
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 25
Melihat gerak gerik ibu ini entah kenapa perasaan ku menjadi tidak enak. Pandangannya seperti ada sesuatu yang dia incar, aku sama sekali tidak nyaman dengan pandangan seperti itu. Duh, ku kirain pindah kos demi menghindari police akan aman ternyata masih jauh dari harapan.
"Muara bulian."
"Oh, muara bulian? Di sana ada teman saya yang ikut suaminya di sana."
Sepertinya ibu ini berusaha mendekatkan dirinya padaku. "Oh." Tidak mau meladeni pembicaraan ibu ini lekas pergi dan mengunci semua lemari. Entah kenapa bisa satu kos sama ibu ini sih, sudah enak kos berdua walaupun sering di obrak abrik police dan memebuat barang-barang kami hilang. Seperti tidak ada privasinya sama sekali.
***
Minggu ini waktunya libur, orang lain banyak yang memilih liburan dan berbelanja. Aku tidak suka keluyuran tidak jelas. Aku lebih suka di rumah aja membersihkan kos dan memasak makanan kesukaanku. Kali ini, aku harus hemat tidak boros lagi, aku harus pelit pada diri sendiri demi masa depan. Aku tidak mau membiarkan masa depanku hancur kedua kalinya.
"Lagi ngapain?" Sapa ibu-ibu yang membuatku risih sampai hari ini.
"Lagi beres-beres baju."
"Oh, ya. Awalnya kamu ke Malaysia ini sama siapa?" ingatanku mundur lagi ke satu tahun silam. Merasa tidak ada harapan untuk masa depan memilih mengikuti orang asing ke sini. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.
"Sama salah satu saudara ibu."
"Oh, sama saudara? Di mana saudaranya?"
"Di kuala lumpur."
"Kenapa tidak tinggal sama saudaranya aja?"
"Enaklah tinggal sendiri bebas, tidak ada prasangka buruk antara kami."
"Ya, begitulah tinggal di rumah saudara. Enak tinggal sendiri. Kamu ke sini bekerja untuk menjadi tulang punggung keluarga atau apa?" Aku rasa Pertanyaan ibu ini sudah melebar kemana-mana. Entah kenapa, dia selalu mengikuti kemanapun aku mengitari kontrakan in.
Indri sedang keluar sebentar ingin bertemu teman-teman lama. Awalnya aku ingin ikut tapi, melihat banyak baju-baju kotor, aku tidak jadi ikut. Samapi ke kamar mandi mencuci baju ibu itu masih setia mengiktiku. Ada apa dengan dia?
"Aku merantau ke sini tujuannya sama seperti orang lain. Ingin bekerja dengan gaji yang lebih banyak. Menabung untuk kuliah."
"Bagus bangat tujuannya. Pasti sudah banyak tabungannya, nih. Sudah berapa lama di sini?" Mendengar kata tabungan, aku harus hati-hati menghadapi teman kos. Menurut indri, ada teman kos yang seperti benalu yang sama-sama bekerja tapi numpang hidup sama kita dan meminjam uang kita setiap harinya. Indri sudah pernah berada di posisi itu.
"Enggak tau. Uangnya sudah di kirim ke kampung."
__ADS_1
"Kenapa kirim ke kampung? Nanti orang di rumah menghabiskan uangmu. Jangan terlalu percaya sama orang rumah."
Tentu saja aku tidak mengirimnya ke rekening siapapun itu uangku, jerih payahku, untuk masa depanku. "Uangnya di kirim ke rekening pribadiku."
"Kalau gitu. Pinjam dulu uangnya 500RM aja! minggu depan gajian, langsung ibu ganti." Tuh, kan apa yang saya pikirkan. Awalnya berusaha mendekat setelah itu ujungnya uang.
"Saat ini sedang tidak ada uang, bu. Untuk apa?"
"Untuk biaya hidup sebelum gajian. Uang ibu sudah di kirim untuk biaya sekolah anak ibu di kampung."
"Ayahnya kemana?"
"Ayahnya sudah menikah lagi dengan janda muda anak satu." Aku diam aja sampai cucianku selesai dan menjemurnya. Ibu ini masih mengoceh.
"Boleh, ya, ibu pinjam!
"Aku tidak punya uang, Bu! Pinjam sama teman, Ibu aja!"
"Ibu tidak punya teman di sini." Indri pernah bilang, jangan pernah mempercayai siapapun termasuk dirinya. Orang itu suka meminjam uang atau barang jarang yang mau mengembalikannya. Karena orang jarang yang takut dengan ancaman agama, dosa besar kalau kita punya hutang tapi tidak berniat mengembalikannya.
"Ibu pinjam 400RM aja biar Ibu ganti 500RM." Tadi dia bilang uangnya sudah di kirim untuk biaya sekolah anaknya di kampung. Apa ayah daria anaknya abai terhadap tanggung jawabnya? Ingin aku tanya seperti itu. Tapi, aku tidak mau mendengar jawabannya.
"Masa tidak ada! Ibu pinjam sebentar aja buat bayar kos!" Tadi, bilangnya untuk biaya hidup, sekarang bayar kos. Terlalu bertele-tele.
"Memang tidak ada, Bu."
"Coba ibu periksa dompetnya." Apa-apaan orang ini? Belum 24 jam kenal sudah minjam duit.
"Dompet itu privasi, Bu! Tidak sembarangan orang yang membukanya."
"Sebentar aja." Lekas ku ambil dompet dan memasukkannya ke tas, aku ingin mengunjungi salah satu tempat wisata yang ada di kota ini bisa stress aku menghadapi ibu ini. Semua lemari fasilitas kontrakan sudah ku kunci.
***
Sore hari
"Shifa! Kamu lihat uangku 500RM gak?"
"Di mana?"
__ADS_1
"Dalam lemari ku."
"Aku gak melihatnya sama sekali. Mungkin kesalip atau apa gitu."
"Aku merasa tidak tersalip, aku perhatikan baik-baik letaknya."
"Lain kali bawa uangmu kemanapun kamu pergi. Tadi, ada ibu-ibu yang pura-pura kenalan sama aku, ujungnya minjam uang 500RM untuk bayar kos dan biaya hidup menjelang gajian. Sesuai katamu, aku tidak memberikannya. Dia memaksa mau memeriksa dompet ku. Aku diemin sampai keluar dari kos. Mungkin ibu itu yang mengambil uangmu."
"Kok, bisa? Bagaimana caranya di membobol lemari ku?"
"Kalau orang mau maling, mendadak pintar otaknya."
"Kurang ajar ibu itu. Sekarang, kemana dia? Kok belum pulang?"
"Gak tau kemana." Sampai jam satu dini hari menunggu ibu itu pulang. Dia biasa aja tidak seperti merasa bersalah telah membobol lemari tempat baju shifa.
"Ibu! Kata Shifa. Tadi, ibu meminjam uang padanya tapi tidak shifa kasih karena gak punya uang segitu. Lalu, aku kehilangan uang 500RM, apa ibu yang mengambilnya?"
"Jangan sembarangan tuduh kamu, mana buktinya saya yang mengambil uang kamu? Saya memang meminjam uang pada shifa tapi tidak di kasih, bukan berarti aku yang mengambil uang mu. Tanya, shifa, dia yang mengacak lemari mu tadi."
Apa, aku yang mengacak lemari indri? Udah gak beres ibu ini, dia fitnah aku padahal menyentuh lemari indri aja tidak, aku hanya menyentuh lemari ku. indri menoleh ke arahku.
"Bukan aku, indri. Aku tidak pernah menyentuh lemari mu. Aku hanya mengacak lemari ku untuk menyusun baju. Ibu ini yang keras minjam uang pada ku tadi."
"Bu! Jangan fitnah aku, Bu! Aku yakin, ibu ini orang yang tidak beres, memaksaku meminjami uang, melihat ibu aja membuatku risih apalagi udah memberikan pinjaman. Sekarang ibu menuduh aku yang memeriksa lemari indri. Ternyata firasat ku benar. Indri, sepertinya, kos ini tidak aman untuk kita. Nanti uang kita hilang lagi. Salah satu dari kita yang di tuduh."
"Jangan fitnah aku, ya! Aku lebih tua dari mu shifa, sekali lagi kamu menuduh aku. Aku remas mulutmu nanti. Jangan kurang ajar pada saya ya."
"Remas lah, remas lah. Ini." Aku menyodorkan mukaku. "Remas sampai robek sekalian remas."
"Berani, ya! Saya tidak terima kamu menuduh saya mengambil uang indri. Saya ini orang jawa loh, saya bisa membunuhmu kalau kami membilang aku sembarangan. " Pada saat ibu itu mengayunkan tangannya pada mulutku, aku bogem mentah mulut, pipi dan kepalanya. Dia terjatuh, ku injak perutnya. Ibu itu menjerit. Walaupun orangtua, tidak membuatku segan. Toh, orangtua itu tidak bisa menjaga tangan dan lisan ya untuk menyakiti yang muda, kenapa berbuat dosa hanya berlaku untuk orangtua ke yang muda."
Ibu itu menjerit mulutnya ku remas, jijik sih. Indri berteriak histeris mencoba menghentikan aku. Tapi, aku merasa seperti kesetanan.
"Ingat, ya, Bu! Kalau mau uang itu kerja yang rajin jangan maling uang orang akhirnya yang ibu tuduh aku. Aku tidak peduli siapa yang aku hajar. Toh, yang menantang ku tidak ingat umur."
"Shifa...!Shifa...! Sudah-sudah. Aku ikhlaskan uang 500RM itu aku percaya sama kamu. Tidak mungkin kamu mengambil uang orang. Aku ikhlaskan uang itu terserah orang yang mengambil uangku apakah mau di ganti apakah tidak. Ibu itu juga tidak mengaku."
Aku lumpuhkan ibu ini agar jera tidak lagi mengambil uang dan menuduh orang sembarangan. Tidak mudah mencari uang, sampai ada yang jual diri.
__ADS_1
Next