TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Aku mencarimu


__ADS_3

Di dalam pusat perbelanjaan yang padat pengunjung, Khaizan kesulitan untuk mencari mereka. Memilih ke ruangan CCTV ternyata tidak semudah yang dia kira. Perlu dokumen lengkap menandakan kita orang asli Malaysia yang boleh melakukannya. Untung Khaizan selalu membawa dokumennya kemanapun dia pergi.


Menurut pantauan CCTV kedua gadis itu masih berada di tempat yang sama. Khaizan lekas berlari ke arah mereka. Tapi, lagi-lagi kehilangan jejak. Hingga keluar, nihil tidak ada sama sekali. Khaizan lebih memilih memantau dari kejauhan berharap apa yang dia cari bertemu hari itu juga.


Sedangkan


"Siapa yang kamu cari? Sepertinya serius bangat."


"Kamu ngikutin saya? Untuk apa?"


"Aku penasaran aja dari tadi saya perhatikan kamu memang aneh seperti ada yang kamu sembunyikan."


"Itu urusan, gue."


***


"Indri! Sepertinya Khaizan nekat bangat mencari kita, untung mata ini masih tajam bisa melihat dari jauh kalau dia berada di sekitar mall ini."


"Apa kamu tidak ada niat untuk berbicara sama dia sekali aja. Kalian yang punya masalah di masa lalu, aku yang malu tauk."


"Aku tidak akan pernah mau bertemu dan berbicara sama dia lagi. Aku mohon sam kamu ngertiin aku! Sudah cukup waktu itu pertama dan terakhirnya aku di sakitin sama dia, kali ini aku tidak mau lagi, takutnya jiwa wanitaku lemah aku akan terbuai lagi oleh-katanya. Kamu yang membawaku ke sini, kamu pula yang malu gak lucu tauk."


"Aku gak tau sama sekali kalau ujungnya seperti ini"


"Makanya, kita harus pergi dari sini, sebelum dia mendekat." Tiba di kontrakan mereka seharusnya bisa tidur dengan nyenyak. Tapi, lemari nya di bobol, tempat tidur dan dapurnya acak-acakan. Tapi, entah kemana ibu-ibu yang debat pada mereka sore tadi?


"Indri! Siapa lagi yang mengacak-acak kontrakan kita? Kok, tidak ada aman-amannya sama sekali?"


"Aku juga tidak tau, Fa."


"Ini Fasilitas kontrakan loh. Nanti kita di suruh ganti gimana?"


"Entahlah pusing bangat aku."


"Kita kayak di kejar police aja."

__ADS_1


"Anggap aja seperti itu."


"Nanti di tangkap beneran gimana?"


"Itu sudah resiko kita."


"Aku tidak mau."


Tok tok tok


Ceklek


Ternyata pemilik kontrakan datang memantau mereka. "Ada apa ini? kenapa fasilitas kontrakan semuanya sudah hancur? Kalian apakan ini? Baru sehari ngontrak sudah menghancurkan fasilitas. Saya tidak mau tau pokoknya kalian harus ganti hari ini juga."


Pemilik kontrakan sebenarnya berbicara memakai bahasa melayu tapi langsung di tulis ke dalam bahasa indonesia aja.


"Maaf, ce. Bukan kami yang merusak nya mungkin police."


"Pokoknya saya tidak mau tau, kalian harus ganti hari ini juga. Kalau tidak, kalian harus angkat kaki dari kontrakan saya."


"Tapi, biar saya jelaskan, Ce. Kami baru saja pulang mendapati kamar sudah seperti ini dan kami sudah bayar sebulan full, ce." Indri berusaha menjelaskannya dengan tegas tetapi tetap lembut agar pemilik kos tidak merasa tertantang sayangnya pemilik kos tidak mau mendengarnya sama sekali.


Sudah hal biasa kalau terjadi apa-apa di kota ini, tetangga tidak ada yang kepo. Termasuk tetangganya sakit dan meninggal mereka tidak ada yang peduli. Jadi, sebagai anak tanya, pintar-pintar kita menjaga diri sendiri.


"Berapa kerugiannya?" Terdengar suara seorang lelaki yang seperti nya cukup kenal. Mereka menoleh keluar ternyata Khaizan bersama temannya yang datang. Entah sejak kapan Khaizan tiba di kontrakan ini. Apa Khaizan mengikuti mereka sampai ke kontrakan.


"1.200 RM." Mendengar jumlah yang di sebut setara dengan gajinya dalam sebulan. Mereka shock faislitas yang belum sempat mereka nikmati dan bentuknya juga kotor banyak dekil dan murahan rusak dan mereka harus membayarnya. Shifa dan Indri merasa di peras.


"Indri! Ku perhatikan isi kontrakan ini aku merasa, cece kim memeras kita."


"Sudah lah. Kalau kita protes nanti kita dia laporin ke police kita di tangkap. Ini negara dia. Udah deh, diam aja."


"Uangnya mana?"


"Kamu ada tabungan?"

__ADS_1


"Kalian tidak usah bayar, ini uangnya 1200 RM." Khaizan menyerahkan uang di berikan ke Cece kim. Pemilik kontrakan pergi, mereka bisa lega. Tapi, lagi-lagi tak habis pikir kok Khaizan tau tempat tinggalnya.


"Indri! Kamu kasih alamat kita ke dia?"


"Iya, sih. Tapi, ya sudahlah. Kalau tidak ada dia, entah bagaimana cara kita membayar semua kerugiannya. Entah siapa orang gila yang mengacak-acak semua ini. Apa mungkin ibu tadi? Tapi, dia di mana sekarang?"


"Entahlah."


"Khaizan. Terima kasih sudah membantu kami membayar ini semua. Kalau gak ada kamu entah bagaimana kami membayarnya. Tabungan kami sudah habis di kirim ke kampung."


"Sama-sama. Tidak apa-apa kok, lain kali tabungkan sendiri uangnya untuk masa depan kalian. Jangan di kirim semuanya takutnya Habi tampa jejak." Indri dan Khaizan sedang serius berbicara sedangkan teman yang baru di kenal Khaizan hanya memperhatikan mereka. Dan Shifa sedang ke dapur untuk menghindari Khaizan.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Mereka bertiga masih asyik ngobrol. Khaizan membeli kopi dan cemilan lain untuk menghindari ngantuk. Shifa sama sekali tidak mau keluar, indri tidak mau memaksa temannya. Shifa sama sekali tidak mau menerima makanan dari Khaizan. Shifa sudah lelah, ngantuk dan besok bekerja. Banyak nyamuk yang mengigit, waktu berjalan serasa lambat, shifa benci dengan ini semua.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi sebentar lagi subuh. Selain bejat, shifa berpikir Khaizan juga tidak tau waktu bertamu. Merampas waktu tidur padahal pagi mereka bekerja.


Shifa memilih tidur aja sampai laki-laki itu pulang. Hingga bangun jam 10.00 waktu setempat. Indri sama sekali tidak mau membangunkan temannya. Mereka berdua tidak jadi bekerja karena ngantuk.


"Indri! Sekarang jam berapa?" Shifa bangun dari alam mimpi, cahaya matahari menyinari kamarnya. Panas mendera tubuhnya berkeringat, tercium aroma masakan, cacing di perutnya meronta minta makan.


"Sudah zuhur." Indri sedang menyiapkan makanan yang bahannya di beri oleh Khaizan. Bukan karena kasihan, karena merasa bersalah masih menghantuinya apalagi shifa sama sekali belum bisa di ajak berbicara membuat dia frustasi.


"Kamu tidak kerja?"


"Kesiangan. Mandi lah dulu setelah itu kita makan."


"Jam berapa mereka pulang? Apa kamu nyaman ngomong sama mereka?"


"Risih bangat. Dadaku ini serasa di hantam baru. Karena mereka ganteng jadi aku ikhlas jam 05.00 dia pulang." Ganteng, genteng pula kelakuannya.


"Astaga semalaman mereka di sini? Apa mereka tidak tau kita mau tidur? Pas pula dua laki-laki dua perempuan. Berarti kamu tidak tidur sejak semalam."


"Semenjak mereka pulang aku membangunkan kamu, menyirammu dengan air segayung tapi kamu tidur seperti orang mati. Akhirnya aku tidur aja di kamar bangun jam 10.00 tadi."


"Iya, pantesan sekujur tubuhku basah berkeringat. Ada-ada aja kamu. Kita pindah aja dari sini."

__ADS_1


"Ada uang buat bayar kontrakan?"


"Tidal ada."


__ADS_2