
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 27
POV Author
"Maaf, gan. Ada apa mencari seseorang yang bernama shifa rahmadini?" Wanita itu duduk di depan Khaizan.
"Saya hanya ingin memastikannya aja apa dia baik-baik aja atau tidak. Selama sembilan bulan ini dia menghilang. Tidak di ketahui di mana jejaknya. Orangtuanya di kampung sudah resah dia tidak bisa di hubungi. Maklum hidup sebagai imigran gelap di sini seperti apa."
"Coba lihat fotonya! Soalnya seorang wanita yang bernama sama sempat bekerja di sini selama tiga bulan. Bukankah kemaren akun logo biru atas nama dia sempat viral, ya"
"Oh, ya! Iya, dia itu yang saya cari," Menyodorkan foto seorang wanita memakai outfit berwarna hitam, rambut terurai panjang dan wajah yang sendu. "Apa wajahnya seperti yang di foto ini?"
Wanita yang bernama shinta itu mendekat membuat Khaizan risih. Padahal wanita itu tidak ada maksud apapun. "Iya, iya, benar. Kamu siapa nya dia? Saya kurang percaya cowok seganteng kamu memiliki hubungan dekat dengan gadis di foto ini. "
"Saya sepupu jauhnya di kampung. Kalau boleh tau, setelah tidak lagi bekerja di sini, dia pindah ke mana? Apa pulang kampung apa tetap di Malaysia?"
"Iya ka? Kamu sepupunya? Kok, saudaranya menghilang selama sembilan bulan kok tidak tau? Menunggu viral dulu baru di cari. Kebanyakan saudara seperti itu, ya." Kata-kata tajam yang keluar dari mulut shinta membuat Khaizan jengah. Bisa-bisanya dia berbicara tidak memakai rem.
"Jangan di masukkan ke hati. Dulu, dia pernah bilang, dia kabur dari rumah saudaranya karena merasa tidak cocok. Saudaranya suka numpang hidup memakai uang gajinya tidak pernah di bayar. Makanya dia pergi. Apa, saudaranya yang dia maksud itu kamu? Atau ada yang lain? Kalau saya punya saudara seperti kamu, saya tidak akan pergi. Halal kok di dekati." lagi-lagi kata-katanya membuat Khaizan risih. Khaizan pikir kok bisa dia dan shifa memiliki selera berbohong yang sama.
"Biasa kadang orang itu sensitif apalagi perempuan. Kalau tidak terikat, kalian akan pergi mencari tempat yang aman. Apa kamu tau, kemana shifa pergi? Aku lihat jejaknya sepertinya masih di Malaysia."
"Kemaren kami pernah chat, katanya dia berada di hulu langat, itu aja."
__ADS_1
"Alamat aslinya?"
"Tidak tau, dia suka berpindah-pindah tempat."
"Kalau gitu, terimakasih atas infonya dan maaf, saya telah mengganggu waktu kamu."
"Tidak apa-apa kok. Mudahan ketemu sama saudaranya." Lekas tancap gas, mumpung hari ini hari minggu, dia ingin mencari shifa ke hulu langat. Memeriksa sosial media milik shifa, siapa tau ada jejak. Khaizan lihai mencari jejak, satu persatu menstalking akun-akun yang berteman sama Shifa di Malaysia.
Akhirnya dapat juga sama seseakun dia pernah mengunggah foto sama shifa terakhir kali aktif tiga hari yang lalu. Berarti termasuk jarang aktif.
[Assalamualaikum. Kalau boleh tau, apa kamu kenal denhan shifa rahmadini]
Butuh tiga jam untuk aktif kembali. Menjelanh itu Khaizan mengunjungi semua kos-kosan perempuan
[Aku temannya shifa di kampung dulu. Oh, ya. Apa Shifa sedang bersama Kamu? Di mana kalian tinggal? Aku ingin bertemu shifa]
[Temannya shifa! Setahu aku shifa punya teman lelaki tapi dia di indonesia bukan di Malaysia. Maaf, aku tanya lagi, ini siapa ny shifa]
[Temannya shifakan tidak cuma satu. Oh, ya, kalian di mana? Aku ingin bertemu shifa ada pesan dari orangtuanya untukku.]
[Kami sedang berada di perumahan xxx]
[Boleh gak, ajak shifa bertemu di Batu caves malam nanti jam 19.00]
__ADS_1
[Tunggu aku tanya shifa dulu. Kalau dia tidak mau gak jadi, ya. Atau kamu chat aja dia. Aku takut ini penipuan]
[Bujuk dia agar mau ini penting bangat. Aku chat dia tidak pernah di balas. Tenang aja ini bukan penipuan. Coba kamu lihat Facebook ku dari awal sampai akhir dan juga, cepat hapus pesan ini. Jangan kasih tau Shifa dan jangan sampai shifa tau]
[Ku coba dulu]
***
[Shifa mau ku ajak keluar malam ini. Kamu menunggu di mana?]
[Alhamdulillah. Di bukit kapur, kita bertemu di kuil hindu]
[Iya] Tidak butuh waktu lama untuk mengajak Shifa datang ke batu caves. "Shifa, sebentar lagi, kita bertemu lagi. Dulu, kita sudah pergi ke sini. Ini kali keduanya kita menginjakkan kaki di Isni. Aku ingin tau, kabarmu setelah kita tidak bertemu lagi dan tentang bayi itu. Apa iti bayi kita apa bukan." Batin Khaizan.
Ramainya tempat wisata ini entah kenapa semua gadis terlihat mirip seperti dua orang tadi, ada apa denganku? Dari jauh mata ini memandang sepertinya ada dua orang gadis yang sedang menuju ke 1000 tangga ini. Mereka memakai masker hingga wajahnya tidak ku kenal sama sekali.
Tapi, ada satu di antaranya yang melihat kiri kanan, depan belakang dan tujuan utamanya ke 1000 tangga. Sedangkan yang satunya lagi pandangan kosong seperti ada yang dia pikirkan. Tentu saja karena tempat ini ada sebuah kisah romansa yang masih melekat di pikirannya. Mungkin mereka orangnya.
Dulu, setelah pulang dari batu caves menuju kuala lumpur aku membawanya karaoke, di sanalah petaka itu mulai. Aku tau, waktu itu hatinya hancur berkeping-keping.
Aku perhatikan dia semakin lama semakin cantik, bersih dan cerah. Wajahnya berseri seperti tidak ada beban. Dia seperti berusaha melupakan semua masa lalunya dan fokus untuk masa depan yang cerah. Nasip mereka di sini juga terlihat baik-baik aja. Tapi, selama kami tidak bertemu lagi, tidak tau apa mereka baik-baik aja atau bukan. Aku pengen tau semuanya tentang mereka bagaimana kehidupannya selama di sini. Bagaimana mereka bisa bertemu dan akrab seperti ini, Bagaimana cara mereka hidup di Negara ini yang tidak mudah.
Next.
__ADS_1