TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Maaf untuk Ayah dan Ibu


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 18


Di cari orangtua


No. Asing calling


Pagi ini aku ada nomor asing yang menghubungi ku, sepertinya dari Indonesia. Aku angkat dia matikan. Apa ini dari Meyra, seharusnya hubungi aja lewat whatsapp. Sudah lama tidak kontak dengan anak itu. Lihat sosial media nya dia mengunggah aktifitasnya di kampus. Hubungannya dengan daffa sepertinya misterius hanya ada satu foto mereka berdua di aplikasi logo birunya.


No. Asing calling


Lagi nomor itu menghubungi ku, di angkat di matikan lagi. Aku memutuskan menghubungi nomor itu walaupun mahal siapa tau penting.


"Hallo!"


"Shifa! Ini kamu! Ibu dengar kamu di Malaysia sekarang? Kalau gitu, kirimkan gajimu semuanya pada ibu! Kamu rajin-rajin bekerja bantu ayah dan ibu merenovasi rumah peninggalan nenek, ya!"


6 bulan ini tidak pernah kontak dengan ibu. Telpon tidak di angkat, SMS tidak di balas. Sekarang sudah tau aku di Malaysia, bukannya menanyakan kabar, sama siapa ke sini, pekerjaannya apa malah langsung ke poinnya meminta uang. Semakin yakin aku bukan anak kandung ibu.


"Shifa! Kok diam! Mau, ya! Bantu ibu merenovasi rumah nenek!" Rumah yang di tempat itu rumah ibunya ayah. Ayah masih memiliki saudara lain yang suatu saat akan menempati rumah itu kembali. Karena nenek belum membagi warisan.


"Ibu tidak menayakan kabar aku?"


"Ah, iya, ibu lupa. Apa kabar kamu?"

__ADS_1


"Kabar ku baik. Kabar ibu dan semuanya?" Ibu tidak tau perjalanan ku selama 6 bulan ini seperti apa. Sampai hamil dan ke guguran. "Ibu menghubungi ku hanya untuk minta uang?"


"Kok, kamu jawab nya gitu? Kamu kan anak kami, sudah sepantasnya kamu membalas jasa karena telah membesarkan kamu. Sebagai anak yang baik bayar lah jasa orang tua walaupun orangtua tidak minta. Kasihan kan orangtua juga pengen mencicipi jerih payah anaknya."


"Kenapa baru sekarang menghubungi ku?"


"Karena kamu pergi sama sekali tidak minta izin pada ibu. Kamu juga sudah mengambil semua tanaman Ibu di kebun pasti kamu mengambil biaya dari sana kan? Nah, sekarang ibu minta ganti tanaman ibu yang sudah kamu ambil itu rencananya untuk merenovasi rumah."


Aku sering mengambil tanaman ibu untuk karena untuk membayar uang sekolah dan les sore menjelang UN. Aku minta baik-baik selalu marah, kadang aku merasa tidak memiliki orangtua kandung, kalau punya kenapa mereka tidak bertanggung jawab. Terakhir aku mengambilnya untuk biaya hidup di perantauan karena tidak tahan di jadikan babu gratis dan di bentak-bentak mulu tidak tau apa salahnya. Seperti ini orangtua yang tidak berpendidikan, selalu semena-mena tanpa sebab sama anaknya. Tapi, tidak semuanya tergantung orangnya juga.


"Apakah itu rumah sudah di bagi? Nenek masih ada kan, Bu! Oh, ya, setahu aku anak yang wajib memberi nafkah berupa materi pada ibu itu anak laki-laki bukan anak perempuan. Ibu punya anak laki-laki, kan? Kecuali anak perempuannya bekerja punya gaji puluhan juta. Sedangkan gajiku tidak seberapa hanya cukup untuk makan, bayar kos dan biaya hidup di sini. Ibu paham!"


Hanya gara-gara ini mau tidak mau seorang anak perempuan menggadaikan diri nya pada lelaki hidung belang karena tuntutan hidup. Kadang orang tua tidak mengerti kondisi anak-anaknya. Pekerjaan kadang ada kadang tidak, gajinya kadang tidak cukup berani bangat meminta akhirnya anaknya jatuh ke jurang dosa dan menelantarkan istri dan anak. Istri yang di tuntut untuk sabar. Dunia ini memang tidak adil pada perempuan dan anak-anak.


"Kok kamu ngomong gitu? Yang namanya anak wajib berbakti pada orangtua yang telah melahirkannya. Baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Kamu juga tidak lahir dari rahim ular. Apa salahnya sih bantu ayah dan ibu jangan hitung-hitungan nanti gajinya tidak berkah."


Aku tanya sama ibu, aku ini anak siapa? Kalau aku anak kandung kalian, kenapa kalian memperlakukan ku seperti anak pungut? Kalau aku anak pungut, kok tega kalian memperlakukan kau tidak manusiawi?"


"Kok ngomongnya makin ngelantur? Kan, ibu sudah bilang, kamu itu anak kandung kami, bukan anak orang lain, kamu ini tidak bersyukur sama sekali menjadi orang. Masih untung kamu hidup baik-baik aja. Sering-seringlah lihat ke bawah banyak orang yang jauh tidak seberuntung mu. Hatimu itu busuk bangat mengertilah kehidupan kita itu seperti apa!"


Sudah kurang bertanggung jawab, sekarang bilang aku busuk hati dan tidak bertanggung jawab. Aku yakin, pikiran ayah dan ibu sudah oleng.


"Siapa? Sudah tau Shifa berada di mana? Serahkan HP nya ke sini!" Terdengar suara laki-laki paruh baya sepertinya ayah. Ku matikan ponsel dan blokir nomornya. Aku tidak mau ribut sama mereka makin membuat kesehatan ku menurun habis kuret mengeluarkan darah kotor dan membersihkan

__ADS_1


"Siapa, Shifa?"


"Orang rumah."


"Udah ngomongnya?"


"Udah, sesekali menelpon tidak mengucap salam, tidak menanyakan kabat langsung pada intinya minta uang. Kalau begini bisa-bisa aku mengikuti jejak mu."


"Kamu bilang gak usah terlalu menuruti kata-kata mereka, nanti kita juga yang rugi. Nasip kita memang sama bangat. Punya orangtua kurang bertanggung jawab dan mata duitan."


***


Sehari ini sudah lebih 100 kali nomor yang sama menghubungi ku. Mereka mungkin kebingungan hendak menghubungi ku lewat siapa. Meyra jadi sasaran ibu. Meyra menyuruh aku menghubungi orang rumah aku bilang tidak bisa menghubungi nya setiap saat karena sibuk bekerja.


[Shifa! Kamu di cariin, emakmu. Katanya, kamu tidak pernah menghubungi dan mengangkat telponnya]


[Barusan kami ngobrol panjang lebar, baru pertama kali mereka menghubungi ku langsung minta duit]


[Kasih aja semampu mu kapan lagi anak perempuan berbakti pada orangtua nya]


[Minta nya semuanya, sudah ku kirim sebagian]


Indri dan Meyra, untung aku punya teman yang pengertian. Karena teman yang perhatian itu sudah pernah berada di posisi yang sama dengan ku. Kami saling support Kalau sebaliknya mereka abai aja terhadap keluh kesah kita tidak bisa di ajak curhat tidak nyambung.

__ADS_1


Ibu, maaf. Aku hanya bisa mengirim uang semampu ku. Maaf aku harus memblokir nomor ibu ini untuk ke selamatanku juga. Sebagai Ibu, harusnya mengerti keadaan anaknya. Ibu, aku ini perempuan. Pekerjaanku hanya pramusaji yanh gajinya tidak seberapa. Masih untung aku selamat dan bisa bekerja dengan baik. Seandainya aku di tangkap, kalian akan melupakanmu lagi.


Ayah, maaf. Awal permasalahan dalam hidupku karena ayah, gagal menjadi ayah yang bertanggung jawab. Hingga aku dan Ibu jadi korban ke egoisanmu. Aku tidak akan dendam tapi luka ini masih membekas sampai sekarang.


__ADS_2