
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 51
Khaizan
Lelaki di abaikan pasangannya bisa mencari penggantinya. Itu mudah saja tapi mencari yang pas itu yang susah. Satu aura dan satu jiwa entah kemana aku harus mencari wanita yang seperti itu.
Jangan bangga sama kalian yang suka gonta ganti pasangan kalau hanya ingin mencari yang sempurna tidak ada. Kita lelaki di ciptakan lebih dahulu dari tanah dan kemudian barulah perempuan di ciptakan dari tulang rusuk yang bengkok berada di dada kanan dekat hati. Berarti proses penciptaan wanita itu unik memperlakukannya harus dengan perasaan yang lembut setelah dewasa wanita di nikah kan dan melahirkan generasi penerus ayah dan ibu.
Aku sama seperti lelaki lainnya yang tidak becus menjaga wanita. Mungkin kami sudah di kutuk untuk terus menyakiti wanita. Tapi, setelah menghadapi mimpi buruk yang terjadi di dunia nyata aku belajar bahwa karma itu ada. Aku di hasut oleh setan atas izin tuhannya untuk menggoda manusia agar selalu melakukan kerusakan di bumi Allah ini.
Kali ini tidak akan aku biarkan setan-setan itu mengganggu ku lagi. Bumi ini masih menganut paham di mana para korban dan yang di zolimilah yang salah. Aku tidak mau itu terjadi lagi.
"Gimana, Ki? Apa kamu sudah menghubungi cewek yang bersama ku kemaren?" Malam hari sepulang kerja menghubungi rizki yang berada di putra jaya sana.
"Sudah. Tapi, dia cuek banget, aku gak suka." Cuek? Tapi, bagiku dia biasa aja kalau di bandingkan dengan perempuan lain, indri kesannya memang cuek banget.
"Coba aja dulu siapa tahu sreg di hati hehe. Lima tahun di sini dia jomblo terus."
"Coba apanya?"
"Coba mendekati dia masa gak tau."
"Dia kayaknya tertarik sama, lo."
"Iya, gue tau makanya gue deketin kalian berdua."
"Sesekali main lah ke petaling jaya ajak cewek mu."
"Aku gak punya cewek."
Selesai berbicara dengan Rizki hatiku sudah lega mudahan indri nyaman dengannya hingga tidak menggantungkan perasaannya padaku lagi. Ah, wanita kenapa engkau begitu mudah luluh hanya karena kebaikan lelaki yang hanya seujung kuku.
Sekarang fokus ku untuk memperhatikan shifa dari jauh. Heran saya dengan gadis itu, ini sudah tahun ketiga dia di Malaysia ini tidak menunjukkan situasi yang baru dan masih kaku seperti dulu.
Tring, Karina calling.
Ternyata dari karina lagi memang sudah belasan kali perempuan itu menghubungi ku seharian ini. Dia tau waktu yang pas untuk menghubungi ku.
__ADS_1
"Hallo," Sapa ku pada seseorang di seberang sana.
"Zan, seharian ini kamu tidak pernah membalas chat aku. Apa kamu sibuk banget? Gak biasanya kamu seperti ini," Ujar karina dengan suara lesu.
"Kamu lagi? Sudah berapa kali aku bilang gak usah temui aku dulu masih saja kamu lakukan."
"Aku itu sayang banget sama kamu, zan. Kok kamu mengabaikan aku mulu sih."
"Karina ...! Kemarena ku bilang apa? Menjauh lah dariku dulu biarkan kita tenang dulu setelah itu kamu boleh datang lagi."
"Ini sudah dua tahun kamu mengabaikan aku. Awalnya aku kira kamu akan menenangkan diri ternyata kamu sibuk mendekati gadis 3 tahun yang lalu itu."
"Gadis yang mana?"
"Zan, apa salahnya kamu memaafkan aku toh kamu juga melakukan kesalahan. Tidak adil bagiku kesalahanmu tiga tahun yang lalu aku maafkan begitu saja. Tapi, kesalahanku tidak termaafkan sama sekali. Memangnya bagimu perempuan tidak boleh salah? padahal perempuan hanyalah manusia biasa yang tempatnya salah juga. Apa salah nya kita sama-sama intropeksi diri."
"Sudahlah, aku capek mau istirahat. Pulanglah, jaga kesehatan mu baik-baik," Lekas ku matikan sambungan telponnya dan memblokir kontak-kontak karina.
***
Shifa
[Ibu kenapa lagi]
[Ibu sakit kangker seperti yang ibu bilang kemaren, kak. Sekarang ibu benar-benar butuh biaya untuk operasi kalau tidak ada pihak RS tidak akan mengoperasikan ibu sedangkan kita tidak memiliki BPJS ayah tidak punya uang menyuruhku minta ke kakak]
[Mana ibu? Coba sekarang video call aja]
Tidak butuh waktu lama nampak kondisi ibu yang menyedihkan di rumah sakit. Sedangkan ayah dan keluarganya yang lain yang selalu mereka banggakan tidak ada sama sekali. Mana tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga? Jangan bikin putri yang paling ayah benci ini membencimu juga.
[Itu benar ibu? Ayah mana]
[Ayah ngamuk mulu sudah aku usir dari rumah, sekarang ayah sudah pergi tidak tau kemana]
[Kenapa kamu lakukan itu pada ayah? Apakah kamu tidak ingat ayah sangat sayang padamu]
[Habis tega menyuruh ibu bekerja dalam keadaan antara hidup dan mati. Apa gunanya aku sebagai laki-laki tidak bisa menjaga ibu]
__ADS_1
"Ternyata otakmu berfungsi juga, royan," Batin Shifa.
[Jual aja apa yang ada di rumah untuk biaya pengobatan ibu]
[Sudah habis di jual ayah untuk biaya hidup selama ibu sakit]
Entah percaya entah tidak omongan royan. Apa dia hanya membohongi ku untuk minta uang? Padahal umurnya sudah 18 tahun sudah tamat SMA seharusnya sudah bisa bekerja menghidupi diri sendiri dan membantu ekonomi ibu. Tapi, mencari pekerjaan di Negeri sendiri susah banget. Harus memakai ijazah sarjana itu juga harus di imbangi dengan skill.
[Berapa biaya operasi ibu]
[I50 juta kak] 150 juta? Astagfirullahalazim, di mana aku mengambil uang sebanyak itu? Tubuh ini langsung lemas tidak bertulang. Kalau aku kirim uang yang ada, lalu bagaimana dengan masa depanku?
[Jual aja kebun dulu biar pulang dari Malaysia kakak ganti]
[Sudah di gadaikan oleh ayah kak untuk berjudi] Astagfirullahalazim, itu kan tanah satu-satunya warisan untuk ibu mengais rezeki. Lalu bagaimana ayah menjualnya? Apa ibu tau ayah diam-diam menjualnya? Ayah, engkau ini membuatku membenci laki-laki.
[Kapan ayah menjualnya lalu apa uangnya habis semua]
[Sejak dua tahun yang lalu, uangnya sudah habis semua. Barang-barang di rumah juga sudah habis di jual dan dibanting oleh ayah. Ibu jadi stres banget, banyak pikiran hingga drop di bawa ke RS dan dokter memvonis ibu kena kangker payudara]
[Apa ibu menyembunyikan penyakitnya selama ini? Apa ibu tidak pernah mengeluh kesakitan di dadanya karena tidak ada uang untuk berobat]
[Tidak tau kak]
[Keluarga yang lainnya kemana? Apa mereka tidak ada yang mau membantu ibu]
[Katanya tidak ada yang punya uang, kak. 5 juta aja kami meminjamnya tidak ada yang mau ngasih]
Ya, Allah ujian apalagi ini? Aku memang kesal pada mereka tapi aku juga tidak tega melihat ibu kesakitan dan tidak punya uang untuk biaya operasi sedangkan keluarga yang lainnya yang selalu mendengarkan ayah menjelekkan aku tidak ada yang mau membantu.
Ingat dulu mereka sering minjam uang dan bahan makanan pada ibu tapi sekarang tidak ada satupun mereka yang mau membantu kami yang sedangkan kesulitan.
Ingat dulu ayah dan keluarga meminta warisan dari ibu, ibu berikan sampai mengesampingkan biaya sekolahku dan melarangku sekolah. Mereka datang hanya ada maunya aja.
Dari sini aku juga belajar wanita itu harus mandiri walaupun warisan lebih besar jatuh kepada laki-laki karena lebih banyak tanggungannya untuk keluarga, nyatanya, banyak laki-laki tidak bertanggung jawab sama keluarganya.
Walaupun warisan untuk wanita lebih kecil dari pada laki-laki dan wanita di kekang oleh lelaki dan sesama perempuan, tapi para wanita jauh lebih banyak tanggung jawabnya terhadap dirinya sendiri dan keluarga. Aku merasa manusia di bumi memang tidak adil pada perempuan.
__ADS_1
Sekarang, di mana aku harus mencari uang sebanyak itu? Apa aku harus jual diri lagi mengikuti jejak indri?
Next