TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Aku melindungi mu


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri jiran 35


"Ini kamar kalian." Ternyata ini kamar yang sempat ku huni selama dua hari dulu.


"Kalau kalian mau makan, masak aja. Di kulkas bahannya sudah lengkap." Kayaknya Khaizan ini orang yang berada. Kira-kira berapa ya gajinya perbulan? 1500RM? atau 2000RM? Sepertinya boros banget. Walaupun sudah di porotin oleh Karina uangnya tidak pernah habis.


"Iya." Rasa ngantuk yang melanda, aku langsung mencuci pintu dan tidur. Ah, tidak. Tidak boleh tidur, sebentar lagi akan pergi kerja.


"Indri...! Kalau kamu keluar, kunci pintu, ya!"


"Tenang aja."


"Ini kopi buat mu." Indri mengantar kopi panas, semenjak di Malaysia, aku jadi suka meminum yang berwarna. "Kita begadang sampai pagi."


"Tidurlah, kalian nganggur dulu. Kalian harus berada di rumah sampai situasinya sudah aman." Apa Khaizan bisa meramal? Aku belum mendengar ada imigran gelap yang di tangkap.


"Lalu pekerjaan kami?"


"Nanti di pikirkan." Pagi-pagi terdengar keributan. Jam menunjukkan pukul 10.00 waktu Malaysia. Tidak ku temui Khaizan. Indri sedang menonton televisi. Dapur sudah lengkap dengan makanan, lekas membersihkan diri dan makan di depan TV.


"Ada acara apa?"


"Lihat!" Astagfirullah, berita tentang ribuan TKI ilegal di tangkap. Mereka di angkut memakai truk seperti mengangkut sapi. Ada yang pasrah, menangis dan melawan. Tidak sedikit yang mendapat kekerasan.


Dari media Indonesia ku lihat banyak juga yang melarikan diri ke hutan. Lelaki dan perempuan bercampur. Gawat nih.


Kasihan bangat melihatnya di hutan pasti kelaparan. Apalagi lelaki, apa dia akan menerkam perempuan begitu aja.


Di kantor police banyak yang menangis minta bantu kesana kemari tapi tidak di acuhkan police ada juga yang diam tidak menangis sama sekali.


"Fa ...! Khaizan berpesan kita jangan keluar. Lihat, police memeriksa kontrakan kita. Bagi yang dokumen nya tidak lengkap mereka di bawa."

__ADS_1


"Untung kita keluar dari sana. Apa kamu yakin di sini kita aman?"


"Doain aja."


"Fa .... Kamu jangan jutek banget sama Khaizan. Aku yang gak enak, aku ini sebenarnya ikut kalian. Tapi, kalau cuek seperti ini Khaizan bilang dia jengah tauk."


"Kalau gak suka sama aku kenapa bawa aku ke sini? Biarkan kamu yang pergi sendiri biarkan aku yang menanggung resikonya sendiri. Atau hari ini juga aku pergi dari sini."


Setelah makan aku keluar tidak kupikir kan resikonya di tangkap, di bui dan di pulang kan. Hari ini TKI sedang menangis. Mereka melakukan segala cara untuk bebas aku malah ingin menyerahkan diri begitu saja


"Shifa ...! Kamu mau kemana? Jangan keluar sebelum situasinya aman." Indri mengejar ku persis seperti anak mengejar ibunya.


Aku berhenti "Hari ini moodku sedang kacau. Biarkan aku pergi."


"Tapi kemana? jangan kayak anak kecil gini dikit-dikit ngambek."


"Apa kamu menyukai Khaizan? Aku lihat kamu terlalu membela dia. Kalau kamu menyukainya suka aja jangan libatkan aku. Aku di sini sudah di usir, sudah di usir dan sudah di usir cukup tiga kali dalam hari ini aku membilangnya padamu."


"Kok kamu jadi kasar sekarang? Biasanya kamu gak kayak gini. Aku gak ada perasaan apapun sama Khaizan. Sebagai gadis normal aku memang memaguminya itu aja." Sudah ku duga Indri menyukainya. Tapi, perasaan ini tidak menentu. Mengingat Khaizan jengah dengan sikapku itu ulah nya. Aku nekat ingin pergi dari sini.


"Udah, ya! Aku mau ke hulu langat dulu." Aku pergi, ku tinggalkan indri yang sedang bingung sekarang. "Oh, ya, ndri! Kita harus mandiri jangan tergantung sama siapapun biarkan dunia bilang kita tidak bergaul aku tidak peduli. Ada Allah di sisi kita. Aku tidak mau ada hutang budi sekian kalinya pada orang lain. Aku capek banget, aku capek."


"Shifa ... Maafkan aku. Kita memang harus mandiri. Jadi, kita ke kontrakan sekarang?"


"Iya."


"Ayok lah. Aku ambil tas dulu" Mengendap-endap pergi dari sini seperti pencuri. Mobil police yang lalu lalang tidak kunjung habis. Kami harus bersembunyi di bawah selokan untuk tidak ada lumpurnya.


Taxi


Naik taksi bukanlah hal yang tepat. Setiap lampu merah, police memeriksa taxi. Apa mungkin nasip kami hanya sampai di sini?

__ADS_1


Taxi membawa kami memasuki jalan tikus 1 jam 50 menit sampai pada tujuan. Perasaan malam tadi 4 jam baru sampai entah jalan mana yang Khaizan tempuh.


Astagfirullah ternyata mereka masih ada gimana ini? Jantung ini dag dig dug. Mukanya indri pucat pasi. Mereka masih menggeledah tempat tinggal kami. Lalu mobil berputar lago entah kemana.


"Pak cik! Bawa kami ke tempat semula kembali."


"Iya."


"Wah, sopirnya orang Indonesia?"


"Iya."


"Kalian kerja di mana?"


"Kilang."


"Fa...! Kita kembali ke sana?"


"Terpaksa." Sepanjang jalan melihat mobil police lalu lalang mengakut para pendatang gelap. Ngeri bangat gak kebanyang bagaimana jadinya aku berada di sana. Mobil taksi pun tak lupa menjadi target police. Untung sopir bisa mencari jalan pintas. Sebenarnya mereka ada di mana-mana. Mungkin masih rezeki kami lolos.


Dua jam berlalu sudah sampai di kuala lumpur. Tidak masalah argo taksi mahal yang penting selamat sampai tujuan. Di rumah sudah ada Khaizan duduk di ruang tamu. Di temani ponsel, secangkir kopi, dan cemilan.


"Dari mana kalian?" Khaizan bertanya tampa memandang kami. Aku dan indri saling pandang. Aku merasa sedang di interogasi orangtua sendiri.


"Kami keluar sebentar?"


"Kemana aja? Apa kalian gak ingat pesan saya?"


"Ingat kok. Maaf, ya! Zan. Sudah membuatmu kepikiran." Gak peduli apa yang mereka obrolkan, aku lekas masuk kamar dan merebahkan diri. Sampai kapan aku tinggal di sini? Aku takut melihat Khaizan akan jatuh cinta kedua kalinya pada dia. Di satu sisi benci, di satu sisi cinta. Aku benci posisi itu.


Memandangi langit-langit kamar pikiran ini traveling ke mana-mana. Kalau seperti ini terus entah sampai kapan bisa bertahan di sini. Aku tidak mau pulang dengan tangan kosong. Akan banyak caci maki dari ayah dan ibu. Aku tidak mau itu terjadi, walaupun sukses nanti aku juga tidak pulang, tidak apa-apa. Aku perempuan sudah besar ujungnya aku juga meninggalkan rumah dan orangtua.

__ADS_1


Next


__ADS_2