
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 32
Ah, di balik serial lucu upin ipin ada kisah hidup manusia yang berdarah-darah.
Tiba di toilet bingung bagaimana cara menggunakan toiletnya. Biasanya kerja di toko baju kalau mau ke toilet tidak seperti ini. Apa toilet kilang beda jauh dari toilet umum?
Waktuku sudah mepet bangat. Googling, dapat juga tutorial nya. Setahun di sini, aku masih kuno. Alhamdulillah lega.
"Heh ...! Awak, kat sini dulu!"
[Hai ...! Kamu, ke sini dulu] Security memanggilku menunjuk arah toilet. Lampunya masih warna merah. Lalu, aku harus bagaimana? Waktuku sudah habis.
"Bersihkan sampai lampunya berubah warna!" Ternyata securitynya orang indonesia.
"Iya." Lantainya rapi bangat usahakan baunya sudah tidak ada menurut security lantainya bisa di gunakan untuk sholat. Alhamdulillah lampunya sudah berubah warna.
Mengendap-endap agar tidak ketahuan leader bisa di teriakin sampai telinga pecah. Leadernya masih mengawasi sekitar indri. Tunggu dia pergi baru muncul.
"Alhamdulillah, selamat."
"Pasti kamu bingung menggunakan toiletnya kan?"
"Kok, tau?"
"Udah dua tahun di Malaysia. Ya, tau lah." Satu bulan berlalu ternyata banyak karyawan yang usil tingkat dewa sering menuduh ku yang macam-macam. Tidak akan aku biarkan aku di tuduh lagi. Aku tuduh balik, mereka marah CCTV nya ada. Entah siapa yang memperlihatkannya ke leader. Segitunya untuk mencari simpati leader hingga memfitnah kami.
Sebulan ini aku belum bertemu dengan temannya indri yang membantu kami masuk ke sini. Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya. Hingga gajian. 1200 RM gaji sebesar ini terakhir kali nya bekerja di toko. Gajinya lebih besar dari pada kerja di toko. Aku akan berusaha bekerja dengan baik.
Bulan kedua bekerja sebelum pulang aku di tugaskan mencari sesuatu di gudang. Padahal banyak karyawan lain kenapa harus aku? Aku tidak mau mencari masalah manut aja.
Barang yang di minta tidak kunjung ku temukan apa aku salah dengar? Ku kira gudang itu penuh barang antik, debu, tikus, semut, kecoa, dan lipan ternyata barang-barang yang akan di produksi. Hingga...
Ceklek
Pintunya di kunci karyawan yang masuk pagi sudah pulang. Aku masih terkunci.
__ADS_1
Tok tok tok
"TOLONG BUKAIN PINTUNYA."
tok tok tok
"TOLONG SIAPAPUN YANG MENDENGAR SUARA INI TOLONG BUKAKAN PINTUNYA."
ceklek
Sepertinya ada seseorang yang membuka pintu gudang dari luar ternyata...
"Khaizan...!" Entah kenapa sekuat apapun aku melupakan nama, wajah dan kelakuannya padaku, dia selalu datang di waktu yang tidak tepat. Entah kenapa Khaizan tidak kunjung pergi dari kehidupan ku. Tiba-tiba kepala ini sakit bau aroma parfum yang sama seperti pertama kali bertemu sampai bertemu lagi tidak pernah di ganti.
Dalil dalam Al-Quran dan hadist melarang seorang wanita muslimah memakai parfum karena mengundang syahwat lelaki. Tapi, melupakan lelaki juga memakai parfum yang membuat yang menciumnya sakit kepala tidak ada dalilnya. Aku rasa dalinya selalu tidak adil untuk wanita.
"Kamu... Ngapain di sini?" Khaizan memandangi ku begitu dalam. Apa Khaizan bekerja di sini? Apa Khaizan yang di maksud oleh indri yang membantu kami bekerja di sini? Apa Khaizan yang memberikan bukti CCTV pada leader karena di fitnah terus oleh karyawan lama?
"Tidak mau lama-lama di gudang, indri pasti sudah menungguku lekas keluar tapi pintunya di kunci lagi oleh Khaizan. Apa maunya orang ini? Tidak puas dia sudah menghancurkan ku berkeping-keping di masa lalu?
"Menoleh dulu ke aku baru aku kasih kuncinya!" Drama apalagi ini. Ya, Allah aku takut. Dada ini sesak bangat.
Aku menoleh ke arahnya. Matanya teduh tapi tajam memandang ku. Menurutku Khaizan benar-benar menakutkan. "Aku mau keluar, berikan kuncinya!"
"Sebelum itu, berikan waktu mu aku mau berbicara penting padamu hari ini juga."
"Kepalaku tiba-tiba sakit mencium aroma bajumu. Di luar aja."
"Kamu bohong." Astaga dia memaksaku. Khaizan mengambil dua kursi mungkin satunya untukku. Aku benci situasi yang seperti ini.
"Duduklah." Aku tetap berdiri sampai dia membuka pintu. Mustahil dia bisa mengunciku di gudang keculi kilang ini milik orangtuanya. Khaizan tetap memandanhiku tampa kedip, bagaimana perasaan ku saat ini? Sulit ku jabarkan memakai kata-kata.
"Apa kabarmu selama ini? Kemana aja kamu pergi sebelum mendapatkan pekerjaan? Apa aja perjaannmu dan di mana aja kamu bekerja? Dulu kamu bilang kamu hamil, seharusnya sekarang sudah lahir kemana bagimu?"
Khaizan membrondongku beribu pertanyaan yang susah aku ingat. Aku hanya diam ogah menjawabnya apa peduli nya yang telah membuang aku bagai sampah yang tidak berguna. Sekarang sampah yang telah di buang di ambil oleh orang yang tepat setelah di rawat bentuknya lebih baik di pungut lagi. Aku tidak menyukai orang seperti itu.
__ADS_1
"Shifa Rahmadini kenapa diam? Jawab pertanyaan aku?"
Shifa diam pandangan nya kosong mencari sesuatu yang bisa membuat dia keluar dari gudang.
"Shifa...! Apa kamu mendengar pertanyaan ku?" Khaizan mendekati ku orang ini benar-benar menakutkan untuk orang yang lugu dan polos. Khaizan maju shifa mundur menggeser kan badannya di ikuti Khaizan hingga tubuhnya menyentuh dinding. Khaizan mengunci tubuhnya shifa tidak bisa keluar.
"Shifa ... Jawab aku sekali aja. Apa kamu benar hamil waktu itu? Lalu, di mana bayi itu sekarang?" Jantungku berdetak dengan kencang ingin teriak tapi percuma tidak ada yang dengar.
"Apa peduli mu?"
"Akhirnya kamu berbicara juga. Tentu aku peduli, aku yang membawamu ke sini."
"Kamu memang mmebawaku ke sini. Tapi, kamu tidak ikhlas, kamu minta bayaran yang jauh lebih mahal dari pada harga tiket dan kos satu malam yang tidak seberapa."
Lalu setelah itu kamu membuang aku bagai sampah lalu kamu ingin memungut sampah ini lagi? selera mu rendah." Tidak terima shifa mengumpat nya selera rendah Khaizan mencekik mukanya Shifa.
"Dimana bayi itu?"
Rasa sakit di pipi ini tidak sebanding dengan sakit yang dia toreh dulu. "Bayi siapa?" Aku melepaskan tangan Khaizan semua mungkin tapi tenang a nya lebih kuat.
"Jangan bertele-tele." Pandangan kami terkunci aku tidak berani menatapnya terlalu lama.
"Iya, bayi siapa yang kamu maksud?"
"Bayi kamu." Dulu dia tidak mau mengakui janin yang ku kandung itu benihnya, sekarang dia menanyakannya, entah apa yang di pikirkan lelaki ini.
"Aku tidak punya bayi. Jangan tanyakan lagi di mana bayi itu."
"Apa kamu gugur kan atau keguguran?"
"Pertanyaannya bertele-tele aku tidak pernah hamil dan keguguran."
"Bohong. Apa susahnya jujur aja?"
"Aku sudah jujur sekarang kamu mau apa?" Khaizan melepaskan cengkraman nya merasa frustasi tapi dia harus mengontrol emosinya. Mereka diam cukup lama. Shifa kalau tidak di tanya dia tidak akan berbicara.
__ADS_1
Next