
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 36
POV Khaizan
Kesal, kesa, kesal. Tadi, Aku pesan pada mereka agar tidak keluar dari rumah sebelum saya pulang. Mereka seenaknya pergi tampa izin saya. Untuk sekarang sebenarnya tidak apa-apa sih, mereka bukan siapa-siapa Aku. Istri bukan, saudara juga bukan. Hanya gadis yang aku pungut untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
BUG.
Aku hanya bisa melampiaskan kekesalan aku dengan meninju dinding yang tidak bersalah.
Sekarang ini di luar masih tidak aman untuk orang sekelas mereka. Aku yang membawa Shifa ke negara ini, aku harus bertanggung jawab penuh pada mereka. Sebenarnya bisa aku tinggalkan mereka seperti dulu. Tapi, aku tidak mau melakukan hal yang sama lagi, tapi mereka membuat emosi ini meledak
Dulu, susah payah mencari mereka kembali. Akhirnya ketemu juga jejaknya. Mengikutinya ke kosnya yang sedang kacau. Aku ganti semua kerugian yang tidak murah. Tapi, dia sama sekali tidak mau mengacuhkan aku. Dia memilih bermalam di dapur sedangkan indri temannya sudah resah dengan kehadiran kami.
Sialnya, temannya tidak mau memanggilnya. Kami hanya sibuk sama dunia masing-masing. Aku memberikan kesempatan mereka bekerja di sebuah kilang pabrik agar memiliki gaji yang lebih dari biasanya yang hanya gali lobang tutup lobang. Cuma dapat capeknya aja.
Setelah bekerja, aku tidak bisa bertemu dengan mereka karena beda shif. Di suatu waktu kesempatan emas buat kami untuk berbicara berdua di gudang.
Dia risih, cemas, dan tidak nyaman. Tatapannya juga dingin seperti ingin menerkam ku hidup-hidup. Dia berusaha mencari jalan untuk keluar tidak bisa karena pintunya sudah ku kunci.
Ku perhatikan dia, dia tantang balik. Ini bukan seperti dulu lagi. Shifa sudah berubah menjadi lebih dingin dan misterius.
"Shifa...! Sebelumnya aku minta maaf bangat sama kamu. Mungkin kata maaf mudah terucap dari mulut orang yang zolim. Tapi, aku, jauh dari lubuk hati yang paling dalam benar-benar ingin minta maaf karena menelantarkan mu membuatmu terlunta-lunta di jalanan."
Tidak ada jawaban
"Apa kabarmu selama ini? Kemana aja kamu pergi sebelum mendapatkan pekerjaan? Apa aja pekerjaannmu dan di mana aja kamu bekerja? Dulu kamu bilang kamu hamil, seharusnya sekarang sudah lahir kemana bayimu?"
"Apa peduli mu?" Tiga kata sederhana tapi kedengarannya setajam silet. Mungkin dia bilang aku tidak peduli pada kondisi dia dan bayinya. Shifa salah besar, setelah menerima karma yang bertubi-tubi, entah hidayah dari pada aku memikirkan kondisi bayi dan ibunya.
"Akhirnya kamu berbicara juga. Tentu aku peduli, aku yang membawamu ke sini."
__ADS_1
"Kamu memang mebawaku ke sini. Tapi, kamu tidak ikhlas, kamu minta bayaran yang jauh lebih mahal dari pada harga tiket dan kos satu malam yang tidak seberapa."
Lalu setelah itu kamu membuang aku bagai sampah lalu kamu ingin memungut sampah ini lagi? selera mu rendah." Kata-katanya makin kasar. Seumur hidup baru kali ini aku menemukan orang menyebut dirinya sampah dan menyebutku dengan selera rendah.
Aku sudah berusaha bertanya sebaik mungkin tapi tidak ada jawaban. Dia kali ini suka membuat ku emosi. Ingin teriak tapi harus jaga image. Sayang emosiku tidak terkendali.
Apa susahnya bicara jujur, kalau iya, dulu pergi dalam keadaan hamil, lalu kemana bayi itu seharusnya sudah lahir. Tapi, sama sekali tidak mendapatkan jawabannya.
Tak sadar aku sudah berada di depannya dan mencekik mukanya. Tapi, dia tidak takut sama sekali. Harus di apakan lagi anak ini.
"Dimana bayi itu?" Aku memandangi nya dengan dalam nampak dari bola matanya banyak luka yang dia pendam sendiri. Wajahnya sama sekali tidak berseri. Sebenarnya wajahnya cukup cantik.
"Bayi siapa?" Apa dia sedang mempermainkan aku?
"Jangan bertele-tele."
"Iya, bayi siapa yang kamu maksud?"
"Bayi kamu, bayi siapa lagi."
"Aku tidak punya bayi. Jangan tanyakan lagi di mana bayi itu." Aku benci jawaban yang bertele-tele seperti ini. Segitu sakit hati untuk berbicara jujur aja tidak sanggup.
"Apa kamu gugur kan atau keguguran?"
"Pertanyaannya bertele-tele aku tidak pernah hamil dan keguguran." Apakah dia bohong atau jujur? Tapi, bukti-bukti itu sudah cukup dia benar-benar hamil.
"Bohong. Apa susahnya jujur aja?"
"Aku sudah jujur sekarang kamu mau apa?"
Ku lepaskan cengkraman ini, shifa berhasil membuatku frustasi tapi aku harus mengontrol emosiku yang ingin meledak tidak mau mengeluarkan imege yang buruk lagi untuk shifa.
__ADS_1
Di gudang ini kami menghabiskan waktu dua jam lamanya untuk berbicara panjang lebar sampai aku mengatakan semua kesusahanmu setelah kepergian dia. Tapi, dia malah meremehkan aku. Apakah begitu seorang wanita juga sangat kecewa?
Tidak apa-apa yang penting aku sudah minta maaf, dan ingin bertanggung jawab penuh pada dia dan temannya di Negeri jiran ini.
Tapi, sepertinya mereka seenak jidat membuat ulah tampa izinku. Itu untuk keselamatan mereka sendiri. Tapi, kenapa bandel bangat jadi wanita. Sudah untung ada yang peduli, kalau tidak, kemana tempat mereka mengadu? Sepertinya aku harus tegas dan tidak akan lagi memikirkan mereka tidak ada untungnya. Toh mereka sudah dewasa.
***
"Indri! Apa yang terjadi?" Aku dan indri duduk di ruang tamu. Sedangkan shifa tanpa bersalah masuk aja ke kamar.
" Maaf! Zan! Kami nekat keluar, katanya shifa ingin pulang ke kos."
"Lalu, kenapa kalian kembali lagi?"
"Di sana sedang banyak police yang masih berputar di sana. Makanya kembali lagi ke sini."
"Kamu, kan lebih tua dari dia. Kenapa kamu manut aja, kemana dia pergi, kamu juga ikut. Tidak ada prinsip."
"Iya, karena kami sudah berteman semenjak dia pertama kali bekerja di kedai aceh. Kami sudah melalui tahap susah senang bersama."
"Gitu, ya? Sekarang, terserah kalian mau ke mana. Kalau mau pergi dari sini pergi aja jangan nanggung." Aku masuk ke kamar, merebahkan diri dan memantau keadaan teman-teman dari jauh.
Banyak orang yang melarikan diri ke hutan. Laki-laki dan perempuan bercampur. Di kampung halaman tidak ada pekerjaan tiba di perantauan di perlakukan seperti hewan. Untung aku sudah memakai IC Malaysia mengikuti orangtua yang sudah lama di sini dan memakai IC yang sama.
Tidak terbayangkan bagaimana nasipku hari ini. Apakah sama seperti mereka? Ngumpet sana ngumpet sini, angkut sana angkut sini. Nangis sana nangis sini. Seharusnya kedua gadis itu bersyukur berada di tempat yang aman.
Karina! Apa kabar dia sekarang? Apa dia berada di tempat yang aman? Apa dia sudah menikah sama orang yang sudah menghamilinya? Sudah menjadi mayoritas perempuan Indonesia tiba di sini terjerumus pergaulan bebas.
Ada yang menjual diri dengan orang asing di iming-imingi dengan uang yang tidak seberapa. Katanya tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan mengirim ke kampung.
Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk mereka bekerja tapi banyak alasan mereka harus terjun menjadi tulang punggung diri sendiri dan keluarga. Hidup ini kejam, tidak kerja tidak makan. Tidak ada uang tidak ada saudara. Semuanya hancur. Bukan salah takdir dan merantau nya. Ini sudah resiko kalau mau merantau ya harus siap menanggung resiko ambil hikmahnya aja. Ambil yang baik buang buruknya.
__ADS_1
Next