekspresi suamimu pada saat tau masa lalu mu di Malaysia?"


Mendengar itu indri terdiam cukup lama dengan wajah yang mendung tapi bisa mengendalikan perasaannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2