
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 72
POV Haura
Dulu, ketika aku masih duduk di bangku SMA ada pasangan suami istri yang datang ke rumah. Ternyata mereka teman ibuku dari muda sampai sekarang. Aku yang pemalu tidak berani keluar kamar hanya membaca sambil mendengarkan musik.
Bolak balik ibu memanggil ku tapi tidak aku gubris. Besoknya datang lagi dan mengenalkan anak laki-lakinya padaku yang dulu sempat di jodohkan sama kakak perempuan ku tapi anak lelakinya tidak mau karena ingin fokus bekerja mencari modal untuk bisnisnya nanti. Katanya kalau jodoh pasti bertemu.
Hingga kakakku berharap menikah dengannya tapi malah berpacaran dengan perempuan lain di Malaysia. Ku lihat fotonya ternyata perempuan itu cantik banget. Kakakku kalah jauh hingga di nikah kan oleh sahabatnya waktu kuliah.
Sekarang orangtuanya menjodohkan anaknya padaku. Menurut cerita dari orang-orang, Khaizan memiliki 2 kakak perempuan yang satunya sudah menikah dan belum di karuniai anak. Yang satunya lagi sudah meninggal karena bunuh diri pasca di tipu dan di hamili oleh pacarnya di Singapura.
Orangtuanya depresi hampir bunuh diri juga tapi lekas di bawa ke psikiater dan sekarang perlahan mulai sembuh. Mereka ingin mencari menantu dari keluarga yang baik-baik. Memperhatikan bibit, bebet dan bobot perempuan yang akan masuk ke rumahnya nanti.
Anaknya memang ganteng, di usia yang ke 32 nanti masih sama dengan remaja belasan tahun di mana mencari pacar dan suami dari fisiknya. Tapi, setelah itu dipikir masa aku harus berhadapan dengan orangtua yang depresi yang ada aku jadi sampah rumah tangga nantinya belum pula Khaizan mencari wanita yang kalangan sosialita. Mending aku mundur.
Tapi, kata Shifa temanku, "Tidak perlu melakukan apa yang orang mau. Cukup menjadi diri sendiri aja." Itu sudah cukup membuatku sadar arti dari mencintai diri sendiri tanpa mengambil copyan orang lain.
__ADS_1
POV Khaizan
Ketika aku di buat pusing dengan kelakuan gadis-gadis itu aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Merawat ibuku yang depresi karena kematian kakakku dengan tragis. Ayah sibuk dengan bisnisnya hingga jarang pulang. Aku tidak tau kakak depresi karena aku berada di Negara lain.
Aku meninggalkan Malaysia, setelah membawa ibu pulang dari RS, ibu ingin menjodohkan aku dengan anak temannya yang dulu. Awalnya mereka menjodohkan aku sama anak pertamanya tapi aku waktu itu masih muda dan ingin mencari jati diri dengan jerih payah sendiri tanpa pasangan.
Dengan modal yang tidak seberapa nekat melamar ke satu perusahaan ke perusahaan lain untung ada satu yang mau menerima ku dengan baik. Hingga satu tahun bekerja aku di mutasi ke Malaysia. Aku ikut aja mau mencari ilmu dan pengalaman juga.
Bekerja di Malaysia tidak seindah bayanganku semuanya butuh perjuangan yang berdarah-darah. Alhamdulillah aku bisa melewati itu semuanya hingga membangun bisnis dari jerih payah sendiri di kota Jakarta.
6 bulan aku di Indonesia, ayah dan ibu selalu membahas tentang pernikahan ku. Aku merasa gadis yang di jodohkan mereka terlalu manja aku tidak suka gadis seperti itu.
Takut pasporku mati, aku terbang ke Malaysia dan mendapatkan gadis-gadis itu sudah tidak ada. Dan, karina? Dia mencariku sampai pulang ke Indonesia.
Aku menghubungi royan katanya kakaknya sudah pulang ke Indonesia mau kuliah. Aku bertahan selama 4 tahun dengan emosi yang sulit ku kontrol. Aku merasa hidup ini tidak punya arah hanya kerja entah untuk apa.
Pulang lagi ke Indonesia, ibuku kembali lagi membahas tentang pernikahan. "Khaizan! Kamu terlalu sibuk bekerja. Kapan kamu akan menikah? Haura sudah mau lulus kuliah loh."
__ADS_1
"Tunggu dulu, bu. Aku ini laki-laki gampang bagiku untuk menikah hanya saja aku masih fokus membangun bisnis dari jerih payahku sendiri agar tidak menyusahkan anak perempuan orang nanti. Bukankah ibu yang menyuruhku mandiri sebelum menikah?"
"Iya, tapi tidak segitunya. Umurmu sudah 32 tahun sudah tua loh. Ayah dan ibu sudah tua juga kepengen gendong cucu dari kamu. Kakakmu Nisa belum kunjung hamil. Kapan lagi ibu bisa menggndong cucu."
Pusing dengan tingkah ibu aku jarang pulang Ke rumah walaupun puluhan kali ibu menghubungi ku. Aku risih sama orang yang membahas tentang pernikahan.
Haura menceritakan tentang kuliahnya hingga ada nama yang membuatku ingat kembali masa-masa di Malaysia. Aku lihat fotonya ternyata itu Shifa. Aku merindukan dia.
Menurut Haura shifa itu sangat terobsesi dengan ke suksesan. Dia melakukan apapun untuk masa depan nya. Entah untuk siapa dia melakukan itu semua. Hingga dia lulus terlebih dahulu dari Haura dan ingin pulang ke kampung halaman.
Haura butuh dia untuk membantu menyusun skripsinya. Aku juga tidak mau kehilangan dia ke sekian kalinya. Aku bujuk agar Haura menyerahkan temannya bekerja di pabrik tekstil ku. Tanpa curiga Haura mengantarkan temannya yang kebetulan juga membutuhkan pekerjaan.
Sebulan bekerja aku biarkan dia fokus dulu setelah itu baru aku muncul memberikan shok terapi untuk dia.
Apa shifa sudah melupakan semua kenangan di Malaysia dulu?
Apa shifa sudah bisa memaafkan aku dengan ikhlas?
Ternyata dia sudah jauh lebih ramah dari di Malaysia. Dia sudah bisa menerima semuanya. Mungkin dia sudah dewasa dan sudah bisa berpikir matang dan hanya menjalani hari-hari di sisa umur mudanya aja.
__ADS_1
Bersambung....