
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 47
"Indri kemana lagi, pergi kok gak bilang-bilang," Stelah indri izin ke toilet sebenarnya aku ingin ikut tapi Khaizan menarik tanganku dan duduk mengahadapnya. Mata kami beradu pandang benar-benar 100% mirip aktor dan penyanyi kris wu.
"Tenang aja, indri tidak kemana-mana kok." Aku tersentak dari lamunanku ada apa dengan diri ini?
"Jangan-jangan kamu yang menyuruh indri pergi?"
"Iya, tapi dia ada di sekitar sini kok. Tenang aja jangan takut," Takut apanya? Mungkin dia pikir aku cemas duduk berdua dengannya.
"Ada apa lagi."
"Hm, ini sudah tahun ketiganya kamu di Malaysia. Apa kamu tidak ingin pulang dalam waktu dekat ini?" Aku menoleh kiri kanan sedang memikirkan sesuatu apa sudah saatnya aku pulang apa tetap di sini selama dua tahun lagi. Tapi, aku merasa di desak umur.
Kembali menormalkan perasan. "Pulang? Kayaknya belum. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Ada apa tuh?"
Khaizan menyeruput kopi dan meminumnya. Meletakkan kembali ke tempat semula. "Nanya aja. Setelah pulang nanti, kamu mau kemana?"
"Belum tau. Kayaknya aku mau melanjutkan pendidikan ku yang sempat tertunda itu."
"Apa selama di sini kamu punya pacar atau sedang dekat sama seseorang?"
Pertanyaannya, Apa Khaizan tertarik padaku setelah apa yang dia lakukan di masa lalu?
"Kenapa nanya itu?"
"Ah, tidak kok. Nanya aja gak boleh?"
"Iya, boleh aja," Suasana saat ini canggung banget. Aku lihat sekitar ini mereka tidak ada yang melihat ke arah kami, mereka abai terhadap sekitarnya.
"Begini, Fa! Waktu di kampung dulu, bagaimana dengan cinta pertama mu?"
DEG Cinta pertama? Kayaknya pertanyaannya sudah melebar kemana-mana. Apa kami tidak sedang berkencan?
"Cinta pertama? Cinta pertama ku orangnya baik tapi cuek, banyak orang yang menyukainya tapi dia tidak peka. Ya, seperti orang introvert itu suka menyendiri dia berbaur hanya ada acara aja setelah itu dia menyendiri lagi."
"Setelah itu apa kamu pernah berpacaran dengannya?"
"Tidak kok."
"Apa cintamu bertepuk sebelah tangan?"
"Awalnya tidak, dia pernah mengungkapkan perasaannya tapi akunya yang tidak peka. Setelah dia menjauh baru aku sadar dia pernah menyukaiku aku juga menyukainya itu saja."
__ADS_1
"Cinta keduamu?"
"Cinta kedua? Sampai sekarang belum ada cinta kedua."
"Apa kamu sudah move on dari cinta pertama mu?"
"Move on? Aku memendam perasaan selama tujuh tahun. Setelah itu aku sudah benar-benar lupa dengannya."
"Sejak kapan tuh?"
"Sejak kelas dua SMP."
"Tujuh tahun sejak kelas dua SMP berarti kamu baru move on sama dia, ya?"
"Sudah sejak satu tahun yang lalu."
"Apa benar setelah tiba di Malaysia ini kamu belum pernah menyukai seseorang? Teman kerja gitu?"
"Kalau menyukai seseorang sih ada tapi biasa aja hanya sebatas kagum tidak pernah lebih dari itu," Khaizan mengeluarkan ponselnya, aku lihat seperti membuka galeri dan menyodorkan beberapa foto idol.
"Di antara foto yang ini yang mana biasmu?" Kenapa pula Khaizan menanyakan bias ku di idol kpop?
"Bias aku yang nomor satu, tiga, sama tujuh."
"Aku menyukai bias yang menurutku introvert, totalitas, calm dan manis, fisiknya masuk tipe aku."
"Fisiknya gimana?"
"Agak berisi gak terlalu kurus enggak gemuk juga. Enggak terlalu tinggi juga enggak pendek."
"Seleramu tinggi juga, ya?"
"Iya."
"Kalau ini?"
"Aktor kris wu? Aku menyukainya banget. Ini kan bias keduaku di EXO setelah Kai. Bias pertama selebritis china aku dia." Khaizan menyimpan kembali ponselnya.
"Kamu menyukai orang yang totalitas dan teduh di pandang tapi tajam menusuk. Aku ngerti seleramu."
"Kenapa kamu menyodorkan foto Idol padaku? Pembahasan kita lain dari yang mereka bahas."
"Kenapa? Dari sini aku bisa menebak karakter mu?"
__ADS_1
"Memangnya karakter ku seperti apa?"
"Ada deh. Udah lupakanlah. Oh, ya, minumlah jusnya. Tidak ada racunnya kok," Padahal aku yang lebih dulu memesan minuman ini. Apa dia masih berpikir aku menyangka di jus ini ada racunnya? Aku tidak menyukai jus jadi aku cicip sedikit aja rasanya asam banget.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai jus?"
"Suka kok hanya saja rasanya seperti jus buah mangga muda." Ku letakkan jus tadi dan melihat ke kiri kanan depan belakang entah di mana indri berada. Apa dia nyaman bermain sendiri? Padahal dia yang mengajak ku ke sini? Aku yakin banget mereka sengaja janjian karena Khaizan ingin bertemu denganku.
Melihat ku Khaizan ikut mengecek ponselnya. "Tenang aja temanmu sudah ku suruh pulang. Dia percaya padaku tidak macam-macam padamu kok."
"Kamu siapa nya indri? Kok, enteng banget kamu menyuruhnya datang dan pergi sesuka hati."
"Kita hanya berteman biasa. Apa kamu tidak ada niat untuk menjalin hubungan dengan seseorang?"
"Belum, aku hanya menunggu orang yang tepat datang padaku setelah aku tamat kuliah nanti."
"Menunggu orang yang tepat kan perlu di cari juga, di jalani dan di seleksi mana yang lebih baik yang mau berkomitmen padamu. Tidak sembarangan menerimanya juga perlu di lihat bibit, bebet dan bobot orang itu."
"Itu sih nanti kalau di cari sekarang takutnya aku tidak jadi menjemput mimpiku. Aku yakin kok kalau jodoh pasti akan bertemu, entah kapan itu aku tidak tau, aku pasrah aja sama yang mahakuasa."
Hening
Kami terdiam beberapa saat dan orang-orang di cafe ini memperhatikan menoleh ke kami. Aku yang melihatnya jadi risih.
"Ayok, kita keluar dari cafe ini! Aku sudah bayar pesanan kalian," Khaizan berdiri dan mengambil semua barang-barangnya, aku hanya melongo memperhatikan nya.
"Ayok, kumpukan barang mu jangan sampai ketinggalan," Aku mengekor Khaizan dari belakang. Khaizan berusaha mengait tanganku, aku tambah risih di buatnya dan orang-orang ikut memperhatikan kami. Aku tidak suka di pegang.
"Aku mau pulang dulu," Baru satu langkah Khaizan sudah menarik tanganku.
"Biar aku antarkan kamu pulang."
"Tidak usah," Aku melepaskan tangan Khaizan dan pergi meninggalkannya begitu saja. "Bahaya perempuan jalan sendiri."
"Bodo amat, dulu kamu juga meninggalkan aku sendiri dan kamu bilang aku harus mandiri tampa bergantung sama siapapun."
Tapi, Khaizan mengikutiku. "Shifa, jangan keras kepala."
"Apa lagi sih? Aku rasa belum jam dua belas malam," Aku berusaha pergi dari hadapannya. Tapi, dia lagi-lagi menghalangi ku.
"Shifa, kamu kok keras banget di bilangin?" Tanpa membalas ucapannya aku lekas menyetop taksi dan pulang. Sebenarnya ada getaran aneh di dada ini. Di satu sisi aku benci padanya, di satu sisi aku tertarik padanya, di satu sisi lagi ada wanita lain di sampingnya. Apa yang harus aku lakukan?
Next
__ADS_1