
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 50
POV Khaizan
Apa maunya ini perempuan? Setiap kali aku mendekatinya dia menjauh. Aku balas dengan menjauhinya lagi, dia makin menjauh. Aku mencoba menarik perhatiannya dengan mengungah foto bersama perempuan lain dia makin menjauh lagi. Ujungnya aku juga yang lelah.
Aku harus menghubungi indri untuk mengetahui apakah shifa baik-baik saja. Tapi, di salah artikan oleh indri. Gadis itu terbawa perasaan dia mengungkapkan perasaannya dan tentu aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Makhluk yang bernama wanita gampang luluh di kasih sedikit aja wejangan hatinya sudah berdebat-debar padahal menurut kita itu biasa saja.
"Zan! Apa kamu tidak kunjung memaafkan aku? Aku sama seperti mu hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf, salah dan dosa. Ayolah, maafkan aku, aku ingin kita memulai hubungan dari Nol lagi. Ingat kamu juga sudah pernah menghancurkan masa depan seorang gadis. Anggap aja kita pasangan pendosa yang berjuang memperbaiki diri," Kilah karina.
Perempuan ini tidak habis akalnya untuk membujuk ku. Setiap harinya dia datang ke rumahku membuat rumahku seperti rumahnya sendiri. Nampaknya kami seperti pasangan suami istri yang bekerja di Malaysia.
"Karina, sudah lah. Aku capek mendengar kamu membahas ini terus. Aku memang pendosa dan kamu juga. Aku harap kamu carilah yang lain yang mau membantumu memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik lagi. Bagaimana caranya sepasang pendosa yang berjuang memperbaiki diri tanpa ada yang menuntunnya yang ada makin bengkok."
"Zan, siapa yang membuatmu menjauhi ku? Apa orangtuamu? Padahal kita sudah dewasa, orangtua kita sudah memberi lampu hijau untuk hubungan kita. Orangtua ku juga sering menanyai ku kapan nikah, mereka jengah karena sering di tanyai tetangga."
"Orangtuaku yang melarang ku berhubungan denganmu lagi. Kita memang sudah dewasa tapi restu orangtua juga perlu terutama dari orang tua dari laki-laki karena perempuan mengikuti suaminya kemanapun suaminya pergi termasuk ke rumah mertua. Jadi, bagaimana caranya kamu menghadapi keluarga ku sedangkan mereka aja tidak menyukaimu?"
"Itu, Nanti kita pikirkan. Tidak ada kewajiban istri mengikuti suaminya tingal di rumah mertua. Menolak juga tidak dosa juga tidak durhaka karena mertua dan ipar itu maut mematikan dalam rumah tangga. Kita kan bisa mandiri toh tidak ada jaminan wanita yang awalnya di sukai mertua setelah menikah di terima baik oleh mertua jarang itu terjadi. Lihat lah kehidupan suami istri di sekitarmu mereka menjauh hidup mandiri di Negara orang pulang hanya sekali setahun atau sekali lima tahun."
Perempuan ini masih tidak mau menjauh dariku , dia pandai menyusun kata-kata dengan baik. Aku memegang pundaknya. Memang benar apa yang dia bilang. Tapi, bukan itu saja yang membuatku tidak mau menerimanya lagi.
"Karina, carilah lelaki yang mau menerima mu apa adanya. Aku yakin suatu saat pasti kamu akan mendapatkan cinta sejati. Menjauh lah dari hidupku, intropeksi diri lah dan aku juga akan melakukan hal yang sama, kalau jodoh kita pasti akan bertemu lagi."
Setelah mengatakan itu aku menguci seluruh pintu dan jendela. Membawanya keluar dan pergi bekerja. Aku tinggalkan dia yang menangis dengan diam.
__ADS_1
"Khaizan ...! Tunggu aku! Kamu tidak bisa mencampakkan aku begitu saja."
"Mencampakkan mu? Aku tidak pernah menyentuh mu karina, kamu yang membuat aku mabuk dan menjebakku setelah kamu hamil ternyata benih pria asing yang suka menganggu wanita Negara kita," Batin Khaizan.
***
POV karina
Khaizan, aku tulus ingin melakukan hubungan kita jenjang yang lebih serius. Dulu, mungkin ada sesuatu yang aku kejar itu bukan harta hanya IC Negara ini, dengan menikah denganmu aku bisa menjadi warga Negara ini selamanya.
Tapi, sekarang niat itu pelan-pelan pudar. Toh, di manapun kewarganegaraan ku sama aja tergantung kita juga. Setelah kamu menjauhi ku karena kesalahan ku yang tidak bisa kamu maafkan, aku mulai mencintaimu dengan tulus. Aku sakit banget melihat kamu mencampakkan aku sedangkan aku tidak pernah percaya kamu melakukan kejahatan dengan wanita lain dan sekarang wanita itu yang ada di hatumu sekarang.
Dari sini aku mengambil pelajaran kesalahan wanita tidak akan termaafkan walaupun hanya setitik jarum. Lelakinya pergi begitu saja. Beda dengan lelaki yang membuat kesalahan dan kejahatan seluas samudra wanita di tuntut untuk memaafkan nya, menerimanya dan intropeksi diri atas kesalahan lelakinya. Ujungnya wanita walaupun seperti bidadari tetap salah di mata manusia.
Khaizan, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan mu. Bukan karena kamu ganteng tapi menurutku kamu totalitas tanpa batas.
***
"Alhamdulillah, baik-baik aja, betah kok. Aku harap tempat ini tempat terakhirnya aku bekerja dan tidak pindah lagi."
"Alhamdulillah, sayangkan pindah kita harus memulai dari awal lagi. Dan kemanapun pergi hanya seperti itu aja hanya mental yang menguasai tubuh kita. Kalau mental kuat, apapun yang terjadi semuanya baik-baik aja. Kalau mentak lemah sebaik apapun pekerjaan kita tidak akan membiarkan kita maju karena tubuh kita tadi di budakkan oleh mental block yang membuat orang selalu takut akhirnya gagal."
"Iya, zan."
"Rizki...!" Ingat gak Rizki? Seseorang yang menyapa Khaizan ketika mengejar shifa dan Indri di kuil hindu.
Rizki yang awalnya mau ke tempat kerjanya berhenti sejenak. "Ada apa?"
__ADS_1
"Ke sini dulu! Ada yang ingin aku bicarakan," Rizki mendekati dua semakin itu. Visual Khaizan dan Rizki 11 12 aja tapi Khaizan memiliki iner beauty lebih tinggi dari pada Rizki.
"Siapa rizki, Zan?" Indri risih melihat Khaizan memanggil temannya.
"Teman aku."
"Ada apa?"
"Apa kamu punya cewek?" Mendengar itu otak indri traveling ke mana-maan. Apa kahizan ingin mengenalkannya kepada seseorang?
Rizki menoleh pada Indri dan indri menunduk. "Gak ada tuh, kenapa?"
"Benar? Mustahil cowok gak ada ceweknya di kota ini."
"Kamu ini tampak banget playboy nya."
"Ah tidak kok. Aku mau ngenalin kamu seseorang. Dia yang di sebelahku katanya minta di kenalin sama teman aku katanya."
Indri kaget apa yang pikirkan barusan terdengar langsung dari mulut Khaizan. Indri memandang mereka satu persatu.
"Ah, enggak ada kok, kapan aku bilang seperti itu? Khaizan bohong, jangan percaya."
"Dia bilang tidak pernah minta di kenalin sama temanmu."
"Dia malu."
"Ya, sudah zan, Aku pergi dulu," Tidak mau lama-lama Indri pergi meninggalkan kedua lelaki itu. Indri benci situasi yang seperti ini. Orang yang dia suka mengenali nya pada orang lain.
__ADS_1
"Apa hubungan mu sama dia? Apa kalian baik-baik aja?"
"Aku baik-baik aja."