TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Keluarga dan lingkungan toxic


__ADS_3

TAKDIR CINTA DI NEGERI JIRAN 2


Selesai menjual bahan pangan, aku tidak langsung pulang. Malas bangat mendengar suara ayah dan ibu yang setiap hari lebih seratus kali memanggil ku.


Ada aja kata-kata keluar dari mulut ayah untukku, katanya aku anak yang tidak berguna, menyusahkan orangtua. Ibu juga sering bilang menyesal melahirkan aku. Padahal aku tidak pernah minta di lahirkan. Ibu pernah bilang, kenapa gak mati aja?


"Syifa ini lalu lalang aja, tidak ada gunanya sama sekali. Nyusahkan orangtua aja." Ujar ayah.


"Lagian aku gak minta di Lahir kan." Ujar ku


"Kenapa kamu gak mati aja." Ujar ibu dengan bola mata membesar memandang ku. Padahal aku sudah melakukan tugas rumah layaknya ibu rumah tangga, besok mau ujian. Uang SPP nya gak ada.


" Bu! Besok ujian. Aku minta uang SPP!"


"Uang terus yang di minta oleh gurumu itu. Padahal orang lain semua dapat beasiswa."


"Mereka kan saudara pantas memberikan saudara terlebih dahulu dari pada kita."


"Si asri juga tidak punya saudara tapi dapat beasiswa tuh."


"Ibu tidak tau? Sekampung ini dia bilang keluarga nya?"


"Bohong tuh. Kamu aja yang bodoh jadi orang tidak bisa mengambil hati guru agar di beri beasiswa."


"Ayah dan ibu lebih bodoh lagi gak bisa jadi orangtua yang bertanggung jawab untukku. Padahal kemaren royan di belikan HP Baru aku cuma dapat bekas nya doang."


PLAK PLAK PLAK


Dua telapak tangan melayang ke pipiku, sakit bangat. Aku langsung diam dan pergi ke kamar membongkar apa yang ada. Bercermin pipiku merah bekas gambaran telapak tangan di pipiku. Lihat badan lainnya membiru bekas cubitan ibu.


Salah aku minta uang sekolah? Royan aja yang masih SMP di beli Hp baru. Mereka lebih sayang pada kedua adik laki-laki ku yang sering berulah di sekolah sering pula ayah atau ibu di panggil pihak sekolah karena kenakalannya. Pernah pula tidak naik kelas dan mencuri. Ayah dan ibu tidak pernah memarahinya. Mereka hanya maklum dia anak laki-laki. kalau aku di tuntut dapat juara kalau tidak, Buku ku melayang ke api. Di jelek kan ke keluarganya. Di suruh berhenti sekolah. Lebih baik ke kebun aja. Bantu ibu cari uang untuk biaya hidup dan menyekolahkan adik lelakiku.


Aku sudah SMA harus mencari uang sendiri untuk sekolah. Aku sudah tidak sanggup lagi.


Bagaimana perasaan seorang anak di bilang seperti itu oleh orangtuanya sendiri? Sakit bangat. Baiklah, Setelah mengambil barang nanti, kali ini aku tidak akan mau pulang ke rumah lagi, biar mereka tau rasanya setelah kehilangan aku.


Untuk melampiaskan rasa sakit hatiku. Ku robek baju-bajunya lalu ku buang ke sungai. Pernah ketahuan oleh ibu aku merobek bajunya, alhasil aku di cubit habis-habisan dan rambutku di tarik hingga luruh bercecer di lantai. Aku menangis sekencang-kencangnya. Ibu bilang aku gila.


"Kenapa anakmu itu, yun!" Ujar salah sati tetangga.


"Dia gila." Ujar ibu, sakit bangat orangtua sendiri membilang anaknya gila.

__ADS_1


"Bawa berobat ke RSJ atau di ruqyah aja."


***


"Meyra! Temani aku ke rumah, yuk!"


"Memangnya kamu gak berani pulang ke rumah sendiri?"


"Aku mau ngambil barang, mau tinggal di kosmu."


"Baiklah."


Setengah hari aku tidak di rumah, ayah masih tidur. Temanku yang melihatnya miris bangat. Entah apa yang di pikirnya, nanti sakit kepala hancurkan barang-barang yang susah payah di beli oleh ibu. Padahal barang itu tidak salah.


Pernah dulu kami memasak masih memakai kayu, di dalam rumah lagi. Aku bikin asap memenuhi rumah biar ayah keluar. Nyatanya Ayah tidak pernah keluar rumah hanya menonton dan menyetel musik kencang bangat. Apa tidak sesak peenafasannya?


Padahal di sebelah rumah ada bayi yang harus di perhatikan. Tapi, tetangga menyalahkan aku pula. Mana ada aku menyetel musik, alay lagi.


Aku sering makan hati ulah mereka berdua


Sering di suruh bikin kopi dan teh, aku kasih abu dapur. Anehnya ayah tidak pernah merasakan itu. Untung tidak sianida melayang ke secangkir kopi.


"Kalau menyapu tuh, buang sendiri sampah nya ke sungai. Kenapa buang nya ke halaman rumahku? Memangnya halaman ini tempat pembuangan sampah? Aku capek membersihkannya."


Pada saat tetangga yang satu ini mulai menyapu halaman. Aku keluar, eh dia memandang kosong ke arah lain. Aku tunguin dia selesai menyapu gak di selesaikan. Aku masuk lagi karena ayah memanggil, eh taunya dia buang lagi sampah ke sini.


Geram bangat melihatnya.


"Apa? Capek membersihkannya? Bersih pula saya dari pada kamu."


"Kalau lebih bersih dari pada aku. Kenapa sampah nya di buang ke sini?"


"Memangnya halaman ini milik nenek moyang kamu? Kalian itu miskin, sudah resiko kalian di bawah menerima sampah orang di atas."


Astagfirullah greget bangat hatiku menjerit tidak orangtua, tidak tetangga semuanya toxic. Menurut hadist yang ku pelajari. Memuliakan tetangga itu wajib. Tapi, mana? Mereka tidak pernah memuliakan tetangga. Sering mencaci ekonomi orang lagi.


Sudah cukup lingkungan membuatku kurus karena makan hati. Aku ingin pergi, biar mereka merasakan bagaimana tidak ada aku di sini. Apa halaman ini akan jadi gudang pembuangan sampah. Aku ingin melihat reaksi orangtua ketika rumah dan halamannya di penuhi sampah.


***


Ketika ayah bangun melihat kami diam aja. Ah, sudahlah. "Mey, ayo pergi!"

__ADS_1


"Gak izin dulu sama ayah dan ibu!"


"Gak usahlah. Mereka setiap saat mengusirku dari rumah."


"Izin dulu biar perjalanan nya berkah dan biar mereka gak kehilangan kamu."


"Mereka tidak akan kehilangan, aku."


"Om! Syifa rencananya mau tinggal di kosku. Kami pergi dulu. Jangan lupa bilang ke ibunya syifa, ya!"


Ayah diam


Keluar dari rumah dengan yang tidak seberapa, kami pergi ke pusat kota. Mau mendaftar kuliah hari senin besok. Pernah dulu aku minta uang untuk mendaftar kuliah. Ibu marah-marah seperti ingin membunuh ku waktu itu juga. Terlebih ayah yang mati-matian melarangmu sekolah cuma menghabiskan uang aja. Maaf, ayah! ibu! Sekolah adalah hak ku.


Selesai mendaftar dengan hati yang bimbang, di kos aku termenung cukup lama, bagaimana dengan masa depan ini?


[Assalamualaikum! Kamu dari mana] Sebuah chat masuk di aplikasi warna biru. Entah siapa yang mengirim pesan. Aku lihat profil dan fotonya orangnya lumayan. Dia jauh di ujung sumatra sana.


[Walaikumsalam. Aku dari jambi. Ini siapa? Dan dari mana]


[Aku, Haizan dari Jakarta. Boleh kenalan gak? Aku lihat kamu baru lulus SMA]


[Boleh aja. Iya baru lulus, sekarang aku mau daftar kuliah. Kamu di mana]


[Aku di malaysia. Oh, mau kuliah nih]


[Di malaysia ya? Iya. Enak hidup di malaysia kayaknya]


[Gak juga, tergantung kita. Apakah kamu pernah punya keinginan untuk ke malaysia]


[Pengen sih, tapi aku kuliah]


[Yakin, serius kuliahnya? Di tunda dulu kuliahnya juga bisa. Atau ke sini aja sebentar setelah itu pulang lagi]


[Belum tau apa mau kuliah apa tidak, tidak ada biaya. Pengennya juga nganggur dulu. Tapi, bukan ke malaysia, bekerja di Indonesia aja]


[Ke malaysia juga gak apa-apa. Jangan ragu, semua orang di sini kebanyakan juga orang kita. Yang buka usaha juga orang kita. Tergantung kitanya bisa apa tidak aja ga diri itu aja poinnya]


[Aku pikir dulu]


Next

__ADS_1


__ADS_2