
Terbelenggu Cinta di Negari Jiran 60
"Ada apa kok kalian tidak jadi kerja di sana?" Baru saja bernafas dengan lega kami di kejutkan dengan sebuah suara yang sudah di kenal. Siapa lagi kalau bukan Khaizan.
"Khaizan, maaf, ya Khaizan. Kami tidak mau bekerja di tempat itu. Banyak aura negatif nya."
"Aura negatif yang kayak gimana?"
"Pokoknya tidak nyaman banget. Kami akan mencari pekerjaan yang tidak ada orang asing nya."
"Kemana kalian akan mencarinya?"
"Tenang aja pasti dapat kok."
"Kapan kalian akan mencarinya? Hati-hati aja jangan sampai di tangkap."
"Insyaallah. Kamu tidak kerja?"
"Masuk malam."
"Oh, iya."
3 hari mengelilingi kota ini dapat juga pekerjaan seperti yang kamu ingin kan. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru bekerja di restoran bisa sambil belajar memasak juga. Pekerjaan di lakukan dengan cepat, harus benar-benar bersih dan kinclong. Setiap menyapu, mengepel dan mengelap meja, kalau selagi ada debunya selagi itu pula atasan menyuruh mengulanginya.
"Masih berdebu. Ulangi!"
"Iya, bu." Belum apa-apa sudah banyak mengeluh. Mereka tidak peduli apa kita orang baru yang butuh trainee dulu kalau sudah di terima harus bisa bekerja seperti yang sudah lama. Apa kembali ke kedai aceh aja? Dulu karyawan di sana tidak seperti karyawan di tempat lain. Aku akan mencoba bekerja dengan baik.
Fokus bekerja agar tidak di tegur oleh atasan. Ternyata setiap harinya Khaizan datang bersama teman-temannya meramaikan restoran ini menjadi pemandangan indah oleh karyawan lain terutama bagi mereka yang gadis-gadis.
Mereka berbisik-bisik seperti melihat aktor, penyanyi dan mantan idol kpop EXO, Kris wu atau nama aslinya wu yi fan. Mereka meminta foto dan kontaknya. Aku di sini yang kepanasan melihatnya. Tapi, ada seseorang yang menodai mataku.
Seorang wanita datang menyapa Khaizan dan menyuruhnya pergi dari restoran. Awalnya tidak mau tapi di tertawakan teman-temannya mereka pergi begitu saja.
__ADS_1
Karina, gadis itu lagi yang datang. Sampai sebulan lamanya dia tidak datang aku sering melamun dan tidak mendengar orang memanggilku. Sering pula di jadikan robot oleh karyawan lain dan bos sendiri. Mereka tidak peduli aku banyak pekerjaan, banyak permintaan dari pelanggan. Di belakang, bos istri, anak dan menantunya berteriak memanggilku dan di depan karyawan lain dan pelanggan yang berteriak.
"Shifa .... Bawa pesanan ini ke meja yang sudah di tulis semuanya! Cepat jangan lelet." ujar ibu bos.
"Iya, bu." Aku mencari pekerjaan yang tidak ada orang asing nya termasuk pemiliknya ternyata sama aja.
"Shifa! Sapu dan pel lagi lantainya." Ujar menantu perempuan bos.
"Iya." Pada saat aku menyapu lantainya pelanggan masuk dan tidak memakai etika sama sekali. Sampah yang sudah aku kumpulkan di injak dan di tendang lagi. Atasan mendesak ku untuk cepat dan mengulangi pekerjaan ku dari awal sampai sembilan laki di depan orang banyak. Akhirnya dia mengadu pada bos dan aku di marahi lagi.
"Kamu bisa kerja gak sih? Menyapu sama ngepel aja tidak becus." ujar anak perempuan bos. Ya, Allah sudah berapa kali aku mengulangi pekerjaan yang sama di sela kesibukan yang padat tidak ada yang membantuku.
"Bisa, Bu." Jam sudah menunjukkan pukul satu siang sudah saatnya istirahat. Indri merasakan capeknya seperti ku. Indri mencuci piring dan aku menjadi pramusaji sekaligus pelayannya.
"Shifa, ambil piring-piring kotor dan bawa ke belakang biar di cuci sama indri." ujar anak lelaki bos.
"Iya, bang."
Gajinya lebih rendah dari perusahaan lain. Membawa piring sedikit di marahi, di bawa banyak-banyak perutku terasa sakit banget. Indri juga merasakan hal yang sama. Apa berhenti lagi dan kembali ke kilang lama?
"Dik, kami memesan jus buah naga dan teh obeng."
"Iya, bu." Kebelakang membawa kertas yang sudah di tulis dan memberikannya pada bu bos yang sedang membuat jus. Hari ini ramai banget maklum menjelang akhir tahun.
"Jus terus. Anak haram ini."
Duar, jantungku berdetak lebih kencang dari pada di razia polisi. Apa tidak bisa orang ini berbicara yang baik-baik aja. Kata-katanya sungguh tidak beradab. Seharian ini lebuh dari selusin kali ibu bos ini menguncap sumpah serapah dan isi kebun binatang pada orang lain tapi tidak di tegur suaminya.
"Jus terus? Orangkan mau bel jus. Kalau tidak ada yang beli buah yang ku beli busuk aja," ujar anak bos yang laki-laki.
Aku hanya diam aja membebaskan mereka berbicara apa saja yang dia mau. Kakiku ini terasa berat banget. Duduk sebentar sambil meremas dada ini sakit banget ya allah. Orang lalu lalang aja tidak tau apa yang orang minta. Aku bukan anak haram, tidak ada orang yang bilang aku seperti itu selain bos yang perempuan ini. Aku anak SAH, nasabku juga bagus.
"Ada apa, Bu!"
__ADS_1
"Tadi, aku meminta jus mangga tapi belum di antar sampai sekarang."
"Sama siapa pesannya?"
"Sama dia." Ada apa itu? Kok, orang itu memandanhiku dengan tatapan tajam seperti itu? OH, DIA ITU BISU DAN TULI TU. Maaf, ya bu."
Deg
Kasarnya bos kami yang lelaki ini menyebutku bisu dan tuli padahal pekerjaan dari pagi sampai malam ini tidak ada habisnya. Bos yang ini memang jarang berbicara tapi sekali berbicara mulutnya berbisa seperti ular dan keras seperti petir. Tak terasa air mataku keluar begitu saja. Indri yang melihatku dari jauh iba melihatku.
Pasangan suami istri ini sama aja sangat tidak beradab.
Pelanggan dan karyawan lain itu ikut memandang ku dengan tatapan yang sama. Karyawan lain malam tidak ada yang peduli dan tertawa melihatku. Mereka yang suka menunda pekerjaan, bekerja tidak selesai dan suka memerintahku seenak hati pekerjaan aku yang tinggal, bos memarahiku Habi-habisan sedangkan mereka diam aja. Keterlaluan mereka. Tapi, bos tidak berani menegur mereka malah menegur aku.
Tidak mau kalah aku ke belakang dan menyuruh karyawan lain membuat jus untuk mereka. Karyawannya tidak menanggapi aku. "Maaf, ya, bu. Saya lupa ibu meminta jus pada aku sebab aku tidak afa di tempat." Pelanggan itu memalingkan muka dan pergi begitu saja. Aku merasa tidak enak sama semuanya.
"Indri! Kamu sibuk gak? Bantu aku bikin jus, ya!" Untung indri mengerti dan membuat pesanan pelanggan. Karyawan lain malah mengunjing kami.
Tetap melakukan pekerjaan seperti biasa
PRANK
Piring dan gelas yang ku bawa jatuh berserakan di mana-maan dan masuk ke tas pelanggan. Astagfirullahalazim. Aku harus bagaimana?
Lekas ku ambil sarung tangan agar tidak terluka bos mendatangiku.
"Ada apa ini?" Bos yang laki-laki datang bersama karyawan emasnya yang suka berlagak seperti bos. Di susul oleh istri dan anaknya.
"Kamu lagi? SELAMA BEKERJA DI SINI KAMU TIDAK PERNAH BISA BEKRJA DENGAN BAIK. SEKARNG KAMU JATUHKAN PIRING DAN GELAS INI YANG HARGANYA TIDAK SEBANDING DENGAN GAJIMU SEBULAN. SEKARANG PUNGUT PECAHAN BELING ITU SETELAH ITU KAMU PULANG TIDAK BOLEH BEKERJA DISINI LAGI."
Sepasang suami istri ini meneriaki ku di depan orang banyak. Mereka memotret dan mengambil videoku. aku malu banget. Air mataku keluar dengan deras.
"Ada apa ini? Kenal teriak-teriak?"
__ADS_1