TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Hitam di atas putih


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 80


***


Selama tujuh hari kematiannya dan tidak bolong semalam pun aku menghadiri tahlilan. Setelah itu Khaizan mengajakku berbicara.


"Susah pula menjadikan Haura dan saudaranya menjadi jodoku. Kakaknya sudah menikah dan sudah beranak dua. Adik dan sepupunya laki-laki."


Aku tau jalan ceritanya ini kemana aku tidak mau terjebak ucapannya.


"Apa Haura pernah berbicara sesuatu yang mencurigakan padamu?"


"Tidak pernah, tuh."


"Setelah kalian pulang dari butik, Haura memberikan undangan padaku. Lalu kami membahas tentang surga dan neraka katanya sebelum dia harus minta maaf sama orangtua dan saudaranya agar bisa menuju ke surga dengan tenang. Dia tidak bukan akan kesana bersama suaminya. Dia bilang setelah minta maaf gitu."


"Mungkin itu kata-kata terakhir yang tidak dia sadari menjadi firasat bahwa harus meninggalak dunia ini tanpa pernikahan."


"Mungkin juga."


***


100 hari kepergian Haura Khaizan kembali mengutarakan perasaannya padaku. Untuk laki-laki dia bisa saja menikah kapanpun yang dia mau. Karena ingin menghargai keluarga calon istrinya yang sedang berduka, mereka memberikan lampu hijau untuk Khaizan boleh menikah dengan dengan siapapun yang dia suka.


"Shifa, aku lihat kamu jauh lebih baik dari hari-hari kemaren. Apa kamu sudah menemukan tambatan hati?"


"Tidak kok."


"Pak daffa?"


"Dia guruku di SMA dulu sampai sekarang akan tetap menjadi guruku.


"Masih ada kesempatan dong. Ayolah, kita sudah dewasa mari kita ciptakan keluarga seperti yang kita mau. Menikah, mandiri, memiliki anak dan merawatnya penuh cinta. Gak usah kita lihat rumah tangga orang lain yang membuat kamu trauma. Kalau kita merasa waras, mari kita lawan setan pemisah hubungan suami istri itu bersama-sama."


Aku berperang dengan hati apa aku bisa menjadi istri, ibu, dan menantu yang baik untuk mereka nanti?


"Ibuku itu menjadi urusanku. Akan aku tekankan ibuku tidak akan ikut campur ke rumah tangga kita nanti. Kamu kan sudah sering membicarakan itu pada orang lain. Kalau keluargamu kapan kita pulang ke Jambi ingin menyatukan kembali kamu sama keluargamu, minta maaf dan minta restu juga."


"Baiklah."


"Sebelum lebaran nanti kita pulang ke Jambi. Baiklah ke rumah orangtua ku dulu.

__ADS_1


Astagfirullahalazim takut banget bertemu ibunya yang galak mertua sinetron indonesia itu yang suka membuatku menantunya gagal jantung.


"Assalamualaikum, Ibu."


"Walaikumsalam, ini siapa?"


"Kenalkan aku shifa temannya khaizan selama 10 tahun ini tante." Kami bersalaman. Wajah ibunya khaizan cantik banget. Aku kalah jauh.


"Kita masuk dulu." Kami masuk, Khaizan mempersilahkan aku duduk di rumah tamu. Jantungku deg degan seperti akan berperang. Ku perhatikan sekelilingnya tidak banyak barang-barang yang berharga di rumahnya.


"Ibu, ini kenalkan shifa. Dia teman aku yang di Malaysia dulu. Ibu ingat gak? Sama wanita yang membawaku karena kecelakaan ke rumah sakit dulu? Ini dia orangnya. Waktu aku kecelakaan kami sudah putus kontak karena itu kami bertemu lagi."


"Oh, ini orangnya? Dia ini yang membuatmu menggantungkan hubungan mu sama Haura? Ucap ibunya Khaizan pada anaknya lalu menoleh ke arahku. "Kamu merasa sudah berhutang budi padanya. Lalu, kamu orang mana? Pendidikan terahkhirmu apa? Pekerjaan mu sekarang?"


"Aku orang depok berdomisili di jambi, tante. Pendidikan terakhirku S1, aku kerja di perusahaannya Khaizan tante.


"Oh, jadi kamu temanya Haura yang di rumah sakit itu?"


"Iya, dia teman satu-satunya, Haura. Akrab pula."


***


Pulang dari rumah orangtuanya Khaizan aku kembali bekeja seperti biasanya. Menyiapkan tabungan untuk pulang ke jambi. Aku membuka blokir untuk mereka sekeluarga. Tanpa aku tau royan sudah pulang le Indonesia dan berada di kota yang sama denganku untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


Saatnya pulang ke jambi ruma ibu sudah berubah lokasi. Menurut cerita ibu diam-diam meminjam uang bank untuk membangun rumah. Beliau dan royan yang membayarnya. Setelah lunas hutang yang di bayar ke Khaizan, lanjut untuk membangun rumah. Aku tidak punya hak apapun atas rumah ini.


Tok tok tok


"Assalamualaikum, ibu."


Ceklek, pintu terbuka tampak sosok ibu yang paling ku rindukan.


"Walaikumsalam, eh shifa! Kok, pulang tidak ngabari, ibu?"


"Mau memberi kejutan aja, Bu."


"Ini siapa?"


"Kenalkan aku Khaizan calonnya shifa, tante."


Kami salaman dan ibu menyuruh kami masuk duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Dia calonku, Bu."


"Calonnya? Masuk dulu!" Kami masuk terdengar suara ayah dari belakang.


"Shifa, sudah pulang membawa calonnya."


"Oh, anak durhaka itu ingat pulang juga bertahun-tahun pergi tidak ada kabar pulang bawa calon." Mendengar itu ibu merasa tidak enak sama Khaizan.


"Oh, maaf atas ketidak nyamanan ini, Nak Khaizan. Duduk istirahat dulu. Ibu ke dapur dulu mau membuat minuman.


"Iya, tante."


"Itu ayahmu?"


"Iya,"


"Pantesan."


"Pantesan apa?"


"Pantesan kamu tidak betah tinggal bersama mereka."


"Bertahun-tahun mereka mengusirku dengan cara kasar makanya aku pergi."


***


Malam hari mendengar ada suara orang asing di sini tetangga banyak datang ke rumpi. Aku jadi risih dan cepat-cepat ingin pulang ke Jakarta.


"Begini om, tente. Aku datang bersama anak om, tente ingin menikah setelah lebaran ini. Restui kami agar kami bisa menyempurkan separuh agama danmenjalankan ibadah terlama kami sepanjang masa lewat pernikahan."


"Kamu benar-benar mau menerima anakku apa adanya? Kami tidak tau apa yang terjadi pada kalian sejak pertama kali bertemu di Malaysia sampai pulang ke kampung halaman. 10 tahun kalian bertemansaya tante rasa kalian sudah cukup saling mengenal satu sama lain."


"Saya sangat mencintai anak tante apa adanya."


"Apa kamu mau pulang ke sini minimal sekali setahun? Apa kamu bersedia tidak akan mengekang anak saya seperti orang lain yang tidak mengizinkan istrinya menjenguk orangtuanya walaupun sedang sakit dan meninggal? Saya tidak mau kalian memperlakukan anak saya seperti binatang yang memisahkan diri seutuhnya setelah kawin."


"Saya janji tidak akan mengekang anak tante seperti itu. Kami sudah mendiskusikan ini sebelumnya bahkan sudah membuat surat pranikah semuanya lengkap ada di sana termasuk masalah harta sebelum dan sesudah menikah. Harta kami di pisah, harta dan jerih payah shifa sebelum dan sebelum menikah itu murni haknya shifa karena shifa perempuan. Saya tidak ada hak sama sekali sama harta itu. Kalau harta saya setelah menikah itu akan menjadi harta bersama. Saya insya allah tidak ada niat untuk memakan sesuatu yang bukan dari jerih payah saya."


Setelah menikah Shifa boleh kerja mencari uang untuk tante dan om. Juga boleh tidak, tidak boleh Ada nya selingkuh, poligami, KDRT dan tidak boleh ikut campur tangan mertua dan ipar terutama dari keluarga saya."


Terakhir masalah nafkah dan hutang piutang. Saya 100% akan bertanggung jawab penuh lebih mengutamakan untuk menafkahi istri dan anak setelah itu baru yang lainnya. Seberapa banyak gajinya shifa saya wajib memberikan 50% gaji saya pada shifa dan anak-anak. Kalau saya lalai memberikan shifa nafkah selama 6 bulan, saya setuju sudah jatuh talak 1 shifa berhak menggugat cerai ke pengadilan."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2