
Setelah melakukan nya dan membersihkan diri aku lihat google maps sepertinya Shifa sudah keluar dari desa. Malam ini juga aku ingin mengajak dia kencan di Duffan tepatnya Disneyland taman main untuk anak-anak.
***
Sampai di Dufan aku menunggu shifa ternyata shifa sudah berada di belakang ku. Sayangnya shifa tidak melihatku matanya fokus melihat keindahan Disneyland dan wahana lainnya dari luar.
Aku menepuk pundaknya, "Sudah lama datangnya?"
Dia menoleh, "Tidak kok. Baru saja sampai lima detik yang lalu. Ada apa mengajak aku ke sini?"
"Mau ngajak kamu kencan aja. Tidak boleh, ya?"
"Boleh kok."
"Gimana? Kamu suka tempatnya?"
"Suka bangat. Baru aku tau jakarta ada bangunan seperti ini."
"Jadi, selama ini kamu hanya mondok di kontrakan aja sampai tidak tau di Jakarta ada Disneyland?"
"Enggak juga sih. Tapi, selama 4 tahun ini aku belum pernah ke sini."
"Ayo, kita beli tiket untuk masuk ke dalamnya. Jangan risau soal uang biar aku yang membayarnya."
Kami masuk dan mengelilingi tempat ini banyak wahana-wahana yang memacu adrenalin. Tempat ini bisa di bilang taman bermain untuk mengenali dunia fantasi untuk anak-anak agar semakin semangat belajar.
Puas mengelilingi nya kami makan di restoran cepat saji. Lanjut jalan-jalan sambil bercerita. Shifa orangnya tidak suka basa basi sukanya to the point aja.
Dari pembicaraan kami shifa ini menurut orang mungkin aneh tapi menurutku orangnya misterius tidak gampang di tebak. Orang seperti ini hanya ingin mencintai dan di cinta satu kali seumur hidup. Dia akan setia sama pasangannya tapi dia tidak akan membiarkan dirinya di sakiti orang lain. Bagi dia tubuhnya itu berharga untuk di sakiti.
Hanya saja dari awal pembicaraan kami aku selalu kecewa tidak ada kata-kata yang membuat hatiku senang. Niat hati ingin membicarakan pernikahan padanya gagal karena dia lebih mengutamakan kebahagiaan teman dari pada dirinya sendiri. Segitu rendah nilainya aku di mata dia.
Pulang dari Dufan aku mendapatkan ibu, Haura dan keluarganya di rumah pribadiku. Mereka serius membicarakan pernikahan tampa sepengetahuan ku. Awalnya aku hanya main-main aja ternyata mereka serius ingin menentukan tanggal pernikahan dalam waktu dekat.
Benar kata shifa, ada Haura yang menunggu aku untuk melamarnya. Apa waktu kami bertemu dia sudah menghubungi Haura?
__ADS_1
Apa mungkin shifa benar-benar tidak mencintai ku? Dewasa ini bukannya cinta sudah tidak perlu?
"Zan! Akhirnya kamu pulang juga. Dari tadi ibu menghubungi mu tapi tidak kamu angkat kasihan mereka yang sudah menunggu mu dari sepulang dari kantor loh."
"Iya, maaf, Ibu. Aku ada meeting sama klien"
"Ibu lihat agenda mu tidak ada jadwal meetingmu hari ini. Kamu itu kebiasaan membohongi ibu. Kahizan! Kamu itu sudah tua loh bentar lagi mau mati masih aja bicaranya seperti anak kecil."
Mendengar omolan ibu aku merasa di tampar di depan orang lain. Orangtua Haura merasa tidak enak melihat kami.
"Maaf, Jeng. Khaizan ini laki-laki langkahnya tentu lebih luas dari pada kita yang perempuan. Maafkan Khaizan mungkin benar Khaizan sedang meeting. Ayahnya Haura juga sering meeting mendadak tanpa ada jadwal yang sudah si tulis." Ucap ibunya Haura
"Mungkin juga, ya. Saya tidak enak sama kalian yang sudah menunggu terlalu lama. Zan! Duduk di sini, hari ini juga akan membicarakan tentang pernikahan kalian."
Zan! Jangan membuat Haura menunggu terlalu lama perempuan itu butuh kepastian kapan kalian lelaki akan membawa dia ke pelaminan tinggalkan atau halalkan. Ibu rasa kalian tidak perlu menunda lagi tidak usah menunggu Haura wisuda 3 hari lagi ayah dan kaka nisa juga pulang dari Kalimantan kalian melakukan ijab kabul dulu setelah itu terserah kalian kapan akan melakukan resepsi."
"Kenapa ibu tidak membicarakan nya dulu padaku? Aku tidak bisa di menerima usulan ibu tanpa seizinku."
"Kalau ibu menunggu persetujuan mu ibu keburu mati. Ibu sudah tidak sabar lagi toh kamu juga sudah mapan, kapan lagi ibu akan menerima menantu perempuan."
Mungkin aku harus menerima bahwa shifa bukanlah jodohku dan di sana ada seorang wanita yang setia menunggu ku.
Besoknya kami ke butik untuk memilih dan mengukur baju pengantin untuk kita.
Ada sepasang baju pengantin yang menarik perhatian ku. Aku ingin memakai baju ini dengan shifa. Shifa sangat cocok memakai baju seperti ini.
"Ada apa, sayang?"
"Baju ini bagus banget. Kita memakai baju yang ini saja."
"Ayok, kita tanyai baju yang pas di badan kita."
"Kami mengukur badan kami. Pikiranku linglung ke shifa. Sedang apa shifa sekarang?"
Undangan?
__ADS_1
Menurut ibu pada saat ijab kabul kita tidak sempat menyebarkan undangan hanya penghulu, wali dari pihak perempuan dan saksi aja itu pun hanya orang terdekat menjadi syarat SAH nya pernikahan.
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 80
"Shifa, Aku diam-diam membeli satu undangan untukmu. Aku akan menikah dua hari lagi."
"Selamat, ya! Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah. Jadilah istri yang soleh berkati pada suami sebagai jalan utama untuk menuju ke surga. Sudah minta maaf apa belum sama orangtuanya? Aku dengar aku mengambil celengan ibumu untuk membeli tiket konser dan album K-pop ayo. Nanti gak jadi masuk surga loh."
"Kamu ini ingat terus sama aja yang pernah aku bilang sama kamu. Pulang nanti aku akan mengaku semuanya minta maaf sama ayah, ibu, adik yang pernah ku ambil barang miliknya tanpa izin agar jalanku menuju surga di mudahkan oleh Allah. Susah payah manut sama suami masa hanya gara-gara kelakuan ku di masa lalu membuatku terombang ambing antara langit dan bumi kan gak lucu."
"Pintar."
"Untuk kamu juga. Datang ke pernikahan ku nanti, ya!"
"Siap, tuan putri."
***
Malam sebelum ijab kabul terdengar yang menggemparkan dari rumahnya Haura dan Khaizan. Tiba-tiba Haura di larikan ker rumah sakit terdekat. Aku menyusul ke sana menurut cerita Haura terkenal gagal jantung dan sekarang terlambat sudah dokter menyatakan Haura sudah berpulang menghadap sang ilahi.
Kedua orangtua dari mempelai menangis histeris tidak tau entah kapan Haura memiliki penyakit yang mematikan seperti itu. Khaizan yang sudah siap dengan kemeja pengantinnya juga mengeluarkan air mata ingin aku mendekatinya tapi aku ingat kata-kata Haura kemaren bahwa dia ingin ke surga setelah mendapatkan maaf dari orangtua nya.
Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sungguh tidak ada yang tau kapan manusia akan di panggil oleh allah tidak mengenal waktu dan tempat. Kematian itu pasti akan terjadi.
"Mohon maaf om! tante! Saya temannya Haura, turut berduka cita, ya! Semoga tante dan amal ibadah almarhum Haura di terima si sisi-Nya amiin."
"Iya, terima kasih, shifa. Entah sejak kapan anakku memilik penyakit seperti itu," Ujar tante dian ibunya Haura."
"Memangnya selama ini Haura tidak pernah mengeluh kesakitan?"
"Tidak pernah. Fa." Bahkan dalam keadaan sehat nyawa bisa melayang.
Aku beralih pada Khaizan, "Zan! Turut berduka cita, ya."
"Iya, Fa."
__ADS_1
Bersambung