
TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 5
Jambi - Dumai
Tahukah kalian bahaimana perasaanku sekarang? Antara sedih dan bahagia, aku akan meninggalkan negara tercinta. Mengikuti orang yang baru ku kenal di sosial media lagi.
Apa pendapatmu tentang Negeri Jiran? Negeri jutaan orang bermimpi ke sana untuk mencari pekerjaan yang layak dan gaji yang tinggi.
Aku tidak tahu sama sekali nasipku di sana nanti. Karena aku belum pernah pergi ke sana. Kalau pernah sekali pasti aku bisa menebak kehidupan ku nanti seperti apa. Orang yang mengajakku pun tidak tahu dari mana dan asal-usulnya.
Aku tidak tahu apakah dia akan bertanggung jawab pada aku nanti apakah tidak. Tapi, aku akan berdo'a selalu di setiap sujud dan sepertiga malam seperti yang di bilang meyra, agar aku selamat sampai tujuan dan orang itu bertanggung jawab penuh sampai mendapat pekerjaan yang layak.
"Kamu yakin akan pergi ke sana seorang diri?" Meyra datang membawa dua mangkok mie rebus. Mie ini sudah menjadi makanan pokok anak kos. Makanya banyak anak kos pulang dalam keadaan ususnya sudah di sayat.
"Aku harus yakin, mey. Aku udah cari tutorial nya di youtube. Ini kesempatan emas bagiku, kenapa ku anggurin."
"Ini, buat mu. Hujan gini enaknya makan yang panas-panas." Meyra menyodorkan mie untukku.
"Terima kasih."
"Sepertinya kamu sudah nekat bangat. Kalau kamu nekat, ku harap kamu tidak menyesal di kemudian hari. Sekarang mumpung masih belum berangkat, pikir-pikir lah dulu. Kalau seandainya tetangga kamu yang menegur, mungkin mereka akan melarang mu lebih keras lagi dan menyebarkan ini ke seluruh kampung."
"Tetangga mah gitu. Nyinyir mulu."
"Udah ngomong sama ibu apa belum?"
"Sudah." Padahal bohong.
"Gimana pendapat ayah, dan ibu?"
__ADS_1
"Pergi selamanya juga boleh, jangan pulang sebelum bawa uang banyak." Bohong lagi.
"Segitunya orang tua kamu. Tapi, kalau berhasil sampai dengan selamat dan bisa kerja dan mendapatkan gaji. Jangan lupa omonganku barusan, kirim ibumu separuh dari gajimu. Mudahan dengan cara itu terketuk hatinya untuk menyayangi mu layaknya royan dan sadar dengan kelakuan mereka selama ini pada kalian."
"Salah satu cara agar di sayang oleh orang tua dengan cara memberi nya uang. Ada uang anak di sayang, tidak ada uang anak di tendang Kelakuan manusia zaman now."
****
Hari ini Paspor ku sudah berada di tangan. Masih menunggu visa keluar dan di kirim ke kantor transmigrasi dekat pelabuhan di selat Melaka.
Untung aku dan haizan belum pernah putus komunikasi. Hidup di kampung membuatku tertekan. Aku akan meninggal kan negara ini pergi ke malaysia dalam waktu yang belum ku tentukan. Mudahan pulang nanti, aku maupun ayah dan ibu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku akan mandiri di usia dini.
Miris bangat, seharusnya aku masih menjadi tanggung jawab mereka. Tapi, ternyata tidak, aku harus mencari sendiri seperti yang mereka ingin kan.
Sekarang menurut pegawai di kantor transmigrasi. Visa ku sudah di kirim, aku bisa berangkat minggu ini juga. Rumit juga mengurus bahannya.
Aku, harap kita tidak terlena dengan dunia ini. Aku, yakin hidup di sana tidaklah mudah untuk seorang gadis seperti kamu. Aku mohon kepadamu jaga diri baik-baik. Seringlah telepon ayah ibu agar mereka tidak khawatir sama kamu di sana. Seburuk-buruknya orang tua, dia lah yang telah membuat kita ada di dunia ini. Dan, maafin aku selama ini sudah sering membuatmu jengkel di benci oleh orang satu kelas."
Aku dan meyra saling berpelukan. Di belakang ada, Daffa pacarnya meyra yang melihat kami. Apa karena Daffa yang membuat meyra berubah secepat ini?
"Meyra, Iya deh, aku maafin kamu. kalau tidak ada kamu siapa lagi yang mau membawaku ke kota Jambi ini." Aku melepaskan pelukan, kembali melihat ke belakang. Pandangan Daffa tetap sama. Usia mereka cukup jauh, mungkin itu juga yang membuat meyra lebih cepat dewasa. "Kuliah lah yang benar jangan pacaran terlalu serius. Ibu mu menunggumu membawa ijazah sarjana Ada yang ingin mereka banggakan kalau anaknya sudah sukses jadi sarjana."
"Tenang aja." Daffa menuju ke arah kami.
"Hati-hati, di jalan ya, shifa. Sebenarnya bahaya bangat gadis muda pergi jauh sendirian tanpa pendamping. Di luar itu keras. Aku ini laki-laki, banyak tau karakter laki-laki itu seperti apa. Jadi, kalau sukses tiba di sana, jangan lupa jaga diri baik-baik. Sering hubungi ayah dan ibu, mereka pasti khawatir padamu."
"Iya, Daffa. Terimakasih udah membantu ku sampai tahap ini. Aku gak nyangka meyra mau membantu ku. Aku yakin, ini berkat mu Daffa. Karena, menjelang ke sini. Meyra sempat bilang, cowoknya menyuruhnya mendaftar kuliah bareng aku." Aku melirik pada meyra, dia merasa risih dengan aku berbicara pada daffa.
"Iya, aku yang memintanya. Itu, pasti mobil yang akan kamu tumpangi sampai ke dumai nanti. Tenang aja, sopirnya itu teman aku. Dia akan membantumu membeli tiket dan tempat penginapan sebelum ke sana."
__ADS_1
Aku melihat ke depan, mataku menangkap ada sebuah cahaya tajam menyinari kami. Mungkin benar, itu mobil yang akan aku tumpangi nanti. Mobilnya semakin dekat, aku lihat, kursinya sudah penuh, hanya di depan yang masih kosong. Mungkin aku duduk di depan.
Sopirnya keluar. "Hei! Bro. Sopirnya menyalami Daffa. "Siapa yang mau berangkat?"
Daffa menoleh ke arah kami. " Dia." Menunjuk ku. "Shifa yang mau ke dumai. Seperti obrolan kita kemaren."
Daffa menatapku, aku menunduk. "Gadis ini yang akan ke malaysia? Tidak salah tuh, ikut orang asing yang tidak tau asal usulnya? Kalau dia macam-macam gimana? Hati-hati loh, zaman sekarang tidak ada yang gratis."
"Aku dan meyra sudah berbicara pada orang asing itu. Katanya, dia akan menjaga meyra sampai mendapat kan pekerjaan yang layak. Sepertinya, Shifa sudah yakin sama keputusan nya."
"Ya, sudah. Ayo, masuk.
"Terimakasih banyak, ya, Meyra! Daffa! Aku pergi dulu."
"Sama-sama. Sekali lagi, hati-hati di jalan."
"Iya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Masuk, duduk paling depan dekat sopir. Sopirnya sibuk ngobrol sama penumpang yang lain. Seperti nya sopirnya humoris, ramah, dan mudah bersosialisasi.
[Halo! haizan! Hari ini, aku berangkat dari Jambi ke Dumai. Tiba di Dumai nanti kamu beli tiketnya, kemarin kamu bilang akan membeli ku tiket.]
[Syifa Iya Setelah tiba di Dumai nanti aku kirim uang buat beli tiket. Hati-hati di jalan ya Aku tunggu kamu di Selat melaka haizan]
[Iya]
Next
__ADS_1